Wajah-wajah Reunian dalam Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (43)
| Reuni akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN): Wajah-wajah dalam rindu. Ist. |
Kemarau telah berbulan-bulan. Pancaroba membawa angin dingin dari lereng Poteng. Siang itu asap turun rendah. Merayap perlahan, menyelimuti halaman dan atap-atap bangunan.
Gunung Poteng yang dahulu begitu akrab tinggal bayangan putih susu. Segalanya samar. Seolah tempat itu sedang memanggil kembali sesuatu yang pernah hilang.
Cinta Monyet dan Pengadilan Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (42)
Selama Reuni Akbar 110 Tahun PKN, 4–6 September 2026, saya merasa tak boleh kehilangan satu detik pun. Jika kaki tidak melangkah, mata saya yang berjalan.
Dari tenda. Saya memandangi halaman, bangunan, jalan, dan sudut-sudut yang dahulu menjadi panggung masa muda.
Lima puluh tahun tiba-tiba luruh. Nyarumkop seakan masih sama. Hanya kami yang telah berubah.
Lalu satu demi satu mereka datang. Wajah-wajah lama muncul dari balik kabut. Ada yang turun dari mobil dengan langkah hati-hati.
Ada yang berjalan dengan tongkat. Ada yang masih tegap, tetapi rambutnya telah seluruhnya memutih. Ada yang berpelukan lama. Seakan lima puluh tahun bukan jarak, melainkan jeda panjang di antara dua sapaan.
Nama-nama lama terdengar dari berbagai penjuru halaman.
“Kau masih ingat aku?”
“Oooo.... tentu!”
Dua patah kata sederhana. Namun di dalamnya seperti terselip seluruh masa muda....
Ada yang berhenti di depan kelas dan memandang ke dalam. Ada yang mencari kamar asrama. Ada yang menunjuk sudut halaman sambil mengingat cerita lama. Ada yang sibuk berfoto. Foto-foto lama dibuka dari telepon genggam, diperbesar, lalu berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
“Ini kamu.”
“Bukan. Ini kamu.”
Tawa pecah. Rambut putih tidak dipersoalkan. Perut yang mulai maju tidak dihitung. Tongkat diletakkan sebentar agar pelukan bisa lebih erat. Di antara suara tawa itu, sesekali terdengar panggilan nama yang membuat seseorang berhenti sejenak. Mungkin karena nama itu sudah puluhan tahun tidak pernah disebut dengan suara yang sama.
Surat Cinta Cece Anciang yang Hilang di Antara Waktu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (42)
Ada pula yang tiba-tiba terdiam. Pandangannya tertahan pada sebuah bangunan atau sudut halaman. Tak ada yang bertanya.
Di antara ratusan orang yang datang. Senantiasa ada seseorang yang seharusnya ada, tetapi tak mungkin lagi datang.
Reuni rupanya bukan hanya pertemuan dengan mereka yang masih hidup. Ia juga perjumpaan diam-diam dengan mereka yang telah lebih dahulu pergi.
***
Saya melangkah perlahan. Setiap langkah seperti menginjak jejak kaki sendiri yang tertinggal hampir lima puluh tahun. Tanah yang dahulu diinjak sepatu sekolah kini menerima langkah seorang lelaki tua.
Saya mengenali tempat ini. Tetapi di antara bangunan dan halaman yang telah berubah, saya seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada usia saya sendiri.
Syair dan Lagu Cinta yang Kembali Berbunyi di Ruangan Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (41)
Wajah-wajah lama bermunculan. Ada Minarni dan Salikin, pasangan sesama alumni. Ada Suanna Sie dan Cecilia, yang dahulu kami panggil “Gonting” dalam kelakar anak-anak muda. Fatimah pun muncul dalam ingatan. Namanya Melayu, tetapi bagi mata anak-anak SMA masa itu, ia seorang amoi yang bukan main anciang. Senyumnya cukup membuat pandangan remaja tertahan sedikit lebih lama, meski mulut pura-pura membicarakan hal lain. Begitulah mata anak muda. Ia sering lebih jujur daripada mulutnya sendiri.
Lalu Yulia Chu. Ada wajah-wajah tertentu yang entah mengapa lebih lama tinggal di mata. Yulia salah satunya.
