Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (23)
| Tan Un Mao, alias Petrus Rostandy: pengawas asrama Widya yang cerdik. Ist. |
Malam-malam di Nyarumkop mempunyai kesunyian yang tidak pernah benar-benar sunyi. Di lembah kaki Gunung Poteng. Tatkala lampu-lampu asrama mulai dipadamkan dan anak-anak menyerahkan diri kepada malam, alam justru membuka musiknya. Jangkrik menggesekkan sayap dari rerumputan. Kodok bersahutan dari parit, kebun muda, dan semak yang lembap.Sesekali burung malam memecahkan gelap dengan suara pendek. Seperti panggilan dari dunia yang tak terlihat.
Daun-daun bergesekan disentuh angin gunung. Kabut turun perlahan dari lereng, menyentuh atap dan halaman, lalu larut kembali ke dalam gelap. Musik itu tidak pernah ditulis siapa pun, tetapi selalu dimainkan dengan ketepatan yang sempurna.
Kitalah yang Menjadi Tua di Hadapan Foto Para Guru - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (22)
Di atas lembah, Gunung Poteng berdiri sebagai bayangan raksasa. Pepohonan menghitam. Jalan-jalan kehilangan warna. Nyarumkop seperti dunia kecil yang terapung di tengah lautan malam.
Anak-anak sudah berada di ranjang masing-masing. Sebagian telah lelap. Sebagian masih menyimpan bisikan, tawa yang ditahan, atau rahasia kecil yang baru berani dikeluarkan setelah lampu mati. Masa kanak-kanak memang mempunyai keberanian tersendiri dalam gelap.
Tetapi justru ketika malam turun, Petrus mulai bekerja. Sosok tinggi bagai bayangan itu muncul di kegelapan malam. Tokoh yang hanya bisa muncul dalam cerita silat dalam Kho Ping Hoo...
***
Nama aslinya Tan Un Mao. Tubuhnya jangkung, tetapi tidak besar. Jika diukur dengan penggaris, barangkali lebih dari seratus delapan puluh sentimeter. Ia seperti sebatang pohon yang tumbuh lurus di antara pepohonan lain: tinggi, ramping, dan menyimpan ketenangan yang tak selalu mudah diterjemahkan.
Rambutnya lurus. Disisir condong ke kiri. Tiupan angin tak akan sanggup membuatnya berubah arah. Warna hitam dominan waktu itu. Rambut masih tebal. Rapi seperti garis yang ditarik dengan penggaris. Di atas bibir ia biarkan kumis tipis menghiasi wajahnya. Bukan kumis yang hendak menguasai wajah, melainkan garis kecil yang justru memberi aksen pada ketajaman dirinya. Dari sana, kelak kata-katanya seperti anak panah: pendek, tepat, dan jarang meleset dari sasaran.
Tetapi malam senantiasa mengubah langkahnya. Ketika mengawasi anak-anak asrama Widya. Ia menaiki tangga menuju loteng dengan langkah perlahan. Sedemikian perlahan hingga nyaris tak terdengar. Ia seperti panther yang tahu bagaimana berjalan tanpa membangunkan hutan.
Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)
Kami mengenalnya sebagai Pastor Petrus Rostandy OFM Cap.
Ia mengawasi hampir segala kegiatan. Bukan hanya studi malam, tetapi juga ruang makan. Saya masih ingat taktiknya. Sebuah buku selalu berada di tangannya. Dari jauh ia tampak membaca. Tetapi kami tahu, buku itu hanya separuh dari pekerjaannya. Matanya tetap mengawasi. Satu gerakan. Satu bisikan. Satu tawa yang terlalu panjang.
Pada malam hari, ketika jam tidur tiba. Ia naik ke loteng. Jika terdengar suara anak-anak yang belum tidur, sorot senternya tiba-tiba membelah kegelapan.
