Penerbit dan Percetakan Dayak: Napas Peradaban Borneo Tetap Hidup dan Terindeks Dunia

Penerbit dan Percetakan Dayak
Serba-Dayak. Hari ini, Dayak punya 4 badan penerbit resmi skala nasional dan antar-bangsa. Ist.
Empat pilar penerbit Dayak lahir dari kesadaran yang sama:  menghadirkan ruang bagi yang selama ini terpinggirkan. Dayak kini menulis dan menerbitkan "dari dalam".
Penerbit dan percetakan Dayak yang dimiliki serta dikelola oleh orang Dayak sendiri tidak pernah sekadar menjadi perusahaan. Penerbit Dayak ebih dari itu. Penerbit ini adalah rumah. Tempat gagasan lahir. Tempat ingatan disimpan. Tempat jati diri diteguhkan.

Dayak menulis dan menerbitkan "dari dalam"

Di sanalah orang Dayak menulis dirinya sendiri. Bukan ditulis oleh orang luar. Bukan ditafsir lagi dari kejauhan. Melainkan dari dalam. Dari pengalaman yang hidup. Dari tanah yang dipijak, dari sejarah yang diwariskan turun-temurun.

Sedemikian rupa, sehingga Borneo tidak lagi hanya menjadi objek cerita. Borneo menjadi subjek. Borneo berbicara.

Tak terbilang jumlah dosen yang naik jenjang jabatan akademik. Dari lektor. Lektor kepala. Hingga guru besar. Banyak di antara mereka berdiri di atas buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Dayak. Buku bukan sekadar syarat administratif. Buku menjadi tanda bahwa orang Dayak mampu berpikir, menulis, dan menyusun pengetahuan tentang dirinya sendiri.

Dampak buku-buku itu tidak berhenti di kampus. Buku-buku Dayak telah mencelikkan banyak orang. Buku-buku Dayak juga membuka wawasan. Buku-buku itu mengubah cara pandang. Buku-buku itu menggugah kesadaran bahwa Dayak bukan sekadar cerita pinggiran, melainkan bagian penting dari peradaban. Banyak yang terinspirasi. Banyak yang bergerak. Namun semua itu terjadi tanpa hiruk-pikuk.

Tidak ada angka pasti. Tidak pernah ada penelitian yang benar-benar menghitung berapa orang yang disentuh oleh buku-buku itu. Berapa pikiran yang berubah. Berapa hidup yang diarahkan ulang. Semua bekerja dalam diam. Sunyi. Tetapi kuat.

Seperti akar. Akar tidak tampak di permukaan. Namun justru dari akar, kehidupan bertumpu.

Dalam konfigurasi literasi Indonesia yang cenderung terpusat, kehadiran mereka menjadi penting, bukan hanya untuk Dayak, tetapi juga bagi keberagaman Indonesia.

LLD: Pintu Masuk Penulis Dayak di Perantauan

Sejak didirikan pada 2015 oleh Masri Sareb Putra dan Herkulana Mekarryani, Penerbit dan Percetakan Lembaga Literasi Dayak (LLD) perlahan menempatkan diri sebagai simpul strategis dalam peta literasi Dayak, terutama bagi mereka yang hidup jauh dari tanah asal. LLD memahami satu kenyataan yang kerap luput disadari: perantauan bukan hanya memindahkan tubuh, tetapi juga berpotensi menjauhkan suara.

Baca Buku Terbaik Perpustakaan Nasional 2024: Karya Penulis Dayak Raih Penghargaan Ketahanan Pangan

Dari kesadaran itu, LLD membuka jalan. Ia menjadi pintu masuk bagi para penulis Dayak di diaspora, yakni tokoh adat, pastor, dosen, sastrawan, pendeta, hingga akademisi yang tersebar di Jakarta dan berbagai kota besar lain. Mereka tidak lagi harus pulang ke Pontianak atau Palangka Raya untuk menuliskan gagasan. LLD menghadirkan ruang yang menjangkau mereka, mengatasi batas geografis tanpa menghilangkan akar kultural.