Bertahun-tahun kemudian ia menikah dengan Christian Hassan, kakak kelas kami di SMA. Ketika namanya kembali terdengar di Nyarumkop, masa remaja seperti datang sebentar. Tidak mengetuk. Tidak meminta izin. Tiba-tiba saja ia ada.
Ursulinda, Venny, Ana Lim dan nama-nama lain kemudian menyusul. Seperti kelereng lama yang ditemukan di dasar laci, sekali disebut masa lalu menggelinding sendiri. Ana Lim bahkan masih sesekali saya jumpai di Jakarta.
Ada sejumput kisah kasih kecil tentang masa muda yang biarlah tetap menjadi rahasia. Tidak semua kenangan perlu diceritakan. Sebagian justru lebih indah karena tetap tinggal dalam diam. Ini khusus untuk Ana Lim.
Kisah kasih Ana Lim saya simpan di saku dalam sampai sekarang. Dulu ia kurus sekali. Kalau mau sedikit usil, barangkali terlalu kurus untuk ukuran gadis remaja. Belum ada yang istimewa pada penampilannya. Namun entah mengapa, seorang kawan sekelas kami, yang kelak menjadi pastor, justru menyukainya. Mungkin mereka pernah surat-suratan. Mungkin pula ada cerita lain yang hanya mereka berdua tahu.
Ah, tidak baik membuka rahasia masa muda seorang pastor! Biarlah kisah itu tetap menjadi bagian dari arsip hati yang tidak perlu dibuka.
Yang menarik justru kisah Ana sesudahnya. Bertahun-tahun kemudian, di Jakarta, ketika kami berjumpa lagi di Mugi Group, saya memandangnya dengan rasa kagum. Waktu ternyata mempunyai rahasianya sendiri. Ana seperti sedang membuka sebuah rahasia tentang perempuan: ada kecantikan yang tidak datang ketika seseorang masih remaja. Ia baru tumbuh setelah masa muda lewat, ketika wajah mulai menemukan bentuknya dan seseorang mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Barangkali kecantikan memang tidak selalu lahir bersama usia muda. Ada yang datang terlambat. Dan justru karena terlambat, ia terasa lebih matang, lebih tenang, dan lebih menggetarkan.
Dengan Ana pula, bertahun-tahun kemudian. Saya sering berjumpa. Ia bekerja di perusahaan Mugi Grup kantornya di bilangan Gatot Suroto, Jakarta Pusat. Ia pernah ikut menyiapkan penerbitan buku 75 Tahun PKN di Paroki Tebet.
Di sana berjumpa lagi nama-nama lama: Pastor Herman Ahie, Dr. Frans Tschai, Mariatmo dari Toko Buku Obor, Bong Fat Fui, Om Aloysius Aloi, dan banyak lagi. Satu nama membawa nama lain. Satu wajah membuka kembali sebuah zaman.
Begitulah Nyarumkop pada hari-hari reuni itu...
Kami datang dari kota-kota yang berbeda, dari hidup yang berbeda. Kami membawa pekerjaan, keluarga, keberhasilan, kegagalan, kehilangan, dan usia yang tak dapat disembunyikan. Tetapi tanah ini seperti mempunyai cara sendiri untuk membuat semua itu sejenak menjadi ringan. Di sini kami kembali menjadi murid. Kembali menjadi anak-anak yang belum tahu bahwa hidup kelak akan membawa kami sejauh ini.
Saya berdiri lama. Di hadapan saya, wajah-wajah yang menua itu justru membuat masa lalu terasa hidup. Rambut telah putih. Langkah telah lambat. Namun ketika sebuah nama dipanggil, wajah-wajah itu seperti kembali muda.
Air Poteng di Bak Mandi Umum dan Wajah yang Tertinggal - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (34)
Saya terdiam.
Barangkali pada usia tertentu kita tidak lagi menangisi apa yang telah terjadi. Kita menangisi apa yang tidak mungkin terjadi lagi.
Saya berbalik. Suara tawa dan panggilan nama masih terdengar di belakang. Saya tidak menoleh.
Tangga Surga Wisma Widya dan Masa Muda yang Tak Kembali - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (33)
Barangkali begitulah getirnya pulang: kita sampai, tetapi masa yang kita cari sudah tak bisa kita masuki lagi.
Saya pulang. Anak lelaki itu tetap tinggal di sana.
Masri Sareb Putra
Jakarta ketika siang datang 17 September 2026
0 Comments