Datanglah ke Majalah Dinding, Aku Menunggumu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (72)

Datanglah ke Majalah Dinding,  Aku Menunggumu
Di balik majalah dinding. Ist.

Siang di Nyarumkop terasa bagai bara yang ditaburkan perlahan dari langit. Matahari menggantung tinggi, membakar atap seng sekolah hingga halaman berdebu mengkilap seperti cermin tua.

Dari gedung SMA terdengar riuh anak-anak laki-laki yang baru saja dibebaskan bunyi bel. Mereka berhamburan keluar kelas, sebagian berlari, sebagian berjalan sambil melempar candaan menuju Wisma Widya.

Di gedung SPG yang berdampingan, anak-anak perempuan pun mulai meninggalkan ruang belajar. Mereka membawa tas kain dan buku tebal, langkah mereka pelan menuju Wisma Rini Sekabu.

Di tengah arus itu, Lestari justru memperlambat langkah. Ia berhenti di depan majalah dinding yang terpasang pada dinding lorong. Kertas-kertas yang ditempel di papan kayu itu sudah mulai menguning di ujungnya, seolah menahan napas waktu. Ada berita sekolah, ada puisi tentang hujan, ada gambar pensil yang kurang rapi. 

Baca Perangkap Umbut Gunung Poteng dan Seberkas Cahaya dari Wisma Widya yang Memandu Jalan Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (71)

Bagi orang lain, majalah dinding itu hanyalah tempat menempelkan hasil karya. Bagi Lestari, sejak beberapa minggu terakhir, tempat itu telah berubah menjadi sebuah pintu rahasia yang hanya bisa dibuka oleh dua hati.

Semuanya bermula dari selembar kertas kecil.

Suatu pagi. Ketika Lestari membaca tulisan di majalah dinding. Matanya menemukan sebuah kalimat yang tidak tercantum sebagai puisi, berita, atau pengumuman. Tulisan tangan tinta biru itu sederhana, tetapi ia segera mengenalinya, seolah tinta itu sudah lama mengenal dirinya.

"Untuk gadis yang selalu membawa buku biru."

Lestari membaca kalimat itu sekali lagi. Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Hanya kalimat pendek yang membuat wajahnya menghangat, dan dada terasa penuh oleh sesuatu yang belum bisa dinamai. Ia tahu siapa yang menulisnya.

***

Sejak hari itu majalah dinding menjadi tempat mereka berbicara tanpa suara. Pemuda itu menulis pesan pendek dan menyelipkannya di antara lembaran majalah dinding. Kadang pesannya hanya dua atau tiga baris. Kadang lebih panjang, mengalir seperti sungai kecil yang tak pernah kering. Ia bercerita tentang hujan yang turun di Nyarumkop, kabut yang turun dari Gunung Poteng, pelajaran yang membuat mengantuk, atau tentang seorang gadis yang selalu datang lebih awal dan berdiri sebentar di depan majalah dinding, seolah menunggu sesuatu yang tak pernah diucapkan.

Lestari tidak pernah menjawab secara langsung. Ia menunggu saat sepi, lalu menyelipkan balasan di tempat yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada salam. Mereka seolah-olah sedang bermain catur dengan kata-kata. Satu langkah dari sana, satu langkah dari sini. Tidak boleh salah. Tidak boleh diketahui orang lain. Setiap kalimat yang ditulis terasa seperti napas yang ditahan, seperti doa yang hanya bisa didengar oleh dua orang.

Kesempatan untuk berbicara memang sangat sedikit. Gedung SMA dan SPG hanya dipisahkan halaman, tetapi peraturan sekolah membuat jarak itu terasa seperti sungai yang dalam dan gelap. Mereka dapat bertemu hanya pada jam istirahat, sebelum pelajaran dimulai, atau ketika sekolah bubar. Itu pun tidak lama. Baru hendak menyapa, bel telah berbunyi. Baru hendak tersenyum, teman-teman sudah membawa mereka ke arah masing-masing.

Maka majalah dinding menjadi tempat yang aman bagi dua hati yang belum berani mengaku.

Lestari mulai menunggu pesan-pesan itu. Setiap kali melewati lorong, langkahnya selalu melambat, seolah kaki enggan meninggalkan tempat itu. Jika ada tulisan baru, ia membaca dengan hati-hati, seolah takut kata-kata itu akan hilang jika dibaca terlalu cepat. Jika tidak ada, ia pura-pura tidak kecewa, meski dada terasa kosong. Kadang ia menemukan pesan ketika teman-temannya berada di dekatnya. Ia harus membaca cepat-cepat, lalu berjalan seperti tidak terjadi apa-apa, padahal di dalam hati ada badai yang diam-diam berputar.

