Cekar - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (4)

Sungai Sekabu daerah "kekuasaan" anak-anak Asrama Rini 1970 - 1990-an ketika itu.
Penampakan anak-anak Wisma Rini dan Sekabu, sungai seribu kenangan pada era 1970 - 1990-an Ist.
Sungai Sekabu daerah "kekuasaan" anak-anak Wisma Rini era 1970 - 1990-an ketika itu. Namun, kerap was was juga. Cekar tiba-tiba muncul jika mandi dan bermain-main air berlama-lama di sungai seribu kenangan. 
Benyamin Ngui (PKN angkatan 1977/1978) masih mengingat Cekar. Dan mungkin itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa seseorang tidak selalu harus tercatat agar pernah menjadi bagian dari sejarah.Ada yang ditulis dengan tinta. Ada yang ditulis dengan waktu.

Cekar barangkali ditulis dengan keduanya. Hanya saja tintanya bernama ingatan.

Nyarumkop: Kisah Kasih di Sekolah (1)

“Dia kerap muncul tiba-tiba di samping ruang kelas, waktu jam studi.”

Benyamin Ngui mengatakannya sederhana. Seperti orang yang sedang menunjuk sebuah tempat yang masih ada, meskipun waktu telah mengubah segala sesuatu di sekitarnya. Dulu, di tengah pelajaran, anak-anak melihat ke depan. Tetapi sesekali pandangan mereka melenceng ke samping. Di sana Cekar. Tiba-tiba saja. Seperti ia memang selalu punya jalan sendiri untuk datang.

"Cekar," kata Patrisius Patrik dari Raba, siswa PKN angkatan 1977/1978. "Menyebut dan mendengar namanya, saya jadi ingat. Tubuhnya agak tinggi, berkumis, rambutnya dibiarkan panjang, giginya sudah tidak serapat dulu. Pipinya kempes. Celana pendek menjadi pakaian yang paling mudah mengingatkan saya kepadanya." 

Menurut lelaki yang ketika bekerja memperistri orang Jangkang itu, "Ada satu hal yang lebih kuat daripada semua rupa itu: setiap kali berpapasan dengan kami, Cekar selalu tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat. Ia hanya memandang, lalu sudut bibirnya terangkat, seperti seseorang yang mengenal kita dari masa yang jauh. Entah sudah berapa lama saya tidak melihatnya. Namun ingatan kadang bekerja dengan caranya sendiri. Satu nama cukup untuk membuka kembali wajah, jalan yang pernah dilewati, percakapan yang mungkin sudah lupa kata-katanya, tetapi tidak lupa rasanya. Itulah Ujang Cekar yang tinggal dalam ingatan saya."

***

Dari Eria sampai Sungai Sekabu. Nama Cekar dahulu dikenal. Ia bukan murid. Bukan guru. Bukan pula bagian dari urusan sekolah. Tetapi ia hadir di sekitar kehidupan PKN dengan caranya sendiri.

Cekar
 berjalan di wilayah yang telah dikenalnya. Orang-orang mengenalnya. Anak-anak mengenalnya. Dan, seperti banyak hal yang hidup di pinggir sebuah komunitas, ia tidak tercatat dalam arsip.

Baca Di Nyarumkop Tertinggal Hatinya: Kisah Kasih di Sekolah (2)

Di Sekabu, cerita tentang Cekar bahkan mempunyai tanda yang khas: bau rokok. Anak-anak sedang mandi di sungai. Suasana riuh. Lalu tiba-tiba aroma itu datang bersama angin. Ada yang segera menoleh ke semak-semak.

Ada rasa takut bahwa Cekar sedang berada di sekitar sana. Apakah ia benar-benar mengintip? Atau cerita itu tumbuh dari kecemasan anak-anak? Kini sulit dibuktikan. Tetapi begitulah sebuah kenangan kadang bekerja. Ia tidak selalu menyimpan kepastian. Ia menyimpan suasana.

Tentang asal Cekar. Cerita yang beredar juga tidak tunggal. Ada yang mengatakan ia tentara asal Ketapang yang tersesat atau meninggalkan pasukannya, lalu sampai di Nyarumkop.

Ada pula yang mengatakan ia memang orang Nyarumkop, tinggal di Bakapet. Dua cerita itu tidak perlu dipaksa menjadi satu kebenaran. Keduanya adalah bagian dari cerita lisan tentang seseorang yang hidupnya memang berada di luar catatan resmi.

