Bertemu Bu Agus, Guru dan Kepsek semasa SMP Jangkang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (28)

Bu Agus (kiri) guruku semasa SMP dan seniorku di PKN.
Bu Agus (kiri) guruku semasa SMP tahun awal 1970-an dan seniorku di Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).

Reuni Akbar PKN hari itu 4 September 2026 bagai sungai  mengalir yang menemukan kembali hulunya. Wajah-wajah lama bermunculan dari dasar ingatan. Rambut telah memutih. Wajah menyimpan gurat perjalanan yang panjang.
Namun kenangan sepanjang jalan itu punya semacam hukum sendiri. Ia tidak mengenal usia. Seraut wajah. Seulas senyum. Bahkan sepasang bola mata yang pernah kita kenal dapat membuka pintu yang puluhan tahun tertutup.

Ketika menoleh dari meja VIP ke belakang. Saya melihat Bu Agus. Lalu pintu itu tiba-tiba terbuka. Dalam sekejap, saya kembali menjadi anak SMP di Jangkang.

Di belakang sosoknya. Satu demi satu kenangan datang tanpa dipanggil. Ada papan tulis dan ruang kelas. Ada retas jalan tanah menuju sawah keluarga Bu Agus di Landau. Ada Riam Suwok dengan riaknya yang bening.

Ada lereng Bukit Bengkawan yang pernah kami daki dengan kaki penuh pacet. Dan ada seorang anak yang waktu itu belum tahu bahwa hari-hari yang sedang dijalaninya kelak akan menjadi bagian paling berharga dari hidupnya.

Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)

Masa kanak-kanak memang sering begitu. Saat mengalaminya, kita mengira semuanya biasa. Setelah puluhan tahun berlalu, justru hal-hal yang sederhana itulah yang paling ingin kita peluk kembali.

Bu Agus adalah guru Bahasa Indonesia sekaligus kepala SMP Gunung Bengkawan ketika saya kelas I dan II SMP. Ia tidak galak, tetapi tegas. Kami segan kepadanya.

Di luar kelas. Bu Agus ramah dan dekat dengan murid. Ia satu angkatan dengan Bu Toni (Antonia) yang kemudian menjadi Suster Andriana. Pada masa itu, sekolah belum dipagari tembok antara pelajaran dan kehidupan.

Baca Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)

Ketika keluarga Bu Agus mengerjakan sawah di Landau, kami ikut membantu menebas, membersihkan, dan menyiapkan lahan.

Kami bekerja dengan tangan dan kaki yang masih muda. Kami belum mengerti bahwa ada pelajaran yang tidak tertulis di buku. Kini saya tahu, tanah pun mempunyai bahasa. Keringat adalah salah satu hurufnya. Dari tanah itulah kami belajar tentang kerja, kebersamaan, dan martabat hidup.

***

Ayah Bu Agus, Ignasius Akim, dahulu adalah guru ayah saya (Sareb). Kelak keduanya menjadi sahabat. Ketika ayah saya harus PAW sebagai anggota DPRD Sanggau karena yayasan tidak memperbolehkannya, Pak Akim menggantikannya.

C’est la vie. Begitulah hidup, kata orang Perancis. Ada yang datang untuk tinggal, ada yang datang hanya untuk meninggalkan kenangan. Pada akhirnya, kita belajar menerima bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tetap bersama kita.

Hidup sering mempertemukan manusia melalui jalan yang baru kita pahami setelah semuanya jauh berlalu. Orang-orang yang dahulu kita anggap hanya bagian kecil dari sebuah masa ternyata diam-diam menjadi benang yang menyambung satu bagian hidup dengan bagian lainnya. Kita baru melihat tenunannya setelah rambut memutih.

Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)

Di Riam Suwok ada satu kenangan yang selalu membuat saya tersenyum. Waktu itu Bu Agus baru bertunangan dengan Pak Asau. Kami anak-anak SMP mengadakan lomba memasak.

