Majalah Dinding dan Sebatang Pena yang Belajar Menarikan Hidup -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (40)
| Masri Sareb Putra: BORN TO WRITE! Ist. |
Saya keluar dari ruang makan. Matahari siang menggantung di atas Nyarumkop, sementara angin kemarau menyusup di antara bangunan dan dedaunan.
Ada sesuatu yang terasa ganjil pada langkah saya. Ruang makan itu telah lama menyimpan sebuah luka sejarah.
Dahulu, luka itu seperti pintu yang tak mungkin dibuka tanpa mengeluarkan kembali kepedihan. Tetapi waktu. Ia yang tidak pernah banyak bicara. Rupanya telah mengajarkan hati cara berdamai.
Luka memang tidak lenyap. Ia hanya tidak lagi menuntut darah setiap kali dikenangkan.
Saya berjalan perlahan. Sebelum sampai pada bangunan berbentuk L terbalik, pandangan saya tertahan pada sebuah pintu yang tertutup rapat.
Di balik pintu itu dahulu kami, anak-anak asrama Wisma Widya kelas bawah, menyimpan peti, pakaian, dan segala perlengkapan hidup. Masing-masing mendapat satu kotak kecil. Tidak lebih. Batasnya tegas. Barang yang melampaui ruang akan mendatangkan hukuman. Pindah tempat atau kehilangan tempat. Begitulah kami tumbuh. Dalam kehidupan bersama, kami belajar bahwa bahkan sepotong ruang pun mempunyai aturan, dan setiap anak harus mengenal batas sebelum mengerti luasnya dunia.
Saya hendak melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba langkah saya seperti disentuh oleh sesuatu yang tidak tampak. Bukan suara. Bukan panggilan. Barangkali ingatan, yang kadang-kadang lebih tahu jalan daripada kaki kita sendiri.
Saya berbelok....
Di situlah dahulu ruang rekreasi kami. Ruang terbuka di samping tangga menuju gedung SPG. Cukup luas untuk menampung dua kelas ketika guru berhalangan hadir. Kami menyebutnya ruang gabung. Di sana kami menunggu bel, beristirahat, mengerjakan tugas bersama, atau duduk tanpa tujuan, memandangi langit-langit yang tidak pernah berubah, sementara umur kami perlahan bergerak menuju sesuatu yang belum kami kenal.
Nyarden: Jangan Bilang "Anak Asrama" jika tak Pernah Melakukannya -- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (38)
Dan di dinding dekat tangga menuju gedung SPG, pernah tergantung sebuah majalah dinding.
Langkah saya tiba-tiba terhenti. Tangan ajaib entah dari mana datangnya menghadang jalanku.
Tidak ada lagi lembaran kertas yang dahulu saya tempelkan. Tidak ada puisi cinta, cerita singkat, atau karikatur yang saya gambar dengan pensil 2-B.
Tidak ada lagi kerumunan anak-anak setiap jam istirahat. Ada yang sungguh-sungguh membaca. Ada yang pura-pura membaca sambil mencuri pandang. Ada pula yang menjadikan sudut itu tempat cinta pertama menyamar sebagai percakapan biasa. Pena dipinjam, meskipun tidak perlu. Bisikan dipelihara, meskipun bel sebentar lagi berbunyi.
Baca Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)
Semua itu telah pergi. Tetapi mengapa, di hadapan dinding yang nyaris tak lagi menyimpan apa-apa, dada saya justru terasa penuh?
Saya memandang tempat itu, dan waktu tiba-tiba seperti kehilangan kuasanya. Puluhan tahun runtuh dalam satu kedipan. Saya kembali menjadi anak laki-laki yang berdiri di depan majalah dinding, menunggu apakah seseorang membaca tulisannya. Seorang anak yang belum tahu apa arti masa depan. Belum mengenal dunia penerbitan. Belum membayangkan buku-buku yang kelak akan lahir dari tangannya. Ia hanya tahu bahwa menulis membuatnya bahagia.
Dan barangkali, tanpa disadarinya, kebahagiaan kecil itulah yang sedang menuntun hidupnya.
Di tempat ini saya belajar bahwa menulis bukan semata-mata menyusun kata. Menulis adalah keberanian untuk membuka jendela batin, lalu membiarkan dunia melihat cahaya yang kita simpan. Kadang-kadang cahaya itu redup. Kadang-kadang bergetar. Tetapi selama seseorang berani menyalakannya, ia tidak sepenuhnya hidup dalam kegelapan.
Majalah dinding itu mungkin hanya sebuah papan sederhana. Kertas-kertasnya mungkin tidak pernah dianggap penting oleh siapa pun. Namun, bagi saya, ia adalah guru yang tidak pernah mengajar dengan suara. Ia tidak memberi nilai. Tidak memanggil nama. Tidak menjanjikan masa depan. Ia hanya menyediakan ruang. Dan seorang anak, dengan pensil 2B di tangan, belajar menaruh sebagian dirinya di sana.
Ada jasa yang tidak tercatat dalam sejarah sekolah. Ada tangan yang tidak pernah menerima ucapan terima kasih. Ada tempat yang tidak pernah tahu bahwa ia telah mengubah arah hidup seseorang.
