Iban Dream dan Pelajaran dari MURI

Iban Dream dan Pelajaran dari MURI
Munaldus, dengan nama pena "Liu Ban Fo" (keempat dari kiri pembaca) mengenakan busana khas Iban ketika menerima piagam catatan MURI atas rekor yang diraihnya. Unggul di satu bidang, yang selama ini belum pernah ada. Dok. Ropina.

Tiga pengalaman mengurus rekor MURI mengajarkan bahwa pencapaian sejati bukan pada piagam penghargaan, melainkan pada kerja kolektif, literasi, dan daya transformasi sosial. Sebuah refleksi intelektual tentang buku, masyarakat adat, dan makna “ter-” dalam kehidupan.

Pelajaran dari MURI

Tiga kali saya turut mengurus buku yang kemudian mendapatkan pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai MURI.

Banyak orang mengira MURI hanya soal angka, ukuran, atau sensasi. Padahal, bagi saya, MURI adalah laboratorium sosial dan kebudayaan. Ia memperlihatkan bagaimana manusia bekerja melampaui batas kebiasaan.

Baca Iban Dream: 1 Cerpen/ Hari dalam Setahun sebagai Ujud Tingginya Adversity Quotient Sang Pengarang

Dan di sini penting ditegaskan: esensi MURI bukan pertama-tama pada glorifikasi piagam atau penghargaan yang diterima, melainkan pada capaian seseorang atau kelompok yang kemudian dicatatkan.

Piagam hanyalah simbol administratif. Yang utama dan pertama adalah energi, kerja kolektif, disiplin, ketekunan, dan keberanian melampaui standar biasa. Rekor hanyalah jejak; yang lebih penting ialah perjalanan menuju jejak itu.

Pertama, buku Hidup Bersama Allah Menjadi Produktif (2020) yang digerakkan keluarga besar Samuel Tipa Padan (STP). Buku itu bukan sekadar terbit. Ia lahir dari semangat kolektif: iman yang bekerja, keluarga yang bergerak, dan gagasan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti di altar, melainkan harus menjelma menjadi produktivitas hidup.

Baca Iban Dream dan Persemakmuran Koperasi: Sebuah Proposal Jelang Iban Summit III di Sekadau 13-16 Mei 2026

Kedua, peluncuran 69 buku karya penulis masyarakat adat pada Agustus 2024 di bumi Lawang Kuwari, Sekadau, Kalimantan Barat. Ini bukan hanya pencapaian administratif penerbitan.

Di kota kecil pelajar itu, saya melihat sebuah peristiwa epistemologis: masyarakat adat yang selama ratusan tahun lebih sering dijadikan objek penelitian, mulai mengambil alih pena sejarahnya sendiri. Mereka tidak lagi hanya “ditulis”, tetapi menulis. Mereka tidak lagi sekadar menjadi narasi, melainkan pencipta narasi.

Ketiga, kumpulan cerpen Iban Dream karya Munaldus pada tahun 2026. Karya ini penting bukan semata karena jumlah atau rekornya, melainkan karena ia menunjukkan bahwa sastra Dayak tidak lagi bergerak di pinggir peradaban. Ia masuk ke ruang global, berdialog dengan dunia, namun tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

Mimpi orang Iban tidak lagi hanya hidup di rumah panjang, tetapi mulai berjalan melintasi batas-batas geografis dan bahasa. Pencatatan rekor ini bersama sahabat Alexander Mering. 

Bukan pada rekor, tapi ada nilai yang ditinggalkan

Apa yang dilakukan Munaldus dengan menulis 1 hari 1 cerpen selama setahun penuh sesungguhnya bukan perkara sederhana. Banyak orang bisa menulis satu cerpen. Banyak pula yang mampu menulis beberapa cerpen dalam semangat yang meledak-ledak di awal. Tetapi menjaga disiplin kreatif selama 365 hari berturut-turut adalah perkara lain.

Dalam pada menghasikan 365 cerpen itu dibutuhkan gabungan antara aanleg (bakat dasar), passion, kebiasaan berkanjang, serta daya tahan mental yang luar biasa.

