Nilai yang Menyala ketika Listrik Padam pada Kongres Internasional I Literasi Dayak 16 Juni 2026 di Sekadau
Pagi itu, Sabtu, 16 Mei 2026. Kota kecil Sekadau diterpa cahaya matahari terbaiknya. Angin bergerak pelan, menyusuri halaman kampus Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK).
Lalu seperti sengaja singgah lebih lama di antara pepohonan. Membelai dengan lembut daun-daun karet di sekitar gedung tempat Kongres Literasi Dayak I berlangsung. Seakan ikut menyimak percakapan yang baru akan dimulai.
Baca Kongres Internasional I Literasi Dayak
Lalu, seperti jeda yang disisipkan semesta di tengah kalimat yang belum selesai. Listrik yang mengalir dari gardu PLN Sekadau, tiba-tiba padam.
Ruangan kehilangan terang. Mikrofon terdiam. Teknologi yang beberapa saat sebelumnya bekerja tanpa kita sadari, mendadak memperlihatkan betapa besar ketergantungan kita kepadanya. Sejenak, waktu seperti berhenti melangkah.
***
Namun, di tengah kegelapan itu. Tampak terang nilai-nilai kesabaran, belarasa, dan penghormatan yang semakin langka di zaman serba cepat.
Baca Prof. Dr. Agus Pakpahan: Gerakan Literasi Dayak sebagai Inspirasi Literasi Etnis Nusantara
Sabtu selalu terasa istimewa di Sekadau. Mungkin juga di banyak kota kecil lain di Kalimantan. Ada ritme yang berbeda pada hari itu.
Orang-orang punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu, Menghadiri kegiatan sosial, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga. Kesempatan yang tak senantiasa ada, dan dapat dilaksanakan.
Semua elemen Dayak berkumpul dalam satu meja dan ruangan. "Connecting the dots!" demikian kata orang cerdik cendekia ajang itu. Bukan hanya seminar. Dan buka tutup acara sebagaimana biasa.
Namun Sabtu juga sering membawa satu hal yang sudah cukup akrab bagi warga: pemadaman listrik. Kadang karena pemeliharaan jaringan, kadang karena alasan teknis lain yang sulit dihindari.
Pengalaman itu kembali terjadi pada 16 Mei lalu, saat pembukaan Kongres Literasi Dayak I di Sekadau. Ketika Ketua Panitia sedang menyampaikan laporan kegiatan, listrik tiba-tiba padam. Suara dari pengeras berhenti.
Ruangan yang semula terang mendadak berubah. Sebagai tuan rumah, Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) segera mengaktifkan genset. Namun beberapa menit kemudian muncul kendala akibat kebocoran sehingga pasokan listrik cadangan kembali terhenti.
Kami pun harus menunggu sekitar dua puluh menit hingga listrik dapat menyala lagi dan acara dilanjutkan.
***
Banyak orang mungkin menganggap peristiwa itu biasa saja.
Memang demikian adanya!
Pemadaman listrik bukanlah peristiwa luar biasa. Namun yang menarik perhatian saya justru bukan padamnya listrik itu sendiri, melainkan sikap orang-orang yang hadir selama menunggu.
Ruangan itu diisi oleh tokoh-tokoh Dayak dari berbagai daerah: akademisi, pemimpin lembaga, budayawan, dan tamu undangan yang memiliki reputasi serta pengalaman panjang. Mereka adalah orang-orang yang dalam kehidupan sehari-hari terbiasa didengar dan dihormati.
Akan tetapi, selama dua puluh menit tanpa listrik itu, saya tidak mendengar keluhan. Tidak ada suara protes. Tidak ada ekspresi kecewa yang berlebihan. Tidak ada pula komentar sinis yang kadang mudah muncul ketika sebuah acara mengalami gangguan teknis.
Apa yang terjadi di aula Robi Tulus yang luas lagi besar itu? Ruang lantai IV yang, syahdan, di Sekadau untuk naik adalah lift yang pertama?
***
Orang-orang tetap duduk dengan tenang di kursi dan meja masing-masing.
Tak ada suara "uuuuuuuuu!" yang sering spontan muncul ketika sebuah acara mengalami gangguan. Apalagi teriakan atau komentar yang sengaja dilontarkan untuk menunjukkan kekecewaan. Tak ada itu. Tak satu pun.
