Pak Lelen dan Jejak Sang Juru Masak di Padepokan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (52)

Pak Lelen dan Jejak Sang Juru Masak di Padepokan Nyarumkop
Pak Lelen: abadi namamu dalam lagu! Ist.

Pagi belum benar-benar bangun dari tidur panjang malam ketika kabut turun dari lereng Gunung Poteng. Putih dan tebal. Seolah-olah gunung tua itu sedang menyelubungi Padepokan Nyarumkop dengan rahasia yang belum waktunya untuk dibuka. 

Pepohonan berdiri seperti para pertapa. Embun bergantung di ujung daun. Dingin merayap melalui celah dinding Wisma Widya dan menyusup sampai ke tulang.

Jurus Kodok Menipu Pak Dawai Menerbangkan Ikan Asin: 2 Kawan Dikeluarkan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (51)

Dari kejauhan terdengar lonceng yang memanggil dari sebuah gereja yang waktu itu belum tua. 

Teng... teng... teng!

Dentangnya menggetarkan pagi. Namun para murid di Wisma Widya belum banyak yang bergerak. Ada yang baru membalikkan badan. Ada yang melipat selimut. Ada yang masih membawa bau kantuk baru saja mendengkur dengan ketenangan seorang pertapa yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu tidur. 

Tetapi semua kesaktian itu mendadak runtuh ketika dari arah dapur terdengar sebuah teriakan.

“Bubur Pak Lelen!”

Ajaib! Dalam sekejap selimut beterbangan. Pintu kamar terbuka. Anak-anak melompat dari pembaringan dan berhamburan menuju dapur. Yang tadi menggigil kedinginan mendadak lupa dingin. Yang mengaku sakit pinggang mendadak sembuh. Bahkan mereka yang semalam bersumpah hendak mengurangi makan kini berlari paling depan.

Begitulah dahsyatnya ilmu bubur bulgur Pak Lelen.

Baca Jurus Maut Penakluk Seribu Bidadari "Kodok Terbang" dan Pacar yang Ditukar - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (50)

Di tempat lain, bubur mungkin hanyalah bubur. Tetapi di Nyarumkop, di kaki Gunung Poteng, ketika pagi masih dingin dan perut anak-anak kosong, semangkuk bubur bulgur panas dapat terasa seperti pusaka. Uapnya mengepul. Aromanya menguar. Periuk di dapur seakan menyimpan tenaga sakti.

Namun, wahai pembaca! Siapa sebenarnya lelaki yang berada di balik periuk itu?

"Pak Lelen!"

Bayangkan seorang lelaki yang bangun ketika sebagian besar penghuni padepokan masih terlelap.

Saat kamar-kamar masih sunyi, ia telah berada di dapur. Tangannya menyiapkan bahan. Api dinyalakan. Kayu disusun. Periuk (untuk tidak mengatakannya: drum) diletakkan di atas tungku. Lalu bulgur mulai dimasak.

Sendok kayu bergerak perlahan di dalam periuk. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Hanya bunyi api, uap panas, dan pekerjaan yang harus selesai sebelum anak-anak bangun.

***

Di situlah sosok Pak Lelen menjadi menarik.... 

Ia bukan pendekar yang mencari nama. Ia bukan guru yang berdiri di depan kelas. Ia bukan orang yang setiap hari disebut dalam pengumuman. Ia bekerja di belakang layar kehidupan Nyarumkop. Tetapi justru dari tempat yang sunyi itulah ia menyentuh kehidupan begitu banyak anak.

Ia tahu bahwa pagi akan datang. Ia tahu ratusan perut akan menunggu. Ia tahu bubur harus cukup. Maka periuk tidak boleh kosong sebelum waktunya. Barangkali ia tidak pernah menghitung berapa banyak anak yang kelak mengingat dirinya. Ia hanya memastikan bahwa ketika anak-anak datang membawa mangkuk, masih ada makanan untuk mereka.

Nama Pak Lelen bahkan masuk ke dalam lagu. Pater Gosewinus menggubah "Nyarumkop Song", dan di antara bait-bait yang menghidupkan kembali masa silam itu terselip sebuah kalimat pendek: 

“Dan... bubur Pak Lelen muncul tiap pagi....”