***
Puluhan tahun kemudian....
Ketika Alexander Mering menuliskan biografi saya BORN TO WRITE! Saya kembali mencari pangkal dari segala kegemaran itu. Dari mana datangnya passion?
Dari mana muncul magnit, atau aanleg, yang membuat seseorang merasa bahwa menulis bukan pekerjaan yang dipaksakan, melainkan panggilan yang perlahan merasuki seluruh dirinya?
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Jawabannya membawa saya kembali ke sini.
Ke majalah dinding tua. Ke ruang rekreasi.
Ke sebuah masa ketika saya belum tahu bahwa kesenangan menulis dapat tumbuh menjadi jalan hidup. Ketika keberanian masih berupa selembar tulisan yang ditempel di dinding. Ketika seorang anak belum mengerti bahwa sesuatu yang tampak kecil hari ini mungkin kelak menjadi alasan seseorang kembali setelah puluhan tahun.
Karena itu, saya harus datang. Saya harus datang untuk mengucapkan terima kasih.
Bukan terima kasih yang diucapkan sambil lalu, seperti orang yang sekadar menyebut nama dalam daftar kenangan. Saya ingin mengucapkannya dengan seluruh kedalaman yang sanggup diberikan oleh hati yang telah berjalan begitu jauh.
Kepada dinding yang dahulu menerima tulisan saya. Kepada ruang yang memberi tempat bagi keberanian pertama. Kepada sekolah yang, dengan segala keterbatasannya, telah mempertemukan saya dengan bagian diri yang kelak tidak pernah saya tinggalkan.
Seandainya majalah dinding itu masih ada, mungkin saya akan berdiri di hadapannya lebih lama. Mungkin saya akan menyentuh permukaannya. Mungkin saya akan berkata pelan, agar tidak terdengar terlalu sentimental:
"Terima kasih. Dahulu, engkau menampung tulisan seorang anak. Engkau tidak tahu bahwa anak itu akan menghabiskan hidupnya bersama kata-kata."
Namun, dinding tidak menjawab. Ia hanya berdiri dalam diam, sebagaimana benda-benda tua menyimpan rahasia manusia. Dan saya pun mengerti: tidak semua rasa terima kasih harus memperoleh jawaban. Ada yang cukup disampaikan kepada udara, kepada cahaya, kepada ruang yang pernah menjadi saksi.
Siang terus bergerak. Bayangan bangunan bergeser sedikit demi sedikit. Saya berdiri di sana, membawa usia yang tidak lagi muda, membawa buku-buku yang telah saya tulis, membawa ribuan halaman yang dahulu tidak pernah saya bayangkan.
Di antara anak laki-laki yang menempelkan puisi dan lelaki yang kini mengenangnya, terbentang sebuah kehidupan yang panjang. Ada luka yang pernah mengeras. Ada kegembiraan yang masih menyala. Ada orang-orang yang telah pergi. Ada nama-nama yang hanya dapat saya panggil melalui ingatan.
Di tengah semuanya, majalah dinding itu tetap menjadi salah satu awal.
Saya tidak tahu apakah tempat ini mengingat saya. Barangkali tidak. Bangunan tidak mempunyai ingatan seperti manusia. Dinding tidak mengenal nama. Tangga tidak menyimpan wajah. Tetapi manusia memberi makna kepada tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Dan ketika kembali, kita sering menemukan bahwa yang kita rindukan bukan semata-mata bangunan, melainkan diri kita sendiri yang dahulu pernah tinggal di sana.
Saya melangkah pergi. Perlahan. Dengan dada yang penuh oleh sesuatu yang tidak mudah dijelaskan. Mungkin haru. Mungkin syukur. Mungkin juga kesadaran bahwa hidup sering kali menanam benih di tempat yang tidak kita duga, lalu membiarkannya tumbuh diam-diam, sampai suatu hari kita kembali dan melihat pohon yang telah menjulang di dalam diri sendiri.
Di sinilah pena saya pertama kali belajar berjalan. Di sinilah seorang anak menemukan kegembiraan yang kelak menjadi jalan hidupnya.
***
Dan hari ini....
Setelah puluhan tahun. Saya datang bukan untuk mengubah masa lalu. Saya datang untuk menundukkan kepala di hadapannya.
Sebab sebelum saya menjadi penulis, pernah ada sebuah dinding tua yang bersedia menerima tulisan saya. Dan mungkin, tanpa dinding itu, sebagian dari diri saya tidak akan pernah menemukan jalan pulang.
Majalah dinding ini mengajarkan kepada saya ketika orang-orang belum paham betul bahwa hobi tidak harus berseberangan dengan pekerjaan. Bahwa pekerjaan yang memberi kepuasan lahir batin adalah yang dicintai, muncul dari dalam, passion!
Saya tersenyum. Matahari masih di sana. Angin masih bergerak. Nyarumkop tetap menyimpan langitnya.
Ya. Semua indah pada waktunya.
Jakarta, ketika sore berganti malam 16 September 2026
0 Comments