Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)
| Siasat "bantal berselimut" anak Wisma Widya meninggalkan malam ke Tainam hingga Singkawang sampai pagi. Ist. |
Malam itu, kegelapan pekat menyelimuti jagat raya. Meninggalkan semburat kesunyian yang mencekam di langit yang memayungi lembah Potong, di mana kala itu angin berembus dingin bertiup kencang melewati lereng-lereng pegunungan semak, tegakan kayu, dan rimbunnya rumpun bambu Sekabu.Hawa dingin yang menusuk tulang merayap masuk di antara celah-celah dinding. Nyading berdiri di dekat jendela loteng yang tinggi, menatap ke arah lembah Taenam yang telah tenggelam dalam kepekatan malam.
Di sana, lamat-lamat terdengar suara dentum musik bertalu-talu dari kejauhan, sebuah pesta rakyat dengan alunan band modern yang memanggil-manggil jiwa muda mereka yang haus akan kebebasan.
Manusia di dunia ini sering kali terikat oleh rantai aturan yang dibuatnya sendiri. Ada yang patuh bagai kerbau dicocok hidung, namun ada pula yang mengalir laksana air, mencari celah di antara bebatuan takdir. Sungguh batas antara kepatuhan dan kebebasan hanyalah selembar kain tipis yang mudah robek oleh pisau keinginan!
Baca Jurus Genderang dan Pemeo Kimbot mengatasi Masalah SMA tak ada Siswa Wanita- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (63)
"Hin-ko," bisik Nyading, suaranya gemetar oleh rasa tegang sekaligus penasaran yang membakar dada. "Malam ini di Taenam ada pesta besar. Tabuhan musik barat itu begitu menggoda sanubari. Bagaimana kita bisa melewatkannya begitu saja?"
Biring yang sedang duduk bersila sambil mengunyah ubi rebus dingin mendengus. Matanya yang lebar melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.
"Kau gila, Nyading? Apakah kau sudah bosan hidup? Malam ini Tan Un Mao, pengawas asrama bermata elang yang memiliki kedisiplinan laksana hukum kuno, akan meronda dengan membawa cambuk rotannya yang terkenal kejam. Jika kita tertangkap, taruhannya adalah kulit punggung kita!"
Sepanjang Jalan Kenangan Koh Surminto dan Bang Adri yang Abadi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (62)
Ah Hin tidak segera menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum menyeringai di kegelapan kamar, memancarkan aura licik seorang pemuda berotak cerdik yang selalu berhasil mengelabui keadaan. Di hadapan hukum besi, akal manusia sering kali mendadak setajam pedang mustika.
Ia melangkah mendekati ranjang kayu yang berderit. Dengan gerakan cekatan dan ringan tanpa suara, ia mengambil bantal guling panjang, lalu membungkus bantal tersebut dengan selimut tebal sedemikian rupa. Ia membentuk siluet tubuh manusia yang sedang meringkuk tidur.
Dari balik kelambu yang remang-remang, tipuan itu terlihat begitu nyata. Siapa pun yang mengintip pastilah akan mengira bahwa sesosok tubuh manusia sedang terlelap kaku di sana.
"Sempurna... laksana ilmu malihan tingkat tinggi," desis Ah Hin penuh kemenangan. Sungguh sebuah akal-akalan jenius, di mana seonggok kapuk dipaksa menyamar menjadi raga manusia demi sebuah kebebasan malam!
Tepat ketika lonceng jam malam berdentang memecah kesunyian malam yang mencekam, ketiga pemuda itu bergerak. Satu per satu, dengan mengerahkan seluruh keahlian meringankan tubuh, mereka melompat keluar dari jendela loteng.
Gunawan dan Jurus Merpati Putih yang Meluluhlantakkan Hati Para Gadis -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (61)
Tubuh mereka melayang turun laksana daun kering yang gugur, memanfaatkan dahan pohon kapuk tua yang bergoyang-goyang ditiup angin, lalu merosot turun ke tanah yang basah. Begitu kaki mereka menapak bumi, ketiganya langsung melesat bagai tiga bayangan hitam yang menyusup ke dalam kegelapan malam, menuju lembah Taenam.
Pesta di Taenam benar-benar meriah dan sempat membuat mereka lupa daratan. Dentum drum dan petikan gitar membuat darah muda mereka kian bergolak. Namun, kegembiraan duniawi itu laksana meminum air asin, makin diminum makin membuat haus!
Dasar pemuda-pemuda nekat yang tidak pernah puas, rasa haus akan petualangan justru menuntun mereka pada keputusan yang jauh lebih gila.
"Ah, tanggung! Kepalang basah, mari kita sekalian jalan kaki menuju lembah Potong melintasi dinginnya malam pegunungan Sekabu!" ajak Ah Hin dengan mata berbinar-binar.
Maka dimulailah perjalanan malam yang penuh geli dan tawa itu. Mereka berjalan kaki belasan kilometer membelah kegelapan malam Minggu yang sunyi senyap. Jalanan tanah yang berliku dikelilingi oleh barisan pohon-pohon raksasa yang tampak seperti raksasa hitam sedang mengintai mangsa.