Sebagian berbincang seperlunya dengan orang di sebelahnya. Sebagian lagi memilih menunggu dalam diam. Tidak tampak wajah-wajah yang gelisah, tidak terdengar keluhan yang beredar dari satu sudut ruangan ke sudut yang lain.
Baca Iban Dream dan Pelajaran dari MURI
Di aula Robi Tulus itu. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Ada segelintir manusia, kebanyakan Dayak, yang masih menaruh hormat pada yang tak kasat mata, yang kekal, melampaui gemerlap atribut kuasa dan barang milik.
Di sana, nilai manusia terasa berdiri telanjang, tanpa perhiasan selain kejujuran yang sederhana namun dalam. Namun di sekelilingnya, dunia tetap berdenyut dengan keinginan daging yang sementara, yang perlahan menggerus makna hingga nyaris tak bersisa. Seakan yang terlihat lebih sering dipercaya daripada yang dihayati, meski yang terlihat itu rapuh dan mudah runtuh.
Dan di ruang itu. Saya jadi mafhum. Bahwa yang bertahan bukan apa yang bersinar, melainkan yang berakar di dalam sunyi: nilai dan penghormatan akan kemanusiaan!
Baca Dayak: Literasi Dayak dari Masa ke Masa Selayang Pandang
Pengalaman kecil itu membuat saya berpikir. Bahwa karakter sebuah masyarakat sering kali terlihat bukan dalam keadaan yang ideal, melainkan ketika sesuatu berjalan di luar rencana.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar, hampir semua orang dapat menunjukkan sikap terbaiknya. Namun ketika muncul hambatan, watak yang sesungguhnya mulai tampak. Dalam situasi semacam itu kita bisa melihat apakah seseorang lebih suka menyalahkan atau memahami, lebih suka mengeluh atau mencari jalan keluar.
Yang saya saksikan di Sekadau adalah kemampuan untuk memahami keadaan. Semua orang tampaknya sadar bahwa tidak ada panitia yang menginginkan listrik padam. Tidak ada tuan rumah yang berharap acara terganggu.
Kesadaran sederhana itu melahirkan sikap yang sederhana pula: memberi kesempatan kepada mereka yang sedang bekerja mengatasi masalah.
Barangkali inilah bentuk belarasa yang paling nyata. Bukan dalam pidato atau slogan, melainkan dalam kesediaan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.
***
Saya juga belajar bahwa ketenangan memiliki daya yang sering diremehkan. Banyak kekacauan tidak lahir karena masalah yang besar, tetapi karena reaksi yang berlebihan terhadap masalah yang sebenarnya kecil. Kepanikan mudah menular.
Keluhan juga demikian. Sebaliknya, ketenangan dapat menyebar dan menciptakan suasana yang memungkinkan persoalan diselesaikan dengan baik. Karena itulah sikap para tokoh yang hadir hari itu terasa penting.
Baca Ricky El, Bujang Lelayang, yang Melintas Batas hingga Sintang dan Sekadau
Ada Dr. (H.C.) Cornelis. Ada Dr. Yansen TP, Yakobus Kumis, Subandrio (wakil bupati Sekadau), Kartiyus Agis (Sekda Sintang), Dr. Stefanus Masiun (Rektor ITKK), Prof. Agus Pakpahan (Rektor Ikopin University), Petrus Gunarso, Prof. Maidi, Prof. Telhalia, tamu undangan dan peserta dari Malaysia. Ada Jaya Ramba, penyair dan munsyi pesohor dari Miri, Sarawak. Juga hadir Dr. Patricia Ganing dan Dr. Louis Ringah Kanyan, akademisi dari Malaysia. Juga penyair kondang negeri tirai bambu, Poul Nanggang. Ada Dr. Wilson anak Ayub, yang sehari sebelumnya menjadi pembicara-kunci Iban Summit III.
Hadir pula Munaldus. Sosok tak banyak cakap yang di lingkup Gerakan Keling Kumang, seperti sunyi yang telah menemukan bentuk suaranya sendiri. Dan karena itu setiap katanya tak sekadar didengar, melainkan ditimbang dalam ruang batin yang lebih dalam dari sekadar percakapan.
