Sepanjang Jalan Kenangan Koh Surminto dan Bang Adri yang Abadi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (62)

Sepanjang Jalan Kenangan Koh Syuminto dan Bang Adri yang Abadi
Koh Surminto dan Bang Adri yang menyanyuikan lagu yang abadi diiringin group band terkenal waktu itu, Wid Bros. Ist.

Malam itu. Di bawah naungan atap aula terbuka Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN), angin dari arah jalan Wisma Widya dan kompleks sekolah berembus pelan… namun di dalamnya tersembunyi getaran yang aneh. 

Panggung kayu yang selama ini diam membisu tiba-tiba bergetar hebat, seolah diguncang oleh kekuatan gaib yang tak kasatmata. Bukan langkah kaki pendekar yang sedang bertarung, melainkan petikan dawai-dawai sakti yang menggetarkan jagat raya hingga ke sumsum tulang!

Bait demi bait l syair dilantunkan. Nada demi nada lagu dibunyikan. Seakan-akan dunia saat itu tunduk pada getar-getar darah muda.

Gunawan dan Jurus Merpati Putih yang Meluluhlantakkan Hati Para Gadis -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (61)

Enam orang ksatria musik berdiri di atas panggung itu. Mereka bukan sekadar pemain. Mereka adalah pendekar-pendekar yang telah lama menyimpan tenaga dalam, siap menggelar sebuah medan laga seni yang akan dicatat dalam lembaran sejarah padepokan dengan tinta darah dan air mata.

Pertunjukan ini bukanlah hiburan biasa. Inilah duet paling melankolis sepanjang masa, sebuah tembang abadi yang bertajuk Sepanjang Jalan Kenangan. Sebuah tembang yang mampu membuka luka lama, membangkitkan kenangan yang sudah terkubur, dan menumbuhkan kerinduan yang hampir membunuh.

Di barisan paling depan, dua orang pendekar vokal berdiri berdampingan. Bang Adri dan Surminto Lie. Ketika suara mereka mulai mengalun, seolah langit malam sendiri menahan napas. 

Suara itu berpadu selaras, bagaikan hembusan angin Nyarumkop yang membawa aroma kenangan masa lalu yang pahit sekaligus manis. Bait demi bait dilantunkan dengan liuk yang begitu indah, namun di balik keindahan itu tersembunyi tusukan yang tajam. 

***

Suara mereka menembus batas aula terbuka, menusuk masuk ke dalam dada para penonton yang memenuhi halaman. Murid-murid asrama, gadis-gadis siocia yang matanya berkaca-kaca, serta para guru yang diam mematung.

Hati mereka hanyut, terseret arus keharuan yang dalam, seolah jiwa mereka sedang digelar di atas meja perjudian nasib.

***

Di belakang kedua vokalis sakti itu, tiga pendekar gitar mengawal jalannya pertempuran nada dengan jurus-jurus petikan yang amat lihai dan penuh bahaya. Akong, Maliki, dan Kanis. Jari-jari mereka bergerak cepat bagaikan kilat di malam gelap, memetik senar-senar gitar hingga melahirkan harmoni yang magis sekaligus mencekam. 

Baca Jurus Ketapel Pak Kaslem Meredakan Ketegangan NBC dan SMA - -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (60)

Setiap nada yang keluar bagaikan jurus maut yang tak terlihat, mampu menembus jantung siapa saja yang mendengarnya, membuat napas terasa sesak dan darah seolah mengalir lebih lambat.

Namun… di tengah pusaran sejarah yang abadi ini, lewat lembaran foto lawas yang kini menguning, ada satu sosok yang tidak menampakkan wujudnya. Sang penabuh drum bertangan sakti, Jaya, tetap tersembunyi di balik bayang-bayang ketukan drum bertuliskan Wisma Widya. Ia bagaikan pendekar yang dengan sengaja merahasiakan kesaktiannya, memilih bertapa di balik tabir, menjaga tempo dan denyut nadi pertunjukan agar tetap sempurna dari awal hingga akhir. 

Tiap ketukannya bagaikan detak jantung dunia yang sedang diguncang, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang kehancuran dan keindahan sekaligus.

Baca Kacang Dael dan Rahasia Mustika Alam di Tepi Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (59)

Malam itu. Aula terbuka PKN, bukan hanya musik yang digelar. Melainkan sebuah pertempuran jiwa yang tak terlihat, di mana senjata bukanlah pedang atau tombak, melainkan suara, dawai, dan ketukan yang mampu menaklukkan hati… dan meninggalkan luka yang abadi.

Masri Sareb Putra
Pontianak Siang berkabut, 21 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.