Namun rahasia yang terlalu sering disimpan biasanya meninggalkan bekas.

Suatu siang seorang teman melihat Lestari terlalu lama berdiri di depan majalah dinding. “Apa yang kaubaca?” tanyanya.

“Puisi,” jawab Lestari cepat, suaranya nyaris bergetar.

Temannya mendekat. Lestari segera beranjak, takut wajahnya akan mengkhianati apa yang disimpan di dada.

Sejak saat itu ia semakin berhati-hati. Akan tetapi, kecurigaan tidak selalu membutuhkan bukti. Beberapa anak mulai memperhatikan bahwa tulisan tertentu selalu muncul setelah anak-anak SMA melewati lorong. Kabar kecil pun bergerak dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai kepada suster.

Suster tidak mengetahui siapa yang menulis pesan itu. Ia juga tidak hendak menuduh siapa pun. Tetapi ia tahu keadaan sekolah. Dua gedung yang berdampingan berarti dua kelompok siswa dapat dengan mudah bertemu. Tugasnya adalah menjaga agar aturan berlaku bagi semua. Karena itu ia mulai memperhatikan lorong dan majalah dinding, seolah mata itu bisa melihat apa yang tak terlihat.

Di Wisma Widya, pemuda itu pun menghadapi persoalan yang sama. Teman-temannya mulai menyadari bahwa ia sering melewati halaman pada waktu tertentu. Mereka menggoda, tetapi ia hanya tertawa. Ia tidak takut pada gurauan. Yang dikhawatirkannya hanya satu: rahasia itu sampai kepada guru atau suster, dan pintu rahasia itu tertutup selamanya.

***

Suatu sore ia menulis pesan baru. Kali ini tidak panjang, tetapi setiap katanya terasa berat.

"Besok, sepulang sekolah. Datanglah ke majalah dinding. Aku akan menunggu."

Pesan itu dipasang di tempat yang biasa, seolah menunggu tangan yang akan membacanya dengan hati yang bergetar.

Keesokan harinya Lestari menemukannya.

Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di hadapan majalah dinding. Ia tahu apa arti pesan itu. Selama berminggu-minggu mereka telah berbicara melalui tulisan. Kini pemuda itu mengajaknya berbicara secara langsung, bertatap muka, tanpa perantara kertas dan tinta.

Hari terasa berjalan lebih lambat daripada biasanya, seolah waktu sengaja menahan napas.

Ketika bel tanda bubar akhirnya berdentang, anak-anak SMA berhamburan keluar. Suara mereka memenuhi halaman. Anak-anak SPG pun mulai meninggalkan kelas. Namun peraturan di SPG jelas dan mutlak: jika masih ada jam pelajaran, mereka wajib masuk kembali ke kelas. Jika tidak ada pelajaran, mereka harus segera kembali ke Wisma Rini Sekabu. Tidak boleh berlama-lama di halaman atau lorong. Aturan itu seperti dinding tak terlihat yang selalu menjaga jarak.

Lestari sengaja tidak segera pulang. Ia tetap berada di lorong dekat majalah dinding, berharap ada sedikit waktu, sedikit saja, untuk hati yang sudah terlalu lama menahan.

Satu demi satu anak pergi. Halaman perlahan sepi, seolah dunia memberi mereka ruang yang sangat sempit.

Lestari menunggu.

Dari kejauhan akhirnya tampak seorang pemuda berjalan menyusuri sisi gedung SMA. Sebuah buku terselip di bawah lengannya. Ia tidak menuju Wisma Widya seperti teman-temannya. Ia berjalan ke arah majalah dinding dan berhenti beberapa langkah dari tempat Lestari berdiri.

Untuk pertama kalinya mereka berada di tempat yang sama tanpa surat sebagai perantara.

Pemuda itu tersenyum, senyum yang sederhana namun cukup untuk membuat dunia terasa lebih sunyi.

“Lestari.”

Nama itu terdengar begitu biasa. Namun bagi Lestari, ada sesuatu yang lain di dalam suara tersebut. Selama ini ia hanya mengenal pemuda itu melalui tinta biru. Kini tulisan itu mempunyai suara, wajah, dan langkah. Segalanya menjadi nyata, dan justru karena nyata, terasa lebih rapuh.

“Aku datang,” kata pemuda itu, suaranya pelan, seolah takut memecah keheningan.

Lestari mengangguk. “Aku tahu.”

Ia ingin mengatakan lebih banyak, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Bukankah selama ini mereka sudah mengatakan begitu banyak melalui surat? Anehnya, ketika akhirnya berhadapan, semua kata itu seperti bersembunyi, malu-malu, takut keluar.

Pemuda itu mengangkat buku yang dibawanya.

“Masih ada surat.”

Lestari tersenyum, senyum yang hampir menjadi air mata.

