Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)

Reverendus Dominus (RD) Alexius Alex (tengah), di antara Akim (kiri) dan saya (kanan pembaca).
Reverendus Dominus (RD) Alexius Alex (tengah), di antara Akim (kiri) dan saya (kanan pembaca). Penyanyi yang tersesat menjadi pastor. ist.

Matahari siang itu seperti belum rela meninggalkan Nyarumkop. Seusai Misa penutupan Reuni 110 Tahun PKN, 06 September 2026, cahayanya jatuh tegak ke lapangan. Udara panas. Di bawah tenda-tenda yang disediakan untuk lebih dari seribu orang, hanya kira-kira sepertiganya masih bertahan.

Kursi-kursi yang kosong tampak seperti halaman-halaman yang telah selesai dibaca.

Orang-orang mulai bergerak ke berbagai arah. Ada yang masih bercakap di bawah tenda. Ada yang mencari kawan lama. Ada yang kembali ke kelas, seolah-olah masa sekolah masih tersimpan di sana dan dapat ditemukan kembali dengan membuka sedaun pintu.

Lapangan perlahan lengang. Tetapi sekolah belum selesai mempertemukan orang-orang. Para alumni yang, setelah puluhan tahun berlalu, bukannya jauh, malah kian dekat saja. Tak ingin rasanya ada kata "berpisah". Lagu "Kemesraan" pun tak hendak dilantunkan! Apalagi lagu "Kapan Kapan"-nya Koes Plus yang populer di kalangan anak-anak asrama tempo doeloe.

Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)

Saya berjalan melewati lorong persekolahan di depan lapangan, seusai melegakan sesuatu dari WC. Di situlah saya berpapasan dengan R.D. Alexius Alex.

                                                                           ***

Kami berhenti. Nama itu saya kenal. Wajahnya belum. Ia adik kelas saya, terpaut cukup jauh. Abangnya, Patrisius Patrik dari Raba, adalah kawan saya seangkatan. (Ngasih tahu gak ya tahunnya? Malu, ah!)

Begitulah waktu rupanya  bekerja. Ia membuat seseorang dapat kita kenal melalui nama selama puluhan tahun, tetapi menyimpan pertemuan wajah sampai pada suatu siang yang panas.

Kami kemudian masuk ke kelas dan berfoto bersama. “Senang berjumpa Anda. Kenal namanya baru kali ini tatap muka,” katanya sembari menggenggam tangan saya. Erat sekali. Saya menyambutnya dengan perasaan dan ekspresi yang sama. Sembari membayar utang pujian yang setara pula padanya.

Baca Merebut Ikan Asin dari Mulut Anjing - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (6)

Ada ironi kecil dalam perjumpaan itu.
Malam sebelumnya, Alexius tampil di panggung sebagai salah satu penyanyi dalam malam hiburan reuni. Suaranya apik dan lantang. Ia melantunkan lagu "Bis Kota"-nya Ahmad Albar. 

Luar biasa warna suaranya. Sanggup memecah seluruh ketegangan. Lapangan penuh. Alumni bergoyang. Ia tidak jaim. Dan orang mungkin lupa bahwa di depan namanya ada R.D., Reverendus Dominus, sapaan kehormatan bagi seorang imam diosesan.

***

Apa tamsil yang pas menggambarkan sosok Alexius?

Saya kehabisan kata-kata untuknya. Kecuali seperti judul narasi ini. Tetapi barangkali kata "tersesat" terlalu sederhana untuk kehidupan. Sebab jalan manusia tidak selalu lurus seperti garis yang dibuat penggaris. Ada belokan yang, baru kita pahami, setelah jauh berjalan meninggalkannya. Ada panggilan yang datang dari arah yang tidak kita duga.

Kini ia adalah Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak. Namun di panggung Nyarumkop ia tetap dapat bernyanyi lepas, bergoyang bersama alumni, tanpa menjadikan jabatan sebagai jarak. Seakan-akan musik mengingatkan bahwa sebelum seseorang menjadi apa pun dalam kehidupan, ia pernah menjadi anak sekolah yang tumbuh bersama teman-temannya.

Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)

Saya bangga bertemu dengannya. Bukan hanya karena jabatan atau suara yang dimilikinya. Ada kebanggaan yang lebih sederhana: melihat seorang adik kelas menemukan jalannya sendiri dan membawa nama Nyarumkop ke dalam perjalanan hidupnya.

Kami berpisah di lorong itu....
Matahari masih terik. Lapangan semakin kosong. Tenda-tenda perlahan kehilangan suara. Tetapi pertemuan singkat itu meninggalkan sesuatu yang tidak ikut dibawa pulang oleh kursi-kursi yang dilipat. Yakni kesadaran bahwa waktu boleh memisahkan angkatan, tetapi sebuah sekolah selalu mempunyai cara untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah hidup di bawah kolong langit yang sama.

Masri Sareb Putra

Ketika subuh jatuh, 11/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.