Petrus Gunarso Paparkan Strategi Hilirisasi Komoditas dan Optimalisasi EkonomiKelapa di Bappenas
| Petrus Gunarso, ketua tim peneliti dan penulis buku Kelapa Indonesia, memaparkan inti-sari buku. Ist. |
Petrus Gunarso, ketua tim peneliti dan penulis buku Kelapa Indonesia, paparkan strategi hilirisasi komoditas dan optimalisasi ekonomi kelapa di Bappenas.
JAKARTA, 3 Juni 2026 — Ketua Tim Peneliti dan Penulis buku Kelapa Indonesia: Potensi, Luasan dan Ekonominya Belum Optimal, Petrus Gunarso memaparkan sejumlah strategi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri kelapa nasional dalam diskusi terarah yang berlangsung di Gedung Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Baca Belajar Jujur dan Amanah Mengelola Uang Anggota dari Credit Union
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perencanaan dan Percepatan Hilirisasi Kelapa Nasional Bappenas, Sukmo Harsono, serta perwakilan petani, pelaku industri pengolahan kelapa, peneliti, dan praktisi logistik.
Indonesia Produsen Besar, Produktivitas Masih Rendah
Dalam paparannya, Gunarso menyoroti kondisi industri perkelapaan nasional yang masih menghadapi sejumlah tantangan meski Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Indonesia menguasai sekitar 24 persen produksi kelapa dunia atau sekitar 2,87 juta ton setara kopra. Namun, produktivitas kebun kelapa nasional masih bertahan di kisaran 1,1 ton per hektare.
Baca Bank Dayak Itu Bernama Credit Union : Gairah Ekonomi Kerakyatan yang Membara di Kalimantan
Menurut Gunarso, rendahnya produktivitas dipengaruhi oleh dominasi pola budidaya tradisional serta tingginya jumlah tanaman tua dan rusak yang belum diremajakan.
“Potensi ekonomi kelapa Indonesia sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Diperlukan transformasi menyeluruh dari sektor hulu hingga hilir agar komoditas ini mampu memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi petani dan perekonomian nasional,” ujarnya.
Hilirisasi dan Diversifikasi Produk Jadi Kunci
Tim peneliti dan penulis buku mengajukan sejumlah rekomendasi strategis untuk mempercepat transformasi industri kelapa nasional.
Pertama, penguatan integrasi rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir guna meningkatkan posisi tawar petani kelapa rakyat yang menguasai sekitar 98,95 persen lahan kelapa nasional.
Kedua, percepatan pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi seperti minyak medium chain triglyceride (MCT), produk oleokimia, nanoselulosa, hingga bahan baku bioavtur. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan baku mentah seperti kelapa bulat dan kopra.
Ketiga, optimalisasi pemanfaatan bagian kelapa yang selama ini belum tergarap maksimal, termasuk air kelapa, sabut, dan tempurung. Tim peneliti memperkirakan potensi ekonomi dari pemanfaatan komponen tersebut dapat mencapai miliaran dolar AS apabila diolah secara terintegrasi.
Dukungan Bappenas untuk Peta Jalan Hilirisasi Kelapa
Selain Gunarso, tim peneliti dan penulis buku Kelapa Indonesia terdiri atas Ahmad Talib, Jelfina C. Alouw, Ardi Simpala, Primadhika Al Manar, Jeanette Kumaunang, Ronald Hutapea, dan Masri Sareb Putra.
Sukmo Harsono menyambut positif berbagai rekomendasi yang disampaikan dalam forum tersebut. Menurut dia, gagasan yang tertuang dalam buku tersebut sejalan dengan penyusunan Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 yang tengah disiapkan pemerintah.
Baca Bank Dayak Itu bernama Credit Union (CU)
Penguatan hilirisasi kelapa dinilai berpotensi mendorong transformasi ekonomi hijau, menciptakan lapangan kerja di perdesaan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap target pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Diskusi di Bappenas tersebut menjadi wadah untuk menyelaraskan hasil riset akademik dengan kebutuhan kebijakan publik, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, peneliti, dan masyarakat petani dalam pengembangan industri kelapa nasional. (x-5)
0 Comments