Alena Murang: Penjaga Warisan Sape' dan Suara Dayak Kelabit di Pentas Dunia
| Alena Murang. Sumber gambar: https://www.alenamurang.com/ |
Alena Murang membuktikan bahwa warisan budaya tidak harus tinggal sebagai kenangan masa lalu. Melalui musik, tari, dan seni visual, perempuan Dayak Kelabit asal Sarawak ini menghidupkan kembali bahasa, bunyi, dan kisah leluhurnya.Sebagai pemain sape' profesional perempuan pertama di dunia, ia berhasil memecahkan batas tradisi sekaligus memperkenalkan kebudayaan Dayak kepada masyarakat internasional.
Kehidupan Awal
Alena Ose' Murang lahir di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada tahun 1989. Ia berasal dari masyarakat Dayak Kelabit yang mendiami Dataran Tinggi Bario, wilayah pedalaman Sarawak yang kaya akan tradisi lisan, musik, dan adat istiadat.
Baca Burusius Yuvensius: Di CU Semarong Hati Guru Bahasa Inggris Itu Tertambat
Di lingkungan keluarganya, kisah-kisah nenek moyang, ritual adat, serta kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Baram menjadi bagian penting dari pembentukan identitasnya.
Sejak kecil Alena telah akrab dengan seni budaya Dayak, terutama tradisi musik masyarakat Kelabit dan Kenyah.
Pengalaman tersebut membangkitkan kesadarannya bahwa modernisasi telah menyebabkan banyak unsur budaya, termasuk bahasa-bahasa asli Borneo, semakin terancam punah. Kesadaran inilah yang kemudian mendorongnya menjadikan seni sebagai media pelestarian identitas budaya.
Pendidikan
Alena menempuh pendidikan tinggi di The University of Manchester, Inggris, dan memperoleh gelar Bachelor of Science (BSc). Meskipun menempuh pendidikan dalam lingkungan internasional, ia tidak meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, pengalaman belajar di luar negeri memperluas perspektifnya tentang pentingnya pelestarian budaya masyarakat adat melalui pendekatan yang kreatif dan relevan dengan generasi masa kini.
Baca You Can Sell a Book by Its Cover: Sejumput Pengalaman dan Peristiwa Hari ini
Sepulangnya ke Malaysia, Alena semakin serius mendalami musik tradisional Dayak, khususnya alat musik sape', serta mempelajari lagu-lagu kuno dalam bahasa Kelabit dan Kenyah. Ia juga memperdalam tari tradisional dan seni visual sebagai bagian dari ekspresi budaya yang utuh.
Profesi dan Pekerjaan
Alena Murang dikenal sebagai musisi, penyanyi, pencipta lagu, pemain sape', penari, guru musik, produser, sekaligus seniman visual. Karier profesionalnya dimulai sekitar tahun 2016 dan berkembang pesat setelah bergabung dengan label Wind Music.
Namanya mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memainkan sape' secara profesional. Pada masa lalu, sebelum dekade 1930-an, alat musik petik khas Borneo tersebut hanya dimainkan oleh laki-laki, khususnya para balian atau penyembuh adat. Keberhasilan Alena memainkan sape' bukan sekadar pencapaian artistik, tetapi juga simbol perubahan sosial tanpa menghilangkan penghormatan terhadap tradisi.
Dalam karya-karyanya, Alena memadukan musik tradisional Dayak dengan unsur folk, rock, dan world music. Lagu-lagu seperti "Warrior Spirit", "Meno'", "Midang Midang", dan "Jaga Alam" memperlihatkan perpaduan harmonis antara bunyi tradisional dengan aransemen modern. Yang paling istimewa, ia tetap menyanyikan lagu-lagunya dalam bahasa Kelabit dan Kenyah; dua bahasa yang kini tergolong semakin terancam keberlangsungannya.
Baca Eva Epti dan Perjuangannya menuju Domia Sanggau 2026
Selain bermusik, Alena aktif mengajar sape', menjadi penari, serta menghasilkan karya seni visual yang terinspirasi dari kosmologi, alam, dan kehidupan masyarakat Dayak. Ia telah tampil di lebih dari dua puluh negara di Asia, Eropa, Amerika, dan Australia, termasuk dalam berbagai festival budaya internasional, konferensi, hingga forum TEDx, sehingga menjadikannya salah satu duta budaya Dayak yang paling dikenal di tingkat global.
Legasi, Inspirasi, dan Motivasi
Legasi terbesar Alena Murang terletak pada keberhasilannya mengubah warisan budaya menjadi bahasa universal yang dapat diapresiasi masyarakat dunia. Ia menunjukkan bahwa budaya Dayak bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kreativitas yang terus hidup dan berkembang.
Melalui keberaniannya memainkan sape', Alena membuka ruang baru bagi perempuan Dayak untuk berkarya dalam bidang yang sebelumnya didominasi laki-laki. Ia juga menjadi teladan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan secara konservatif, melainkan dapat diwujudkan melalui inovasi tanpa kehilangan akar tradisi.
Dedikasinya menggunakan bahasa Kelabit dan Kenyah dalam setiap pertunjukan menjadi kontribusi nyata bagi pelestarian bahasa-bahasa pribumi Borneo. Di tengah arus globalisasi, ia membuktikan bahwa identitas lokal justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun pengakuan internasional.
Baca Agnotologi di Borneo: Penjajahan yang Terjadi di Dalam Pikiran
Bagi generasi muda Dayak, Alena Murang menghadirkan pesan yang kuat: mengenal dunia tidak berarti meninggalkan asal-usul. Sebaliknya, semakin kokoh seseorang berpijak pada budayanya, semakin besar peluangnya untuk memberi warna bagi peradaban dunia.
Dengan musik, seni, dan ketekunannya, Alena telah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara hutan hujan Borneo dan panggung-panggung dunia, sehingga namanya layak dikenang sebagai salah satu tokoh budaya Dayak paling berpengaruh pada abad ke-21.
Periset dan penulis: Masri Sareb Putra
0 Comments