Baca Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk

Yang lebih sering dikenang adalah kesehariannya. Cekar berjalan mencari rebung dan kayu. Jika ada keluarga yang bersedia menerimanya, ia diberi makan.

Kadang diberi uang seadanya. Hidupnya berlangsung dalam lingkar yang sederhana, jauh dari apa yang kita kenal sebagai ukuran keberhasilan. Ia tidak sedang mengejar jabatan. Tidak sedang mengumpulkan harta. Ia hanya menjalani hari, sebagaimana orang lain menjalani hari dengan cara masing-masing.

Mungkin justru di sini sebuah cerita menjadi lebih sunyi.

Sebab ketika kita masih muda, kita melihat seseorang dari apa yang tampak. Cekar adalah lelaki yang muncul di samping kelas. Cekar adalah nama yang membuat anak-anak Sekabu waspada ketika mencium bau rokok. Cekar adalah orang yang mencari rebung dan kayu. Sesudah itu, perhatian kami kembali kepada pelajaran, teman, dan kehidupan kami sendiri.

Puluhan tahun kemudian, pertanyaan yang dahulu tidak muncul tiba-tiba datang. Siapa yang memberinya makan? Di mana ia tidur? Ke mana ia pergi ketika petang? Apakah ada seseorang yang menunggunya? Tidak ada yang tahu pasti. Dan mungkin, sekarang, tak ada lagi yang dapat menjawabnya.

Baca Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Kisah Kasih di Sekolah Para Alumni

Dalam hal seperti ini, waktu terasa seperti sesuatu yang kejam. Ia memberi kita jarak yang cukup untuk memahami, tetapi tidak memberi kesempatan untuk kembali. Kita menjadi lebih tahu ketika orang yang hendak kita tanyai sudah tidak ada. Kita menjadi lebih peka justru setelah peristiwa itu menjadi masa lalu.

Itulah sebabnya. Nama Cekar kembali terdengar dalam Reuni Akbar 110 Tahun PKN, 4-6 September 2026.

Benyamin menyebut ruang kelas. Yang lain menyebut Sekabu. Ada yang teringat aroma rokok. Ada yang teringat rebung dan kayu. Nama itu berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain, seperti sebuah benda lama yang ditemukan kembali di rumah yang telah lama ditinggalkan.

***

Ada sejarah yang ditulis oleh orang-orang yang berkuasa. Ada sejarah yang disusun oleh lembaga. Tetapi ada pula sejarah yang tidak pernah menjadi dokumen. Sejarah itu hidup dalam kalimat-kalimat pendek:
“Dulu Cekar sering muncul di samping kelas.”
“Di Sekabu, kalau mencium bau rokok...”
Kalimat-kalimat semacam itu tampak kecil. Namun dari sanalah sebuah zaman kadang dapat dilihat.

Cekar tidak pernah meminta menjadi legenda. Barangkali ia bahkan tidak mengerti bahwa kelak namanya akan disebut lagi setelah puluhan tahun. Ia hanya berjalan. Mencari kayu. Mencari rebung. Muncul di dekat ruang kelas. Lalu pergi lagi. Kehidupannya mungkin tidak pernah masuk ke dalam sejarah PKN. Tetapi kehadirannya masuk ke dalam sejarah orang-orang yang pernah bersekolah di sana.

Dan mungkin ada sesuatu yang patut kita renungkan dari situ. Sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh mereka yang namanya tertulis di buku. Ia juga dibentuk oleh orang-orang yang berdiri di pinggirnya. Oleh suara yang lewat. Oleh wajah yang sekilas tampak. Oleh seorang lelaki yang dahulu hanya kita lihat sebagai Cekar.

Baca Baca Nyarumkop yang Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan

Kini kita tahu. Nama itu membawa lebih dari semata-mata cerita masa sekolah. Ia membawa sebuah pertanyaan tentang cara kita memandang sesama manusia. Dulu kita melihatnya dari jauh.

Sekarang. Setelah usia berjalan begitu panjang. Kita melihat ada kehidupan di balik sosok itu. Ada kesunyian. Ada kebutuhan. Ada hari-hari yang mungkin tidak pernah kita ketahui.

Maka Cekar tetap tinggal di Nyarumkop. Bukan sebagai tokoh resmi. Bukan sebagai nama dalam daftar. Melainkan sebagai semacam catatan kecil di pinggir halaman. Catatan yang dahulu mudah dilewati, tetapi ketika kita membaca kembali halaman itu setelah tua, justru di situlah mata berhenti.

Masri Sareb Putra

Jakarta, senja jelang malam 10/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.