Penyusup dan Pengintip Bidadari Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (56)

  

Teka teki penyusup padepokan para perawan Sekabu itu terkuak
Pada malam yang gulita itu, teka teki penyusup padepokan para perawan Sekabu itu pun, terkuak. Ist.

Angin lembah Poteng menderu dari hulu Sungai Sekabu. Menggoyangkan pohon-pohon dan membuat atap padepokan para perawan berderak seperti gigi orang kedinginan. Tengah malam lewat. Angin mendadak diam.
Dari atas tebing muncul bayangan hitam yang meluncur turun seperti kelelawar. Ia mendarat tanpa suara. Ketika cahaya bulan mengenai wajahnya, Elia hampir berteriak. 

Padepokan itu dihuni para murid perempuan yang sehari-hari tekun berlatih silat. Akan tetapi beberapa malam terakhir mereka lebih sibuk menghitung barang yang hilang daripada menghitung jurus.

Gudang pakaian mereka dibobol lagi dan lagi. 

Baca Pendekar Babi Bayangan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (55)

Baju latihan, ikat pinggang, sepatu, serta perlengkapan paling rahasia murid perempuan raib satu demi satu. Yang membuat para penghuni padepokan semakin dongkol, pencurinya tidak pernah meninggalkan jejak. Pintu tidak rusak. 

Anehnya, gembok tetap utuh. Bahkan tikus-tikus di gudang pun seolah tutup mulut. “Kalau tertangkap,” gerutu seorang murid, “aku tidak akan memukulnya. Aku akan menyuruhnya mengembalikan semua barang satu per satu sambil minta maaf kepada seluruh penghuni padepokan!”

Elia Flaviana, pendekar muda yang terkenal lincah sampai ke luar Lembah Sekabu, suatu malam memeriksa petinya. Ia mengangkat kain, membuka kotak, lalu menghela napas lega. 

“Puji Tuhan! Sepatuku masih ada!” katanya. Tetapi keesokan paginya, ketika hendak berlatih, sepasang sepatu kulit kesayangannya sudah lenyap. 

Elia berdiri mematung di depan peti. Wajahnya merah. Tangannya mengepal. “Kemarin masih ada!” katanya. 

“Malam ini hilang! Kalau pencuri itu punya kaki, berarti ia juga punya alamat. Kalau punya alamat, pasti bisa dicari!” 

Tulisan Dinding Latar Altar dan Tiga Burung Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (54)

Seorang murid dari belakang menyahut, “Kalau punya akal, mestinya dia tidak mencuri.” Yang lain menjawab, “Nah, itu masalahnya. Kita sedang mencari orang yang akalnya sedang cuti!”

Bunga Seribu Pesona, pendekar senior yang baru kembali dari hilir, mendengar keributan itu. Ia masuk ke gudang dan melihat para murid sedang memeriksa peti masing-masing dengan wajah seperti pendekar hendak menghadapi musuh besar. 

“Tenang,” katanya. “Pencurinya pasti manusia.”
“Kalau manusia, mengapa tidak pernah tertangkap?” sahut Elia. 

Bunga Seribu Pesona menunjuk tebing di belakang padepokan. “Dari kiri terlalu terbuka. Dari seberang sungai mudah terlihat. Dari hulu pun sulit menyelinap. Tetapi dari tebing itu...” Ia berhenti. 

“Orang yang bisa turun dari sana tanpa suara tentu menguasai ilmu meringankan tubuh.”

Para murid terdiam....

Seorang gadis menelan ludah. “Kalau begitu,” katanya, “pencurinya pendekar.”

Elia mendengus. “Pendekar macam apa mencuri sepatu perempuan?”

Pertanyaan itu membawa mereka kepada sebuah kenangan yang belum lama terjadi. Sekitar pukul dua atau tiga siang, para murid perempuan sedang mandi di tempat terbuka dekat tebing Sungai Sekabu. 

***

Tiba-tiba terlihat seorang pemuda dari Perguruan Widya mengintip dari balik batu. Namanya D. Teriakan para gadis menggema seperti gong perang. 

