WidBros, Grup Band Legendaris PKN Era 1970-an - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (17)
Masa saya SMA. WidBros adalah grup musik legendaris PKN. Wajib dikenang bukan semata-mata sebuah grup musik, melainkan sebuah zaman, persahabatan, cinta-cinta kecil, dan diri kita yang sudah tidak mungkin kembali.
Kesedihan saya biarkan datang perlahan. Bagai cahaya yang surut tanpa suara. Ia tidak saya paksa.
Siang menjelang senja, 4 September 2026....
Di sebuah tangga Wisma Emaus, Nyarumkop. Saya menyanyikan lagu lama kesayangan Surminto, lagu Ade Manuhutu yang pernah menjadi bagian dari masa muda kami.
Lalu Surminto tiba-tiba berdiri di depan saya. Kami tertawa. Tetapi di balik tawa itu, entah mengapa, terasa sesuatu yang lain. Sebuah masa yang jauh seperti membuka pintunya sebentar.
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Dari sana muncul wajah-wajah lama. Teman-teman yang pernah begitu dekat. Juga hari-hari ketika kami belum tahu bahwa kelak sebagian dari mereka akan menua, pergi, atau tinggal sebagai nama dalam ingatan.
Lagu itu selesai....
Senja terus turun di lereng Gunung Poteng. Saya sadar. Barangkali yang membuat dada terasa sesak bukanlah lagu itu, melainkan apa yang dibawanya pulang: masa muda yang tak mungkin diulang, pertemanan yang tak seluruhnya dapat dikumpulkan kembali.
Dan sebuah kenyataan sederhana. Yang baru terasa ketika kita semakin tua. Ada perjumpaan yang sebenarnya adalah cara kenangan mengucapkan selamat tinggal.
Di ujung 1970-an, ketika Koes Plus, Panbers, The Mercys, dan AKA sedang menguasai telinga anak-anak muda Indonesia, Nyarumkop ternyata punya bintang sendiri. Namanya WidBros, singkatan dari Widya Brothers. Widya diambil dari Wisma Widya, asrama anak-anak lelaki Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)
Mereka mungkin tidak pernah menghiasi sampul majalah musik atau diputar dari radio nasional. Tetapi bagi kami, WidBros adalah legenda yang lahir di halaman sendiri. Dari kaki Gunung Poteng yang dingin, musik mereka mengalir ke Tainam, Sidomet, Sungai Tangket, Singkawang, bahkan sampai Sanggau.
Personelnya masih saya hafal seperti menghafal nama-nama yang pernah begitu dekat dengan hidup: Maliki pada gitar dan bass. Akong atau Adrianus (Bang Adri) sebagai pengiring. Kanisius pada melodi. Jayaseputra di belakang drum. Mereka muda, gagah, dan penuh tenaga.
Di atas panggung, mereka seperti lupa bahwa dunia di luar sana begitu luas. Petikan gitar, denting melodi, hentakan drum, dan gerak tubuh mereka menyatu menjadi sesuatu yang membuat penonton lupa pulang. Musik bukan lagi bunyi. Ia menjadi cahaya. Dan malam Nyarumkop seakan menemukan wajahnya sendiri.
Mobil yang Memanggil Sejuta Kenangan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (15)
Tidak mengherankan jika banyak cewek menyukai mereka. Kami tentu saja pernah cemburu. Ah, betapa lucunya hati anak muda. Melihat seorang teman mendapat perhatian, kita merasa seolah-olah dunia telah berlaku tidak adil.
Kami membandingkan wajah, gaya, keberanian, bahkan siapa yang lebih sering ditoleh ketika berjalan. Kami belum tahu bahwa pesona manusia tidak pernah dapat dihitung seperti nilai ujian. Ada orang yang memikat karena wajahnya. Ada yang karena suaranya. Ada yang karena keberaniannya. Ada pula yang baru kita sadari keindahannya setelah bertahun-tahun kemudian.
