Sebuah Pagi dan Malam Natal 1978 di Susteran - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (47)
| Penampakan Susteran Nyarumkop ujung tahun 1970an. Benteng utama mahligai para bidadari yang dijaga 7 pendekar kerudung putih. Is. |
Ada sekeping waktu yang seolah membeku di sana. Pagi Nyarumkop pada ujung 1970-an masih menyimpan langit yang bening, bukit-bukit yang membiru, dan kabut yang turun perlahan seperti tirai tipis.Di bawahnya berdiri dua pucuk atap dengan jendela-jendela loteng yang menghadap jauh. Arsitekturnya membawa bayangan Eropa klasik, tetapi telah lama berdamai dengan tanah Kalimantan.
Lebih dari dua tahun tinggal bertetangga dengan Wisma Rini, saya hanya tiga kali mendapat kesempatan menembus wilayah yang oleh kami anak-anak Wisma Widya diam-diam disebut "padepokan para perawan".
Sungguh! Kawasan ini bagaikan sepotong surga yang jatuh ke bumi. Tumpah ruah namun teratur seperti tertata pada sebuah lembah kaki Gunung Poteng.
Tiga kali saja. Tidak lebih. Kesucian, rupanya, harus membutuhkan jarak. Dan jarak itulah yang justru membuat rasa ingin tahu tumbuh diam-diam.
Anis dan Saya Tersengat Listrik di Sekabu: Untungnya Sempat Lihat Bendera Kebangsaan Para Perawan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (46)
Bangunan itu tidak tampak asing lagi. Ia telah menjadi bagian dari lanskap, seperti pohon, batu, kabut, dan doa yang setiap hari naik dari tempat itu.
Di sampingnya memanjang selasar beratap seng, teduh di bawah rimbun dedaunan tropis. Halaman terbentang sederhana. Jalan setapak disemen, lalu dibuat sedikit berkelok.
Di kiri-kanannya asoka, bougenville, kenanga, dan nusa indah tumbuh subur meriapkan seribu warna bunga puspawarna. Putri malu sesekali merunduk. Seperti tahu bahwa kawasan itu bukan milik laki-laki.
Tidak ada kemewahan di sana! Mersusuar pun tak ada. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tempat itu memperoleh keindahannya.
Semuanya tertib. Semuanya terpelihara. Seakan-akan setiap bunga pun tahu batas tempat ia harus tumbuh.
***
Di sanalah Wisma Rini berdiri pada masanya....
Nama itu kini tinggal sebagai semacam gema bagi mereka yang pernah mengenalnya. Bagi kami yang tinggal di Wisma Widya, bangunan di seberang itu seperti sebuah dunia lain. Dekat secara jarak, tetapi jauh secara aturan. Ada batas yang tidak tertulis. Ada pintu yang tidak sembarang dibuka. Ada ruang yang tidak sembarang kaki boleh masuki.
Kami menyebutnya, dengan imajinasi anak-anak lelaki, "padepokan para perawan".
Kala Senja di Gereja Tua - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (45)
Penjagaannya ketat. Tujuh pendekar berkerudung putih seakan menjadi pagar hidup. Bukan karena tempat itu menyimpan sesuatu yang rahasia dalam pengertian duniawi, melainkan karena di sanalah para suster dan anak-anak putri menjalani kehidupan yang tertib, tenang, dan terpisah dari hiruk-pikuk anak laki-laki.
Kesucian, rupanya, harus membutuhkan jarak. Dan jarak itulah yang justru membuat rasa ingin tahu tumbuh diam-diam.Lebih dari dua tahun kami hidup bertetangga dengan Wisma Rini, tetapi ruang itu tetap seperti halaman buku yang tidak boleh dibuka. Kesempatan saya masuk ke sana hanya tiga kali. Yang pertama, ketika saya dan Anis memperbaiki listrik dan saya hampir menjadi nama karena tersengat arus. Yang kedua, ketika saya ikut rombongan tukang batu selama dua minggu. Yang ketiga, dan mungkin yang paling indah, pada malam Natal 1978.
***
Malam itu...
Tatkala bala penghuni surga dan para malaikat Allah menyanyikan “Gloria”, kami anak-anak asrama Widya hanya sempat menangkap gema ujungnya dari Wisma Rini.
Suaranya datang dari kejauhan. Menembus dingin malam dan kabut Nyarumkop. Selebihnya hanyalah sunyi.
