Merebut Ikan Asin dari Mulut Anjing - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (6)
| Ada ada saja ulah dan degil anak asrama PKN: Merebut Ikan Asin dari Mulut Anjing Ist. |
Saya masih melihat siang itu dengan cukup jelas, meskipun jaraknya sudah puluhan tahun. Peristiwa mengharu-biru. Sekaligus memalukan itu: merebut ikan asin dari mulut anjing!Matahari sedang tinggi. Terik menekan halaman. Kami baru selesai makan dan memasuki jam siesta, waktu yang dahulu kami kenal sebagai jeda antara makan dan pekerjaan.
Saya bersama Julin, Matius Juli Peder, Doraman (pastor Damian), Raymundus, dan Agus Clarus memilih berleha-leha.
Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)
Ada yang tidur sungguhan. Ada yang sekadar rebah. Saya sendiri lebih banyak memandang ke luar, membiarkan mata dan pikiran berjalan tanpa tujuan.
Saya tidak menyangka. Justru pada jam ketika kami tidak sedang melakukan apa-apa, sebuah peristiwa kecil akan tertinggal begitu lama dalam ingatan saya.
Begitulah kenangan bekerja. Ia tidak selalu datang dari peristiwa yang kita anggap penting. Kadang ia menyelinap melalui celah waktu yang lengang. Lalu bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba ia muncul kembali, lengkap dengan suasananya.
Saya melihat seekor anjing berlari. Semula saya tidak memperhatikannya. Anjing berlari bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi kemudian mata saya tertumbuk pada mulutnya. Ada sesuatu yang dibawanya. Saya memperhatikan lebih saksama: ikan asin.
Baca Cekar - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (4)
Seekor ikan asin yang sedang dijemur di dapur telah berpindah tempat. Entah bagaimana anjing itu berhasil mengambilnya. Kini ia berlari dengan ikan asin tergantung di mulutnya. Bagi anjing itu, mungkin itu kemenangan. Bagi kami, yang sedang berleha-leha dan barangkali mulai memikirkan makan berikutnya, pemandangan itu mempunyai arti lain.
Matius Juli tiba-tiba berseru, “He, kawan, ada lauk!”
Saya masih ingat kalimat itu. Pendek. Spontan. Tetapi seketika suasana berubah. Saya dan kawan-kawan seperti memperoleh pekerjaan baru. Tidak ada komando. Tidak ada aba-aba. Kami bangkit dan mengepung anjing itu.
Baca Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang
Anjing itu tentu saja tidak memahami kami. Ia hanya tahu bahwa ikan asin di mulutnya mendadak membawa persoalan. Si anjing berputar ke sana kemari. Kami mengikutinya. Ia mencari celah. Kami menutup jalan.
Saya sendiri nyaris tertawa melihat tingkahnya. Beberapa saat sebelumnya kami sedang tidur-tiduran. Kini kami bergerak seperti pasukan yang sedang mempertahankan sesuatu yang amat berharga.
Padahal yang kami perebutkan hanya seekor ikan asin. Namun bagi perut muda yang sedang lapar, ikan asin bisa menjelma hidangan para sultan.
Anjing itu akhirnya ketakutan. Mulutnya terbuka. Ikan asin terlepas. Kami segera memungutnya.
“Terima kasih, anjing!”
Kami mencuci ikan itu, membakarnya, lalu menyantapnya bersama. Asap mengepul. Tawa pecah. Para sultan muda berpesta tanpa istana, tanpa mahkota, hanya dengan nasi dan seekor ikan asin.
Kasihan anjing itu. Ia pulang dengan mulut kosong. Kami pulang dengan perut kenyang dan sebuah kenangan yang, puluhan tahun kemudian, masih terasa lucu sekaligus masygul.
Kadang rezeki datang dengan cara yang aneh. Siang itu, ia datang lewat mulut seekor anjing.
Saya tidak ingat siapa yang lebih dahulu memegangnya. Yang saya ingat. Ikan itu kami cuci. Kemudian kami bakar. Api menyentuh tubuh ikan yang asin itu. Asap naik perlahan. Aromanya segera mengalahkan sisa-sisa kantuk. Perut kami, yang tadi kami minta diam selama siesta, seakan menemukan alasan untuk berbicara kembali.
Kami makan dengan lahap.
Sederhana sekali. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang kini terasa jauh. Tidak ada hidangan istimewa. Tidak ada meja makan yang penuh. Hanya seekor ikan asin, api, beberapa kawan, dan lapar yang kami bagi bersama. Sore menjelang malam, ikan itu masih menjadi bagian dari makan kami. Kami bagi-bagi. Kami tertawa. Kami makan seperti orang yang menemukan kebahagiaan tanpa perlu mencarinya.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Sekarang, kalau saya mengingatnya, saya sering bertanya kepada diri sendiri: mengapa ikan asin itu tidak hilang dari ingatan saya?
Saya lupa banyak hal dari masa itu. Ada nama yang samar. Ada wajah yang tidak lagi utuh. Ada percakapan yang pernah kami anggap penting, tetapi lenyap bersama waktu. Namun ikan asin itu masih ada. Seolah-olah waktu, dalam kemurahan hatinya yang aneh, memilih menyelamatkan justru sesuatu yang paling kecil.
Mungkin karena hidup tidak selalu meninggalkan jejak pada perkara-perkara besar. Ada pengalaman yang lewat seperti upacara.
Kita tahu ia penting, tetapi kemudian hilang. Ada pula peristiwa yang nyaris tidak kita anggap apa-apa. Ia masuk diam-diam ke dalam ingatan, lalu tinggal di sana.
***
Saya kira, siang itu kami tidak sedang mencari kenangan. Kami hanya sedang siesta.
Seekor anjing lewat. Seekor ikan asin berpindah dari dapur ke mulutnya. Lalu dari mulutnya ke tangan kami. Kami membakarnya. Kami memakannya. Kami membaginya.
Dan tanpa kami sadari. Kami juga sedang membagi sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya daripada ikan asin itu: masa muda.
Kini saya mengerti, barangkali kenangan bukanlah apa yang dengan sengaja kita simpan. Kenangan adalah apa yang tetap tinggal ketika hampir segala sesuatu telah pergi.
Dari begitu banyak hal yang pernah saya jalani. Entah mengapa?
Pada suatu siang yang terik itu. Seekor anjing dan seekor ikan asin memilih untuk tinggal bersama saya.
0 Comments