Dari MURI saya belajar bahwa TER- banyak sekali dimensinya. The number 1 is not only 1.
-- Masri Sareb Putra

Menulis kreatif bukan pekerjaan mesin. Ia membutuhkan suasana hati, energi batin, ketekunan, dan kemampuan melawan rasa bosan.

Ada hari ketika ide mengalir deras. Tetapi ada pula hari ketika kepala kosong, tubuh lelah, atau hidup sedang tidak ramah. Namun justru di titik itulah kualitas seorang pekerja kreatif diuji: apakah ia tetap menulis ketika inspirasi tidak datang?

Maka sebelum berbicara soal mutu sastra, gaya bahasa, atau kritik estetik, capaian ini sendiri sudah layak dipandang sebagai sebuah prestasi disiplin intelektual. Sebab tidak semua orang mampu bertahan dalam ritme kreatif yang panjang. Banyak yang memulai, sedikit yang menyelesaikan.

Baca Strategi Politik Dayak Inklusif di Kalbar: Pelajaran dari Memoar Cornelis

Dan menariknya, capaian itu lahir dari seorang manusia Iban, dari Indonesia. Ini penting dicatat. Sebab sering kali orang Dayak hanya dilihat dalam stereotip lama: romantisme hutan, rumah panjang, atau tradisi lisan. Padahal di era sekarang, orang Dayak juga hadir dalam ruang literasi modern, bekerja dengan komputer, internet, naskah, arsip, dan disiplin menulis yang sangat ketat.

Di sini kita melihat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah daya tahan peradaban. Orang yang mampu menulis setiap hari sesungguhnya sedang melatih pikirannya untuk terus hidup, terus merekam zaman, dan terus berdialog dengan dunia.

MURI mungkin mencatat angka dan fakta. Tetapi di balik angka itu ada pelajaran besar tentang ketekunan. Bahwa karya besar sering kali lahir bukan dari ledakan sesaat, melainkan dari kesediaan melakukan hal kecil secara terus-menerus, setiap hari, tanpa menyerah.

Bersama Matius Mardani, kami memfasilitasi Tim MURI hingga kedatangan dan penyerahahan rekor ini ke Sekadau, malam tanggal 15 Mei 2026 dengan "numpang perahu" kemeriahan acara Iban Summit III, 2026.

Baca Iban Dream dan Persemakmuran Koperasi: Sebuah Proposal Jelang Iban Summit III di Sekadau 13-16 Mei 2026

Dari tiga pengalaman itu, saya belajar banyak hal tentang makna “TER”. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata terbesar, tertinggi, tercepat, terbanyak, terpanjang.

Selama ini, banyak orang memahami “ter-” hanya dalam satu dimensi: nomor satu adalah satu-satunya. Padahal kehidupan jauh lebih kompleks daripada podium perlombaan.

Saya belajar bahwa the number one is not only one

Yang terbesar belum tentu paling bermakna. Yang terbanyak belum tentu paling berpengaruh. Yang paling terkenal belum tentu paling mengubah kehidupan. Sebaliknya, sesuatu yang tampaknya kecil dapat memiliki daya transformasi yang jauh lebih dalam.

MURI mengajarkan bahwa rekor sejati sesungguhnya bukan pada angka, melainkan pada daya gugah. Rekor yang paling penting ialah ketika sebuah karya mampu menggerakkan kesadaran kolektif. Ketika buku tidak hanya menjadi benda cetak, tetapi menjadi energi sosial.

Baca Yansen TP Soroti Literasi dan Peradaban Dayak di Kongres Internasional Sekadau

Di titik inilah saya melihat pentingnya literasi Dayak dan literasi masyarakat adat secara umum. Selama ini, bangsa-bangsa besar di dunia tidak dibangun pertama-tama oleh tambang, sawit, atau kekayaan alam. Dayak dibangun oleh kemampuan menulis pengetahuan, mendokumentasikan pengalaman, lalu mewariskannya lintas generasi.

