Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)

Bruder Jan dan Nalo dalam Amplop Putih
Penampakan Bruder Yan setakat ini. Dok. Gunawan, S.H.

Senja di Nyarumkop turun dari lereng Gunung Poteng seperti cahaya yang perlahan dilupakan langit. Kabut tipis mulai mengisi sela-sela pepohonan sawo yang menjadi pohon kehidupan terutama anak-anak Wisma Widya yang lapar.
Dari ruang makan pastoran terdengar bunyi piring dan sendok yang sesekali beradu. Sementara anak-anak yang selesai makan berjalan menuju kamar. Halaman sekolah mulai lengang. Suara-suara perlahan surut bersama cahaya.

Paloma Blanca-nya Gunawan dan Malam yang Membuka Pintu Ingatan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (20)

Dari bruderan MTB. Yang kini menjadi Wisma Emaus. Seorang lelaki tinggi berjalan menuju pastoran. Jenggot dan kumisnya tersapu cahaya senja. Langkahnya tenang, hampir tanpa bunyi.

***

Lelaki itu Bruder Yan, Yan Wijnans. Ia datang dari negeri Belanda. Dan menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Nyarumkop.

Kami mengenalnya melalui pekerjaan sehari-hari yang dahulu terasa begitu biasa. Ia makan bersama para pastor. Mengurus anak-anak asrama terutama SMP Timonong. Mencatat kiriman orang tua dari kampung. Lalu kembali menjalani hari dengan ketenangan seseorang yang tidak pernah merasa perlu menjelaskan pengabdiannya.

Di tangannya ada termos berisi air panas. Dahulu kami tidak melihat apa-apa selain termos itu. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya baru mengerti bahwa hidup sering menyembunyikan sesuatu yang besar di dalam pemandangan yang sederhana. 

Kita melewati sebuah sore tanpa menyadari bahwa kelak justru kesederhanaan itulah yang paling kita rindukan. Air panas di dalam termos itu seperti kasih yang tidak banyak bicara. Hangatnya diberikan, lalu berlalu bersama langkah seseorang yang terus berjalan.

Tetapi Bruder Jan tidak hanya membawa kehangatan dalam termos. Di meja kerjanya, ada pula nama-nama anak asrama dan catatan kiriman uang dari orang tua mereka. Setiap bulan ia mencatat, menghitung, lalu menyerahkan uang itu kepada anak-anak yang menunggu. 

Bagi sekolah, mungkin pekerjaan itu hanya urusan administrasi. Namun bagi seorang anak yang jauh dari rumah, setiap kiriman adalah tanda bahwa di suatu tempat, di balik kampung dan jarak, masih ada orang tua yang mengingatnya. Kasih kadang datang sebagai air panas. Kadang sebagai sejumlah uang dalam amplop. Bentuknya berbeda, tetapi hangatnya sama.

Baca Pohon Kelapa, Empat Anak Asrama, dan Air yang Jatuh dari Talang Surga - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (19)

Adrianus Asia Sidot masih mengingat setutup amplop warna putih. Setiap kali makan di Wisma Widia, Pastor Petrus membawa amplop itu. Di dalamnya ada nalo untuk dibawa ke Bruder Yan. Berbulan-bulan Adrianus menunggu namanya dipanggil, sampai suatu hari namanya benar-benar tertulis di sana.

Ia membawa kertas itu kepada Bruder Yan. Uang tersebut antara lain dipakainya membeli kain dan menjahit celana panjang di Singkawang. Hanya sebuah amplop, hanya sejumlah uang. Namun bagi seorang anak yang jauh dari orang tua, amplop itu seperti jendela yang tiba-tiba terbuka ke arah rumah.

Baca Yance antara Bintang Panggung di Malam Hiburan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (18)

Di balik lembaran rupiah itu ada wajah ayah dan ibu. Ada dapur yang jauh. Ada suara yang tak terdengar tetapi masih tinggal di dalam dada. Kasih, rupanya, tidak selalu datang dalam pelukan. Kadang-kadang ia datang dalam amplop putih yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

***

Saya pun mengenal tangan Bruder Yan. Setiap bulan, bersama Bang Maliki, saya menemuinya di kantor SMP Timonong untuk menerima uang saku Rp5.000.

Sekarang angka itu terdengar seperti sesuatu dari zaman yang sangat jauh. Dahulu lima ribu rupiah terasa cukup berarti. Dari sana saya membeli sabun, odol di Toko Kita, es lilin, dan perangko.

Es lilin habis dalam beberapa menit. Sabun dan odol akhirnya lenyap. Tetapi perangko mempunyai nasib lain.

Saya menyukai sahabat pena. Maka sebagian uang itu saya ubah menjadi perangko. Perangko menjadi surat. Surat membawa kata-kata keluar dari Nyarumkop dan mengundang kata-kata lain kembali kepada saya. Tanpa saya sadari, dari sanalah saya belajar memilih kata, menyusun kalimat, bercerita, dan mendengarkan pikiran orang yang belum pernah saya jumpai.