Di balik proses penerbitannya, LLD bekerja dengan pendekatan yang tidak impersonal. Setiap naskah diperlakukan sebagai bagian dari perjalanan intelektual penulis. Dari draf mentah hingga menjadi buku ber-ISBN, ada proses pendampingan yang intens, cermat, dan berpihak. LLD tidak sekadar mencetak buku, melainkan merawat suara. Prinsip yang dipegang teguh, “Dayak menulis dari dalam”, menjadi penanda arah bahwa narasi tentang Dayak seharusnya lahir dari pengalaman dan kesadaran orang Dayak sendiri.

Dalam perspektif itu, buku tidak berhenti sebagai produk. Ia diposisikan sebagai warisan, yakni medium yang menyimpan ingatan, pengetahuan, dan identitas kolektif. Karena itu, setiap terbitan membawa beban makna yang melampaui pasar.

Hingga kini, LLD telah mengantongi 403 ISBN, sebuah capaian yang menunjukkan konsistensi sekaligus produktivitas. Pada 2024, pengakuan datang dari tingkat nasional ketika LLD terpilih sebagai salah satu penerbit terbaik Indonesia versi Perpustakaan Nasional, melalui Sertifikat Nomor DBP 03/1267/2024. Penghargaan itu bukan sekadar legitimasi administratif, melainkan pengakuan atas peran LLD dalam membangun ekosistem literasi yang berakar, berkelanjutan, dan berdaya jangkau luas.

SANDU, Putra Pabayo, dan SBK: Menjaga Jiwa, Generasi, dan Bahasa

Di Pontianak, SANDU hadir dengan kekuatan percetakan yang lengkap. Penerbit ini menjadi rumah bagi dokumentasi spiritualitas Dayak. Buku terbitan Sandu menggali filosofi tentang roh dan kehidupan setelah mati, sesuatu yang sebelumnya hidup dalam tradisi lisan.

Baca 
100 Anak Tambang Indonesia: Strategi Menulis Era Digital Berbasis User Generated Content (UGC)

Dipimpin oleh Edi V. Petebang, SANDU tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga mencatat kearifan lokal, termasuk gerakan credit union dan perjuangan tokoh adat.

Sementara itu, Putra Pabayo Perkasa, di bawah kepemimpinan Pitalis Mawardi Baging, membawa literasi ke sekolah-sekolah. Mereka menyusun modul pendidikan yang mengintegrasikan nilai gotong royong dan tradisi seperti Naik Dango, sehingga generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya.

Di Palangka Raya, Penerbit Sinar Bagawan Khatulisriwa (SBK) berperan penting dalam menjaga bahasa. Melalui kamus Dayak Ngaju dan karya etnografi Damianus Siyok, dkk. bahasa dipertahankan sebagai jiwa bangsa. Tanpa bahasa, identitas akan kehilangan pijakan.

Kolaborasi Empat Pilar dalam Ekosistem Literasi Dayak

Keempat pilar penerbit Dayak bekerja dalam harmoni yang mencerminkan filosofi Dayak, yaitu manusia, alam, dan roh sebagai satu kesatuan. LLD membuka akses keluar, SANDU merekam dimensi spiritual, Putra Pabayo membangun generasi, dan SBK menjaga akar bahasa.

Jika keempatnya hadir dalam satu festival, kita akan melihat kampung literasi Dayak yang hidup. Pantun Iban dilantunkan, kamus Ngaju dibuka, modul pendidikan dibagikan, dan kisah sebayan diceritakan kembali. Inilah ekosistem literasi yang utuh.

Kempat penerbit Dayak itu akan berperan aktif nanti dalam Kongres Internasional I Literasi Dayak & the 1st International Dayak Book Fair di Sekadau, Kalimantan Barat, pada 15-16 Mei 2026.

Tantangan Penerbit Dayak di Era Digital

Tantangan utama yang dihadapi tidak ringan. Distribusi buku ke luar Borneo masih terbatas akibat tingginya biaya logistik. Biaya cetak terus meningkat, sementara dukungan pemerintah bagi penerbit berbasis etnis masih minim.