Wajah yang tadi berbisik segera menghadap dinding. Kepala yang masih terangkat jatuh ke bantal. Anak yang merasa paling cerdik mendadak menjadi anak paling tertib di Nyarumkop. Semua tak ada suara. Pura-pura tidur. Semua tak ada yang berani membuka mata.
Petrus tidak perlu banyak bicara. Cahaya senternya sudah merupakan kalimat.
Paloma Blanca-nya Gunawan dan Malam yang Membuka Pintu Ingatan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (20)
Pernah suatu malam kami mencoba membalas kecerdikannya. Peristiwa itu membuka pintu ingatan kembali. Dalam gulita setelah listrik dipadamkan. Sebuah sapu sengaja dilintangkan di tangga.
Ketika Petrus naik tangga. Sapu itu jatuh. Kami menahan tawa dalam gelap. Untuk sesaat kami merasa menang. Tetapi kemenangan anak-anak memang pendek umurnya. Petrus tetap menjalankan tugasnya. Di luar, jangkrik terus bernyanyi. Katak bersahutan dari lembah. Angin Gunung Poteng menyisir pucuk-pucuk pohon.
Dulu kami mengira ia hanya sedang mengawasi. Kini setelah puluhan tahun. Saya mengerti: ia sedang menjaga.
Kasih memang tidak selalu datang dengan wajah lembut. Kadang ia hadir sebagai teguran. Sebagai batas. Sebagai langkah kaki di tangga pada tengah malam. Sebagai cahaya senter yang membuat kita buru-buru memejamkan mata. Ketika muda, kita sering menganggap penjagaan sebagai gangguan terhadap kebebasan. Setelah tua, kita baru tahu bahwa banyak hal yang dahulu terasa mengganggu justru telah menyelamatkan kita.
WidBros, Grup Band Legendaris PKN Era 1970-an - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (17)
Saya kembali merasakan ketegasan itu. Ketika kami, anak-anak asal Sanggau, hendak tampil di Paroki Sanggau pada liburan Natal 1978. Sebelum berangkat, diadakan seleksi. Belasan acara tampil di aula. Petrus yang menilai. Ia melihat, mendengar, menentukan. Tetapi ia tidak berhenti pada seleksi. Ia mendampingi kami sampai tuntas di Sanggau. Ia hadir dalam pentas anak-anak Nyarumkop, juga dalam pertandingan voli persahabatan.
Setelah semuanya selesai, kami pulang ke kampung masing-masing. Saya tidak pernah bertanya bagaimana Petrus kembali ke Nyarumkop.
Begitulah masa muda. Kita sering hanya melihat orang ketika mereka berada di depan mata. Kita tidak memikirkan ke mana mereka pergi setelah panggung dibongkar, setelah tepuk tangan berhenti, setelah sebuah perjalanan selesai. Kita mengira perjumpaan telah berakhir.
Padahal waktu sering menyimpan bab yang belum kita baca.
Belasan tahun kemudian, saya bertemu kembali dengan Tan Un Mao. Kali ini ia adalah Pastor Petrus Rostandy, pastor paroki Katedral Pontianak. Ia masih orang yang sama, tetapi saya melihatnya dengan mata yang telah ditempa waktu. Dahulu saya mengenangnya sebagai pamong, pengawas, atasan yang tegas. Kini saya melihat sisi yang dahulu tidak terbaca. Wajahnya memang tegas, kadang tampak galak. Tetapi hatinya lembut.
Suatu ketika saya menemaninya Misa di Stasi Jeruju. Seusai Misa, ia memperkenalkan saya kepada anak-anak asuhnya, para amoi, anak-anak muda yang aktif dalam kehidupan Paroki Katedral. Saya mendengarkan perkenalan itu satu demi satu. Saya tidak tahu bahwa salah seorang dari mereka kelak akan menjadi belahan jiwa saya.
Begitulah kehidupan menulis dirinya sendiri. Ia tidak pernah memberikan seluruh kalimat pada saat yang sama.
