Literasi Dayak yang Lebih Tua dari Sekolah dan Taman Bacaaan

 

Literasi Dayak yang Lebih Tua dari Sekolah dan Taman Bacaaan
Literasi Dayak, terutama menulis, perlu terus didorong dan ditumbuh-kembangkan menjadi gerakan bersama. Sebab apa yang dibaca, jika tidak ada yang menulis? Dokpri.

Oleh Masri Sareb Putra

Orang Dayak telah lama membaca. Ini penting ditegaskan sejak awal. Membaca tidak selalu identik dengan buku. Tidak selalu identik dengan huruf. Tidak selalu identik dengan bangku sekolah dan taman bacaan. Jauh sebelum sekolah hadir. Jauh sebelum buku masuk ke kampung-kampung. Orang Dayak sudah membaca.

Orang Dayak membaca alam. Membaca arah angin. Membaca musim. Membaca tanda-tanda hutan. Membaca tanda-tanda zaman. Mereka tahu kapan menanam. Kapan membuka ladang. Kapan menebang. Kapan berhenti. Semua itu bukan kebetulan. Itu hasil pembacaan. Itu hasil pengalaman. Itu hasil pewarisan.

Literasi yang lebih tua dari sekolah

Orang Dayak juga membaca cerita. Cerita yang dituturkan dari mulut ke telinga. Dari orang tua ke anak. Dari tetua adat ke generasi muda. Cerita tentang asal-usul. Tentang hukum adat. Tentang pantangan. Tentang nilai. Semua itu disimpan dalam ingatan. Dihidupkan dalam perayaan. Diulang dalam ritual. Itu adalah teks. Teks hidup. Teks yang tidak ditulis. Tetapi tetap dibaca.

Baca Dayak-Melayu dalam Satu Darah Daging Buku

Di sinilah letak kekuatan orang Dayak. Literasi mereka tidak dimulai dari kertas. Tetapi dari kehidupan itu sendiri. Dari pengalaman kolektif. Dari relasi dengan alam dan sesama. Maka ketika kita berbicara tentang minat baca. Kita tidak boleh menyempitkannya hanya pada buku. Kita harus melihatnya secara utuh. Secara menyeluruh.

Ketika sekolah modern masuk. Terjadi perubahan. Terjadi pergeseran. Orang mulai mengenal huruf. Mengenal buku. Mengenal sistem pendidikan formal. Ini bukan menggantikan yang lama. Tetapi melengkapi. Tradisi lisan bertemu dengan tradisi tulis. Dari sini lahir generasi baru. Generasi yang mampu membaca dua dunia. Dunia lama. Dan dunia baru.

Namun. perjumpaan ini tidak selalu mudah. Ada jarak. Ada adaptasi. Ada proses panjang. Tidak semua langsung berubah. Tidak semua langsung terbiasa. Tetapi benih itu sudah ditanam. Dan benih itu terus tumbuh hingga hari ini.

Membaca tanpa membeli

Kita acap kali menyaksikan pemandangan sederhana. Di toko buku. Di mal. Di taman bacaan. Di kedai buku. Seseorang berdiri. Membuka buku. Membaca beberapa halaman. Lalu menutupnya kembali. Ia tidak membeli. Ia pergi.

Baca Senarai Penulis Dayak dan Bukunya Capai 1.183 Judul : Hasil Citizen Research WAG Literasi Dayak

Banyak orang menyimpulkan dengan segera Minat baca rendah. Orang tidak suka membaca. Orang hanya melihat-lihat. Kesimpulan ini terlalu dangkal. Terlalu tergesa-gesa. Padahal yang namanya "membaca" menurut Peter Kump (Breakthrough Rapid Reading, 1988), tidak harus dibaca kata demi kata. Siswa SD dan profesor, membaca buku sama, berbeda cara membaca, berganung pada: tujuan membaca itu sendiri.

Membaca tidak selalu identik dengan membeli. Ini harus ditegaskan. Ada banyak faktor yang memengaruhi. Daya beli. Prioritas ekonomi. Ketersediaan uang. Harga buku. Semua itu nyata. Semua itu tidak bisa diabaikan.

Bagi sebagian orang. membeli buku adalah kemewahan. Bukan kebutuhan utama. Mereka harus memilih. Antara kebutuhan harian. Dan buku. Dalam situasi seperti ini. membaca di tempat menjadi pilihan. Membaca tanpa membeli menjadi jalan tengah.

Namun di balik itu. ada sesuatu yang lebih penting. Ada rasa ingin tahu. Ada kebutuhan akan pengetahuan. Ada dorongan untuk memahami. Ini adalah inti dari minat baca. Ini yang harus kita lihat. Ini yang harus kita hargai.

Baca Buku dan Pengaruhnya

Membaca beberapa halaman tetaplah membaca. Menyerap satu gagasan tetaplah proses belajar. Mengingat satu kalimat bisa mengubah cara berpikir seseorang. Maka kita tidak boleh meremehkan praktik kecil ini. Justru di situlah benih literasi tumbuh.

Di banyak tempat, praktik ini umum terjadi. Tidak hanya di kalangan Dayak. Tetapi juga di kota besar. Di kampus. Di ruang publik. Orang membaca. Tidak selalu membeli. Tetapi tetap belajar.

Di sinilah pentingnya peran perpustakaan. Taman baca. Komunitas literasi. Tempat-tempat yang menyediakan akses tanpa harus membeli. Tempat di mana orang bisa membaca dengan bebas. Dengan nyaman. Dengan berkelanjutan.

