The History of Dayak sebagai Proklamasi

The History of Dayak sebagai Proklamasi
The History of Dayak: satu dari langkanya sejarah suatu etnis di dunia. Ist.

THE HISTORY OF DAYAK : ISBN 978-623-5890-10-4
Penerbit: Lembaga Literasi Dayak
Tahun: 2025

Buku ini bukan saja “berbobot” secara harfiah, yakni 1 kg atau 564 halaman. Namun juga dari sisi kandungan materi sebagaimana tampak dari sitasi dan referensi yang digunakan kedua penulis. 

Baca Dayak Today

Pendekatan historiografi, etnografi, dan hermeneutika. Dengan menyarikan beberapa bacaan langka, antara lain zaman prasejarah Varuna-dvipa (nama Borneo era pengruh Hindu-India) karya Blust (1967), pustaka kuna era Hindu-India, riset ke lokus bersejarah Gua Niah, Miri, dan Muara Kaman di mana terdapat situs bersejarah Prasasti Yupa, batu narit di Krayan, Museum Sarawak yang melakukan uji karbon (C-5) manusia penghuni Borneo 40.000 tahun silam, serta bacaan2 berbahasa Belanda dan Inggris.

Dibuat kronologis “sejarah Dayak” yangberikut ini:

TONGGAK PENTING SEJARAH DAYAK

 

No.

Tahun / Periode

Peristiwa Penting

Signifikansi / Dampak Sejarah

1

±46.000–39.0

00 SM

Bukti hunian manusia purba di Gua Niah, Sarawak

Menunjukkan jejak peradaban awal dengan alat batu dan seni cadas tertua di dunia. Ini menjadi dasar kontinuitas biologis dan kultural masyarakat Dayak modern.

 

2

 

±5.000–1.000

SM

 

Pembentukan pola ekonomi sagu, rotan, dan ladang berpindah di seluruh Borneo

 

Menjadi fondasi sistem sosial-ekologis dan spiritual masyarakat Dayak; membentuk struktur hidup berbasis sungai dan hutan.

3

Abad ke-4/5 M

Prasasti Yupa Kerajaan Mulawarman

Prasasti Yupa menandai lahirnya tradisi literasi dan struktur sosial awal masyarakat Dayak di Borneo.

4

Abad ke- 10–14

 

Pengaruh Sriwijaya, Brunei, dan Majapahit di pesisir Borneo

Awal perdagangan dan islamisasi pesisir; mempertemukan komunitas pesisir dengan pedalaman Dayak.


 

5

1689

Dayak berinterkasi pertama kali dengan misionaris berkebangsaan Italia: Pastor Antonio Ventimiglia.

Merupakan awal orang Dayak (kususnya di sepanjang Sungai Barito) masuk agama Katolik, dan memiliki wawasan budaya Eropa

 

6

 

1757

 

Etimologi “Dajak” pertama kali diperkenalkan oleh kontroler Banjarmasin, Hogendorff

 

Awal pembentukan label administratif “Dayak” oleh pihak kolonial yang kelak memengaruhi konstruksi identitas etnis.

 

7

 

1838–1842

 

James Brooke mendirikan Kerajaan Sarawak (White Rajah)

 

Awal pemerintahan kolonial Inggris di utara Borneo; mengubah struktur politik, ekonomi, dan sosial Dayak Sarawak.

8

1847

± 500 orang Dayak Ngaju di Pulau Petak, Kalteng sudah bisa baca-tulis.

Awal Dayak menguasai Literasi modern, dimana kelompok Dayak ini sudah berdagang hingga ke luar pulau.

9

1880–1900

Konsolidasi kekuasaan Belanda di pedalaman Kalimantan

Memperluas kontrol kolonial ke wilayah pedalaman; Dayak mulai diklasifikasikan secara etnografis dan administratif.


 

10

1894

Perjanjian Damai Tumbang Anoi

Mengakhiri praktik pengayauan dan memunculkan kesadaran kolektif Dayak lintas wilayah; tonggak moral dan sosial penting dalam sejarah Dayak.

