Jurus Ketapel Pak Kaslem Meredakan Ketegangan NBC dan SMA - -Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (60)

Jurus Ketapel Pak Kaslem Meredakan Ketegangan NBC dan SMA
Kesebelasan SMA St. Paulus Nyarumkop (berdiri) vs SMP Timonong (jongkok) th 1975/1976. Dok.

Pada suatu masa di tahun 1970-an. Ketika angin pegunungan Nyarumkop masih membawa kesejukan dan lapangan hijau PKN menjadi gelanggang adu ketangkasan. Nama Nyarumkop Boys Club, atau yang lebih dikenal dengan singkatan NBC, mulai harum di kalangan para pencinta sepak bola.

Perkumpulan yang menghimpun pemuda-pemuda dari Tainam, Nyarumkop, dan Bagak itu bukanlah lawan yang boleh dipandang sebelah mata. Mereka bermain dengan semangat membara, tubuh perkasa, dan keberanian yang kadang-kadang membuat batas antara persahabatan dan perselisihan menjadi setipis kulit bawang.

Baca Kacang Dael dan Rahasia Mustika Alam di Tepi Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (59)

Pada hari itu, kesebelasan SMA PKN berhadapan dengan NBC. Sejak peluit pertama ditiupkan, bola bergulir di atas tanah lapang, diiringi sorak-sorai penonton yang berdiri bergerombol di sepanjang garis lapangan.

Para pemain berlari, mengejar, mengoper, dan saling berebut bola. Akan tetapi, semakin matahari condong ke barat, semakin panas pula darah para pemain. Sebuah tekel keras dari pemain NBC menjatuhkan penyerang SMA PKN. Anak muda itu bangkit sambil memegangi kakinya, sedangkan kawan-kawannya segera merangsek mendekat.

"Hei! Main bola atau hendak mengadu ilmu pukulan?!" teriak seorang pemain SMA dengan wajah merah padam.

Mendengar teriakan itu, beberapa pemuda NBC maju. Dari tepi lapangan, suporter kedua pihak mulai ikut bersuara. Ada yang mencaci, ada yang membalas, dan ada pula yang sudah melangkah masuk ke lapangan dengan tangan terkepal.

Dalam sekejap, pertandingan sepak bola yang semula menjadi ajang persahabatan berubah menjadi gelanggang yang mengandung bahaya. Sedikit saja percikan api menyambar, niscaya keributan akan menjalar seperti kebakaran di padang ilalang kering.

Namun, di tengah kegaduhan itu, terdengar suara berat yang menggelegar.

"Berhenti!"

Suara tersebut tidak disertai teriakan panjang. Hanya satu kata, tetapi mengandung wibawa yang membuat beberapa kepala spontan menoleh. Dari pinggir lapangan, seorang pria melangkah maju. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang, dan di lehernya tergantung sebuah benda yang telah lama dikenal oleh seluruh penghuni PKN.

Dialah Pak Kaslem, Kepala SMP Timonong, seorang pendidik yang dalam urusan ketertiban tidak mudah diajak bermain-main. Dan benda yang menggantung di lehernya itu bukan kalung pusaka, bukan pula senjata rahasia dari perguruan kuno. Itulah sebuah ketapel!

Jerat Tamot dan Serangan Pendekar Wanita Paruh Baya ke Asrama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (58)

Konon, anak-anak PKN telah lama mengenal kebiasaan Pak Kaslem. Setiap kali kesebelasan SMP Timonong berlaga, baik melawan sesama sekolah PKN maupun menghadapi kesebelasan dari luar, beliau selalu hadir di tepi lapangan dengan ketapel tergantung di leher.

Benda sederhana itu menjadi lambang kewaspadaan. Tidak pernah sekalipun peluru batu benar-benar melesat dari tangannya untuk melukai seseorang. Akan tetapi, tatkala keributan mulai mengancam, Pak Kaslem akan mengangkat ketapelnya dan membidikkan alat itu dengan wajah sungguh-sungguh.

Demikian pula pada petang itu.

Pak Kaslem mengangkat ketapelnya. Karet ditarik perlahan. Suara desingnya yang tipis terdengar di antara napas para pemain yang memburu dan teriakan penonton yang mendadak mereda. Para pemuda NBC yang tadi maju dengan dada membusung mulai saling pandang. Anak-anak SMA PKN pun menahan langkah. Semua mata tertuju kepada lelaki yang berdiri di tepi lapangan itu.

"Sudah!" bentak Pak Kaslem. "Kembali ke tempat masing-masing! Ini pertandingan sepak bola, bukan gelanggang untuk mengadu kepalan!"

Penyusup dan Pengintip Bidadari Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (56)

Tiada batu yang melayang. Tiada kepala yang pecah. Namun, anehnya, ketapel itu justru lebih ampuh daripada seribu nasihat yang disampaikan dengan suara lembut. Mereka semua tahu, Pak Kaslem bukanlah orang yang suka mencelakakan anak-anak muda. Tetapi, mereka juga tahu, jangan sekali-kali menguji kesabaran seorang guru yang telah berdiri dengan ketapel terangkat!

Perlahan, para pemain mundur. Suporter yang telah masuk lapangan kembali ke pinggir. Api amarah yang tadi menjilat-jilat pun padam, menyisakan napas panjang dan wajah-wajah yang mulai menunduk. Pertandingan akhirnya dapat dilanjutkan, meskipun untuk beberapa saat bola seolah-olah ikut merasa segan menggelinding terlalu dekat kepada kerumunan manusia.

Sejak saat itulah, kisah Pak Kaslem dan ketapelnya semakin sering menjadi bahan cerita di kalangan anak-anak PKN. Dalam dunia persilatan, seorang pendekar memperoleh julukan karena ilmu andalannya. Di Nyarumkop, seorang kepala sekolah memperoleh julukan karena sebuah ketapel yang bahkan tidak pernah benar-benar melepaskan pelurunya.

Handuk Biru dan Racun Batin - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (57)

Maka lahirlah nama yang kemudian melekat dalam ingatan banyak orang: Pak Ketapel!

Dan setiap kali NBC berhadapan dengan kesebelasan PKN, para pemain boleh saja mengadu kecepatan kaki, kekuatan tendangan, dan kecerdikan mengolah bola. Namun, jauh di lubuk hati mereka, tersimpan satu kesadaran yang sama: jangan sampai pertandingan itu membuat Pak Ketapel kembali mengangkat senjatanya!

Masri Sareb Putra
Pontianak pada pagi berkabut, 21 September 2026.
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.

0 Comments

Type above and press Enter to search.