Karena itu, setiap buku sesungguhnya adalah perlawanan terhadap kepunahan.

Buku melawan lupa.

Buku melawan sunyi.

Buku melawan keterhapusan sejarah.

Dan mungkin, di zaman digital sekarang. Rekor paling besar bukan lagi siapa yang paling banyak menulis, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kemanusiaan di tengah banjir teknologi.

Di situlah saya memahami MURI bukan tujuan akhir. MURI hanya penanda jalan. 

Hal yang jauh lebih penting adalah: apakah setelah rekor itu lahir, kesadaran baru juga ikut lahir?

Pelajaran Lain dari Rekor MURI: Kerja Tim di balik satu nama

Pelajaran lain dari rekor MURI adalah pentingnya kerja bersama dalam sebuah capaian besar. Publik biasanya hanya melihat sosok yang tampil di depan: si pemecah rekor, si pendaki puncak (climber), orang yang namanya dicatat dan disebut. Tetapi di balik satu nama itu, sesungguhnya berdiri banyak tangan, pikiran, tenaga, dan pengorbanan.

Ada periset yang bekerja diam-diam menelusuri data, memastikan bahwa capaian itu memang baru, unik, dan layak dicatat.

Ada pengusul yang memahami prosedur, menyusun argumentasi, menyiapkan dokumen, lalu menghubungkan capaian itu dengan lembaga pencatat rekor.

Ada tim teknis yang mengatur detail pelaksanaan agar semuanya berlangsung sesuai standar verifikasi.

Ada sosok yang diam-diam menjadi sulu ati, suluh kecil yang menjaga nyala di tengah sunyi proses menulis. Ia tidak tampil di panggung, tidak pula berbicara banyak tentang gagasan besar. Namun justru dari kesederhanaannya, hidup seorang penulis menemukan elan vital untuk terus berjanjang kata demi kata, halaman demi halaman.

Sosok itu adalah Ropina Herlina, sang mantan pacar yang senantiasa setia menemaninya, dalam untung dan malang. Syahdan, Ropina adalah pembaca-pertama naskah-naskah Munaldus yang hitam putih.

Sekali peristiwa ia berkata yang bikin suaminya kaget bukan alang kepalang, "Bagian itu jelek! Saya tak suka! Ganti!" Tak syak, dalam sastra, kritikus adalah kawan-latih tanding bagi seorang pengarang besar.

Ropina yang pembawaanya senantiasa ceria hadir bukan dengan teori atau nasihat panjang, melainkan dengan hal-hal kecil yang bermakna: secangkir kopi atau teh hangat yang diletakkan tanpa banyak kata, seolah mengatakan bahwa perjalanan intelektual tidak harus dijalani seorang diri. Ada kehangatan yang diselipkan dalam rutinitas yang sunyi, ada perhatian yang tidak berisik tetapi menetap di dalam ingatan.

Dalam dunia menulis, sering kali yang paling menguatkan bukanlah pujian besar, melainkan gestur sederhana yang konsisten. Dan dari hal-hal kecil itulah, tulisan menemukan napasnya, dan penulis menemukan ketabahannya untuk terus melangkah.

Dan acapkali pula tak dapat untuk dipungkiri perlu ada pendana. Mereka yang mungkin tidak tampil di panggung, tetapi memungkinkan seluruh proses itu terjadi.

Baca Dari Jatinangor ke Sekadau: Prof. Agus Pakpahan, Masri Dan Gunarso Matangkan Ledakan Literasi Dayak 2026

Dalam perspektif ini, rekor bukanlah karya individual semata. Ia adalah hasil orkestrasi sosial. Sebuah pencapaian lahir karena adanya pembagian peran dan kepercayaan antaranggota tim. Seseorang mungkin berdiri di garis finis, tetapi banyak orang lain telah ikut membuka jalan menuju garis itu.

Di sinilah kita belajar bahwa peradaban modern dibangun bukan hanya oleh “orang hebat”, melainkan oleh kemampuan bekerja kolektif. Zaman sekarang bukan lagi era manusia super yang bekerja sendirian, tetapi era kolaborasi pengetahuan. Satu orang mungkin memiliki visi, tetapi visi itu hanya menjadi kenyataan ketika bertemu riset, organisasi, jaringan, dan dukungan sumber daya.

