Rahasia Berkanjang dalam Cinta ala Powell

 

Rahasia Berkanjang dalam Cinta ala Powell
The Secret of Staying in Love: buku klasik yang tak lekang oleh zaman. Ist.

Review jujur buku klasik John Powell The Secret of Staying in Love yang sudah berumur lebih dari 50 tahun tapi masih sangat relevan untuk pasangan masa kini. Membahas soal penerimaan diri, komunikasi terbuka, dan kenapa cinta butuh usaha setiap hari. Cocok buat yang lagi berusaha menjaga hubungan tetap hangat.

Kenapa Buku Lama Ini Masih Layak Dibaca di 2026?

Aku pertama kali melihat cover buku ini dengan pola warna merah, oranye, dan pink yang berputar-putar seperti pusaran. Langsung teringat suasana buku-buku self-help era 70-an. Judulnya The Secret of Staying in Love karya John Powell, seorang imam Jesuit yang juga psikolog. 

Baca Hybrid sebagai buku Masa Depan: Peluang dan Tantangan bagi Penulis/ Penerbit Dayak

Buku ini terbit tahun 1974. Tapi sajian menu gizi isinya ternyata tidak ketinggalan zaman.

Banyak orang bilang jatuh cinta itu gampang. Tapi bertahan dalam cinta justru yang susah. Powell sangat setuju dengan itu. Dia membedakan dengan jelas antara falling in love yang penuh kupu-kupu dan perasaan meluap-luap, dengan staying in love yang butuh pilihan sadar setiap hari. Menurut dia, rahasianya hanya satu: komunikasi yang jujur dan terbuka.

Aku membaca buku ini sambil teringat pengalaman pribadi dan curhatan teman-teman di Jakarta soal hubungan. Banyak yang mengeluh sudah tidak ada chemistry lagi atau jarang mengobrol dengan dalam. Buku yang tipis ini, sekitar 180 halaman, tidak janji solusi instan. Tapi dia mengajak kita untuk introspeksi pelan-pelan.

Powell menulis dengan nada ramah, seperti sedang mengobrol dengan teman dekat. Dia menggabungkan psikologi sederhana dengan sentuhan spiritual yang ringan, tanpa memaksa agama. Hasilnya adalah buku yang terasa hangat dan langsung membuat kita ingin mempraktikkannya.

Belajar Menerima Diri Sendiri Dulu

Salah satu bagian yang paling berkesan buat aku adalah pembahasan tentang self-acceptance atau penerimaan diri. Powell berpendapat bahwa sebelum bisa memberikan cinta yang sehat kepada orang lain, kita harus lebih dulu nyaman dengan diri kita sendiri, termasuk kekurangan dan luka masa lalu.

Baca Dayak: Literasi Dayak dari Masa ke Masa Selayang Pandang

Dia menggunakan analogi yang bagus: tidak ada yang bisa tahu keindahan dirinya sendiri sampai keindahan itu dipantulkan kembali oleh orang lain yang mencintainya. Seperti cermin. Kalau kita selalu menyembunyikan sisi gelap kita karena takut ditolak, susah sekali membuat hubungan menjadi dalam dan autentik.

Di era sekarang yang penuh filter Instagram dan standar kesempurnaan, pesan ini terasa semakin relevan. Banyak pasangan yang aku kenal akhirnya berpisah bukan karena orang ketiga, melainkan karena salah satu pihak tidak berani menunjukkan dirinya yang asli. Powell mengajak kita untuk melepaskan topeng itu secara perlahan.

Dia juga memberikan contoh-contoh kecil dari kehidupan sehari-hari yang membuat pembaca langsung relate. Bukan teori berat, melainkan hal-hal praktis yang bisa langsung dicoba malam ini juga.

Komunikasi yang Sebenarnya: Bukan Cuma Ngobrol, Tapi Berbagi Perasaan

Ini adalah inti buku yang membuat John Powell dikenal luas. Menurut dia, komunikasi adalah rahasianya.