“Untukku?”

“Untukmu.”

Belum sempat Lestari menjawab, terdengar suara bel peringatan dari arah gedung SPG. Beberapa anak perempuan yang masih berada di halaman segera bergegas. Bagi anak-anak SPG, aturan itu mutlak: jika masih ada pelajaran, mereka wajib masuk kelas. Jika tidak ada, mereka harus segera kembali ke Wisma Rini Sekabu. Tidak ada kelonggaran. Tidak ada pengecualian.

Lestari menoleh ke arah gedungnya. Ia tahu tidak ada pilihan. Jika ia tetap tinggal, ia akan melanggar peraturan yang berlaku bagi semua murid SPG. Dan pelanggaran itu bisa menutup pintu rahasia mereka selamanya.

Perlahan ia mundur dari majalah dinding, setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Pemuda itu memahami keadaan. Ia tidak memprotes. Tidak pula mencoba mendekat. Ia hanya memandang Lestari sejenak, pandangan yang penuh arti namun tak mampu menahan waktu. Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam buku. Sebelum berbalik, ia mengeluarkan selembar kertas kecil. Ia mengangkatnya sedikit, seolah menyerahkan seluruh kata yang tak sempat diucapkan.

Lestari tahu bahwa kertas itu adalah surat terakhir untuknya.

Pemuda itu kemudian berbalik dan berjalan menuju Wisma Widya. Beberapa langkah kemudian ia berhenti. Ia tidak menoleh lama. Hanya sekali. Setelah itu ia meneruskan langkah hingga tubuhnya menghilang di balik gedung, meninggalkan bayangan yang lama mengendap di hati.

Lestari kembali ke arah kelasnya, lalu kemudian ke Wisma Rini Sekabu. Langkahnya pelan, seolah membawa beban yang tak terlihat.

Hari itu mereka telah bertemu. Tetapi pertemuan itu tidak pernah benar-benar terjadi seperti yang mereka impikan. Hanya sekejap, lalu dipotong oleh aturan dan waktu.

Malam telah turun ketika Lestari kembali membuka buku yang dibawanya dari sekolah. Di antara dua halaman terselip selembar kertas kecil. Ia membukanya dengan hati-hati, seolah membuka sesuatu yang sangat rapuh.

Tulisan tinta biru. "Aku melihatmu."

Lestari membaca kalimat itu berkali-kali. Tiga kata. Tidak lebih. Tetapi malam itu tiga kata tersebut terasa seperti seluruh isi sebuah surat yang tidak pernah selesai ditulis. Air matanya jatuh tanpa disadari, membasahi kertas yang sudah lama menunggu. Ia melipat kembali kertas itu dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di tempat yang paling aman, seolah menyimpan potongan hatinya sendiri.


***

Tahun-tahun berlalu....
Sekolah berubah. Gedung berubah. Anak-anak yang dahulu berlari di halaman telah menempuh jalan hidup masing-masing. Majalah dinding yang pernah menjadi tempat rahasia dua anak muda itu mungkin telah lama diganti atau dibongkar, menjadi debu yang tak lagi dikenang Namun selembar kertas kecil masih tersimpan.

Tinta birunya telah memudar. Kertasnya telah menguning. Lipatannya mulai rapuh. Tetapi bagi Lestari, kertas itu tidak pernah menjadi tua. Setiap kali dibuka, ia kembali kepada siang yang panas di Nyarumkop. Ia kembali mendengar bunyi bel. Ia kembali melihat lorong sekolah dan majalah dinding. Ia kembali melihat seorang pemuda berdiri dengan buku di bawah lengannya, senyumnya sederhana, pandangannya penuh arti.

Dahulu ia mengira cinta harus berakhir dengan pertemuan yang sempurna, dengan kata-kata yang diucapkan, dengan janji yang dipegang.

Belakangan ia mengerti, ada cinta yang justru bertahan karena pertemuannya tidak pernah sempat menjadi lengkap. Ada cinta yang hidup dalam ruang yang sempit, dalam tinta yang memudar, dalam kenangan yang tak pernah selesai. Ia tidak mempunyai kisah panjang. Tidak mempunyai janji yang dapat ditagih. Tidak mempunyai akhir yang dapat disebut bahagia ataupun sedih.

Ia hanya mempunyai beberapa tulisan tinta biru, sebuah majalah dinding, sebuah buku, dan satu pertemuan yang dipotong oleh waktu.

Dan dari semua kata yang pernah ditulis pemuda itu. Ada tiga patah kata yang tetap hidup sampai usia senja, tetap hangat, tetap menyentuh, tetap membuat mata basah setiap kali dibaca:

"Aku melihatmu."

Masri Sareb Putra
Pontianak ketika hari berganti 30 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.