Perangkap Umbut Gunung Poteng dan Seberkas Cahaya dari Wisma Widya yang Memandu Jalan Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (71)
| Seberkas cahaya dari Wisma Widya yang memandu malam jalan pulang. Ist. |
Puncak batu Gunung Poteng berdiri tegak, membelah awan laksana jempol dewa yang murka. Di bawahnya, hamparan rimba purba mendesau, menyimpan sejuta misteri yang tak terduga.
Manusia sering kali berjalan lurus menantang malam. Ia mengira sanggup menaklukkan rimba raya. Padahal di hadapan keagungan alam, keangkuhan raga akan lebur oleh rasa lapar dan bahaya.
Baca Misa Pagi: Mencuri Pandang dan Bertemu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (70)
Akan tetapi, dengarlah! Di mana ada ketulusan seorang guru yang teguh menjaga hati, di sana akan terbit seberkas cahaya pemandu, menembus kabut malam yang pekat.
Berangkat ke rimba Poteng
Kisah itu bermula pada pagi hari ketika Marcellus, siswa SMA St. Paulus asal Benua Martinus, Kapuas Hulu, mendapat tugas mencari bahan makanan bagi dapur umum yang dikomandoi Sr. Josephine SFIC. Bersama sembilan orang teman seasramanya, ia berangkat menuju kaki Gunung Poteng.
Sepagi itu rombongan mereka berjumlah sepuluh orang. Mereka hendak mencari umbut enau, aping, rotan (ruak), dan ransa yang tumbuh di kawasan hutan.
Rombongan sepuluh orang itu masuk semakin jauh ke dalam rimba tanpa seorang pun pemandu yang benar-benar mengenal kawasan tersebut.
Semula perjalanan berlangsung lancar. Anak-anak muda yang perkasa itu menemukan pohon-pohon yang dicari dan berhasil mengumpulkan umbut enau dalam ikatan yang cukup banyak. Setelah merasa cukup, mereka pun bersiap kembali. Tugas telah selesai. Yang tersisa hanyalah perjalanan pulang.
Baca Tan Un Mao dan Rahasia Jurus Kepinding - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (69)
Menjelang siang hingga sore, mereka mulai menempuh jalan kembali. Pada mulanya tidak ada yang merasa khawatir. Mereka masih bercakap-cakap dan berjalan dengan langkah ringan. Namun, semakin jauh mereka melangkah, jalan setapak yang tadi dilewati terasa semakin asing. Mereka mulai menyadari bahwa rimba yang sejak pagi mereka masuki ternyata tidak semudah itu untuk ditinggalkan.
Jalan pulang yang hilang
Ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya di antara pepohonan semakin redup, keadaan berubah. Jalan setapak yang tadi mereka lewati tidak lagi mudah ditemukan. Mereka mencoba kembali ke arah semula, tetapi semakin lama justru semakin asing. Pohon-pohon besar tampak serupa. Semak belukar menutup pandangan. Jejak kaki yang tadi menjadi petunjuk seolah lenyap ditelan rimba.
Kesepuluh anak itu berhenti dan saling bertanya. Masing-masing menunjuk arah yang dianggap benar, tetapi tidak seorang pun benar-benar yakin. Mereka mencoba satu jalur, kemudian berbalik dan mencoba jalur lainnya. Anehnya, setiap jalan seperti membawa mereka semakin jauh dari tempat yang mereka kenal. Barulah mereka sadar bahwa persoalannya bukan lagi sekadar salah memilih jalan. Mereka telah kehilangan arah pulang.
Menjelang petang....
Kegelapan mulai turun di antara pepohonan. Suasana yang sejak pagi terasa biasa kini berubah menjadi sesuatu yang menggetarkan hati. Mereka sadar, malam akan segera datang dan mereka belum menemukan jalan keluar. Tidak ada rumah. Tidak ada lampu. Tidak ada suara manusia. Hanya rimba yang semakin gelap di sekeliling mereka.
Sesekali telinga mereka menangkap deru kendaraan dari jalan raya Bengkayang-Singkawang yang terdengar jauh di luar rimba.
Suara itu seharusnya menjadi petunjuk. Namun, hutan Poteng seakan mempermainkan pendengaran. Bunyi kendaraan bergema di antara pepohonan dan lereng bukit. Kadang terdengar dari satu arah, kemudian lenyap dan muncul kembali dari arah lain. Mereka semakin sulit menentukan posisi.
Kegelapan akhirnya benar-benar turun. Tenaga yang sejak pagi digunakan untuk berjalan mulai terkuras dan rasa lapar pun datang. Umbut enau yang mereka bawa untuk bahan makanan di asrama akhirnya menjadi penyelamat bagi diri sendiri. Ikatan umbut dibuka. Mereka memotongnya dan mengunyahnya mentah-mentah sekadarnya untuk mengganjal perut. Makanan yang sedianya dibawa pulang untuk dapur umum kini menjadi bekal untuk bertahan hidup.
