Historia Docet : Aksi Mahasiswa menutut Reformasi

Aksi Mahasiswa menutut Reformasi
Historia Docet. Sejarah selalu mengajar. Ist.

Barangsiapa yang tidak belajar dari sejarah, akan dikutuk oleh sejarah! Buku ini mengajari bahwa ketika aksi mahasiswa itu murni, memancarkan jiwa dan aspirasi rakyat, maka....

Historia Docet. Sejarah selalu mengajar. Tetapi tidak selalu dipelajari. Di jalan-jalan mahasiswa itu. Di spanduk yang terangkat. Di suara yang pecah antara harapan dan amarah. Ada satu pola yang terus berulang. Bahwa sejarah sering datang bukan sebagai guru. Melainkan sebagai pengulangan yang keras kepala.

Baca Nilai yang Menyala ketika Listrik Padam pada Kongres Internasional I Literasi Dayak 16 Juni 2026 di Sekadau

Buku ini mungil. Ukuran saku. Tipis. Tetapi justru di dalam yang kecil itu, ia memuat sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa diringkas oleh ukuran.

Ia bernas. Namun bukan bernas seperti batu yang padat dan diam. Melainkan seperti tanah yang terus mengingat hujan. Menyimpan bekas basahnya. Bahkan ketika musim sudah berganti berkali-kali. Di dalamnya ada sejarah yang tidak selesai menjadi masa lalu. Ia tetap bekerja. Diam-diam. Seperti denyut yang tidak meminta perhatian.

***

Kami bertiga. Di Grasindo jelang dan selama Aksi Mahasiswa tahun 1988 menumbangkan rezim Orde Baru. Untuk mengejar momentum yang hanya sekali terjadi.  Menggunakan fasilitas dan office hours, yang diminta khusus manajemen. Kami melakukan sesuatu yang disebut riset. Tetapi riset di sini bukanlah jarak dingin antara subjek dan objek. Ia lebih mirip usaha menyeberangi kabut sambil tetap percaya bahwa di seberang sana ada bentuk yang bisa dikenali. 

Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo

Sebulan kami membaca koran mahasiswa 1970-an. Lembar-lembar yang bukan sekadar kertas. Tetapi bekas suara. Bekas keberanian. Bekas keyakinan bahwa kata-kata bisa menggeser dunia dari engselnya.

Namun kata-kata selalu memiliki takdirnya sendiri. Ia tidak selalu menjadi jalan. Kadang ia hanya menjadi gema. Kadang ia menjadi luka yang ditulis ulang agar tidak segera sembuh. Di sana kami melihat bahasa tidak sekadar alat. Tetapi tubuh. Yang bisa bergetar. Yang bisa berdiri. Yang bisa jatuh.

Lalu kami pergi ke LIPI. Bukan untuk menemukan jawaban. Tetapi untuk mendengar bagaimana pengetahuan mencoba menenangkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah tenang. 

Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo

Di ruang-ruang itu, sejarah tidak hadir sebagai peristiwa. Tetapi sebagai sedimentasi. Lapisan demi lapisan. Seperti batu yang tidak pernah berhenti menjadi batu, karena ia terus menumpuk waktu di dalam dirinya sendiri.

Di sana kami bertemu Mochtar Pabottingi. Atau lebih tepat. Kami berhadapan dengan cara berpikir yang tidak sekadar menjelaskan dunia. Tetapi juga mengganggu cara kita percaya pada penjelasan itu sendiri. 

Dalam pengantar buku ini ia menulis: “Reformasi: hanya yang berdarah berhak berkata.” Kalimat itu tidak berdiri sebagai pernyataan. Ia berdiri sebagai ambang. Seperti pintu yang tidak menutup sepenuhnya. Dan dari celahnya, sejarah terus mengintip balik kepada kita.

Ada sesuatu yang tidak nyaman di sana. Sebab sejarah tidak pernah benar-benar selesai memilih korbannya. Ia hanya mengganti bentuk. Mengubah nama. Menggeser panggung. Tetapi menjaga struktur yang sama. Seperti sungai yang tampak berbeda di permukaan, tetapi tetap membawa arus dari sumber yang sama.

***

Jika sesuatu berulang dalam pola yang serupa, maka akal ingin menyebutnya struktur. Ingin menenangkannya dengan istilah. 

Tetapi pengalaman selalu lebih liar daripada istilah. Ia menyisakan residu yang tidak bisa dijumlahkan. Semacam sisa yang menolak menjadi sistem. Di situlah sejarah menjadi lebih dekat dengan luka daripada dengan teori.

Maka buku ini tidak bisa dibaca sebagai arsip. Ia lebih menyerupai cermin yang retak di dalam tangan waktu. Setiap retaknya memantulkan wajah yang berbeda. Namun semuanya berasal dari satu wajah yang sama. Wajah kita sendiri yang belum selesai memahami dirinya.

Baca Informasi tentang Suku Dayak dalam Ensiklopedia Britannica Perlu Diperbarui

Dan karena itu ia penting. Bukan sebagai catatan tentang masa lalu. Tetapi sebagai cara masa lalu menolak menjadi masa lalu. Ia terus menyelinap ke hari ini. Ke dalam bahasa kita. Ke dalam cara kita mengingat. Ke dalam cara kita lupa.

Seperti gema yang tidak tahu kapan harus berhenti. 

Seperti sejarah yang belum selesai memilih tubuh berikutnya untuk berbicara.

Oleh: Masri Sareb Putra

Jakarta, 14 Juni 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.