Jurus Maut Penakluk Seribu Bidadari Cap "Kodok Terbang" dan Pacar yang Ditukar - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (50)
| Para pendekar play boy cap kodok terbang itu di masanya. Panah merah (Anis, teknisi PLN Sekabu yang menyuruhku naik mengganti bohlam ketika aku nyaris tinggal nama pada kisah sebelumnya). |
Di kaki Gunung Poteng, tempat kabut turun seperti selendang bidadari. Ditingkah suara embusan angin malam membawa bisikan dari hutan-hutan tua.... Dari arah lereng gunung hawa sejuk mengembuskan rindunya. Lalu bertumpu, singgah di Sekabu dalam kesejukan jiwa para penghuni padepokan bidadari yang dijaga ketat oleh sembilan pendekar perempuan berkerudung putih.Tahun kejadian peristiwa hebat itu berkisar antara 1974 - 1979...
Ketika kerajaan kecil di kaki gunung Poteng yang dari jauh dilihat bagai sebelah susu ibu dikuasai pendekar tinggi kurus bernama Tan Un Mao. Penguasa itu amatlah harum lagi mashyur, asalnya dari negeri jauh bernama Kun Tien. Di kalangan luas ia dikenal sebagai pastor Petrus Rostandy.
Di lembah gunung bernama Poteng itu. Berdirilah sebuah padepokan yang tampaknya tenteram. Namanya: Wisma Widya.
Baca Jurus Kitab Berisi Surat Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (49)
Pada siang hari. Para murid mempelajari ilmu pengetahuan. Pada malam hari, sebagian di antara mereka mempelajari ilmu yang tidak pernah tercantum dalam kitab perguruan mana pun. Ilmu itu bernama asmara!
Ilmu menundukkan bidadari Sekabu yang dikuasai para kakak kelas itu kemudian kunamakan "Jurus Kodok Terbang."
Jangan ditanya mengapa? Sebab dalam urusan asmara, gerak-gerik mereka kadang begitu lincah, begitu nekat, dan begitu sukar ditebak. Sampai-sampai jangankan aku, adik mereka sendiri, mungkin Tuhan pun menundukkan wajah sejenak, tersenyum malu melihat tingkah polah para pendekar muda itu.
Cinta mereka tak ubahnya monyet yang memetik buah. Satu dipetik, satu lagi diincar. Yang sudah di tangan belum tentu selesai dikunyah, sementara mata telah melirik ke dahan berikutnya!
Semula hendak kusimpan rapat-rapat rahasia ini. Kukunci dalam peti kenangan, kuselipkan di bawah tikar masa muda, lalu kutindih dengan batu dari Sekabu agar tidak seorang pun dapat membukanya.
Namun setelah rambut memutih dan usia menempuh jalan panjang, aku berpikir: sudahlah! Biarlah sedikit rahasia ini kubuka.
Bukan untuk mencelakakan siapa-siapa, melainkan agar dada ini terasa sedikit plong. Sebab, menyimpan kenangan selama setengah abad ternyata lebih melelahkan daripada memanggul karung beras dari Singkawang ke Wisma Widya!
Baca Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)
Aku masih seorang adik kelas ketika para pendekar muda itu berada di puncak kejayaannya. Di mataku, mereka bukan pemuda biasa. Mereka adalah pendekar tampan yang langkahnya mantap, rambutnya tersisir, dan senyumnya sanggup membuat hati gadis-gadis bergetar. Bang Adri, Maliki, Bang Yus, Thomas Daliman, Surminto, Welli, Anis, Djui Sang, dan Sinar. Nama-nama itu masih kuingat, seolah-olah baru kemarin mereka melintas di halaman Wisma Widya dengan wajah penuh keyakinan.
Aku sangat dekat dengan mereka.
Mungkin mereka menganggapku adik kecil yang perlu dijaga. Mungkin pula mereka melihat bakat terpendam dalam diriku untuk menerima warisan ilmu asmara. Entahlah. Yang jelas, mereka punya banyak sekali acara. Di SPG ada. Di SMP ada. Di Singkawang ada. Kalau malam Minggu tiba, beberapa pendekar mendadak memiliki tenaga dalam yang sanggup membawa mereka berjalan jauh meninggalkan padepokan, lalu kembali menjelang pagi. Para pamong? Ah, itu persoalan lain. Kisah pengembaraan malam tersebut akan kubuka dalam episode tersendiri!
Jurus yang Membelah Hati
Pernah kusaksikan seorang kakak kelas berhadapan dengan seorang gadis. Ia merapikan rambut, mengangkat dagu, lalu mengeluarkan senyum yang mungkin sudah dilatihnya sebanyak seribu kali di depan cermin.
"Hanya kamu seorang!"
Suara itu lembut. Wajahnya sungguh-sungguh. Kalau aku tidak mengenal wataknya, mungkin aku sudah meneteskan air mata karena terharu menyaksikan kesetiaan seorang pendekar muda.
Namun, belum lama kemudian, kulihat ia bertemu gadis lain.
Rambut dirapikan.
Dagu diangkat.