Bukan komunikasi seputar hal-hal biasa seperti hari ini makan apa atau tagihan listrik sudah dibayar belum. Tapi sharing perasaan yang dalam: rasa takut, senang, kecewa, harapan, atau bahkan hal-hal yang membuat kita malu. Powell menyebutnya sebagai dialogue of love.

Dia menjelaskan kenapa banyak pasangan gagal: mereka takut konflik, jadi memilih diam atau pura-pura semuanya baik-baik saja. Akhirnya luka kecil menumpuk menjadi gunung. Powell mengajarkan cara menggunakan pernyataan "I feel…" supaya tidak saling menyalahkan.

Salah satu kalimat yang selalu aku ingat: hadiah terbesar yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah diri kita sendiri. Bukan hadiah mahal, bukan liburan mewah, melainkan kerentanan dan kejujuran.

Baca Membaca Trump: Fragmen, Fakta, dan Fenomena Trumpisme

Aku suka karena Powell tidak hanya memberikan teori. Dia juga menyertakan cara praktis: kapan waktu yang tepat untuk mengobrol dengan dalam, bagaimana mendengarkan tanpa langsung memberikan solusi, dan cara menciptakan ruang aman di rumah. Bagi pasangan yang sudah lama menikah atau yang baru saja pacaran, ini bisa menjadi bahan diskusi yang sangat bagus setiap minggu.

Relevansi di Masa Kini dan Beberapa Catatan Jujur

Di tahun 2026, dengan maraknya dating app, ghosting, dan hubungan yang sering hanya sebatas chat, buku ini terasa seperti pengingat yang sangat dibutuhkan. Banyak pembaca di Goodreads yang bilang buku ini mengubah hidup mereka karena membuat mereka lebih berani terbuka dengan pasangan.

Namun, jujur saja, ada beberapa bagian yang terasa agak ketinggalan zaman. Ditulis di era 70-an oleh seorang imam Katolik, ada pandangan tentang peran gender dan pernikahan yang cukup konservatif. Beberapa pembaca modern menyebutnya outdated, terutama soal isu LGBT atau dinamika keluarga.

Gaya bahasanya juga kadang terasa repetitif dan contoh-contohnya cukup sederhana. Tapi justru itu yang membuat buku ini mudah dibaca. Tidak ribet dan langsung ke pokok permasalahan.

Kelebihannya jelas terlihat: pesan utamanya tetap timeless. Cinta butuh usaha, kerentanan, dan komitmen. Di tengah budaya yang mudah menyerah kalau sudah tidak enak, buku ini mengingatkan bahwa staying in love adalah pilihan sadar, bukan perasaan yang datang begitu saja.

Buku yang Layak Dibaca Bareng Pasangan

Secara keseluruhan, The Secret of Staying in Love adalah buku yang lembut tapi punya dampak besar. Tidak hanya memberikan teori, tapi juga dorongan untuk langsung bertindak. Kalau kamu sedang berusaha memperbaiki hubungan, atau bahkan baru mau serius dengan seseorang, ini bisa menjadi bacaan yang pas.

Rating pribadi aku: 4.4 dari 5.  

Kurang 0.6 karena beberapa bagian yang sudah agak lama, tapi mendapat nilai plus besar karena pesannya yang masih sangat dibutuhkan sampai sekarang.

Baca Koperasi Kuantum dengan Kopdit CU Keling Kumang sebagai Studi Kasus

Saran aku: baca pelan-pelan, catat bagian yang relate dengan situasimu, lalu diskusikan bersama pasangan. Mungkin mulai dari satu bab setiap malam. Siapa tahu, percakapan itu justru menjadi awal dari staying in love yang lebih kuat.

Buku ini mengingatkan kita semua: cinta sejati bukan soal jatuh, tapi soal memilih untuk tetap berdiri bersama, meski kadang anginnya kencang. Kalau kamu sedang mencari bacaan yang bisa membuat hubungan lebih dalam, ini salah satu pilihan yang bagus.

Book review oleh: Neti Ambarwati
Penulis adalah bibliofili, kolektor buku-buku klasik, tinggal di Bandung.

0 Comments

Type above and press Enter to search.