Nyarumkop 1982 dan Seseorang yang Pergi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (13)
| Kami dan para guru pembimbing 1982, pada ketika Nyarumkop masih menyimpan dingin yang khas. Ist. |
Pagi belum benar-benar pergi ketika kabut tipis menggantung di lereng Gunung Poteng. Pepohonan di sekeliling sekolah masih rapat dan hijau. Udara bersih seperti baru saja dicuci hujan malam.
Nyarumkop pada tahun 1982 masih menyimpan dingin yang khas. Di siang hari pun. Hawa dingin belum sepenuhnya menyerah. Angin berembus semilir melewati halaman, menyentuh wajah dan daun-daun, lalu menghilang di antara rumah-rumah tua.
Di tempat seperti itulah kami menjalani hari-hari yang kelak kami sebut masa lalu. Waktu itu kami tidak menyebutnya kenangan. Ia hanyalah hari biasa: bersekolah, bercakap, tertawa, berkawan, mungkin sesekali bertengkar kecil, lalu kembali berkumpul.
Kami belum tahu bahwa suatu hari nanti, justru hari-hari yang terasa biasa itulah yang akan paling kami cari.
Gunung aneh lagi lucu karena bentuknya tunggal, bukan kembar bernama Poteng di belakang sekolah berdiri diam. Hijau.
Teduh. Seolah-olah ia tahu sesuatu yang belum kami ketahui: bahwa manusia yang hari itu berkumpul di halaman Nyarumkop kelak akan tercerai oleh jarak, pekerjaan, keluarga, usia, bahkan kematian. Gunung tetap di sana. Kami yang berubah.
Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)
Dan di tengah suasana Nyarumkop yang dingin dan hijau itulah, sebuah kamera pernah bekerja tanpa kami sadari. Ia menangkap wajah-wajah muda kami pada 1982. Salah satunya Bang Pilik. Saat itu ia masih bersama kami. Padahal pada tahun kedua, ia kemudian mutasi ke SPG Menjalin.
Puluhan tahun kemudian. Foto itu dikirim Marsinus Jampari kepada saya. Ketika melihatnya, saya seperti mendengar kembali angin Nyarumkop yang dahulu berembus semilir di siang hari. Yang dingin bukan lagi udara. Yang terasa dingin justru kesadaran bahwa waktu telah membawa kami begitu jauh dari sana.
Mengenang seseorang kadang membuat kita meneteskan air mata. Di situlah air mata barangkali bukan lagi semata-mata tanda kesedihan. Air mata adalah bentuk lain dari ingatan. Kita menangis karena sesuatu pernah begitu indah, dan karena kita tahu keindahan itu tidak dapat diulang dalam bentuk yang sama.
Saya memperbesar foto itu, lalu memandang wajah-wajah kami satu demi satu. Saya mencari sesuatu yang dahulu tidak pernah kami pikirkan. Barangkali sebuah tawa. Barangkali tatapan seorang kawan. Barangkali bayangan. Bahwa di antara orang-orang muda itu kelak akan ada yang pergi jauh, ada yang menetap, ada yang tidak sempat kami jumpai lagi. Foto itu tidak menjelaskan apa-apa. Ia hanya membuat masa lalu duduk diam di hadapan saya.
Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)
Begitulah kenangan bekerja. Ia tidak datang ketika kita memanggilnya. Ia datang ketika kita sedang lengah. Sebuah nama disebut. Sebuah lagu terdengar. Bau tanah sesudah hujan lewat. Atau, seperti sore itu, sebuah foto dikirim Marsinus. Tiba-tiba halaman Nyarumkop yang sudah puluhan tahun berlalu terasa lebih dekat daripada jalan yang sedang saya pijak. Saya seakan-akan kembali menjadi anak muda di sana, dengan masa depan yang masih panjang dan perpisahan yang belum mempunyai wajah.
Dan saya teringat Bang Pilik. Ia ada di sana, bersama kami. Padahal setahun kemudian ia sudah berangkat ke SPG Menjalin. Mungkin ketika meninggalkan Nyarumkop, ia tidak pernah menyangka bahwa sebagian dirinya akan tertinggal di sana. Tetapi ternyata memang begitu. Ada orang-orang yang meninggalkan sebuah tempat dengan tubuhnya, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan orang lain. Bang Pilik adalah salah satunya.
Kalau saja pada tahun 1982 kami tahu bahwa waktu akan secepat itu, mungkin kami akan duduk lebih lama setelah foto diambil. Kami akan saling memandang lebih teliti. Kami akan menghafal suara masing-masing. Kami akan berkata kepada kawan di sebelah, “Jangan cepat-cepat pergi.” Tetapi hidup tidak pernah memberi manusia kesempatan semacam itu. Ia selalu menyuruh kita maju sebelum kita sempat mengerti bahwa yang baru saja kita tinggalkan mungkin merupakan bagian terindah dari hidup.
Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)
Kini foto itu menjadi semacam jendela. Saya memandang ke dalamnya dan melihat bukan hanya orang-orang yang dahulu bersama kami, melainkan diri saya sendiri yang sudah tidak mungkin kembali.
Di situlah air mata barangkali bukan lagi tanda kesedihan. Air mata adalah bentuk lain dari ingatan. Kita menangis karena sesuatu pernah begitu indah, dan karena kita tahu keindahan itu tidak dapat diulang dalam bentuk yang sama.
***
Nyarumkop tahun 1982.
Masih dingin dalam ingatan. Anginnya masih semilir. Pohonnya masih hijau. Gunung Poteng masih seperti dahulu, menjaga tempat itu dengan kesabaran yang tidak dimiliki manusia. Hanya kami yang sudah berubah. Dan mungkin itulah yang paling membuat rindu terasa sakit: tempatnya masih bisa kita datangi, tetapi waktu di dalamnya tidak akan pernah bisa kita masuki lagi.
Marsinus mengirimkan foto itu kepada saya. Saya menerimanya dengan mata biasa. Tetapi setelah lama memandangnya, saya merasa sedang menerima salam dari orang-orang yang pernah hidup bersama saya dalam satu halaman masa muda.
Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)
Ada yang masih bisa ditemui. Ada yang sudah jauh. Ada yang mungkin hanya tinggal dalam ingatan. Namun semuanya, pada sore itu, kembali berkumpul di Nyarumkop Termasuk Bang Pilik.
Untuk beberapa jeda. Saya ingin percaya bahwa angin masih berembus semilir di sana. Bahwa suara kami masih terdengar di halaman. Bahwa Bang Pilik belum berangkat ke Menjalin. Bahwa kami masih punya banyak waktu.
Tetapi foto itu diam. Dan justru dalam diamnya, ia mengatakan sesuatu yang membuat dada terasa penuh: kita pernah begitu bahagia, dan kita tidak tahu bahwa saat itu kita sedang bahagia.
0 Comments