Gelar Para Pendekar Padepokan Widya Diberi Para Murid yang tak Tahu Diri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (48)

Gelar Para Pendekar Padepokan Widya
Para bruder dan pastor pamong dan pengawas asrama yang baik hatinya, namun anak-anak perguruan persilatan memberi mereka gelar. Maafkan kami! Sebab waktu itu kami tak tahu apa yang kami lakukan. Ist.

Sebelas bruder dan empat pater di Wisma Widya, Nyarumkop, pernah menjadi korban kejahilan anak asrama. Nama mereka kami pelintir menjadi 15 julukan ganjil dan lucu. Puluhan tahun kemudian, tawa itu berubah menjadi kenangan hangat tentang para pamong yang dahulu menjaga kami.

Para bruder dan pastor itu mungkin sudah damai berada di "perguruan silat abadi di surga". Waktu itu kami tak mengerti, apa yang kami lakukan! Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa. Maafkan kami semua!

Di kaki Gunung Poteng, tempat kabut turun perlahan dan pagi Nyarumkop selalu bening, berdirilah sekolah dan asrama yang bagi kami dahulu serupa sebuah padepokan. Bukan padepokan dalam cerita silat dengan pedang berkilat, jurus maut, atau pendekar yang tiba-tiba muncul dari balik rumpun bambu. 
Sembilan Pendekar Kerudung Putih Penjaga Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (48)

Tempat kami jauh lebih sederhana: ruang kelas, asrama, kapel, lapangan, dan lorong-lorong yang setiap hari dipenuhi suara anak-anak.

Di sanalah para pastor dan bruder menjadi guru, pengasuh, sekaligus tokoh-tokoh yang kelak kami kenang dengan nama lain. Mereka datang dengan nama-nama panjang, resmi, dan khidmat. Tetapi nama yang panjang, kalau sudah masuk ke lingkungan anak asrama, rupanya tidak selalu panjang umurnya. Kami memendekkannya, membelokkannya, bahkan kadang mengubahnya menjadi sesuatu yang mungkin membuat pemiliknya sendiri mengernyitkan dahi.

Sebelas bruder dan empat pater, seluruhnya lima belas orang, mendapat nama masing-masing dari anak-anak asrama yang jahil. Maafkan kami!

Saya masih dapat membayangkan bagaimana sebuah julukan lahir. Beberapa anak berkumpul di sudut asrama. Suara kami dikecilkan seperti sedang membicarakan rahasia negara, padahal yang sedang dirundingkan cuma satu perkara: bagaimana memanggil seorang bruder atau pater dengan nama yang membuat kami sendiri sulit menahan tawa. 

Baca Sebuah Pagi dan Malam Natal 1978 di Susteran - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (47)

Nama asli disebut. Dipenggal. Dipelintir. Seseorang mengusulkan sesuatu. Yang lain tertawa. Usul berikutnya lebih berani. Tawa pecah, lalu buru-buru ditahan ketika terdengar langkah orang dewasa di lorong.

Begitulah sebuah nama baru lahir. Tidak ada sidang, tidak ada notulen. Sekali cocok di telinga, resmilah ia di republik kecil bernama asrama Nyarumkop.

Maka satu demi satu nama itu tumbuh dan menetap dalam percakapan kami.

Ansfridus Vermunt menjadi Pak Peluntan, Hermanus Pak Long, Claudius Kuypers: Pak Is, dan Libertus Hoppenbrouwers: Pak Liber. Florentinus V.D. Muelenbriek kami panggil: Pak Tengok, Fidelis van Gool: Pak Nyanyi, dan Antonio de Ceuster: Pak Unte. Sesudah itu menyusul Sivius:Pak Merah, Seraficus: Pak Bomel, Cupertinus:Pak Dawai, dan Edwinus: Pak Sekak. Nama-nama itu begitu akrab di telinga kami sampai nama resminya seolah hanya diperlukan ketika mengisi daftar administrasi.

Para pastor pamong pun mendapat bagian. Savio menjadi Pak Ho Ho, Amantius Pak Aman, Petrus Rostandy: Pak Sepot, dan Patrik Hartadi: Pak Aki. 

Genaplah lima belas nama. Sebelas bruder dan empat pater. Kalau sekarang semuanya disebut kembali, bunyinya seperti halaman roman silat yang terselip di antara buku pelajaran. Ada Pak Peluntan, Pak Nyanyi, Pak Dawai, Pak Sekak, Pak Sepot. Kami dahulu menganggapnya lucu. Kini nama-nama itu justru seperti ketukan kecil di pintu ingatan.


Anis dan Saya Tersengat Listrik di Sekabu: Untungnya Sempat Lihat Bendera Kebangsaan Para Perawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (46)

Di antara kelima belas nama itu, ada satu yang selalu membawa saya kembali kepada sebuah malam tertentu. "Pak Aki."

Suatu malam kami sedang menonton "Combat". Film perang itu, pada zaman kami, lebih ampuh daripada pelajaran sejarah. Televisi menyala. Mata kami menyala. Para prajurit di layar sedang berperang. Kami ikut tegang. Hanya satu yang tidak ikut berperang: buku pelajaran yang tergeletak dengan tenang, ditinggalkan pemiliknya seperti anak yatim.

Besok pagi kami harus sekolah. Mungkin ada ulangan. Tetapi siapa yang tega meninggalkan medan perang sebelum selesai? Kami mempunyai kalimat sakti yang dapat membenarkan hampir semua kesalahan anak sekolah: “Sebentar lagi.” Masalahnya, “sebentar lagi” bagi anak asrama bisa berarti setengah jam, satu jam, atau sampai ayam berkokok.

Lalu Pak Aki muncul. Kelebatnya tak tampak dibekap gelap. Mungkin juga kami mendengar langkahnya tetapi konsentrasi sedang ke layar TV ruang rekeasi yang ketika itu sepertiga terbuka samping dinding kelas III SPG dan halaman majalah dinding.

Pendekar yang kemudan saya tahu nama aslinya Lim Kheng Siang sebut saja dia dari Perkumpulan Kaifang (saudara-saudara dina yang tiggal di pastoran ketika itu yang hanya saya dan seorang kawan secara rahasia menyebutnya pendekar "Botak Seng") memandang kami.

Memandang wajah televisi. Memandang jam yang berdetak pada dinding yang tanpa kami hiraukan sejak tadi. Kami pura-pura tidak melihat. Ia berjalan ke televisi. Tangannya bergerak.

Klik! Layar TV mati.

Pra prajurit Combat lenyap seketika itu juga. Perang tamat. Kami kalah tanpa sempat mengeluarkan satu jurus pun.

Dulu kami mungkin menganggapnya kekalahan yang menyebalkan. Kini saya justru tersenyum jika mengingatnya. Pak Aki mematikan televisi, tetapi tanpa kami sadari ia sedang menyelamatkan kami dari kesenangan yang kebablasan.

Itulah sebabnya, puluhan tahun kemudian, bunyi "klik" itu masih tinggal dalam ingatan. Ada geli ketika mengingat kenakalan kami. Ada malu yang datang terlambat. Dan ada rasa terima kasih yang baru kami pahami setelah waktu membawa kami begitu jauh.

Para pendekar Nyarumkop tidak selalu membutuhkan pedang. Pak Aki hanya membutuhkan satu saklar.

Masri Sareb Putra 
Jakarta, siang bolong yang panas 19 September 2026


0 Comments

Type above and press Enter to search.