Baca Jurus Ketapel Pak Kaslem Meredakan Ketegangan NBC dan SMA - -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (60)
Suasana berubah kian mencekam ketika kabut tebal mulai turun dari lereng pegunungan Sekabu, menghalangi pandangan. Angin malam berbisik di sela-sela daun bambu dan semak belukar, memicu bulu kuduk berdiri.
Berbekal keteguhan hati dan sendawa ubi rebus yang menggelikan, mereka terus berjalan menembus kegelapan, menghabiskan malam minggu itu dengan penuh suka cita, melupakan sejenak beban pelajaran latin dan hafalan doa yang menjemukan.
Namun, waktu laksana anak panah yang lepas dari busurnya, melesat tanpa bisa dihentikan. Itulah hukum alam yang agung, tak seorang pun manusia mampu menahan lajunya sang waktu, bahkan seorang kaisar sekalipun!
Tanpa mereka sadari, sang fajar hampir menyingsing.
Tiba-tiba Biring menghentikan langkahnya dengan wajah berubah hebat. Di ufuk timur, semburat merah mulai mengoyak kegelapan malam.
"Celaka...!" pekik Biring dengan suara parau menahan panik. "Fajar telah tiba! Ini sudah hari Minggu subuh! Beberapa jam lagi misa pagi akan segera dimulai!"
Ketakutan luar biasa langsung mencengkeram jantung ketiga pemuda itu. Penyesalan selalu datang terlambat, laksana payung yang baru dibuka setelah tubuh basah kuyup oleh hujan.
Jika mereka terlambat dan Tan Un Mao menemukan ranjang mereka kosong saat fajar menyingsing, hukuman yang amat mengerikan telah menanti di depan mata.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, ketiga pemuda itu mengerahkan seluruh sisa tenaga mereka, melakukan gerakan lari seribu langkah. Kaki mereka yang semula ringan kini terasa seberat timah, digelayuti rasa lelah yang luar biasa setelah berjalan semalaman penuh. Dada mereka terasa sesak, napas memburu bagai dikejar oleh malaikat maut.
Mereka tiba di tembok belakang asrama tepat ketika langit sudah terang benderang. Dengan tangan yang gemetar hebat dan sisa-sisa tenaga yang hampir habis, mereka saling panggul, memanjat kembali pohon kapuk tua, dan meloncat masuk melewati jendela loteng dengan suara bergedebuk yang ditahan selembut mungkin.
Hanya dalam hitungan menit, mereka melempar bantal guling penipu itu ke kolong ranjang, mengganti pakaian mereka yang basah kuyup oleh keringat dingin, dan menyisir rambut dengan tangan yang masih gemetar.
Sungguh sebuah kegelian yang mendebarkan jantung!
Teng... Teng... Teng...
Suara lonceng kapel berdentang begitu keras, gema suaranya seolah meremukkan dada mereka yang masih naik turun. Itu adalah panggilan mutlak untuk mengikuti misa pagi.
With sisa kekuatan yang ada, Ah Hin, Biring, dan Nyading melangkah keluar dari kamar loteng menuju kapel dengan langkah yang dipaksa tegap. Namun, wajah mereka pucat pasi laksana mayat, dan kelopak mata mereka merah merona akibat menahan kantuk yang teramat sangat.
Langkah kaki mereka goyah, terhuyung-huyung di sepanjang koridor kapel yang sunyi dan dingin.
Di ujung lorong, sosok tinggi kurus Tan Un Mao berdiri tegak lurus bagai arca batu yang bernyawa. Pengawas kejam itu menatap mereka dengan tatapan mata yang tajam, dingin, dan menusuk, seolah sanggup membaca isi hati orang.
Darah di sekujur tubuh ketiga pemuda itu seolah membeku seketika.
Namun, tipuan bantal berselimut tadi malam rupanya telah bekerja dengan sempurna laksana rencana dewa. Tan Un Mao tidak menemukan bukti apa pun, selain keheranan melihat ketiga anak didiknya tampak luar biasa pucat dan berjalan laksana orang yang baru saja menenggak arak beracun.
Ah Hin menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan dengan senyum simpul yang dipaksakan.
Di balik ketakutan yang baru saja mereda, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tertawa geli dan bersorak lega karena petualangan maut mengelabui maut malam itu berakhir dengan kemenangan mereka yang takkan pernah terlupakan sepanjang masa.
Demikianlah kehidupan manusia. Sering kali nafsu menyeret raga dalam kelelahan, namun akal budi dan kecerdikan yang jenaka mampu menyelamatkan diri dari murka duniawi.
Kesenangan malam sekejap harus dibayar dengan siksaan kantuk yang luar biasa di siang hari, sebuah neraka kecil bagi mata yang rindu akan kelopak yang terpejam.
Masri Sareb Putra
Miri, Sarawak, Malaysia, senjakala 23 September 2026.
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Adri kepadaku.
0 Comments