Kini, setiap kali nama WidBros disebut, yang terbayang bukan lagi soal siapa yang paling top. Yang datang justru wajah-wajah muda itu. Maliki dengan gitar di tangan. Kanisius dengan melodinya. Bang Adri menjaga irama. Jayaseputra di belakang drum.
Baca Di Sini Cinta Pertama Bersemi : Mereka yang kemudian Menikah - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (14)
Saya membayangkan. Mereka berdiri di bawah cahaya panggung yang sederhana, sementara anak-anak Nyarumkop berdesakan di depan. Ada yang tertawa. Ada yang bersorak. Ada yang mungkin sedang jatuh cinta diam-diam. Masa muda memang begitu. Kita menyimpan banyak rahasia kecil yang kelak justru menjadi harta paling mahal.
Sebab ketika sebuah lagu lama terdengar kembali, yang pulang bukan hanya bunyinya. Yang pulang adalah orang-orang yang pernah mendengarnya bersama kita. Wajah mereka muncul sebentar, jernih seperti pantulan di permukaan air. Ada teman yang masih bisa diajak duduk semeja. Ada yang hanya tinggal dalam foto. Ada pula yang namanya kini kita sebut dengan jeda, karena orangnya sudah tidak dapat menjawab panggilan.
Barangkali inilah yang membuat kenangan tentang Nyarumkop terasa begitu lembut sekaligus menyakitkan.
Kita tidak sungguh-sungguh merindukan panggung. Kita merindukan mereka yang dahulu berdiri di atasnya.
Kita merindukan diri kita sendiri yang pernah berada di antara penonton. Kita rindu pada tawa yang tidak perlu alasan. Pada persahabatan yang belum mengenal jarak. Pada malam ketika sebuah lagu cukup untuk membuat hati merasa dunia ini luas dan seluruh masa depan masih terbuka.
Baca Nyarumkop 1982 dan Seseorang yang Pergi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (13)
Dahulu kami cemburu kepada WidBros. Sekarang saya justru merasa beruntung pernah menyaksikan mereka. Sebab tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk melihat sahabat-sahabatnya bersinar ketika masih muda. Tidak semua orang menyimpan kenangan yang begitu lengkap: sebuah asrama, sebuah panggung, empat anak muda, musik yang menggema, dan wajah-wajah yang menatap mereka dengan mata penuh kekaguman.
Kita akhirnya tahu bahwa manusia memang seperti gunung. Tidak perlu dibandingkan. Setiap orang mempunyai bentuk, lereng, kabut, dan puncaknya sendiri.
Ada yang tampak gagah dari kejauhan. Ada yang menyimpan keindahan di balik rimbun pepohonan. Begitu pula kegantengan, pesona, keberanian, dan takdir. Masing-masing mendapat bagiannya.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah kita bagi secara adil: kenangan. Ia memilih sendiri siapa yang hendak tinggal.
Baca Undangan Makan Malam Mgr. Agus: Tiga Puluh Orang dan Sebuah Jalan Kaki - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (12)
Maka, jika suatu malam saya mendengar kembali lagu-lagu dari zaman itu, mungkin saya akan menutup mata. Saya ingin melihat Nyarumkop sekali lagi seperti dahulu.
Gunung Poteng masih hijau. Wisma Widya masih ramai. Anak-anak muda masih berlari. Di kejauhan, suara drum mulai terdengar. Jayaseputra memukulnya. Maliki mengangkat gitar. Kanisius masuk dengan melodi. Bang Adri menjaga irama. Lalu WidBros memainkan musik mereka.
Dan kami kembali menjadi anak-anak. Hanya sekejap saja.
Cukup lama untuk membuat dada sesak, mata basah, dan hati mengerti satu perkara yang dahulu tidak kami ketahui. Ternyata yang paling mahal dari sebuah masa bukanlah apa yang kita miliki ketika menjalaninya, melainkan siapa yang pernah berjalan bersama kita.
Setelah lagu selesai. Kita mungkin masih mendengar gemanya. Tetapi satu per satu, suara sahabat itu menjauh.
Dan kita hanya bisa berkata dalam hati: betapa indahnya kita pernah muda bersama.
0 Comments