Kalimat yang diabadikan syair lagu itu sederhana. Tetapi di dalamnya tersimpan sebuah dunia. Ada seorang lelaki. Ada dapur. Ada periuk. Ada anak-anak yang berlari. Dan ada pagi-pagi yang sekarang tinggal kenangan.

Lalu muncul pertanyaan yang belum terjawab. Sejak tahun berapa Pak Lelen berdiri di dapur PKN Nyarumkop? Dari mana ia datang? Apakah ia telah memasak ketika murid SD, SMP, SKP, SPG, dan SMA masih memenuhi kompleks sekolah? Apakah tangannya telah mengaduk bubur pada masa para “pendekar berkerudung putih” dari negeri Kincir Angin masih berjaya, sekitar 1960 hingga 1979?

Jejak lama pun kubuka. Dalam sebuah catatan ditemukan petunjuk: Pak Lelen memasak untuk siswa SD, SMP, SKP, SPG, dan SMA.
Nah: SKP!

Tiga huruf itu terasa seperti ketukan pada pintu tua. Tok! Tok! Tok! Di balik pintu itu terbentang Nyarumkop dari zaman yang telah jauh menuutup sebuah nama.

Namun jangan tergesa-gesa, wahai pembaca! Dalam perkara sejarah, dugaan harus tunduk kepada bukti. Tahun pertama Pak Lelen memasak di Nyarumkop belum dapat dipastikan. Mungkin jawabannya tersimpan dalam foto yang telah menguning. Mungkin dalam arsip sekolah. Mungkin dalam catatan lama. Atau mungkin dalam ingatan seorang alumni yang masih dapat berkata, “Ketika saya masuk Nyarumkop, Pak Lelen masih memasak bubur bulgur wajib tiap pagi di sana.”

Jika suatu hari kesaksian itu ditemukan, sejarah kecil ini akan mendapat tanggalnya. Tetapi tanpa tanggal pun, satu hal sudah jelas: ada seorang lelaki yang setiap pagi bangun lebih dahulu demi memastikan anak-anak tidak memulai hari dengan perut kosong.

Ia tidak meninggalkan prasasti. Tidak meninggalkan patung. Mungkin tidak pula menyangka bahwa namanya akan dikenang puluhan tahun kemudian. Warisannya jauh lebih sederhana dan karena itu justru terasa dekat: rasa hangat dari semangkuk bubur pada pagi yang dingin.

Akan tetapi bagi  Pembaca bermata jeli. Dan punya ilmu kanuragan tingkat tinggi ia dapat membaca petunjuk: SKP. Nah itulah clue-nya. Ketika Sekolah Kepandaian Putri masih berjaya dan menjadi pilihan nenek nenek kita. Mungkin juga ketika nenek masih perawan dan 
ranum bunganya belum dipetik kakek kita.

Bertahun-tahun kemudian, "Nyarumkop Song" kembali berkumandang. Ketika sampai pada kalimat, “Dan... bubur Pak Lelen muncul tiap pagi,” waktu seperti kehilangan kuasanya. Dapur lama kembali mengepul dalam ingatan. Seorang lelaki tampak berdiri di depan periuk. Sendok kayu di tangannya bergerak perlahan. Ia tidak menoleh kepada siapa pun. Ia hanya terus mengaduk, sebab sebentar lagi anak-anak akan datang.

Pak Lelen mungkin tidak pernah tahu bahwa anak-anak yang dahulu berlari membawa mangkuk itu kelak akan tumbuh, berpencar, beruban, dan membawa nama Nyarumkop ke mana-mana. Ia hanya memasak untuk mereka. 

Tetapi tanpa disadarinya, setiap pagi ia sedang meninggalkan sesuatu yang tidak ikut habis bersama bubur: rasa pernah diperhatikan, rasa pernah ditunggu, rasa pernah diberi makan oleh seseorang yang bekerja dalam diam.

***

Dahulu kami datang membawa mangkuk. Kini rambut telah memutih. Sebagian kawan telah pergi untuk selamanya. Dan ketika nama Pak Lelen disebut, kami seperti mendengar kembali bunyi sendok kayu beradu dengan periuk.

Buburnya telah lama habis. Pak Lelen mungkin telah lama pergi. Tetapi lelaki yang setiap pagi berdiri di depan tungku itu masih hidup di tempat yang paling sulit dijangkau waktu: di dalam ingatan kami.

Masri Sareb Putra 
Jakarta siang bolong 19 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.