 

11

 

1905

 

Misionaris Ordo Kapusin tiba di Borneo.

 

Awal pendidikan dan pelayanan sosial modern di pedalaman Kalimantan.

 

12

 

1922

 

Pendirian pastoran dan gereja Katolik pertama di Sanggau.

 

Mgr. Pacifikus Bos dan Pastor Eugenius memulai era baru pendidikan dan iman Katolik di Borneo Barat.

13

1926

Berdirinya Pakat Dayak (1926)

Organisasi sosial- politik pertama Dayak; menandai lahirnya kesadaran politik modern

 

14

 

1941–1945

 

Operation Semut & Agas (Z Special Unit)

 

Kolaborasi Dayak dengan pasukan Sekutu melawan Jepang di Sarawak–Sabah; partisipasi Dayak dalam perang global dan pengalaman militer modern pertama.


 

15

1945

Daya in Action di Sanggau.

Cikal bakal Partai Persatuan Daya (PPD) yang resmi berdiri 1 Januari 1946; simbol kesadaran politik modern Dayak.

16

1945–1949

Keterlibatan tokoh Dayak dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia

Tokoh seperti Tjilik Riwut memimpin perjuangan dan memperkuat integrasi Kalimantan ke Republik Indonesia.

 

17

 

1950–1960-an

 

Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah dan lembaga pendidikan lokal

 

Memberi representasi politik dan kesempatan pendidikan bagi Dayak; muncul generasi intelektual Dayak modern.

18

1963

Didirikannya Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi Dayak di Kalimantan Barat.

19

1967

 

Peresmian Provinsi Kalimantan Tengah

 

Tonggak simbolik otonomi politik Dayak di Indonesia.

20

1970–1980-an

Program transmigrasi dan ekspansi industri kayu

Mengubah struktur demografis dan ekonomi; memicu konflik agraria dan kehilangan wilayah adat Dayak.


 

21

1978

Berdirinya Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK).

Fondasi gerakan sosial Dayak modern berbasis pendidikan, budaya, dan ekonomi kerakyatan.

22

1984

Berdirinya Credit Union Pancur Kasih, Pontianak

Awal gerakan ekonomi kerakyatan Dayak; menumbuhkan kemandirian finansial dan solidaritas sosial.

 

23

 

1987–1993

 

Blokade Penan di Sarawak

 

Aksi perlawanan adat terhadap pembalakan hutan; mendapat dukungan internasional dan simbol perjuangan hak adat Dayak.

24

1992

Seminar Internasional Kebudayaan Dayak di Pontianak.

Disepakati penyeragaman nama: Daya, Daya', Dyak menjadi Dayak.

25

1998–2001

Era Reformasi dan Otonomi Daerah

Membuka ruang bagi partisipasi politik dan pengakuan hukum adat Dayak dalam struktur negara.

26

2008

Pembentukan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN)

Lembaga payung adat yang menyatukan suara Dayak lintas provinsi dan memperkuat posisi politik-budaya.


 

27

2017

Kongres Kebudayaan Dayak Internasional & Deklarasi Bengkayang

Mengukuhkan semangat “Satu Dayak Tanpa Sekat” di seluruh Borneo; simbol solidaritas lintas negara.

 

28

 

2019

 

Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) berdiri.

 

Berdiri di Palangka Raya dan melanjutkan Munas I di Samarinda; wadah intelektual lintas disiplin.

 

29

 

2019

 

Peringatan 125 Tahun Perjanjian Tumbang Anoi.

 

Seminar nasional di Bappenas menegaskan peran Dayak dalam konteks Ibu Kota Negara dan pembangunan berkeadilan.

30

2020–2021

Refleksi Dayak atas pemindahan IKN.

Muncul kesadaran akan pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam tata ruang dan pembangunan nasional.

 

31

 

2022

 

Penulisan buku The History of Dayak.

 

Hasil riset lintas dekade dua ilmuwan Dayak “dari dalam,” menjadi pustaka babon sejarah dan budaya Dayak.