Baca WidBros, Grup Band Legendaris PKN Era 1970-an - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (17)

Saya dahulu mengira sedang mencari sahabat pena. Barangkali hidup sedang menyiapkan sesuatu yang lebih jauh.

Bruder Yan tentu tidak pernah tahu ke mana uang lima ribu rupiah itu pergi. Ia hanya menyerahkannya kepada seorang anak. Ia tidak melihat perangko yang dibeli, surat yang ditulis, atau kata-kata yang tumbuh sesudahnya. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa uang kecil dari tangannya kelak ikut mengambil bagian dalam perjalanan hidup seorang penulis.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Bukankah demikian cara kehidupan bekerja? Kita menanam tanpa pernah tahu pohon apa yang akan tumbuh. Kita memberikan sesuatu tanpa mengetahui ke mana pemberian itu akan membawa seseorang. Kadang-kadang makna sebuah kebaikan baru tampak ketika orang yang melakukannya sudah jauh dari tempat kita berdiri.

Ada satu gambar Bruder Yan yang paling lama tinggal dalam ingatan saya. Setiap sore, atau selepas makan malam, ia membawa termos berisi air panas menuju bruderan.

Anak-anak sudah masuk kamar. Udara Gunung Poteng semakin dingin. Lampu-lampu mulai menyala. Halaman sekolah perlahan kehilangan suara. Ia berjalan melewatinya dengan langkah yang sama, tenang dan sederhana, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikenang dari perjalanan itu.

***

Kini saya tahu. Justru perjalanan semacam itulah yang paling sulit dilupakan.

Bruder Yan telah kembali ke Belanda. Nyarumkop masih dapat kami datangi. Gunung Poteng masih berdiri di tempatnya.

Baca Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)

Bangunan-bangunan lama masih dapat disentuh. Tetapi kami tidak mungkin kembali kepada usia ketika lima ribu rupiah terasa seperti kekayaan. Ketika perangko menjadi pintu menuju dunia. Dan ketika seorang lelaki membawa termos melewati halaman sekolah tanpa seorang pun dari kami menyadari bahwa suatu hari nanti pemandangan itu akan menjadi begitu mahal.

Mungkin yang paling menyedihkan dari bertambahnya usia bukanlah bahwa kita kehilangan masa muda. Yang lebih getir adalah ketika kita mulai memahami nilai sesuatu justru setelah ia berlalu.

Orang-orang yang dahulu kita jumpai setiap hari perlahan menjadi nama dalam ingatan. Suara berubah menjadi gema. Langkah menjadi bayangan. Dan sebuah sore yang dahulu tidak kita pedulikan tiba-tiba menjadi tempat kita pulang ketika rindu datang.

Pada senja tertentu di Nyarumkop. Manakala kabut turun dari Gunung Poteng dan cahaya terakhir tersangkut di pucuk pepohonan.

Saya masih dapat membayangkan Bruder Yan berjalan menuju bruderan. Lelaki tinggi dari Belanda itu membawa termos di tangannya, sementara di kejauhan anak-anak mulai masuk ke kamar.

Saya ingin memanggilnya. Tetapi waktu menutup pintu untuk kembali....

Maka saya hanya berdiri dalam ingatan, memandang langkahnya yang semakin jauh. Dan untuk pertama kalinya saya mengerti. Ada orang-orang yang tidak pernah tahu betapa besar tempat yang mereka tinggalkan di dalam hidup kita.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Bruder Yan mungkin hanya membawa air panas pada senja itu. Tetapi tanpa disadarinya, ia juga membawa pulang sebagian dari masa kanak-kanak kami.

***

Kini Bruder Yan telah kembali ke Belanda...
Namun ketika Yustianus mengirimkan gambar Bruder Yan ini yang diperolehnya dari Gunawan, pintu lama itu tiba-tiba terbuka. Saya seperti kembali ke Nyarumkop pada sebuah senja yang telah puluhan tahun berlalu.

Gunung Poteng diselimuti kabut tipis. Pohon-pohon sawo tegak berdiri dalam cahaya yang kian redup. Halaman sekolah perlahan sunyi Seakan seluruh dunia sedang menahan napas. Dari kejauhan, seorang lelaki tinggi berjalan menuju bruderan, termos di tangannya.

Dahulu kami melihatnya sebagai bagian biasa dari sore. Kini, setelah begitu banyak musim berlalu. Saya baru mengerti: ada senja yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia tinggal diam-diam di dalam diri kita. Menunggu sele,mbar gambar. Sebuah nama. Atau sepotong cahaya untuk kembali menyala.

Dan ketika ia datang. Kita tidak sedang mengingat masa lalu. Kita sedang bertemu kembali dengan diri kita yang dahulu, yang masih muda, masih polos.

Dan belum tahu bahwa suatu hari nanti ia akan sangat merindukan sore itu.

Catatan:

Nalo: jargon, bahasa Dayak ketika itu yang berarti: gulungan pesan.

Masri Sareb Putra

Jakarta, ketika malam  memeluk langit Jakarta 13/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.