Saya memasak dengan penuh keyakinan. Sarden, lobak, dan Indomie. Menurut lidah saya sendiri, rasanya paling enak. Kenyataannya, masakan itu tidak masuk nominasi. Sampai sekarang saya masih bisa menertawakan diri sendiri. Rupanya sejak muda saya lebih berbakat menulis tentang makanan daripada memasaknya.

Kami juga pernah mendaki Bukit Bengkawan, sekitar 900 meter. Pacet menempel di kaki. Kami sampai di puncak menjelang siang, membuat kemah sederhana, kemudian turun melalui Engkolae.

Dulu kami merasa sedang menaklukkan bukit. Sekarang saya mengerti, bukit tidak pernah ditaklukkan oleh siapa pun. Ia tetap berdiri di tempatnya. Kitalah yang berubah. Kita meninggalkan masa muda. Kita kehilangan sebagian teman. Beberapa guru lebih dahulu berpulang. Sebagian nama hanya tinggal dalam percakapan dan foto lama. Bukit tetap di sana. Yang terus bergerak adalah kita.

Mungkin karena itulah saya merasa sungkan ketika melihat Bu Agus di meja VIP. Saya bergeser dari tempat duduk. Gerakan kecil itu mungkin tidak berarti bagi siapa pun. Tetapi bagi saya, itulah saat sesuatu yang sangat lama tiba-tiba bergerak di dalam dada.

Di hadapan guru, semua yang saya bawa dari perjalanan hidup terasa mengecil. Pekerjaan, buku, jabatan, perjalanan, segala sesuatu yang selama ini membuat kita merasa telah menjadi seseorang, mendadak tidak berarti. Di depan Bu Agus, saya tidak datang sebagai penulis atau penerbit. Saya datang sebagai murid. Anak SMP yang dahulu duduk mendengarkan gurunya berbicara.

Saya kemudian menghampirinya. Di tangan saya ada sebuah jeruk manis dari Tebas dan sebotol air mineral.

“Ini, Bu.”

Hanya dua kata. Tidak ada pidato. Tidak ada kalimat panjang tentang terima kasih. Bu Agus menerima jeruk itu dan tersenyum. Namun entah mengapa, senyum itu terasa seperti membuka halaman yang sangat tua dalam diri saya.

Saya memandang jeruk di tangannya. Buah itu kecil. Kulitnya sederhana. Tidak mahal. Tidak istimewa. Tetapi pada saat itu ia terasa seperti matahari kecil yang dapat saya titipkan kepada seorang guru yang telah melewati begitu panjang perjalanan hidup bersama kami, meski dari kejauhan.

Di dalam buah itu seperti tersimpan Landau. Tanah yang pernah kami injak. Peluh masa SMP. Tawa di Riam Suwok. Pacet di Bukit Bengkawan. Suara guru di ruang kelas. Dan seorang anak Jangkang yang belum tahu bahwa suatu hari nanti ia akan berdiri kembali di hadapan gurunya dengan rambut yang sudah berubah warna.

Kami kemudian berfoto bersama. Kamera hanya menangkap satu detik. Tetapi di belakang satu detik itu terbentang puluhan tahun. Ada masa ketika saya masih memanggilnya Bu Guru.

Ada masa ketika saya pergi meninggalkan sekolah. Ada jalan panjang yang membawa saya ke berbagai tempat. Ada buku-buku yang kemudian saya tulis. Ada orang-orang yang datang dan pergi. Ada pula mereka yang tidak sempat hadir lagi karena sudah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Semua itu seperti berkumpul diam-diam di dalam satu bingkai.

Foto itu mungkin suatu hari akan memudar. Jeruk akan habis. Air akan diminum. Benda-benda memang mempunyai batas. Tetapi ada pemberian yang tidak selesai ketika benda itu lenyap. Ia tinggal sebagai rasa. Ia tumbuh menjadi syukur. Ia menetap sebagai sesuatu yang tidak dapat disentuh, tetapi dapat membuat dada tiba-tiba sesak ketika kita mengenangnya.