D dikepung dari segala arah. Ia belum sempat menjelaskan apa-apa ketika pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi.

Setelah itu tubuhnya lebam, mukanya bengkak, dan harga dirinya jatuh lebih cepat daripada tubuhnya ketika terpeleset di batu sungai.

Konon ia gagal naik tingkat di perguruannya karena peristiwa tersebut. Namun yang paling menjengkelkan, setiap kali bertemu dengan murid Tunas Muda sesudahnya, D malah menyeringai. 

Baca Sawo Pastor Balik Tembok Gereja dan Rahasia Setengah Abad Empat Sekawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (53)

“Lihat senyum itu,” kata Elia. “Orang yang benar-benar malu biasanya menunduk.”

Bunga Seribu Pesona mengangguk. “Benar. Senyum seperti itu kadang bukan senyum. Itu surat utang yang sedang menunggu waktu untuk ditagih.”

Malam berikutnya mereka memasang perangkap. Obor dipadamkan. Bunga Seribu Pesona dan Elia bersembunyi di balik gudang.

Para murid perempuan ikut berjaga dari kejauhan. Ada yang membawa tongkat. Ada yang membawa sapu. 

Ada pula yang membawa wajan dari dapur. “Untuk apa wajan?” tanya Elia. “Kalau pedang tidak mempan, kita goreng kepalanya,” jawab gadis itu serius.

Tengah malam lewat....
Angin mendadak diam. Dari atas tebing muncul bayangan hitam yang meluncur turun seperti kelelawar. Ia mendarat tanpa suara. Ketika cahaya bulan mengenai wajahnya, Elia hampir berteriak. D! Dan di kakinya terpasang sepatu kulit kesayangannya.

“D!” bentak Elia. “Kau memakai sepatuku!” D sengaja mengangkat satu kaki.
“Bagaimana? Cocok?”
Beberapa murid perempuan yang mengintip dari balik jendela hampir meledak karena dongkol.

“Cocok dengan muka pencuri!” teriak seseorang. 

D tertawa. “Elia Flaviana. Nama besar dari Lembah Sekabu. Aku ingin melihat apakah pendekar terkenal seperti dirimu masih dapat berdiri gagah setelah aku mengambil alas kakimu.” 

Elia maju selangkah. “Kembalikan sepatu itu. Berlutut. Minta maaf. Kalau aku sedang baik hati, mungkin aku hanya menendangmu tiga kali.”
 “Tiga kali?” D tertawa. “Aku pernah merasakan lebih banyak dari itu.”
Elia menyeringai. “Kalau begitu malam ini kau boleh menghitung sendiri.”

D tiba-tiba menyerang. Dari lengan bajunya melesat jarum-jarum hitam. Ting! Ting! Ting! Pedang Bunga Seribu Pesona menangkis semuanya. 

Para murid perempuan berteriak dan mundur. “Astaga! Pencuri sepatu membawa jarum beracun!” Elia melesat ke depan. Tubuhnya berputar. Kakinya menyambar dagu D. 

“Tendangan Menembus Awan!” Buk! D terlempar dan jatuh tak sadarkan diri.
Seorang murid perempuan bersorak, “Nah! Sekarang sepatunya kembali!”
Yang lain menyahut, “Jangan lupa bajunya!”
Tetapi Bunga Seribu Pesona tidak ikut tertawa. Ia memandang D dengan wajah serius. Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik pencurian itu.

Baca Pak Lelen dan Jejak Sang Juru Masak di Padepokan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (52)

Ketika D siuman, rahasia akhirnya terbongkar.
“Aku mempunyai guru,” katanya. “Si Tangan Beracun dari Hulu Sekabu.” Para murid yang tadi masih tersenyum langsung diam.

D mengaku pakaian-pakaian yang dicuri telah dibawa kepada gurunya untuk dilumuri racun. Besok, pakaian itu akan dipakai para tetua dan pendekar. Racun akan meresap melalui kulit. “Jadi selama ini kita bukan hanya kehilangan sepatu?” tanya seorang murid. D menggeleng. 

