Rumah Betang Saham 150 Tahun, Warisan Dayak yang Tetap Dihuni
| Rumah Betang Panjang Saham di Landak, Kalimantan Barat, lebih dari 150 tahun usianya yang tetap dihuni. Ist. |
LANDAK – Rumah Betang Saham di Landak, Kalimantan Barat, telah berdiri sejak 1875 dan masih dihuni masyarakat Dayak Kanayatn. Lebih dari sebagai tempat tinggal, rumah panjang ini menjadi pusat adat, budaya, dan kehidupan komunal yang tetap lestari hingga kini.Rumah panjang tersebut telah berusia 150 tahun, menjadikannya salah satu rumah betang tertua di Kalimantan Barat yang masih aktif dihuni oleh masyarakat Dayak Kanayatn
Di tengah perbukitan Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, berdiri sebuah rumah panjang yang telah melintasi lebih dari satu setengah abad sejarah.
Baca Alena Murang: Penjaga Warisan Sape' dan Suara Dayak Kelabit di Pentas Dunia
Rumah Betang Panjang Saham bukan sekadar bangunan tradisional, melainkan ruang hidup yang hingga kini masih dihuni masyarakat Dayak Kanayatn serta menjadi pusat adat, budaya, dan kehidupan komunal.
Rumah panjang merupakan simbol peradaban masyarakat Dayak di Pulau Borneo. Di berbagai daerah, bangunan ini dikenal dengan nama yang berbeda, seperti lamin, betang, rumah panyae, ladakng, atau radakng, sesuai dengan bahasa dan tradisi masing-masing subetnis. Meski berbeda penyebutan, fungsinya tetap sama, yakni sebagai pusat kehidupan bersama.
150 Tahun Rumah Betang Saham, Warisan Dayak yang Tetap Dihuni
Rumah Betang Panjang Saham mulai dibangun pada 1875 menggunakan kayu ulin sebagai material utama. Hingga 2026, usianya telah mencapai sekitar 150 tahun. Bangunan itu membentang sepanjang 180,5 meter dengan lebar 16,2 meter dan berdiri di atas tiang-tiang setinggi hingga empat meter yang mengikuti kontur Bukit Samahukng.
Baca Agnotologi di Borneo: Penjajahan yang Terjadi di Dalam Pikiran
Pada awalnya rumah ini hanya memiliki satu bilik. Seiring bertambahnya jumlah keluarga penghuni, bangunan diperluas secara bertahap hingga memiliki 33 bilik.
Penambahan terakhir dilakukan pada 1993. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa rumah panjang berkembang mengikuti dinamika kehidupan komunitas yang menghuninya.
150 Tahun Berdiri, Rumah Betang Saham Menjaga Tradisi Komunal Dayak
Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, rumah panjang bukan sekadar tempat tinggal. Teras atau pante dimanfaatkan untuk menjemur gabah, menggelar upacara adat, dan berbagai kegiatan bersama. Serambi atau sami menjadi ruang menerima tamu, tempat anak-anak bermain, hingga lokasi warga beristirahat.
Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo
Di bagian dalam terdapat bilik keluarga sebagai ruang privat, sedangkan jungkar berfungsi sebagai dapur. Pada masa lalu, rumah panjang hanya memiliki satu tangga yang dapat diangkat pada malam hari sebagai sistem pertahanan terhadap ancaman dari luar maupun serangan hewan buas.
Kini Rumah Betang Panjang Saham memiliki 35 pintu dan sejumlah tangga dengan ketinggian berbeda. Tata ruang tersebut mencerminkan kemampuan masyarakat Dayak menyesuaikan arsitektur tradisional dengan kondisi lingkungan.
150 Tahun Melintasi Zaman, Rumah Betang Saham Tetap Menjadi Pusat Adat
Keistimewaan Rumah Betang Panjang Saham terletak pada fungsinya yang tetap hidup. Berbeda dengan sejumlah rumah panjang lain yang kini lebih banyak menjadi objek wisata atau bangunan bersejarah, rumah ini masih menjadi tempat tinggal masyarakat Dayak Kanayatn.
Baca Dayak: Origins and First Use as Indigenous Identity of Borneo
Di bawah atap yang sama berlaku hukum adat, norma sosial, dan tata kehidupan bersama. Pembagian ruang dilakukan secara jelas antara area privat untuk keluarga dan ruang publik yang digunakan untuk musyawarah, penyelesaian sengketa, pelaksanaan ritual, hingga pengambilan keputusan bersama.
Rumah panjang menjadi tempat berlangsungnya proses pewarisan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan
Keberadaan Rumah Betang Panjang Saham menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui konservasi bangunan, tetapi juga dengan mempertahankan fungsi sosialnya. Tradisi gotong royong, solidaritas, penghormatan terhadap hukum adat, dan semangat hidup bersama masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari 150 tahun sejak pertama kali dibangun, Rumah Betang Panjang Saham tetap berdiri sebagai salah satu simbol ketahanan budaya Dayak di Kalimantan Barat.
Di bawah satu atap yang sama, sejarah, adat, dan identitas masyarakat Dayak terus dipelihara, membuktikan bahwa tradisi dapat bertahan tanpa kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Periset dan penulis: Apen Panlelugen
0 Comments