Senyum dilepaskan.
"Hanya kamu seorang!"
Aku hampir terjatuh dari tempat duduk!
Celaka! Bukankah tadi juga hanya kamu seorang?
Aku menunggu penjelasan dari langit, tetapi langit diam. Aku menunggu jawaban dari Gunung Poteng, tetapi gunung hanya mengirim kabut. Akhirnya aku sadar: pendekar ini menguasai ilmu yang sangat berbahaya, ilmu yang memungkinkan satu kalimat digunakan berkali-kali tanpa kehilangan kesaktian!
Jurus Hanya Kamu Seorang!
Dan pemilik jurus tersebut? Dialah yang dalam catatan rahasiaku kusebut "Pendekar Playboy Cap Kodok Terbang!"
Kodok biasa melompat dari batu ke batu. Kodok terbang melompat dari hati ke hati. Kalau kodok biasa jatuh ke kolam, ia berenang menyelamatkan diri. Kalau pendekar ini jatuh ke dalam masalah, ia mungkin mengeluarkan senyum dan berkata:
"Hanya kamu seorang!"
Sungguh ilmu yang menggetarkan! Menggetarkan hati gadis-gadis. Menggetarkan kepala para adik kelas. Dan mungkin juga menggetarkan kesabaran para pamong apabila rahasia itu terbongkar!
Padepokan yang Menyimpan Seribu Rahasia
Tetapi, wahai pembaca, Jurus Hanya Kamu Seorang hanyalah permulaan. Di balik dinding Wisma Widya, di antara langkah kaki yang berhati-hati dan pintu kamar yang ditutup perlahan, tersimpan sebuah rahasia yang baru sekarang berani kuungkapkan.
Inilah jaringan asmara para pendekar muda. Sebuah perguruan rahasia yang tidak memiliki papan nama, tidak mempunyai kitab peraturan, dan tidak pernah mengadakan upacara pelantikan. Namun, menurut kabar yang beredar, para anggotanya menjalankan suatu ilmu yang sungguh-sungguh ganjil: saling tukar pacar!
Si A dengan si B.
Si B dengan si C.
Si C dengan si D.
Dan seterusnya!
Jika hubungan mereka digambar dalam bagan, seorang panglima perang mungkin akan mengira bahwa itu adalah peta pengepungan sebuah kerajaan. Padahal, yang diperebutkan bukan benteng, bukan istana, melainkan hati gadis!
Bang Adri. Maliki. Bang Yus. Thomas Daliman. Surminto. Welli. Sinar, Anis, Jekran. Mereka itulah nama-nama yang masih kuingat dari dunia persilatan asmara masa itu. Mereka gagah. Mereka populer. Mereka penuh akal. Dan tampaknya, jika urusan gadis, mereka mampu menyusun strategi yang tidak kalah rumit daripada perang antarperguruan.
Aku yang masih muda hanya dapat mengamati dengan mata terbuka lebar. Mengapa para gadis itu mau saja?
Pertanyaan tersebut masih menjadi teka-teki hingga kini. Mungkin mereka mempunyai jurus sendiri. Mungkin mereka memahami aturan permainan. Atau mungkin, dalam urusan cinta, manusia memang sering melangkah lebih cepat daripada pikirannya!
Aku tidak berani bertanya terlalu jauh. Sebab, seorang adik kelas yang terlalu ingin tahu dapat dengan mudah berubah dari saksi menjadi korban!
Bidadari yang Tersimpan dalam Ingatan
Di antara gadis-gadis yang pernah disebut dalam kisah lama itu, ada seorang yang kukenal. Namanya tidak akan kusebutkan. Cukuplah dua huruf: SS
Pada waktu itu, aku tidak mengetahui rahasia apa pun. Aku hanya seorang adik kelas yang melihat dunia dari pinggir halaman padepokan. Para kakak sibuk dengan pengembaraan mereka. Kami yang lebih muda sibuk dengan pelajaran, persahabatan, dan kenakalan kecil yang kini terasa seperti harta karun masa lalu.
Anis dan Saya Tersengat Listrik di Sekabu: Untungnya Sempat Lihat Bendera Kebangsaan Para Perawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (46)
Tahun berganti. Rambut menghitam lalu memutih. Wajah-wajah muda perlahan ditutupi garis kehidupan. Dan setelah hampir lima puluh tahun, barulah aku memahami bahwa SS mungkin termasuk salah seorang bidadari yang dahulu beredar dalam jaringan asmara para pendekar Wisma Widya.
Aku terdiam. Kemudian tertawa.
Astaga! Rupanya rahasia masa muda dapat tidur selama setengah abad, lalu bangun kembali ketika manusia sudah mulai lupa di mana menyimpan kacamata!
Namun, tidak semua rahasia harus dibongkar. Ada kisah yang indah karena dikenang. Ada kenakalan yang lucu karena telah jauh berlalu. Tetapi ada pula rahasia yang, apabila dibuka tanpa pertimbangan, dapat melukai hati orang-orang yang tidak bersalah.