Hal ini juga berlaku dalam dunia literasi, riset, kebudayaan, bahkan gerakan sosial Dayak. Sebuah buku tidak lahir hanya dari penulis. Ada editor, pembaca awal, penyumbang data, fotografer, penerbit, hingga orang yang menyediakan kopi saat penulis begadang malam. Sebuah kongres tidak berdiri hanya karena ketua panitia, tetapi karena banyak orang rela bekerja tanpa nama.

Baca Senarai Penulis Dayak dan Bukunya Capai 1.183 Judul : Hasil Citizen Research WAG Literasi Dayak

Pelajaran penting dari MURI bukan pertama-tama soal piagam atau sertifikat yang dipajang di dinding yang dilihat banyak mata. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa capaian besar selalu memiliki ekosistem sosial di belakangnya.

Suatu suku-bangsa atau komunitas yang maju adalah yang mampu membangun budaya kerja tim. Bukan budaya saling menjatuhkan.

Peradaban besar tidak dibangun oleh ego tunggal, melainkan oleh gotong royong gagasan.

Keunggulan luar biasa itu adalah kumpulan habit, kebiasaan

Menutup catatan pagi ini, saya teringat petuah guru tua saya, Aristoteles. Ia pernah berkata, 

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.

Keunggulan itu bukan pertama-tama lahir dari tindakan besar yang sekali jadi, bukan pula dari sensasi yang gemerlap sesaat. Keunggulan tumbuh dari kebiasaan. Dari pekerjaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dari disiplin yang tampaknya biasa, tetapi dijalani dengan tekun dan setia. Keunggulan adalah puncak dari kebiasaan!

Karena itu, manusia besar sering kali tidak dibentuk oleh satu peristiwa dahsyat, melainkan oleh rutinitas yang dijaga bertahun-tahun. Penulis menjadi matang karena terus menulis. Petani menjadi arif karena terus mengolah tanah. Pemimpin menjadi bijak karena terus belajar mendengar.

Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak

Keunggulan, pada galibnya, bukan soal menjadi manusia luar biasa dalam satu malam. Ia adalah hasil dari ketekunan panjang yang nyaris tidak terlihat. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Hingga kebiasaan itu menjelma karakter, dan karakter menjelma peradaban.

Tanya saja langsung pada Munaldus. Ia merasa biasa-biasa saja. Apa yang dilakukannya tak terbetik seitik pun mimpi dicatatkan rekor dunia. Buku dengan catatan 2.536 halaman dicetak pada Percetakan berkelas internasional PT Gramedia, dengan bobot 4 kilogram, baginya "biasa biasa saja". 

Namun, orang lain yang memandangnya luar biasa!

Penjelasan singkat Petrus Gunarso: Yang penting proses dan isi yang dicatatkan itu

Pada malam penganugerahan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) tersebut, suasana terasa khidmat sekaligus penuh kebanggaan intelektual. Aula acara dipenuhi oleh para tamu undangan, pegiat literasi, akademisi, serta jejaring komunitas budaya yang selama ini mengikuti perjalanan panjang Lembaga Literasi Dayak. Sorotan lampu panggung tidak hanya menegaskan momen seremonial, tetapi juga menjadi simbol pengakuan atas kerja kolektif yang telah ditempuh dalam senyap—melalui proses panjang, berliku, dan sering kali tidak mudah.

Pada kesempatan tersebut, pendiri sekaligus CEO penerbit Lembaga Literasi Dayak, Masri Sareb Putra, M.A. mengundang dua sosok penting untuk naik ke atas panggung sebagai representasi dari kerja kelembagaan yang solid dan terstruktur. Keduanya adalah Petrus Gunarso, Ph.D., selaku Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama, serta Alexander Mering, selaku Direktur Komunikasi dan Digital. Kehadiran keduanya di atas panggung bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan penegasan bahwa capaian literasi yang diraih bukanlah hasil kerja individual, melainkan buah dari orkestrasi kerja kolektif yang dikelola secara profesional.

