Tina Lie: Pegiat Literasi dari Bumi Menulis yang Menginspirasi
| Tina Lie (kanan pembaca) tak sia-siakan kesempatan. Ia minta tanda tangan sang penulis buku, Dr. Yansen TP, pada KLD I dan Pameran Internasional I Buku Dayak di Sekadau, 15 - 16 Mei 2026. Dokpri. |
Preambul:
Redaksi membuka ruang bagi serial personal essay Masri Sareb Putra—penulis Angkatan 2000 dalam lanskap sastra Indonesia mulai hari ini (17 Mei 2026). Tulisan-tulisan penyuka lagu Koes Plus bukan semata-mata catatan belaka, melainkan aliran gagasan yang saling menyambung, merekam denyut pemikiran dari Kongres Internasional I Literasi Dayak dan The 21st Dayak Book Fair, 15–16 Mei 2026 di Sekadau.
Dari sini, literasi tidak hanya ditulis, tetapi dihidupkan kembali sebagai ingatan kolektif.
Selamat mengikuti!
Tina Lie. Dua patah kata nama nona itu. Nama yang terang benderang. Menunjukkan latar perjumpaan budaya. Ada unsur blasteran di dalamnya. Ada jejak persilangan identitas yang tidak sederhana. Namun, dalam konteks kebudayaan Dayak modern, hal itu tidak lagi menjadi batas yang kaku.
Baca Yansen TP Soroti Literasi dan Peradaban Dayak di Kongres Internasional Sekadau
Deklarasi Bengkayang 2017 telah memberi penegasan yang penting.
“Siapa yang menitis darah Dayak, adalah Dayak.”
Isi substansi Deklarasi itu bukan sekadar simbol politik identitas. Tetapi juga sebuah penegasan kultural bahwa Dayak adalah ruang inklusif. Ruang yang menerima siapa saja yang memiliki keterikatan darah, sejarah, dan keterlibatan hidup di dalamnya.
Dalam pengertian itu, Tina Lie berdiri sebagai bagian dari arus baru identitas Dayak. Ia tidak diposisikan sebagai orang luar. Tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang masyarakat Dayak yang terus berkembang, terbuka, dan beradaptasi dengan zaman.
Identitas tidak lagi semata-mata soal garis keturunan yang kaku, tetapi juga soal keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan budaya.
Tina Lie adalah literat muda Dayak Bidayuh. Ia berasal dari Bodok, Pusat Damai. Sebuah wilayah yang tidak hanya dikenal secara geografis, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya tradisi dan perjumpaan budaya.
Dari tempat itu. Tina melangkah ke ruang yang lebih luas. Tanpa meninggalkan akar sosialnya.
Baca Cornelis Tekankan Pentingnya Literasi Politik bagi Dayak: PKH Disebut Mengancam Kedaulatan Tanah Adat Dayak
Hilang rasa capek dan kecewa saya ketika melihat pemandangan seperti tertangkap kamera pada ilustrasi narasi ini. Sungguh terharu. Sekadau bukan saja tempat kita kongres, seminar, dan pameran buku. Lebih dari itu, Sekadau menjadi ruang pertemuan berbagai pihak untuk membangun komunikasi lintas generasi dan lintas negara.
Di tempat ini orang tidak hanya datang dan pulang. Tetapi juga saling mengenal, saling belajar, dan membangun jaringan. Di sinilah terjadi connecting the dots, menyambungkan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang selama ini terpisah.
***
Literasi di bumi Lawang Kuwari (Sekadau) tidak berhenti pada kegiatan membaca dan menulis. Literasi berkembang menjadi ruang interaksi sosial yang lebih luas. Orang belajar membangun relasi, kerja sama, dan kepercayaan antar komunitas yang berbeda latar belakang.
Model seperti ini mengingatkan kita pada pola yang sudah lama dipraktikkan oleh bangsa-bangsa besar. Orang Cina, Korea, dan Jepang membangun kekuatan mereka melalui jaringan yang kuat dan terstruktur. Demikian juga komunitas Yahudi dalam sejarah diaspora mereka.
Baca Buku dan Pengaruhnya
Apakah kita tidak bahagia sekaligus bangga melihat anak-anak muda kita mulai bergerak dalam arah yang sama. Tina Lie adalah salah satu contoh nyata dari generasi ini. Ia masih muda, tetapi sudah menunjukkan kesadaran literasi yang matang dan progresif.
Ia adalah literat muda Dayak yang sudah pernah masuk dalam profil media nasional Kompas. Ia juga membangun komunitas literasi yang diberi nama “BUMI MENULIS”. Komunitas ini menjadi ruang belajar dan ruang produksi gagasan bagi anak-anak muda.
Tina Lie berasal dari Dayak Bidayuh, dari Bodok, Pusat Damai, Kalimantan Barat. Saat ini ia tinggal di Noyan, salah satu kecamatan di wilayah perbatasan Malaysia. Wilayah ini bukan hanya batas geografis, tetapi juga ruang pertemuan budaya yang sangat dinamis.
Ia tidak hanya berhenti pada aktivitas menulis dan komunitas. Tina Lie juga terlibat langsung dalam aktivitas lapangan yang menunjukkan keberanian sosial. Ia pernah menjemput tiga orang yang belum dikenalnya secara langsung di wilayah Entikong.
Tindakan itu menunjukkan keberanian dan kepercayaan yang tidak biasa. Ia bahkan menjadi pengemudi bagi para pegiat literasi dari Malaysia yang datang ke wilayah tersebut. Ini menunjukkan bahwa literasi juga bisa hadir dalam bentuk tindakan nyata di lapangan.
***
Apa yang dilakukan Tina Lie menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berada di ruang kelas atau seminar. Literasi juga hadir dalam bentuk perjumpaan, pelayanan, dan keterbukaan terhadap orang lain. Di situlah nilai literasi menjadi hidup dan nyata.
Inilah yang saya lihat sebagai kunci penting bagi masa depan gerakan literasi Dayak. Bukan hanya soal buku dan tulisan, tetapi juga soal jaringan, keberanian, dan keterlibatan langsung di tengah masyarakat.
Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak
Kita perlu jujur. Untuk sekadar mengakui hal kecil. Bahwa generasi seperti Tina Lie adalah aset penting. Mereka tidak hanya membaca dunia, tetapi juga mulai ikut membentuk dunia mereka sendiri melalui tindakan kecil yang berdampak besar.
Inilah kader-kader pendekar literasi Dayak masa kini. Lebih dari itu. Mereka adalah fondasi bagi masa depan literasi yang lebih terbuka,.
Tina Lie segelintir sosok muda literat Dayak yang kita ketahui. Di luar dirinya tentu masih ada. Orang muda Dayak yang berani. Sekaligus terhubung dengan dunia luar.
Senjakala di Sekadau, 17 Mei 2026
0 Comments