Paskah dalam Celana Joko Pinubo
| Saya, penulis, dan Joko Pinurbo pada suatu kegiatan sastra di Jogjakarta tahun 1997. Dokpri. |
Oleh Masri Sareb Putra
Berita itu datang seperti bisik yang tidak ingin ribut, tetapi justru tinggal lama di kepala.
Kabar dari seorang kawan lama. Juga rekan sekerja pada masa yang telah lewat, Ariobimo Nusantara.
“Cak,” tulisnya singkat lewat WhatsApp.
“Kamu sudah dengar?”
Pertanyaan yang menggantung. Saya menjawab sekenanya.
“Dengar apa?”
Lalu kalimat itu jatuh, sederhana tetapi tak bisa ditarik kembali.
“Kawan kita, Jokpin, sudah pergi.”
Baca juga Iban Dream: 1 Cerpen/ Hari dalam Setahun sebagai Ujud Tingginya Adversity Quotient Sang Pengarang
Nama lengkapnya Joko Pinurbo. Ia berpulang pada 27 April 2024. Atau, jika bahasa ingin sedikit lebih lembut. Jokpin menyeberang ke wilayah yang barangkali lebih akrab bagi kata kata: keabadian.
Puisi yang terlihat ringan namun dalam
Jokpin menulis tanpa banyak hiasan. Kalimatnya seperti percakapan sehari hari. Tidak menggurui, tidak pula berteriak. Namun justru karena itu, ia menyelinap masuk tanpa terasa.
Ia bisa membuat orang tersenyum, lalu beberapa detik kemudian menghadirkan keheningan. Seolah kita baru saja disentuh sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami, tetapi kita rasakan.
Baca Buku Terbaik Perpustakaan Nasional 2024: Karya Penulis Dayak Raih Penghargaan Ketahanan Pangan
Kesederhanaan pada Jokpin bukan kekurangan. Itu pilihan. Ia seperti sengaja menanggalkan yang rumit agar yang dalam bisa muncul tanpa beban.
Ketika hal sakral menjadi dekat
Dalam salah satu puisinya, ia menghadirkan sosok Maria. Seorang ibu yang datang dengan sesuatu yang sangat manusiawi: celana yang dijahitnya sendiri untuk anaknya.
Adegan itu nyaris biasa. Bahkan bisa terasa jenaka. Ada dialog pendek yang ringan, hampir seperti gurauan kecil antara ibu dan anak.
Baca Lukisan yang Memantik Penelitian dan Penulisan Buku "Kelapa Indonesia untuk Dunia"
Namun di situlah letak kedalamannya. Jokpin menurunkan yang tinggi tanpa merendahkannya. Ia membuat yang ilahi hadir dalam keseharian. Ia menunjukkan bahwa iman tidak selalu harus berdiri jauh, tetapi bisa duduk dekat, di antara hal hal sederhana.
Barangkali ada yang merasa terusik. Tetapi Jokpin tidak sedang merusak kesucian. Ia justru mengembalikannya ke tubuh manusia. Tempat di mana kasih, luka, dan perhatian hidup bersama.
Puisi lucu. Funny poem. Maka jangan murka membacanya!
Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.
Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus untuk mencobanya.
“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.
(2004)
Kepergian yang tidak benar benar pergi
Kini penyair lucu itu telah melangkah ke ruang yang tidak lagi bisa kita jangkau. Namun kata-kata yang ia tinggalkan tidak ikut hilang.
Baca Dayak: Literasi Dayak dari Masa ke Masa Selayang Pandang
Kata-kata yang Jokpin rangkai dalam puisi, tetap bekerja, diam diam. Dalam ingatan yang tiba tiba muncul. Dalam cara kita memandang hal kecil dengan lebih saksama. Dalam kesadaran bahwa yang sederhana bisa memuat yang sangat dalam.
Jokpin mungkin telah tiba pada “Puisi Abadi”-nya. Logos yang dalam catatan sejarah pernah menjadi manusia dan mengenakan "celana" buatan ibunya.
Tetapi bagi kita, puisinya masih terus berjalan. Pelan, tenang, dan setia.
0 Comments