 

32

2024

Hari Studi “Bertemunya Intelektual Kampus dan Kampung” di Sekadau.

Ajang menggali pengetahuan tacit masyarakat Dayak menjadi explicit knowledge dalam jurnal dan buku, salah satunya melahirkan buku Filsafat Dayak

33

2025

Literasi Dayak 2025 di Sekadau,

31 Oktober 2025.

Forum akbar literasi dan kebudayaan Dayak, meneguhkan Sekadau sebagai pusat gerakan intelektual dan kebangkitan budaya Dayak modern.

*Dari berbagai sumber, data diolah oleh penulis

Novum saya, dan Dr. Yansen, sebaliknya: Dayak yang ke luar pulau, bukan sebaliknya! Ini bisa dibuktikan dari artefak, prasasti, keramikologi, dan hasil uji-karbon oleh Museum Sarawak. Dayak dari Yunan, sangat lemah dari segi akademik dan saintifik. Kita bisa bertanya: Siapa migran pertama dari Yunan? Di mana mendarat? Mana bukti artefak/ pecinannya? Bagaimana peristiwa sejarahnya? Mana rangkaian faktanya?

***

Dekat bukit Parnassos, Yunani. Ada sebuah kuil. Pada pronaos (depan pintu gerbang) Kuil Apollo di Delphi, itu. Dahulu kala tertulis: “gnōthi seauton”.

Apa makna “bahasa dewa” itu. Sangat sangat dalam. Artinya: kenalilah dirimu! Banyak pemikir tingkat dewa telah menggunakan istilah itu, dalam pelbagai konteks. Mulai dari Aeschylus, Socrates, Plato, hingga Sarah Ida Shaw daan Eleanor Dorcas Pond (1904).

Mengenal diri sendiri adalah mengenal asal usul. Terutama menyangkut silsilah, klan, etnik, bahasa, dan budaya. Karena itu, seseorang yang tidak mengenal asal usul, terutama menyangkut silsilah, klan, etnik, bahasa, dan budaya menjadi luntur kualitas etnisitasnya.

                                                                             ***

DARI mana kita mulai bicara, dan menulis, sejarah Dayak?

Apakah terhitung semenjak terminologi, labeling, dan pertama kali istilah untuk menyebut penduduk asli pulau Borneo itu diperkenalkan Hogendorph tahun 1757?

Atau jauh sebelumnya, ketika prasasti Yupa didirikan di Muara Kaman, wilayah Kalimantan Timur sekarang, pada pengujung abad ke-4 M?

Ataukah, sesuai dengan kaidah penelitian dan penulisan sejarah yang berdasarkan kronologis waktu; sehingga mulai dari zaman prasejarah? Sedemikian rupa, seurut dengan waktu yang dianggap sebagai tonggak yang menandai peristiwa dan kejadian yang terjadi dan dialami Dayak dari masa ke masa?

Sebelum Pembaca bertanya-tanya, Penulis lama telah merenung-renungkan hal itu. Setelah berdiskusi dengan beberapa cerdik cendikia, terutama dengan kawan-rapat Prof. Kumpiady Widen, seorang antropolog Dayak terpandang, akhirnya sistematika seperti buku ini.

Dalam “Kronologi Dayak” yang ditempatkan pada halaman muka buku ini, sebenarnya telah tersurat dengan sangat gamblang konsep itu: Masa pra, atau sebelum Tahun 1757, adalah fase di mana identitas Dayak belum dikenal untuk menyebut penduduk asli, indigenous peoples, atau autokton , Borneo, pulau terbesar ke-3 dunia yang pada masa pengaruh Hindu-India yang dikenal dengan sebutan “Varuna Dvipa”.