Baca Launching Buku Otobiografi Sahat Sinaga dan Keberlanjutan Industri Sawit

Namun, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. Mereka saling mendukung, berbagi pengalaman pengurusan ISBN, merujuk penulis, hingga mengadakan kegiatan literasi bersama. Inilah yang menjadikan mereka bukan sekadar penerbit, melainkan komunitas yang hidup.

Dari Tradisi Lisan ke Buku Ber-ISBN

Saya lahir dalam tradisi ketika cerita lisan menjadi perpustakaan utama. Kisah tentang Kudungga, pantun harmoni alam, hingga cerita tentang roh sebayan dituturkan setiap malam oleh orang tua.

Sejak memasuki dunia tulis-menulis pada 1984, saya menyadari pentingnya menjembatani tradisi lisan dan tulisan. Artikel feature di media nasional, novel sejarah, hingga pendirian LLD adalah bagian dari upaya itu, yaitu mengabadikan warisan dalam bentuk buku ber-ISBN.

Literasi Dayak sebagai Peristiwa Pemahaman

Dalam perspektif hermeneutik, literasi Dayak bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Ia adalah peristiwa pemahaman. Buku bukan benda mati, melainkan teks hidup yang berbicara kepada pembacanya.

Ketika seseorang membaca Pantun Iban: Jejak Warisan dan Nilai Hidup, ia tidak hanya membaca kata-kata, tetapi juga menghayati nilai yang diwariskan.

Demikian pula buku tentang Sabayan mengajak pembaca memahami kematian sebagai kelanjutan harmoni, bukan sebagai akhir dari perjalanan hidup. Dalam pandangan ini, kematian tidak dipahami sebagai putusnya eksistensi, melainkan sebagai peralihan yang tetap terhubung dengan keseimbangan kosmos, relasi manusia dengan alam, serta ikatan spiritual dengan leluhur. Cara pandang seperti ini memberi ruang refleksi yang dalam bagi pembaca untuk melihat hidup secara lebih utuh, tidak terfragmentasi oleh batas lahiriah semata.

Ketika membaca novel-sejarah Ngayau dan Keling Kumang, pembaca tidak hanya disuguhi cerita, tetapi juga dorongan batin untuk menjadi pemenang, nulli secundus, tiada tandingan. Kisahan orang tua yang mengalir di dalamnya sarat dengan semangat need for achievement (N-Ach) dan nilai-nilai kewiraan yang menekankan keberanian, kehormatan, serta tanggung jawab terhadap komunitas. Narasi tersebut tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi bergerak menjadi energi psikologis yang membentuk karakter, membangkitkan rasa percaya diri, dan menanamkan etos perjuangan dalam diri pembaca.

Baca Siri Ceramah Sarawakiana sebagai Wadah Intelektual Bahas Budaya dan Warisan Sarawak

Pada saat yang sama, ketika membaca dan menyelidiki Filsafat Dayal serta menyelami The History of Dayak, pembaca diajak memasuki ruang epistemologis yang lebih luas. Buku-buku ini tidak hanya memotret masa lalu, tetapi juga merumuskan cara berpikir tentang identitas, keberlanjutan budaya, dan posisi Dayak dalam arus sejarah Borneo. Pembaca tidak sekadar menjadi penerima informasi, melainkan juga penafsir yang aktif. Mereka diajak memahami bahwa pengetahuan tidak pernah netral, tetapi selalu terkait dengan keberpihakan terhadap akar budaya dan pengalaman hidup.

Karya-karya tersebut bekerja sebagai jembatan: antara hidup dan mati, antara masa lalu dan masa depan, antara pengalaman lokal dan kesadaran universal. Di dalamnya, Dayak tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami, dihidupi, dan diteruskan sebagai peradaban yang terus bergerak.