Jika akses diperluas. jika ruang diperbanyak. maka minat baca akan menemukan jalannya. Ia tidak perlu dipaksa. Ia hanya perlu difasilitasi.

Sejak 1980-an kesadaran telah tumbuh

Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ia bertahap. Ia berproses. Ia bergerak perlahan. Namun pasti.

Sejak tahun 1980-an. Di Borneo, khususnya Kalimantan Barat. Mulai terlihat geliat literasi yang lebih jelas. Ini periode penting. Periode kebangkitan. Periode di mana orang Dayak mulai masuk lebih dalam ke dunia tulis-menulis.

Baca Ketika Nama Penulis Lebih Besar dari Judul Buku

Penulis mulai bermunculan. Mereka menulis pengalaman. Menulis budaya. Menulis sejarah. Menulis kehidupan sehari-hari. Mereka tidak lagi hanya menjadi objek tulisan orang luar. Mereka menjadi subjek. Dayak berbicara dengan suara sendiri.

Percetakan mulai hadir. Buku mulai dicetak secara lokal. Ini membuka peluang baru. Tulisan tidak lagi harus dikirim jauh. Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pusat. Ada kemandirian. Ada ruang produksi sendiri.

Penerbit juga mulai berkembang. Baik yang berskala kecil. Maupun yang lebih besar. Ini memperluas jaringan. Mempercepat distribusi. Membuka akses bagi penulis-penulis baru.

Sekolah dan kampus juga berperan. Lembaga pendidikan formal ini menjadi tempat bertemunya gagasan. Tempat lahirnya diskusi. Tempat tumbuhnya kesadaran kritis. Dari sini lahir generasi yang tidak hanya membaca. Tetapi juga menulis. Meneliti. Menganalisis.

Gerakan ini mungkin tidak selalu terlihat besar. Tidak selalu mendapat perhatian luas. Tetapi ia nyata. Ia bekerja di bawah permukaan. Ia membangun fondasi.

Hari ini. kita melihat hasilnya. Semakin banyak orang Dayak yang menulis. Semakin banyak buku yang terbit. Semakin banyak diskusi yang terjadi. Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari proses panjang yang dimulai sejak beberapa dekade lalu.

Namun. pekerjaan belum selesai. Masih banyak yang harus dilakukan. Masih banyak yang harus diperkuat.

Dari potensi menuju peradaban

Dengan populasi tidak kurang dari 8 juta jiwa sedunia, orang Dayak memiliki potensi besar. Ini bukan angka kecil. Bilangan jumlah ini  adalah kekuatan. Sebuah basis yang kuat lagi luas.

Namun potensi tidak otomatis menjadi kekuatan nyata. Ia harus dikelola. Ia harus diarahkan. Ia harus dikembangkan.

Baca Catatan Seorang Misionaris van Hulten dengan Wajah Baru

Minat baca harus diteliti. Tidak cukup dengan asumsi. Tidak cukup dengan kesan. Harus ada data. Harus ada pengukuran. Harus ada indikator yang jelas.

Frekuensi membaca. Berapa kali seseorang membaca dalam seminggu. Durasi membaca. Berapa lama waktu yang dihabiskan. Jenis bacaan. Apa yang dibaca. Buku. Media digital. Kitab suci. Berita.

Akses terhadap bahan bacaan. Apakah tersedia perpustakaan. Apakah ada toko buku. Apakah ada komunitas baca. Kepemilikan buku. Berapa banyak buku yang dimiliki secara pribadi.

Partisipasi dalam kegiatan literasi. Apakah terlibat dalam diskusi. Bedah buku. Pelatihan menulis. Produksi tulisan. Apakah menulis artikel. Buku. Catatan lapangan.

Semua ini harus dihitung. Dicatat. Dianalisis. Dari sini kita bisa melihat gambaran yang lebih jelas. Lebih akurat.

Namun di atas semua itu. ada satu hal yang tidak kalah penting. Belarasa. Kesadaran bersama. Bahwa literasi bukan hanya urusan individu. Tetapi urusan kolektif.

Komunitas harus bergerak. Lembaga harus terlibat. Pemerintah harus hadir. Dunia pendidikan harus berkontribusi. Semua harus bekerja bersama.

Perpustakaan desa harus dihidupkan. Taman baca harus diperbanyak. Buku harus dipermudah aksesnya. Penulis harus didukung. Pembaca harus dihargai.

Minat baca orang Dayak itu seperti api kecil. Ia sudah ada. Ia sudah menyala. Namun belum besar. Belum terang sepenuhnya.

Tugas kita bukan menyalakan dari nol. Tetapi menjaga. Merawat. Membesarkan. Agar ia menjadi obor. Menjadi terang. Menjadi arah.

KLD dan Pameran Buku sebagai langkah raksasa literasi Dayak

Pertanyaan bukan lagi, "Apakah orang Dayak membaca?" Tetapi, "Sejauh mana kita  mendorong Dayak membaca? Seberapa serius kita menelitinya? Seberapa kuat kita menjadikan habitus  membaca sebagai dasar peradaban?"

Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak

Pada galibnya, peradaban dibangun oleh orang yang membaca. Orang yang menulis. 

Orang Dayak sedang bergerak ke sana. Perlahan, namun pasti.

Kongres Internasional I Literasi Dayak & the 21st Dayak Book Fair di Sekadau, Kalimantan Barat pada 15-16 Mei 2026 adalah langkah kecil anak manusia. Namun, langkah raksasa bagi kemajuan literasi dan peradaban sebuah suku-bangsa!

Jakarta, 02 Mei 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.