Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)
| Tan Un Mao, alias Pastor Petrus Rostandy: Sosok berbadan tinggi yang patut dibukakan pintu hati bagi namanya. |
Malam di Nyarumkop selalu mempunyai caranya sendiri untuk menjadi sunyi. Setelah lampu asrama dipadamkan, suara anak-anak perlahan surut. Bisik-bisik di balik selimut menghilang satu demi satu.
Dari luar jendela terdengar angin gunung menyentuh daun-daun....
Di dalam kegelapan itulah Pastor Petrus biasa berjalan. Ia membawa sebuah senter kecil. Cahayanya bergerak dari ranjang ke ranjang, seperti sepotong bulan yang turun untuk memastikan anak-anaknya telah tidur.
Baca Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (23)
Pastor Petrus tidak perlu banyak bicara. Kehadirannya sudah cukup. Jika ada yang masih bercakap, ia hanya berdiri di dekatnya. Jika ada yang datang terlambat, ia menghampiri lalu mengantarnya ke tempat tidur.
Begitulah ia menjaga malam. Diam-diam. Sederhana. Tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang kelak akan dikenang puluhan tahun kemudian. Barangkali kasih memang sering bekerja seperti itu. Ia hadir dalam hal-hal kecil, lalu baru terasa besarnya ketika orang yang melakukannya telah tiada.
Suhardi Suhek mengenal kebiasaan itu. Ia juga tahu Chun Kho, teman sekelasnya, sering datang terlambat. Maka pada suatu malam, ketika jam sudah mendekati setengah sepuluh, Suhek masih terjaga. Dari ujung lorong terdengar langkah kaki. Pelan. Teratur. Sesosok bayangan mendekati tempat tidurnya. Suhek mengira Chun Kho datang lagi terlambat. Ketika bayangan itu membungkuk sedikit, Suhek bangkit dan melayangkan sebuah pukulan ringan ke perutnya.
Pada saat yang sama, cahaya senter menyambar wajah Suhek.
Ia membeku.
Yang berdiri di hadapannya bukan Chun Kho. Pastor Petrus.
“Maaf, Pastor!”
***
Pastor Petrus tetap tenang. Tidak ada kemarahan. Tidak ada teguran panjang. Hanya sebuah peristiwa kecil yang kemudian menjadi bahan tertawaan kami. Apalagi pagi harinya diketahui bahwa Chun Kho malam itu bahkan tidak tidur di tempat tersebut. Jadi pukulan Suhek bukan hanya salah alamat. Ia bahkan salah orang, salah waktu, dan salah dugaan.
Dulu kami tertawa setiap kali kisah itu diceritakan. Kini tawa itu terasa lain. Ada sesuatu yang menyelinap di belakangnya. Sesuatu yang tidak kami sadari ketika masih muda. Dalam kisah lucu itu ternyata tersimpan sebuah dunia yang telah jauh meninggalkan kami. Dunia ketika Pastor Petrus masih berjalan di lorong asrama. Dunia ketika Suhek masih bisa membuka mata, salah mengenali bayangan, lalu dengan spontan menghadiahkan sebuah pukulan.
Waktu rupanya tidak hanya mengambil usia. Ia mengambil orang-orang yang membuat masa lalu terasa hidup.
Pastor Petrus telah berpulang. Suhek pun telah lebih dahulu pergi. Dan tiba-tiba, cerita tentang pukulan itu tidak lagi terasa sebagai cerita tentang salah sangka. Ia menjadi semacam pintu kecil menuju sebuah masa yang tidak mungkin kami masuki lagi.
Betapa ingin rasanya mendengar langkah Pastor Petrus sekali lagi.
Bukan langkah besar. Bukan langkah seorang tokoh yang sedang datang untuk dikenang. Hanya langkah sederhana seorang pastor yang berkeliling memastikan anak-anaknya sudah tidur. Betapa ingin melihat cahaya senter itu kembali muncul di ujung lorong. Menyapu dinding. Menyentuh ranjang. Lalu berhenti sebentar di wajah seorang anak yang masih terjaga.
Dan di salah satu ranjang, barangkali Suhek masih ada di sana.
Ia membuka mata. Melihat bayangan yang mendekat. Kali ini ia tidak akan memukul. Ia akan tersenyum. Sebab ia sudah mengenal langkah itu. Ia tahu siapa yang datang.
Ah, Nyarumkop! Kau ini. Sebuah tempat yang terlalu istimewa bagi kami semua. Bukan hanya menempati sudut. Kau bahkan merasuk seluruh jiwa raga kami, para alumni.
Betapa sebuah tempat dapat menyimpan suara-suara yang tidak lagi terdengar. Langkah yang telah berhenti. Tawa yang telah lama pergi. Nama-nama yang kini hanya bisa kita panggil dalam hati.
Pastor Petrus dan Suhek telah meninggalkan lorong itu, tetapi kenangan tentang mereka masih berjalan di sana. Pelan. Seperti cahaya senter yang tak kunjung benar-benar padam.
***
Mungkin itulah sebabnya kita sesekali ingin kembali ke Nyarumkop. Bukan semata-mata untuk melihat bangunan lama, halaman sekolah, atau jalan yang pernah kita lalui. Kita pulang karena ada bagian dari diri kita yang masih tertinggal di sana. Ada wajah-wajah yang ingin kita temui. Ada suara yang ingin kita dengar. Ada seseorang yang ingin kita panggil, meski kita tahu tidak akan ada jawaban.
Pastor Petrus, kalau malam mempunyai jalan pulang, mungkin kami akan menunggumu di ujung lorong itu. Bawalah lagi sentermu. Berjalanlah seperti dahulu. Pelan saja. Tidak perlu berkata apa-apa.
Dan Suhek, engkau pun datanglah. Berdirilah di sana dengan senyum nakalmu. Kali ini jangan salah pukul lagi.
Biarkan kami melihat kalian sekali saja.
Sebab ternyata, setelah puluhan tahun, yang paling kami rindukan dari Nyarumkop bukanlah masa muda itu sendiri. Yang kami rindukan adalah orang-orang yang membuat masa muda itu begitu berarti.
Pastor Petrus, kami masih mengingat langkahmu. Dan di antara begitu banyak hal yang telah hilang bersama waktu, kamulah salah satu yang paling ingin kami temui kembali.
0 Comments