Dayak hari ini: dikutip, bukan (lagi) mengutip, mem-branding bukan (lagi) di-branding

Melalui buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Dayak, pembaca menemukan kembali asal-usul dirinya dan memahami siapa sebenarnya pemangku serta pewaris bumi Borneo. Proses ini bukan sekadar proses membaca, melainkan proses kesadaran historis yang perlahan tumbuh dari dalam diri. Narasi yang sebelumnya tersebar, sering kali ditulis dari luar, kini disusun kembali oleh tangan-tangan Dayak sendiri, dengan perspektif yang lebih otentik dan berakar.

Dalam konteks ini, terjadi pergeseran epistemologis yang penting. Dayak tidak lagi sekadar menjadi objek kajian, tidak lagi hanya menjadi bahan kutipan dalam karya-karya akademik atau laporan antropologis. Sebaliknya, Dayak kini menjadi sumber rujukan. Dayak dikutip. Dayak menjadi pusat referensi. Perubahan posisi ini menunjukkan adanya transformasi dalam lanskap pengetahuan, di mana subjek yang dahulu dipinggirkan kini tampil sebagai produsen makna.

Dayak tidak lagi dibranding oleh pihak luar dengan narasi yang sering kali simplifikatif atau stereotipikal. Justru sebaliknya, Dayak kini membranding dirinya sendiri. Proses ini tidak lahir dari sekadar strategi komunikasi, tetapi dari kesadaran kolektif untuk mendefinisikan diri secara mandiri. Identitas Dayak tidak lagi dibentuk dari luar, melainkan dirumuskan dari dalam, melalui teks, penelitian, dan karya-karya intelektual yang diterbitkan secara sistematis.

Baca Filsafat Dayak dan Cara Memahami Borneo "dari Dalam Kedalaman Terdalam"

Inilah yang dapat disebut sebagai media exposure dalam pengertian yang lebih dalam. Buku-buku tersebut memiliki daya terpa yang kuat, tidak hanya di permukaan, tetapi juga di tingkat kesadaran. Ia bekerja sebagai medium transformasi kognitif dan kultural. Pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengalami pergeseran cara pandang terhadap sejarah, identitas, dan posisi Dayak dalam peradaban Borneo.

Penerbitan buku bukan hanya aktivitas literasi, melainkan juga praktik afirmasi peradaban. Melalui teks, Dayak menegaskan keberadaannya, merumuskan dirinya, dan mengukuhkan posisinya sebagai pewaris sah bumi Borneo dalam peta sejarah yang lebih luas.

Keunikan Dibanding Penerbit Nasional

Berbeda dengan banyak penerbit besar di Jakarta yang fokus pada pasar komersial, empat pilar ini memilih jalan sunyi. Mereka mengkhususkan diri pada budaya Dayak dengan segala kekayaannya. Mereka tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga mendidik, mendokumentasikan, dan melestarikan.

Ini adalah bentuk perlawanan kultural terhadap homogenisasi di era globalisasi.

Peluang Besar di Era Digital

Di balik tantangan, terbuka peluang besar. Generasi muda Dayak kini semakin sadar akan identitas mereka. Dengan dukungan media sosial dan platform digital, jangkauan buku-buku Dayak dapat melampaui batas geografis.

Baca Filsafat Dayak dan Cara Memahami Borneo "dari Dalam Kedalaman Terdalam"

Keempat pilar ini telah mulai memanfaatkan situs web, Facebook, dan WhatsApp untuk memperluas distribusi dan promosi.

Napas Peradaban Tidak Boleh Padam

Literasi Dayak adalah investasi bagi Indonesia yang berbhineka. Negeri ini bukan hanya kumpulan pulau, tetapi juga kumpulan cerita. Jika kisah Dayak hilang, maka hilang pula sebagian jati diri bangsa.

Empat pilar penerbit Dayak adalah penjaga napas itu. Mereka berdiri teguh di tengah arus modernisasi, memastikan napas peradaban Borneo terus mengalir melalui tinta dan kertas.

Setiap buku yang mereka terbitkan adalah undangan. Bacalah! Resapi. Dan lanjutkan!

Kirimkan naskah Anda ke LLD, SANDU, Putra Pabayo Perkasa, atau SBK. Di sana, gagasan Anda akan dirawat dengan profesional dan penuh keberpihakan.

Penulis: Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.