“Kalian kehilangan kesempatan untuk hidup tenang.” Elia menatapnya tajam. “Kau tahu, D, tadinya aku hanya marah karena sepatu. Sekarang aku ingin menendangmu dua kali.”

D menelan  air ludah. “Bukankah tadi tiga kali?” Elia menjawab, “Itu sebelum aku tahu rencanamu.”

Bunga Seribu Pesona dan Elia segera melesat ke hulu. Mereka menembus semak, memanjat batu, dan menyusuri tebing yang licin. Setelah melewati air terjun, mereka menemukan sebuah gua. Di dalamnya berdiri Si Tangan Beracun dengan jubah hitam. 

Kuali besar mengepulkan uap hijau. Pakaian-pakaian curian tergantung di dinding. Orang tua itu tertawa. “Kalian terlambat.” Elia melihat sepatu kulitnya sendiri. 

“Yang terlambat itu gurumu,” katanya. “Sepatuku sudah kembali.” Si Tangan Beracun mengerutkan kening. “Apa hubungannya sepatu dengan semua ini?”
“Banyak,” jawab Elia. “Sejak tadi aku kesal.”

Kabut hijau mendadak menyembur dari kuali. Bunga Seribu Pesona membuka kitab tua bersampul kulit rusa. Halaman-halamannya berputar. 

“Siasat Kitab Membawa Surat Cinta!” Wusss! Angin dahsyat keluar dari kitab dan membalikkan kabut racun kepada Si Tangan Beracun. Orang tua itu terhuyung. 

Elia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menginjak dinding gua, melayang tinggi, lalu menghantam dada lawannya. “Tendangan Menembus Awan!” Buk! Si Tangan Beracun terlempar dan jatuh pingsan. Bunga Seribu Pesona segera mengamankan pakaian-pakaian yang belum terkena racun.

Ketika mereka kembali ke padepokan, suasana berubah seperti pesta kemenangan. Para murid perempuan menyambut Elia dengan sorak-sorai. Elia mengangkat sepatu kulitnya. 

“Inilah sumber segala perkara!” katanya. Seorang murid tertawa. 

“Sepatu saja bisa membuat satu padepokan geger.” Elia menggeleng. “Bukan sepatunya. Pencurinya yang kurang kerjaan.”

Semua tertawa. Tetapi di balik tawa itu tersimpan satu pelajaran. Perkara besar kadang tumbuh dari perbuatan kecil. 

Jurus Kodok Menipu Pak Dawai Menerbangkan Ikan Asin: 2 Kawan Dikeluarkan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (51)

Sepasang mata yang tidak tahu menjaga diri dapat melahirkan malu. Malu yang dipelihara menjadi dendam. Dendam melahirkan pencurian. Dan pencurian, kalau sudah berteman dengan racun, dapat membawa orang sampai ke liang kehancurannya sendiri.

Sejak malam itu, gudang kembali aman. Para penghuni padepokan tidur tanpa harus menggenggam sapu atau wajan. Namun setiap kali terdengar ranting patah di luar jendela, seorang murid pasti bangun dan berteriak, “Pencuri!” Seluruh kamar mendadak geger. Setelah diperiksa, ternyata hanya seekor kucing yang menjatuhkan tempurung kelapa. 

“Kalau begini terus,” kata Elia sambil tertawa, “kita tidak perlu belajar ilmu silat lagi. Cukup belajar ilmu mencurigai suara!” 

Dan seluruh padepokan pun tertawa. Hanya angin gunung yang terus menderu dari hulu Sungai Sekabu. Seolah-olah masih menyimpan rahasia tentang malam ketika sepasang sepatu perempuan berhasil membuat sebuah padepokan penuh pendekar kehilangan kesabarannya.

(episode ini bersambung)

Jakarta pagi jelang siang 20 September 2026.

Dapatkan Kalender Digital

Based on a true story seperti dikisahkan seorang penghuni  perguruan Sekabu kepadaku.

0 Comments

Type above and press Enter to search.