Aneh, ingatan justru bekerja paling rajin ketika malam sudah begitu jauh. Ia memanggil nama-nama yang pernah hidup di sana. Enggek. Darmo. David, Busianus. Siapa lagi?
Tiba-tiba 50 tahun setelah itu ada nama yang hampir tenggelam, tetapi belum benar-benar hilang: Albinus. Ya, Albinus!
Kami hanya diperbolehkan salah satu penjaga benteng bidadari berkerudung putih menjejakkan kaki hingga beranda ruang tamu. Tidak lebih! Tetapi bagi anak laki-laki yang selama bertahun-tahun hanya melihat tempat itu dari kejauhan, beranda sederhana itu sudah terasa seperti pintu menuju negeri yang selama ini hanya hidup dalam khayalan.
Dari sana, mata mempunyai sedikit kebebasan. Kami dapat mencuri pandang ke bawah. Tampak bangunan-bangunan yang berdiri teratur. Asrama putri. Ruang makan. Dinding-dinding kokoh yang seolah berkata bahwa dunia di dalamnya mempunyai hukum sendiri. Tidak ada yang spektakuler. Justru kesederhanaan itulah yang membuat semuanya tampak begitu jauh dan asing.
Di dasar lembah, Sungai Sekabu mengalir. Airnya jernih dan dingin, berkilauan ketika disentuh cahaya.
Dari tempat kami berdiri. Sungai itu seperti urat kecil yang diam-diam menghidupi lembah. Entah berapa kali kami membayangkan tempat itu sebagai pemandian tersembunyi para bidadari. Imajinasi anak sekolah memang mempunyai caranya sendiri untuk mengubah sungai biasa menjadi sebuah rahasia besar.
Di dalam bangunan berdinding putih dengan kusen-kusen kayu itu, kehidupan berlangsung dengan irama yang berbeda.
Lonceng pagi memanggil. Jubah bergemerisik menyapu lantai. Doa-doa naik dalam suara rendah. Anak-anak perempuan belajar, makan, bermain, lalu kembali ke kamar. Sesekali tawa mereka terdengar, kemudian lenyap dibawa angin dan kabut Poteng.
Bang Adri dan Janji Menyanyikan lagu "Dream of Me" - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (44)
Ketatnya aturan bukan untuk mematikan kehidupan. Justru di balik keteraturan itu kehidupan tumbuh dengan tenang. Moralitas, pendidikan, doa, dan disiplin bertemu dalam satu ritme. Hari-hari berjalan seperti air sungai. Tidak tergesa. Tidak mencari tepuk tangan.
Dan di situlah barangkali keindahan tempat itu.
Bangunan yang membawa kenangan tentang Eropa akhirnya tunduk kepada hujan Kalimantan.
Dinding putihnya disiram kelembapan. Atapnya dipukul hujan tropis. Bunganya tumbuh liar tetapi tetap terawat. Bukit-bukit di belakangnya berdiri diam, seakan tidak peduli pada pergantian tahun. Gunung Poteng menjadi latar yang lebih tua daripada segala cerita manusia yang pernah berlangsung di sana.
Kini ketika memandang kembali foto itu, saya tidak hanya melihat sebuah bangunan tua. Saya melihat pagi yang telah lewat puluhan tahun.
Saya melihat sebuah dunia yang dahulu begitu dekat, tetapi terasa tak terjangkau.
Saya melihat masa muda yang berdiri di luar pagar, menunggu kesempatan untuk sekadar mengintip ke dalam.
Waktu telah mengubah banyak hal. Bangunan dapat berubah. Jalan dapat berubah. Orang-orang pergi. Nama-nama perlahan menjadi asing. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut pergi: cara sebuah tempat tinggal dalam ingatan.
Wajah-wajah Reunian dalam Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (43)
Mungkin itulah sebabnya foto lama selalu terasa ganjil. Ia tidak mengembalikan waktu. Ia hanya membuka pintu kecil ke masa lalu, lalu membiarkan kita berdiri di ambangnya.
Dan pagi itu di Nyarumkop. Waktu seakan berhenti sebentar.
Di antara kabut Gunung Poteng, bunga-bunga yang diam, lonceng yang entah masih terdengar atau tidak, dan sebuah susteran yang dahulu begitu misterius bagi kami, masa muda tiba-tiba kembali.
Bukan sebagai sejarah. Bukan sebagai foto.
Sebagai rasa. Asa yang setelah hampir setengah abad. Ternyata belum juga hilang.
Jakarta ketika subuh jatuh, 18 September 2026
0 Comments