Dan tiba di lokus kongres literasi Dayak pula mereka yang menempuh jarak sebagai ujian kesetiaan pada niat, dari Kalimantan Selatan. Mereka melintasi waktu yang seakan memanjang menjadi doa yang tak putus, dua puluh lima jam perjalanan darat yang tidak mereka keluhkan. Yang sukses mengubah penat dan lelah menjadi semacam zikir yang diam. Lalu jalan panjang lebih dari 1.000 kilometer itu menjelma cermin kesabaran manusia terhadap makna tujuan.
Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial
Di situ, perjalanan bukan lagi perpindahan tubuh dari satu titik ke titik lain, melainkan pergulatan halus antara tekad dan waktu. Di antara tubuh yang terbatas dan hasrat yang melampaui batasnya sendiri.
Juga ada Daniel Banai dan rekan-rekan dari Sekolah Adat, Sintang. Dan masih banyak lagi!
Mereka menunjukkan bahwa kedewasaan tidak selalu ditandai oleh banyaknya kata-kata, melainkan oleh kemampuan menjaga sikap ketika keadaan tidak sempurna.
Di tengah kongres yang berbicara tentang literasi. Saya justru menemukan pelajaran yang tidak tertulis dalam makalah atau bahan presentasi.
Saya melihat bagaimana nilai-nilai hidup bekerja dalam praktik sehari-hari.
Kesabaran. Penghormatan. Pengertian. Dan kemampuan menahan diri ternyata bukan konsep abstrak.
Nilai-nilai itu hadir dalam tindakan yang sederhana, termasuk dalam cara menunggu ketika PLN berhenti mengalirkan energi listrik yang menghidupkan.
***
Listrik akhirnya menyala kembali.
Dan acara berlangsung sebagaimana mestinya. Namun, bagi saya. Bagian paling penting yang justru berkesan terjadi ketika ruangan itu sempat kehilangan cahaya.
Pada saat itulah. Saya melihat sesuatu yang lebih penting daripada kelancaran sebuah acara, yakni watak manusia yang tetap terjaga ketika kenyamanan terganggu.
Mungkin itulah salah satu pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari Kongres Literasi Dayak I di Sekadau. Bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak selalu tampak dari apa yang mereka dirikan di atas tanah: gedung, acara, atau sistem yang tersusun rapi, melainkan juga dari sesuatu yang lebih sunyi: cara mereka menjaga diri ketika keadaan tidak lagi sepenuhnya berada dalam genggaman.
Di situlah, sering kali, wajah sebenarnya sebuah peradaban mulai terlihat. Bukan dari kemampuannya mengatur, tetapi dari kesanggupannya menerima.
Sebab ada hal-hal dalam hidup yang tidak tunduk pada rencana manusia, seperti angin yang berubah arah atau listrik yang tiba-tiba padam di tengah kalimat yang belum selesai.
Pada titik itu, sebuah masyarakat diuji bukan oleh kecanggihan yang mereka miliki, melainkan oleh ketenangan yang mereka pilih.
Dan di antara kendali dan ketidakpastian itulah. Kemajuan menemukan maknanya yang paling jujur: bukan sekadar bergerak maju, tetapi tetap manusiawi ketika dunia tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Baca Mugeni: Tokoh Literasi Kalimantan Tengah yang Menginspirasi
Peradaban manusia, pada galibnya, tidak diukur oleh kilau kecanggihan teknologi. Tetapi peradaban manusia ditakar dengan dacin yang muncul dari kedalaman nilai-nilai ke-manusia-annya itu sendiri.
Mesin boleh melaju melampaui angin dan waktu. Algoritma boleh meniru cara berpikir. Namun yang menentukan derajat sebuah zaman bukanlah seberapa pintar ia menghitung, melainkan seberapa lembut ia memelihara manusia di dalam dirinya.
Sebab teknologi, demikian Mc Luhan, hanyalah tangan yang memperpanjang kuasa. Sementara kemanusiaan adalah jiwa yang memberi arah.
Tanpa itu, peradaban hanya menjadi tubuh yang besar, tetapi kehilangan napasnya sendiri.
0 Comments