Kitalah yang Menjadi Tua di Hadapan Foto Para Guru - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (22)

Kitalah yang Menjadi Tua di Hadapan Foto Para Guru
Para guru PKN tempo doeloe: kitalah yang menjadi tua di hadapan foto mereka ini. Ist.

Siang ketika itu sedang terang-terangnya. Matahari jatuh dengan tenang ke halaman Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN). Menumpahkan cahaya pucat di atas tanah dan jalan yang membentang di depan bangunan sekolah.
Sebatang pohon besar tegak berdiri di sisi kiri. Dahannya menaungi sebagian halaman. Seperti tangan tua yang diam-diam menjaga sesuatu yang berharga.

Di belakang mereka. Bangunan sekolah terbentang sederhana. Tidak ada kemegahan. Hanya halaman, pohon, cahaya. Dan sekelompok manusia yang pada siang itu berhenti sejenak dari kesibukan mereka.

Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)

Puluhan tahun kemudian, foto itu muncul kembali di WAG alumni PKN. Diunggah Susanto Chin. Warnanya telah memudar. Cahaya di dalamnya seperti berasal dari matahari yang lama tenggelam.

Namun justru dalam kepudaran itu ia menjadi indah. Seperti surat lama yang tintanya hampir hilang tetapi membuat setiap kata terasa lebih berharga.

***

Mereka adalah AY Suratman, Paulus Anwardi, AY Tukiji, Slamet, Agus Nugroho, Wiedharyati, Trismiyanto, Sr. Yuliana Indot, RPL Soeyadi, Aloysius Yun, P. Hary Adriaensen, M. Sunaryo, dan Hardjanto.

Paloma Blanca-nya Gunawan dan Malam yang Membuka Pintu Ingatan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (20)

Nama-nama itu ketika dibaca kembali bukan lagi sebatas hanya identitas. Ia menjadi suara. Wajah menjadi kenangan.

Mereka pernah berdiri di depan kelas, sementara kami duduk sebagai murid. Mereka mengajarkan pelajaran, disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Ada nasihat yang dahulu terasa biasa. Ada teguran yang mungkin pernah menyebalkan.

Namun hidup pandai menyimpan apa yang kita kira telah selesai.

Sebuah nasihat dapat kembali ketika kita berdiri di persimpangan. Sebuah teguran dapat terdengar lagi ketika kita keliru. Seorang guru mungkin tidak pernah tahu bahwa kalimat yang diucapkannya selama beberapa detik dapat tinggal dalam diri seorang murid selama puluhan tahun.

Baca Pohon Kelapa, Empat Anak Asrama, dan Air yang Jatuh dari Talang Surga - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (19)

Itulah keajaiban pendidikan. Guru menanam sesuatu yang mungkin tidak sempat dilihatnya tumbuh. Pengetahuan, teladan, keberanian, dan harapan kemudian berjalan bersama murid-murid yang menempuh jalan masing-masing.


***

Sekolah pada akhirnya bukan gedung....
Sekolah adalah perjumpaan manusia dengan manusia. Tembok dapat lapuk. Cat dapat mengelupas. Tetapi sesuatu yang diberikan guru dapat hidup lebih lama daripada bangunan. Ia tinggal dalam cara seseorang berpikir, memilih, memperlakukan sesama, dan menjalani hidup ketika tidak ada yang melihat.

Baca Yance antara Bintang Panggung di Malam Hiburan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (18)

Foto lama mempunyai kekejaman yang lembut. Ia tidak membiarkan orang-orang di dalamnya menjadi tua. Rambut mereka tidak memutih. Wajah mereka tetap muda. Tubuh mereka masih tegak di bawah cahaya Nyarumkop. Kitalah yang menua di hadapan foto itu.

Siang di Nyarumkop tampaknya sedang terang-terangnya. Matahari jatuh dengan tenang ke halaman.

Cahaya yang dahulu berbinar di lembah Gunung Poteng seolah ingin mengatakan bahwa waktu boleh pergi sejauh apa pun, tetapi kenangan selalu tahu jalan untuk kembali. Ada halaman yang bertahun-tahun kita tinggalkan, namun ketika kembali, hati mengenalinya lebih cepat daripada mata.

Mungkin memang demikian manusia. Kita berjalan jauh untuk mencari dunia. Lalu pada suatu hari sadar bahwa yang kita cari diam-diam menunggu di tempat kita pernah menjadi muda. 

Kitalah yang kerap kembali memilih jalan pulang. Sebab ada tempat-tempat tertentu yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Ia tinggal di dalam diri, seperti cahaya siang yang tak selesai jatuh di halaman.

Masri Sareb Putra

Ketika malam  membekap langit Jakarta 13/09-2026 

0 Comments

Type above and press Enter to search.