Seorang guru menanam ketika murid belum mengerti bahwa dirinya sedang ditanam. Ia mengajarkan kata-kata, tetapi yang tertinggal sering kali jauh lebih besar daripada pelajaran di papan tulis. Cara berbicara. Cara bekerja. Cara menghormati orang lain. Cara memandang kehidupan. Bertahun-tahun kemudian, murid berjalan jauh dan mungkin telah lupa banyak pelajaran. Tetapi ada sesuatu yang tetap hidup di dalam dirinya. Sesuatu yang dahulu ditanam tanpa banyak suara.

***

Hari itu saya datang membawa sebuah jeruk. Tetapi sesungguhnya saya sedang membawa kembali sesuatu yang jauh lebih tua: rasa terima kasih seorang murid kepada gurunya.

Saya tidak tahu apakah Bu Agus menyadari betapa dalam arti pertemuan itu bagi saya. Mungkin baginya, saya hanya seorang murid lama yang datang menyapa. Namun bagi saya, perjumpaan itu seperti menemukan sepotong diri yang pernah tertinggal di sebuah ruang kelas puluhan tahun silam.

Saya melihat senyumnya. Untuk sesaat saya teringat anak SMP yang dahulu. Anak yang belum mengenal dunia seluas sekarang. Anak yang belum tahu bahwa hidup akan membawanya jauh dari Jangkang. Anak yang belum tahu berapa banyak perpisahan yang akan ditemuinya. Anak yang belum tahu bahwa suatu hari, setelah berjalan begitu jauh, ia akan kembali dan hanya ingin mengatakan kepada gurunya: saya masih ingat.

Barangkali itulah yang paling menyentuh dari sebuah reuni. Kita datang untuk bertemu orang lain. Tetapi tanpa disadari, kita juga bertemu dengan diri sendiri yang pernah kita tinggalkan. Kita menemukan kembali suara-suara yang dahulu akrab. Kita melihat wajah-wajah yang telah berubah. Dan di antara semuanya, ada beberapa orang yang membuat kita sadar bahwa sebagian hidup kita ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

Bu Agus adalah salah satunya.

Saya telah berjalan jauh. Tetapi ketika berdiri di hadapannya, jarak itu lenyap. Saya kembali menjadi murid. Tidak ada yang perlu dibuktikan. Tidak ada yang perlu diceritakan tentang perjalanan hidup. Cukup sebuah jeruk. Sebotol air. Seulas senyum. Dan selembar foto yang kelak mungkin akan menjadi tua bersama kami.

Mungkin kelak, ketika Bu Agus dan saya sama-sama semakin renta, foto itu akan kembali dibuka. Jeruk di dalam foto sudah lama tidak ada. Airnya sudah lama diminum. Rambut kami mungkin semakin putih. Tetapi saya berharap satu hal tetap tinggal di sana: seorang murid yang pernah datang membawa sesuatu yang sederhana kepada gurunya, karena ia tidak menemukan cara yang lebih baik untuk mengatakan betapa berartinya seorang guru dalam hidupnya.

Sebab ada utang yang tidak pernah lunas dibayar dengan kata-kata. Utang seorang murid kepada gurunya adalah salah satunya.

Dan hari itu, di tengah riuh Reuni Akbar PKN, saya akhirnya mengerti: kita boleh pergi sejauh apa pun, menulis sebanyak apa pun, mencapai apa pun yang dapat dicapai manusia. Tetapi di hadapan seseorang yang pernah mengajari kita pada masa paling awal kehidupan, kita tetap membawa seorang anak kecil di dalam diri.

Anak itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu puluhan tahun untuk kembali.

Dan mungkin, itulah sebabnya mata kita kadang tiba-tiba basah ketika mengenang seorang guru. Bukan karena kita sedih melihat usia telah berlalu. Melainkan karena untuk sesaat kita diberi kesempatan merasakan kembali sesuatu yang dahulu kita kira akan berlangsung selamanya: masa ketika guru masih ada di depan kelas, kita masih duduk sebagai murid.

Dan hidup masih membuka bukunya dengan halaman-halaman yang belum kita ketahui akhirnya.

Masri Sareb Putra 

Jakarta ketika malam kian terbenam dalam gulita, 14 September 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.