Baca 101 Tokoh Dayak Jilid 4: Sebuah Pertanggungjawaban

Pada Bab bab awal buku ini, kita akan banyak bertemu dan berdiskusi tentang topik ini. Hal ini penting, mengingat makin hari makin banyak terjadi bias, dan adanya dua aliran besar menyangkut asal usul, atau keaslian Dayak penduduk asli Borneo ini. Sebab ada penganut aliran lain, sebagai contoh, Sellato, Lahajir, dkk., yang meyakini dan telah menulis mengenai asal mula nenek moyang suku bangsa Dayak yang menurutnya berasal dari Yunan. Dalam Dr. Marthin Billa Kekayaan & Kearifan Budaya Dayak (2017: 33). Pandangan Lahajir ini dikutip dan dijadikan acuan oleh peneliti dan penulis luar Dayak, Maunati (2004).

Dapat diringkas di sini, mereka yang menganut aliran/ pandangan kini meybahwa asal usul nenek moyang Dayak dari Yunan, Cina. Oleh karena proses yang berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun lamanya, kelompok migrasi dari Yunan ke pulau Borneo ini menyebar, dan terpecah-pecah.

Kelompok yang menyebar dan terpecah-pecah itulah yang diyakini oleh aliran ini “menjadi”, atau dalam proses alamiah-evolutif kemudian dikenal dan disebut dengan “Dayak”.

Adapun novum saya, dan Dr. Yansen, sebaliknya: Dayak yang ke luar pulau, bukan sebaliknya!

Ini bisa dibuktikan dari artefak, prasasti, keramikologi, dan hasil uji-karbon oleh Museum Sarawak. Dayak dari Yunan, sangat lemah dari segi akademik dan saintifik.

Baca Long Midang: Garuda di Dada. Malaysia di Perut

Kita bisa bertanya: Siapa migran pertama dari Yunan? Di mana mendarat? Mana bukti artefak/ pecinannya? Bagaimana peristiwa sejarahnya? Mana rangkaian faktanya?

Jika tidak bida dibuktikan, dan dijawab pertanyaan itu maka: dongeng, bukan sejarah!

***

Di berbagai media sosial saat ini, banyak konten yang berisi kedayakan. Akan tetapi, tidak semuanya “santan” yang disajikan, melainkan banyak “ampasnya”. Berbagai kesalahan terjadi, mulai dari memilih dan menentukan sumber, mispersepsi, kekurangtahuan, misinformasi, dan lebih banyak di antaranya kurang tepat di dalam mengambil sumber yang akurat dan tepercaya.

Pada umumnya, sumber-sumber yang diambil bukan dari sumber primer, melainkan sumber sekunder, bahkan sumber yang tidak jelas kredibilitas dan integritasnya. Kemudahan yang disediakan perangkat lunak, membuat orang mudah melakukan copy paste, tidak mengecek terlebih dahulu akurasi dan keandalan sumbernya.

Demikianlah yang kita temukan hari ini video, tulisan, narasi, tentang Dayak yang bukan saja sepotong sepotong, melainkan juga bias, bahkan misinformasi.

Fakta semacam itulah yang menggelitik penulis menulis buku ini. Didorong oleh kawan-kawan antropolog, etnolog, dan peneliti “dari dalam”, seperti: Prof. Kumpiady Widen, Dr. Mugeni, Prof. Dr. Suriansyah Murhaini, Dr. Yansen TP, M.Si. Dr. Wilson, Dr. Kristianus Atok, Albertus Imas, M.A., Albert  Rupinus, M.A., Ph.D., dan Moses Komala Avan yang tiada hentinya jika bertemu bertanya mengenai, “Kapan menulis sejarah Dayak?”

Baca Gebyar Budaya Dayak SMA Don Bosco Sanggau: Melangkah Bersama Budaya Menuju Masa Depan

Jangankan niat. Terbetik pun tidak hasrat untuk “menyaingi” The History of Java (ThoJ). Buku babon sejarah Jawa dianggap karya Thomas Stamford Raffles yang terbit tahun 1817.

