Dayak: masyarakat adat yang literat dalam segala aspek pada hari ini. Ist.
Paper akademik/ prosiding Seminar Kongres Internasional I Literasi Dayak, Sekadau 15-16 Mei 2026.Baca Kedaulatan Narasi Dayak di Era Kecerdasan Buatan
Oleh Dr. Tirta Susila, D.Th
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan mengkaji urgensi bahasa ibu dalam budaya Dayak sebagai medium utama transmisi nilai, dengan menempatkannya dalam kerangka pedagogi Perjanjian Lama berdasarkan Ulangan 6:6–7. Teks tersebut menegaskan bahwa pendidikan iman harus berakar dalam hati (lebab), diajarkan secara berulang (shanan), dan dikontekstualisasikan dalam percakapan sehari-hari (dibbar). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis tekstual-teologis dan kajian budaya. Hasil penelitian menunjukkan adanya paralel kuat antara pola pendidikan Israel kuno dan praktik tradisional masyarakat Dayak, khususnya dalam transmisi lisan, peran keluarga sebagai pusat pendidikan, dan penggunaan bahasa ibu sebagai sarana internalisasi nilai. Bahasa ibu terbukti tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai pembawa identitas, memori kolektif, serta sistem pengetahuan lokal. Dalam konteks modernisasi, bahasa ibu menjadi benteng terhadap erosi identitas budaya sekaligus instrumen pedagogis yang efektif dalam pembentukan karakter. Dengan demikian, revitalisasi bahasa ibu dalam masyarakat Dayak merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya sekaligus mengaktualisasikan prinsip-prinsip pedagogi Alkitabiah dalam konteks kontemporer.
Baca Literasi Dayak di Malaysia sebagai Role Model: Sastera sebagai Sungai Panjang Peradaban dari Rimba ke Persada Dunia
Abstract:
This study examines the urgency of mother tongue in Dayak culture as a primary medium for transmitting values, framed within Old Testament pedagogy based on Deuteronomy 6:6–7. The text emphasizes that faith education must be internalized in the heart (lebab), taught repeatedly (shanan), and contextualized through daily conversations (dibbar). This research employs a qualitative approach using theological-textual analysis and cultural study. The findings reveal a strong parallel between the educational patterns of ancient Israel and traditional Dayak practices, particularly in oral transmission, the central role of the family, and the use of mother tongue as a means of value internalization. The mother tongue functions not merely as a communication tool but also as a carrier of identity, collective memory, and indigenous knowledge systems. In the face of modernization, it serves as a cultural safeguard against identity erosion and as an effective pedagogical instrument for character formation. Therefore, revitalizing the mother tongue within Dayak communities is a strategic effort to sustain cultural values while actualizing biblical pedagogical principles in contemporary contexts.
Kata Kunci:
Bahasa Ibu, Pedagogi Perjanjian Lama, Ulangan 6:6–7, Budaya Dayak, Transmisi Nilai, Identitas Budaya
0 Comments