Ricky El, Bujang Lelayang, yang Melintas Batas hingga Sintang dan Sekadau

Ricky El,  Bujang Lelayang, yang Melintas Batas hingga Sintang dan Sekadau
Ricky El,  si "Bujang Lelayang". Ist.

Ricky El. Sang legendaris musik Iban. Pada 15–16 Mei 2026, tanpa sengaja saya bertemu dengannya di Pondok Indah Hotel Sekadau. Ia menjadi tamu istimewa  acara rutin "Keling Kumang Fest" yang tahun ini diadakan di Tapang Sambas, Sekadau, Kalimantan Barat.
Pelantun lagu Iban  “Bujang Lelayang” itu datang dari Sarawak. Menghibur. Menggoyang panggung. Dan menghidupkan kembali semangat budaya Iban.

Ricky El si Bujang Lelayang

Nama Ricky El sangat dikenal di kalangan masyarakat Iban. Terutama di wilayah Sintang. Sekadau. Putussibau. Hingga kawasan perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Hampir setiap musim gawai. Namanya selalu disebut. Banyak panitia pesta adat berharap ia datang dan menyanyi semalam suntuk.

Baca Iban Dream dan Pelajaran dari MURI

Saya beberapa kali mendengar langsung lagu-lagunya diputar di kendaraan umum. Terutama di travel jurusan Pontianak menuju Sintang atau Putussibau. Ketika mobil melaju melewati tikungan panjang dan jalan beraspal.

Lagu-lagu Ricky El terdengar akrab di telinga. Kadang diputar keras sekali oleh sopir. Penumpang pun ikut bersenandung pelan.

Lagu “Bujang Lelayang” mungkin yang paling terkenal. Lagu itu sangat populer. Bahkan di kampung-kampung pedalaman. Banyak anak muda hafal syairnya. Lagu itu sering dipilih ketika karaoke pada malam gawai.

Ada hal yang khas dari Ricky El. Setiap mulai menyanyi. Ia hampir selalu membuka dengan kalimat dalam bahasa Iban:

“Terima meh lagu enggau diberi nama....”

Kalimat itu sederhana. Tetapi menjadi ciri khasnya. Orang langsung tahu. Itu Ricky El.

Popularitasnya bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh bersama kehidupan masyarakat Iban sendiri. Lagu-lagunya dekat dengan pengalaman sehari-hari orang Dayak. Tentang rumah panjang. Tentang ngayap. Tentang pesta gawai. Tentang kerinduan pulang kampung. Tentang percintaan anak muda. Bahkan tentang perubahan hidup masyarakat Dayak modern.

Baca Festival Sarawakiana 2025 sebagai Warisan Etnik, Seni Tradisi, dan Identiti Masyarakat Sarawak

Menurut penelitian saya. Populasi Iban termasuk terbesar dalam rumpun Dayak. Sekitar 700.000 berada di Malaysia dan Brunei Darussalam. Sekitar 400.000 di Indonesia. Mereka tersebar dari Sekadau. Sintang. Kapuas Hulu. Hingga Batang Lupar dan Lubok Antu di Malaysia.

Karena itulah lagu-lagu Iban mudah diterima luas. Bahasa dan budayanya masih saling terhubung. Meskipun dipisahkan batas negara.

Di banyak tempat. Lagu Ricky El menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Diputar di warung kopi. Di rumah panjang. Di acara keluarga. Di kendaraan umum. Bahkan di tempat-tempat publik. Orang mendengar bukan hanya karena iramanya enak. Tetapi karena syairnya terasa dekat dengan kehidupan mereka.

Ricky El juga sering diundang oleh Credit Union Keling Kumang dalam berbagai kegiatan budaya dan perayaan masyarakat Dayak. Ia pernah tampil dalam acara-acara besar di Sintang. Termasuk masa kampanye Pilkada. Kehadirannya selalu menarik perhatian massa. Banyak orang datang bukan semata ingin melihat acara politik. Tetapi ingin mendengar Ricky El menyanyi.

Di situlah tampak bahwa musik memiliki kekuatan sosial yang besar. Penyanyi seperti Ricky El bukan hanya penghibur. Ia menjadi penghubung antarorang Dayak yang tersebar di berbagai tempat.

Baca Tato Dayak: Identitas Budaya yang Bertahan di Tengah Arus Globalisasi

Hal menarik lainnya. Ricky El tetap konsisten menggunakan nuansa Iban dalam karya-karyanya. Ia tidak meninggalkan identitas budayanya demi mengikuti arus musik populer dari luar. Justru karena mempertahankan ciri Iban itulah ia dikenal luas.

Ini mengandung makna filosofis yang penting. Bahwa modernitas tidak selalu harus membuat seseorang meninggalkan akar budayanya. Ricky El membuktikan bahwa budaya lokal bisa tetap hidup di tengah perubahan zaman. Lagu daerah tidak harus kalah oleh musik modern kota besar.

Ricky pernah berduet dengan Sima dalam album "Bujang Runggu Ensing" yang diproduksi tahun 2009 oleh Cahaya Manis Production. Ia juga tampil bersama Sylvester Andy lewat lagu “Ngayap” dan “Cerita Ngayap”.

Lagu-lagu tersebut cukup jenaka. Tetapi sesungguhnya menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Iban sehari-hari.

Selain “Bujang Lelayang”

Selain lagu “Bujang Lelayang”. Ricky El juga dikenal lewat lagu “Ngeruh Ai”. “A Sampai Z”. “Ukai Langkau Arau”. dan “Poco Ari Gawai”.

Baca Dayak: Sukubangsa Kreatif dan Adaptif Sejak Zaman Pleistosen hingga Era Digital

Namun menurut saya. Lagu “Ucu Aki” memiliki kedalaman makna yang berbeda. Lagu itu berbicara tentang Gawai Dayak. Tentang pentingnya pulang ke rumah panjang. Tentang bertemu keluarga dan kerabat selepas lama berpisah.

Dalam kehidupan modern sekarang. Banyak orang Dayak merantau. Tinggal jauh dari kampung halaman. Ada yang bekerja di kota. Ada yang keluar negeri. Ada yang jarang pulang bertahun-tahun. Tetapi ketika Gawai tiba. mereka berusaha kembali.

Gawai bukan sebatas pesta panen

Karena itu. Gawai bukan sebatas pesta panen. Gawai menjadi ruang mempertemukan kembali hubungan kekeluargaan yang mulai renggang karena kesibukan hidup.

Di situlah kekuatan lagu-lagu Ricky El. Ia tidak hanya menyanyi. Ricky membawa ingatan tentang kampung halaman. Tentang identitas Dayak. Tentang rumah panjang. Tentang kehidupan bersama yang mulai jarang ditemukan dalam dunia modern.

Karena itu. sampai hari ini. nama Ricky El masih tetap dikenang masyarakat Iban. Suaranya tetap hidup. Bersama perjalanan masyarakat Dayak itu sendiri.

Penulis Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.