Siasat cahaya di wisma Widya
Sementara itu, di Wisma Widya, matahari telah lama tenggelam dan rombongan sepuluh orang itu belum juga kembali. Kecemasan mulai menjalar di antara anak-anak asrama. Beberapa orang kemudian dikirim untuk menelusuri kemungkinan jejak, tetapi kegelapan membuat pencarian semakin sulit. Rimba Poteng terlalu luas untuk diterobos tanpa mengetaui pasti di mana rombongan Marcellus berada.
Bruder Saarto tetap bertahan di Wisma Widya. Ia tahu kepanikan tidak akan membawa mereka pulang. Yang diperlukan adalah sebuah petunjuk. Setelah berpikir sejenak, muncul sebuah gagasan dalam benaknya. Jika suara kendaraan tidak dapat dijadikan patokan, mungkin cahaya dapat menjadi penunjuk jalan.
“Bawa lampu-lampu senter yang paling kuat! Naik ke loteng lantai dua!” perintah Bruder Saarto dengan suara mantap.
Beberapa anak asrama segera memanjat tangga menuju loteng lantai dua Wisma Widya. Di tempat yang lebih tinggi itu, di bawah langit malam yang pekat, lampu-lampu senter dinyalakan. Bruder Saarto memerintahkan agar berkas cahaya diarahkan ke punggung bukit Gunung Poteng.
Cahaya-cahaya itu digerakkan perlahan ke berbagai arah. Dari kejauhan, sinarnya menembus kegelapan dan kabut tipis di atas pepohonan. Di tengah malam yang hitam, berkas cahaya tersebut menjadi tanda yang mungkin dapat dilihat oleh rombongan yang tersesat.
Jauh di dalam rimba, Marcellus dan sembilan kawannya masih berjalan. Tubuh mereka sudah penat. Kaki terasa berat. Namun, mereka terus bergerak karena berhenti berarti menyerahkan diri kepada malam. Dalam keadaan seperti itu, mereka hanya dapat berharap menemukan jalan atau tanda yang membawa mereka kembali.
Tiba-tiba Marcellus melihat sesuatu di antara celah-celah daun dan rimbunnya pepohonan. Sebuah cahaya tampak bergerak jauh di balik kegelapan. Ia menghentikan langkah. Kesembilan kawannya ikut terdiam dan memandang ke arah yang sama.
“Lihat! Cahaya dari asrama!” pekik Marcellus dengan suara parau.
Harapan yang hampir padam seketika menyala kembali. Mereka tahu cahaya itu berasal dari arah Wisma Widya. Untuk pertama kalinya sejak kehilangan jalan, mereka memiliki pegangan yang nyata. Mereka pun mengubah arah dan menjadikan berkas cahaya itu sebagai penunjuk jalan.
Mereka menerobos semak yang basah, menuruni lereng, kemudian mendaki kembali mengikuti arah sinar yang tampak dari kejauhan. Tidak mudah. Tubuh mereka sudah lelah dan pakaian mulai koyak oleh ranting. Namun, setiap kali cahaya itu terlihat, langkah mereka kembali mendapatkan tenaga. Malam masih panjang, tetapi kini mereka tahu ke mana harus berjalan.
Pulang ke Wisma Widya
Waktu terus berjalan hingga lewat tengah malam. Dari kejauhan, langkah-langkah kaki mulai terdengar mendekati kawasan asrama. Cahaya Wisma Widya semakin jelas. Sesaat kemudian, gerbang belakang diketuk. Marcellus dan kesembilan kawannya telah kembali. Sepuluh orang yang pagi tadi berangkat ke rimba kini berdiri kembali di Wisma Widya.
Tubuh mereka penuh peluh. Pakaian koyak-koyak. Wajah pucat dan kelelahan. Namun, semuanya selamat. Tidak seorang pun tertinggal. Umbut enau yang mereka bawa sejak pagi memang tidak lagi tersisa, tetapi mereka sendiri telah kembali ke rumah.
Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)
Melihat murid-muridnya muncul dari kegelapan rimba, ketegasan yang selama ini melekat pada wajah Bruder Saarto seketika luluh. Hatinya dipenuhi kebahagiaan dan rasa syukur. Dengan mata berkaca-kaca, ia melangkah mendekati mereka.
Tanpa memedulikan bau keringat dan lumpur yang melekat pada pakaian, Bruder Saarto memeluk dan mencium mereka satu per satu. Malam itu ia tidak tampil sebagai pembina yang tegas. Ia hadir sebagai seorang ayah yang menyambut kembali anak-anaknya setelah melewati perjalanan panjang dan penuh bahaya.
Pagi tadi sepuluh orang itu berangkat dengan langkah ringan untuk mencari bahan makanan. Menjelang sore mereka kehilangan jalan. Ketika malam turun, rasa lapar dan ketakutan mulai menguasai rimba. Lewat tengah malam, mereka akhirnya menemukan jalan pulang melalui cahaya senter dari Wisma Widya.
Begitulah perjalanan mereka dari Gunung Poteng pada hari itu. Sebuah tugas sederhana berubah menjadi pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan, dan seberkas cahaya menjadi tanda bahwa selama masih ada yang menunggu, jalan pulang selalu dapat ditemukan.
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.
0 Comments