Kita baru memahami arti sebuah perjumpaan setelah tahun-tahun berlalu. Orang yang dahulu kita kenal sebagai pengawas malam ternyata kelak menjadi bagian dari jalan yang membawa kita kepada seseorang yang sangat berarti dalam hidup.
Kini Petrus telah tiada....
Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop telah berlangsung. Kami berkumpul. Kami tertawa. Kami mengenang guru-guru. Kami menyebut nama-nama yang dahulu memenuhi halaman sekolah, ruang makan, aula, lapangan. Dan lorong-lorong asrama.
Tetapi di antara begitu banyak wajah yang kami rindukan. Ada satu wajah yang tidak mungkin lagi muncul dari kejauhan.
***
Petrus tidak datang. Tidak mungkin datang.
Tidak ada langkah panther yang pelan menaiki tangga. Tidak ada buku di tangannya. Tidak ada sorot senter yang tiba-tiba membelah gelap. Yang ada hanya kenangan. Dan doa.
Nama Petrus disebut dalam hati, mungkin oleh banyak orang, pada waktu yang berbeda. Kami mengenangnya bukan lagi sebagai pengawas yang dahulu membuat anak-anak buru-buru tidur, melainkan sebagai seorang pastor yang pernah memberikan sebagian hidupnya kepada kami.
Aneh sekali perasaan itu. Ketika seseorang masih hidup, kita bisa berkata, “Nanti saya bertemu lagi.” Setelah ia tiada, kalimat itu kehilangan tempat untuk berpijak. Tidak ada lagi “nanti”. Yang tersisa hanya “pernah”. Dan betapa beratnya sebuah kata yang sederhana itu.
Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)
Petrus pernah ada di sana. Pernah berjalan di tangga itu. Pernah menyalakan senter. Pernah menegur kami. Pernah mendampingi kami ke Sanggau.
Pernah memperkenalkan saya kepada seseorang yang kemudian menjadi bagian dari hidup saya. Kini ia hanya bisa kami temui melalui kenangan dan doa.
Dan entah mengapa. Setelah reuni itu usai. Muncul keinginan yang begitu sederhana sekaligus begitu dalam: saya ingin pergi ke makamnya.
Saya ingin berdiri di hadapan pusaranya. Tidak perlu membawa banyak kata. Mungkin cukup diam. Mungkin cukup menyebut namanya. Mungkin cukup berdoa. Sebab ada kerinduan yang tidak lagi mencari jawaban. Ia hanya ingin berada dekat dengan seseorang yang dahulu pernah dekat, tetapi kini telah berada di seberang waktu.
Entah rindu apa yang begini? Rindu kepada seorang pastor yang dahulu kami takuti ketika cahaya senternya menyala di tengah malam.
Rindu kepada seorang penjaga yang dahulu kami kira sedang mengganggu tidur kami.
Rindu kepada seorang manusia yang ternyata, tanpa kami sadari, sedang menjaga begitu banyak bagian dari masa depan kami.
Mungkin kelak ketika saya berdiri di makam Petrus, saya akan membayangkan kembali Nyarumkop pada sebuah malam yang jauh.
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Gunung Poteng menghitam. Kabut turun. Jangkrik bernyanyi. Katak bersahutan. Anak-anak pura-pura tidur. Dan dari tangga yang gelap terdengar langkah perlahan seorang lelaki dengan senter di tangan.
Dulu kami takut cahaya itu. Kini setelah Petrus tiada. Justru cahaya itulah yang paling kami rindukan.
Sebab ada cahaya yang hanya menerangi jalan pada saat ia menyala. Tetapi ada cahaya lain yang, setelah puluhan tahun, tetap tinggal di dalam hati.
Cahaya Petrus adalah salah satunya. Dan mungkin, di suatu tempat yang tak dapat dijangkau mata. Ia masih berjaga. Untuk kami. Untuk kita semua.
0 Comments