Para pendekar itu kini telah berkeluarga. Para gadis yang dahulu menjadi bagian dari kisah masa muda mereka telah menempuh jalan masing-masing. Mereka bukan lagi anak-anak yang berlari di halaman Wisma Widya. Mereka adalah manusia yang telah mengenal suka dan duka, kesetiaan dan kehilangan, serta panjangnya jalan kehidupan.
Maka, biarlah sebagian kisah tetap menjadi milik masa lalu.
Tawa boleh tinggal.
Nama baik harus dijaga.
Bertemu para Istri Play Boy Cap Kodok Terbang Itu
Pada Reuni Akbar 110 Tahun PKN, 4–6 September 2026, aku bertemu dengan istri Surminto dan istri Bang Adri.
Ketika melihat mereka, ingatanku terbang kembali ke masa muda. Halaman Wisma Widya. Langkah-langkah para kakak kelas. Senyum yang penuh rahasia. Dan kalimat sakti yang dahulu membuat kami para adik kelas hampir tidak percaya kepada telinga sendiri.
Aku tersenyum dalam hati.
Ah, Bang Adri! Koh Surminto! Dunia telah membawa kita begitu jauh dari padepokan. Dulu kalian mengejar bidadari. Kini kalian mengejar waktu, menjaga keluarga, dan mungkin mencari kacamata yang diletakkan sendiri tetapi lupa di mana!
Namun, di hadapan para istri itu, aku tidak membuka rahasia lama. Tidak kuceritakan siapa bertemu siapa. Tidak kusebutkan jurus pertukaran bidadari. Tidak pula kulepaskan kalimat "Hanya kamu seorang!"
Sebagai sesama lelaki dan adik seperguruan yang tahu membalas budi, aku memilih diam.
Bukan karena aku lupa. Justru karena aku ingat.
Sembilan Pendekar Kerudung Putih Penjaga Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (48)
Dahulu mereka pernah menjadi kakak yang dekat denganku. Masa muda kami, dengan segala kenakalan dan kekonyolannya, adalah bagian dari sejarah bersama. Dan sejarah bersama tidak selalu harus dijadikan senjata untuk menertawakan orang lain.
Seorang pendekar yang telah tua harus tahu kapan pedangnya berguna dan kapan pedangnya justru membawa malapetaka.
Maka, pedang itu kusarungkan.
Jurus yang tak Pernah Kalah
Jika kelak aku bertemu kembali dengan para pendekar itu, mungkin aku akan memberi hormat dan berkata:
"Bang Adri! Bang Yus! Bang Maliki! Hai, kau Koh Surminto! Juga Bang Maliki yang ketika kuajak ikut reuni dia katakan "takut ring dalam dadanya bermasalah di jalan!"
Akan halnya pendekar yang sewaktu-waktu tak terduga jurus panah lepas dari busur asmara bagai petir dari lembah Gunung Bengkawan ini, istrinya ketika muda, akulah kawannya sepermainan. Sebagai sesama pendekar, aku tetap menjaga nama baik abang di depan istrinya itu! Sebagai balas-jasa bahwa sebagai penyanyi puber yang suaranya masih dibentuk Tuhan, aku dua kali pernah turut menkmati sinar keluarga daripadanya.
Ilmu asmara kalian dahulu sungguh mengagumkan. Tetapi setelah perjalanan hidup yang panjang, akhirnya kuketahui sebuah jurus yang jauh lebih tinggi!"
Mereka tentu akan bertanya:
"Jurus apakah itu?"
Aku akan tersenyum perlahan. Senyum seorang pendekar tua yang telah melewati badai kehidupan, kehilangan rambut, dan mungkin kehilangan gigi geraham.
Kemudian kujawab:
"Jurus Menyimpan Rahasia Sampai Akhir Hayat!"
Mereka mungkin tertawa. Mungkin pula saling berpandangan. Dan dalam pandangan itu, masa muda akan kembali sebentar, seperti burung yang hinggap di dahan lalu terbang lagi.
Di kaki Gunung Poteng, angin petang berembus. Kabut menutupi jalan lama. Padepokan Wisma Widya menyimpan suara-suara yang telah lama berlalu.
Tiba-tiba terdengar suara kodok.
"Ko... rok!"
Aku menoleh.
Jangan-jangan Pendekar Playboy Cap Kodok Terbang sedang mengeluarkan jurus terakhirnya!
Namun, kali ini aku tertawa.
Sebab, setelah puluhan tahun, akhirnya aku memahami bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan jawaban. Kadang-kadang ia hanya membutuhkan kenangan yang dapat membuat kita tertawa tanpa melukai siapa pun.
Baca Gelar Para Pendekar Padepokan Widya Diberi Para Murid yang tak Tahu Diri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (48)
Ilmu silat boleh lenyap. Jurus asmara boleh terkubur. Tetapi kisah masa muda, betapapun konyolnya, akan tetap bergetar di dalam hati selama manusia masih mampu mengenang dan tertawa.
Masri Sareb Putra
Jakarta dinihari ketika kodok tak lagi berbunyi 19 September 2026
0 Comments