Ketika mikrofon diserahkan kepada Petrus Gunarso, ia menyampaikan sebuah sambutan singkat, namun sarat makna dan refleksi. Dengan nada tenang dan terukur, ia mengatakan:

“Ini pencapaian yang kami tahu persis, tidak mudah. Bukan pada piagam dan rekornya, tapi pada nilai-nilai kejuangan dalam proses menjadikan buku ini. MURI hanya mencatat, yang penting apa isi dari catatan itu!”

Pernyataan tersebut seketika mengubah atmosfer ruangan. Tepuk tangan yang semula bersifat apresiatif berubah menjadi tepuk tangan reflektif; seolah seluruh hadirin diajak untuk tidak berhenti pada euforia penghargaan, tetapi masuk lebih dalam ke makna substansial dari sebuah pencapaian.

Dalam perspektif Petrus Gunarso, penghargaan rekor hanyalah penanda administratif dari sebuah proses yang jauh lebih kompleks. Ia menempatkan MURI bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai lembaga pencatat yang mengarsipkan sebuah capaian yang sesungguhnya lahir dari proses panjang: riset, penulisan, diskusi intelektual, kerja lapangan, hingga konsolidasi gagasan yang melibatkan banyak pihak. Dengan demikian, nilai utama tidak terletak pada sertifikat yang diterima, melainkan pada ekosistem kerja pengetahuan yang melahirkannya.

Ucapan “MURI hanya mencatat” dalam konteks tersebut bukan bermakna merendahkan lembaga pencatat rekor, melainkan menegaskan posisi epistemologis bahwa pengetahuan dan nilai sejati tidak berhenti pada simbol pengakuan. Sebaliknya, yang lebih penting adalah isi dari catatan itu sendiri: apa yang ditulis, bagaimana ia ditulis, siapa yang terlibat, serta nilai sosial dan kultural apa yang dihadirkan melalui proses penulisan tersebut.

Sementara itu, kehadiran Alexander Mering sebagai Direktur Komunikasi dan Digital juga memberi dimensi lain terhadap momentum tersebut. Dalam kerangka kerja lembaga literasi modern, peran komunikasi dan digitalisasi menjadi jembatan penting yang menghubungkan pengetahuan lokal dengan ruang publik yang lebih luas. Jika Petrus Gunarso menekankan pada dimensi nilai dan proses, maka Alexander mewakili aspek distribusi, diseminasi, dan transformasi pengetahuan ke dalam format digital yang dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Kombinasi keduanya mencerminkan satu ekosistem literasi yang utuh: satu kaki berpijak pada kedalaman nilai dan proses intelektual, sementara kaki lainnya bergerak dalam kecepatan komunikasi digital dan keterjangkauan informasi. Di titik inilah Lembaga Literasi Dayak tidak hanya berfungsi sebagai penerbit, tetapi juga sebagai institusi kultural yang memproduksi pengetahuan, mengarsipkan memori kolektif, dan mendistribusikan narasi lokal ke dalam ruang global.

Momen di atas panggung tersebut, dengan demikian, dapat dibaca sebagai representasi kecil dari sebuah gerakan besar: gerakan literasi berbasis komunitas yang tidak sekadar mengejar pengakuan formal, tetapi membangun fondasi epistemik yang berakar pada pengalaman, perjuangan, dan identitas lokal. Rekor MURI dalam konteks ini menjadi semacam “pintu masuk simbolik” untuk memperkenalkan bahwa di balik satu capaian yang tercatat, terdapat kerja panjang yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.

Dengan demikian, malam penganugerahan itu bukan hanya perayaan prestasi, tetapi juga pernyataan sikap intelektual: bahwa literasi bukan sekadar produk akhir berupa buku, melainkan sebuah proses sosial, kultural, dan spiritual yang terus bergerak, berkembang, dan melahirkan kesadaran baru di tengah masyarakat.


Jakarta pagi berseri, 22 Mei 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.