Pisang Goreng Spesial Bodok : Belajar Berkanjang dari Orang Khek

Pisang Goreng : Belajar Berkanjang dari Orang Khek
Belajar fokus dan berkanjang pada satu bidang dari orang Cina perantauan. Ist.

Pagi 8 Juni 2026 di Bodok, saya menemukan pelajaran tentang etos kerja orang Cina perantauan dari sebuah warung kopi milik keluarga Khek asal Meliau. 

Puluhan tahun orang Khek bertahan pada satu usaha yang sama: menjual kopi dan menjajakan pisang goreng. Ketekunan, konsistensi, dan fokus pada satu bidang membuat usaha sederhana itu tetap hidup dan dicintai pelanggan hingga sekarang.

Baca Literasi Dayak yang Lebih Tua dari Sekolah dan Taman Bacaaan

Pagi itu saya hanya ingin minum kopi. Setelah perjalanan malam dan sempat beristirahat di kantor CU di Bodok menjelang subuh, saya mencari warung kopi untuk mengawali hari.

Belajar berkanjang dari orang Khek 

Pilihan saya jatuh pada warung kopi sederhana yang berada tepat di depan Gereja Paroki Bodok, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Seperti biasa, saya memesan kopi dan mengambil tiga potong pisang goreng sebagai teman minum.

Namun tiga potong itu ternyata tidak cukup.

Pisang goreng yang disajikan memiliki tampilan yang berbeda dari kebanyakan. "Pisang kipas namanya," kata si ncik, yang punya.  Potongannya tipis dan rapi. Susunannya teratur. Terlihat ada ketelatenan dalam proses pembuatannya. Bukan sekadar digoreng lalu dijual, tetapi dibuat dengan perhatian pada detail yang mungkin tidak disadari banyak orang.

Rasanya pun sangat enak. Perisa. Lagi sedap dipandang mata!

Ketika saya masih menikmati kopi, seorang perempuan tua yang dipanggil keluarga dan pelanggan sebagai lau ma datang membawa satu nampan penuh pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Uap panasnya masih terlihat.

Melihatnya, saya spontan berkata, “Hitung semua!”

Seluruh isi nampan itu langsung saya borong dan saya bawa kembali ke kantor CU. Jumlahnya? Jemai tangan tidak cukup membilangnya. Di sana, pisang goreng itu menjadi teman minum kopi pagi bersama kawan-kawan.

Baca Petrus Gunarso Paparkan Strategi Hilirisasi Komoditas dan Optimalisasi EkonomiKelapa di Bappenas

Hasilnya sangat mengesankan.

Dalam waktu singkat, semuanya habis.

Dari obrolan singkat dengan pemilik warung, saya mengetahui bahwa mereka adalah keluarga Khek asal Meliau yang sudah puluhan tahun menetap dan berusaha di Bodok. Mereka menjalankan usaha yang relatif sama dari tahun ke tahun. Tidak besar, tidak memiliki banyak cabang, dan tidak pula merambah ke berbagai bidang usaha lain.

Mereka memilih bertahan pada satu pekerjaan yang ditekuni terus-menerus.

Pemandangan seperti ini mengingatkan saya pada salah satu etos kerja yang sering dijumpai pada orang Cina perantauan. Mereka cenderung fokus pada bidang yang sudah dipilih. Energi, waktu, dan perhatian dicurahkan untuk memperbaiki usaha yang sama secara berkelanjutan.

Hari ini berjualan kopi dan pisang goreng.

Besok tetap berjualan kopi dan pisang goreng.

Tahun depan pun masih melakukan pekerjaan yang sama, tetapi dengan pengalaman yang semakin matang dan pelanggan yang semakin percaya.

Luar biasa = kebiasaan yang dilakukan berulang

Karena dijalankan berulang-ulang selama bertahun-tahun, pekerjaan yang tampak sederhana itu akhirnya berubah menjadi keahlian. Kualitas menjadi terjaga. Pelanggan datang kembali. Reputasi terbentuk secara alami.

Banyak orang mencari cara cepat untuk berkembang dengan membuka berbagai usaha sekaligus. Sebaliknya, keluarga Khek yang saya temui pagi itu menunjukkan pendekatan yang berbeda: bertahan pada satu usaha, mengerjakannya dengan tekun, lalu membiarkan waktu membangun kepercayaan.

Baca Petrus Gunarso Paparkan Strategi Hilirisasi Komoditas dan Optimalisasi EkonomiKelapa di Bappenas

Barangkali itulah sebabnya pisang goreng mereka terasa istimewa. Bukan hanya karena bahan atau resepnya, tetapi karena di balik setiap potong terdapat puluhan tahun pengalaman, ketelatenan, dan kesetiaan pada satu bidang pekerjaan.

Pagi itu saya datang hanya untuk secangkir kopi.

Saya pulang membawa satu nampan pisang goreng dan sebuah pelajaran lama yang kembali terbukti: fokus pada satu usaha, jika dijalankan dengan tekun dan konsisten, sering kali menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.

0 Comments

Type above and press Enter to search.