Agnotologi di Borneo: Penjajahan yang Terjadi di Dalam Pikiran
| Agnotologi di Borneo masa ke masa: waspadalah! Ist. |
Ada satu bentuk penjajahan yang tidak selalu meninggalkan benteng, meriam, atau monumen. Nama kerennya: Agnotologi.
Singkat kata, Agnotologi dapat diartikan sebagai: Penjajahan yang memilih tinggal di tempat yang lebih sunyi: di dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.
Baca Lewi G. Paru Penjaga Paru-paru Krayan
Baca Lewi G. Paru Penjaga Paru-paru Krayan
Ketika sebuah masyarakat mulai meragukan ingatan kolektifnya, ketika pengetahuan yang diwariskan leluhur dianggap tidak lagi bernilai, sesungguhnya yang sedang bekerja bukan sekadar perubahan zaman. Ada proses yang lebih dalam, lebih perlahan, dan sering kali tidak disadari.
Proses itulah yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai agnotologi: sebuah kajian mengenai bagaimana ketidaktahuan diproduksi, dipelihara, lalu diwariskan.
***
Ketidaktahuan tidak selalu lahir karena orang enggan belajar. Tidak sedikit yang justru dibentuk melalui sistem yang rapi, melalui lembaga, kebijakan, media, bahkan bahasa yang digunakan setiap hari.
Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo
Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo
Sejarah Borneo memperlihatkan bagaimana pengetahuan dapat menjadi instrumen kekuasaan.
Jauh sebelum pemerintahan kolonial mengukuhkan wilayah-wilayah administrasi, para penjelajah, kartografer, ahli botani, etnolog, dan linguis telah lebih dahulu menjelajahi pulau ini. Mereka mengukur sungai, mencatat tumbuhan, mendokumentasikan bahasa, mengenali jalur perdagangan, hingga memahami hubungan antarkomunitas.
Semua itu tampak sebagai kegiatan ilmiah.
Namun ilmu pengetahuan tidak pernah sepenuhnya bebas dari kepentingan.
Peta dapat menjadi alat navigasi, tetapi juga menjadi alat penguasaan. Arsip dapat menjadi penyimpan sejarah, tetapi sekaligus menentukan sejarah mana yang layak diingat dan mana yang dibiarkan menghilang. Penamaan bukan hanya perkara istilah; ia adalah cara menetapkan siapa yang memiliki hak untuk mendefinisikan kenyataan.
Ketika suatu wilayah telah dipahami secara menyeluruh, penguasaan menjadi jauh lebih mudah dibandingkan jika hanya mengandalkan kekuatan militer.
Kekuasaan memperoleh fondasi yang lebih kokoh ketika berhasil mengendalikan cara berpikir masyarakat.
Warisan itulah yang masih dapat ditemukan hingga hari ini.
Kolonialisme memang telah berakhir sebagai sistem politik. Akan tetapi, cara pandang yang ditinggalkannya tidak otomatis ikut lenyap.
***
Hari ini, kita hidup dalam dunia yang dipenuhi informasi. Ironisnya, limpahan informasi tidak selalu melahirkan pengetahuan. Kadang justru sebaliknya. Informasi yang terlalu banyak dapat membuat perhatian tercerai-berai, sementara hal-hal yang paling penting tenggelam dalam arus yang tidak pernah berhenti.
Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan
Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan
Algoritma memilih apa yang muncul di hadapan kita. Platform digital menentukan apa yang dianggap menarik. Pasar membentuk apa yang layak dibicarakan. Sedikit demi sedikit, kita terbiasa melihat dunia melalui bingkai yang disediakan pihak lain.
Borneo pun kerap hadir dalam narasi yang sempit.
Pulau Dayak itu dipahami sebagai kawasan tambang, hamparan perkebunan, cadangan karbon, atau ruang investasi.
Hutan dihitung berdasarkan nilai ekonominya. Sungai dipandang sebagai jalur distribusi. Masyarakat adat muncul ketika terjadi konflik, lalu kembali menghilang dari percakapan publik. Padahal Borneo jauh lebih luas daripada statistik produksi dan angka pertumbuhan ekonomi.
Hutan dihitung berdasarkan nilai ekonominya. Sungai dipandang sebagai jalur distribusi. Masyarakat adat muncul ketika terjadi konflik, lalu kembali menghilang dari percakapan publik. Padahal Borneo jauh lebih luas daripada statistik produksi dan angka pertumbuhan ekonomi.
Ia adalah ruang tempat pengetahuan tentang hutan diwariskan lintas generasi. Tempat bahasa menyimpan cara unik memahami alam. Tempat sungai bukan sekadar bentang geografis, melainkan urat nadi kehidupan yang membentuk peradaban.
Ketika dimensi-dimensi itu perlahan menghilang dari ruang publik, yang sesungguhnya sedang hilang bukan hanya informasi. Yang ikut memudar adalah cara melihat Borneo sebagai sebuah kebudayaan.
Agnotologi bekerja tepat pada ruang seperti itu.
Ia tidak selalu menghapus fakta. Lebih sering, ia membuat fakta kehilangan makna.
Ia tidak melarang orang berbicara. Ia cukup membuat suara tertentu tidak pernah terdengar.
Ia tidak membakar buku. Ia membiarkan buku-buku itu tetap ada, tetapi tidak lagi dibaca.
Karena itu, pekerjaan membangun masa depan tidak dapat berhenti pada pembangunan infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Semua itu penting, tetapi tidak akan cukup apabila masyarakat kehilangan kemampuan membaca dirinya sendiri.
Kita memerlukan keberanian untuk membuka kembali arsip, mendengarkan tradisi lisan, menghargai pengetahuan lokal, dan membaca ulang sejarah dengan pertanyaan-pertanyaan baru.
Bukan untuk menolak ilmu pengetahuan modern.
Bukan pula untuk memusuhi kemajuan. Melainkan agar pembangunan tidak memutus ingatan, dan kemajuan tidak menghapus identitas.
***
Setiap zaman melahirkan bentuk kekuasaannya sendiri.
Begitu pula setiap zaman menuntut cara baru untuk mempertahankan kebebasan.
Pada masa lalu, perjuangan mungkin dilakukan dengan merebut wilayah.
Baca Ladang Orang Dayak antara Fakta dan Tuduhan tanpa Dasar
Baca Ladang Orang Dayak antara Fakta dan Tuduhan tanpa Dasar
Hari ini, perjuangan itu berlangsung di ruang yang lebih halus: mempertahankan kemampuan berpikir secara merdeka.
Sebab suatu masyarakat tidak benar-benar kehilangan masa depannya ketika kekayaan alamnya diambil.
Ia mulai kehilangan masa depannya ketika tidak lagi mampu mengenali dirinya sendiri.
Di situlah pekerjaan terbesar kita bermula: merawat pengetahuan, menjaga ingatan. Lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya sebagai fondasi untuk membaca Borneo dari mata Borneo sendiri.
JAKARTA, 12 Juli 2016
0 Comments