Meski dianggap cukup kontroversial[1] terkait dengan konten keaslian yang “diragukan”, karya ini penting terutama dalam khasanah literasi Nusantara karena menjadi acuan di dalam sejarah Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Hal yang berbeda, di buku Sir dan saya: pulau Java identik pulau dengan sukunya. Sedangkan buku saya, suku Dayak dan pulau bermukim sukunya, berbeda. Namun, akhir-akhir ini, banyak anak muda ingin mengusulkan, setengah maksa, wacana: Pulau Dayak.

Saya baca langsung buku The History of Java tahun 1992 di Taman Mini Indonesia Indah. Kini sudah ada terjemahannya. Tapi saya tidak pernah puas dengan sumber sekunder. Selain buku itu, untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai “isi kepala” dan latar keluarga Raffles, saya juga memamahbiak buku ini. Menambah, sekaligus menyibak wawasan. Setidaknya, bisa memahami apa yang menjadi latar.

Sebelumnya, saya telah mafhum bahwa sebagian (besar) karya ini hasil plagiat. Saya harus belajar dari sejarah. Historia docet. Sebab siapa yang tidak (mau) belajar dari sejarah, akan dikutuk sejarah.

The History of Java, saya kemudian mafhum bahwa karya ini sebagian adaah hasil plagiat. Raffles mengutip bulat-bulat, dan menerjemahkan, tanpa menyebut sumber karya Middelkoop. Yakni The history of Priboemi, terutama Bab 10 buku THoJ.

Tentang tindak-plagiat ini, saya mafhum dari pakar sejarah, guru, dan seorang bibliofili yang kemudian menjadi salah satu petinggi Kompas, P. Swantoro. Dalam bukunya Dari buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu (Kepustaan Populer Gramedia, 2002) sejarawan yang diam itu menukilkan catatan penting ihwal plagiasi dimaksud.

Baca Rumah Betang Saham 150 Tahun, Warisan Dayak yang Tetap Dihuni

Meski demikian, THoJ tetap sebuah mahakarya sepanjang yang pernah ada tentang sejarah Jawa. Sebuah catatan sejarah berharga dari sudut pandang penguasa waktu itu.

Hannigan juga mencatat hal yang senada. Buku master piece karya Raffles, yaitu The History of Java dianggap sebagai karya plagiat (hlm. 249). Raffles bukanlah orang yang sesungguhnya mengerjakan naskah tersebut. Ia hanya menyalin begitu saja naskah-naskah hasil jarahan dan terjemahan yang dilakukan oleh orang Madura yang dipekerjakannya.

Raffles juga memanfaatkan naskah-naskah yang ada di perpustakaan Buitenzorg. Paparan tentang Candi Prambanan dianggap sebagai kerja Mackenzie. Sedangkan paparan tentang Borobudur dan daftar candi-candi patut diduga diambil dari hasil kerja Hermanus Christian Cornelius.

Toh demikian, THoJ amat berguna. Terutama karena menyibab sejarah Jawa. Namun, menurut hemat saya, yang tepat: Sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Subjeknya raja, pangeran, seputar keraton, dan rakyat sama sekali tidak sebagai subjek.

Jadi, berbeda dengan sejarah Dayak yang akan saya bukukan! Benar-benar sejarah mengenai suku bangsa itu, orang-orangnya, setting (waktu dan tempat) serta peristiwa yang menjadi rangkaian fakta dalam satu kesatuan dengan pelaku dan apa yang dianggap sebagai tonggak penting.

Baca Transmigran Kuasai Pasar Sayur Keliling di Kalimantan Barat

Tentu, dalam “fussion of horizon” di mana apa yang disebut factum menyejarah dalam rentang waktu kronos (kronologi), bukan kairos. Kairos menyangkut kualitas waktu, yang telah diberi nilainya oleh si penafsir, atau penulisnya.

***

UNTUK itulah buku ini ditulis dan diterbitkan. Sekaligus ia ada dan berada.

PADA akhirnya, harus dikatakan bahwa Dayak harus menulis dari dalam. Menarasikan dirinya sendiri karena ia yang paling paham dan mengerti siapa dirinya.

Itu arti. Sekaligus filosofi makna gnothi seauton!

0 Comments

Type above and press Enter to search.