Di Nyarumkop Tertinggal Hatinya: Kisah Kasih di Sekolah (2)
| Di Nyarumkop tertinggal sepotong hatinya. Ist. |
Ketika Reuni. Dan kita kembali ke Nyarumkop lagi. Yang paling dirindukan bukan gedungnya, melainkan diri kita sendiri. Yang dahulu pernah begitu muda dan begitu mudah mencintai.
Ada rahasia kecil yang barangkali tidak pernah masuk ke buku sejarah Nyarumkop: sejak generasi awal. Anak-anak sekolah sudah mengenal getar cinta.
Tahun 1920-an hingga 1950-an. Ketika surat masih ditulis dengan tinta dan kabar menempuh jarak berhari-hari. Seorang siswa bisa diam-diam menunggu seorang siswi melintas di halaman.
Mereka belum mengenal istilah cinta monyet seperti yang kita kenal sekarang. Tetapi hati mereka rupanya sudah memahami bahasa yang sama: berdebar ketika melihat seseorang, lalu pura-pura tidak melihat.
Baca Nyarumkop: Kisah Kasih di Sekolah (1)
Di sekolah itu. Cinta tidak datang dengan pengumuman. Rsa aneh menjalar melalui hal-hal kecil: langkah yang sengaja diperlambat, senyum yang segera disembunyikan. Aau sebuah nama yang tiba-tiba terasa lebih indah daripada nama-nama lain.
Anak-anak muda itu mungkin tidak pernah belajar filsafat cinta, tetapi kehidupan mengajarkan satu hal yang kelak baru mereka pahami ketika tua: manusia sering mengingat bukan apa yang dikatakan kepadanya, melainkan siapa yang pernah membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
Ada kisah Pak Imas, teman sekelas Frans Tsahi ketika di SMA. Pastor Serenus kemudian ikut mempertemukannya dengan seorang siswi SKP. Dari perkenalan itu tumbuh kedekatan, dan dari kedekatan lahir sebuah perkawinan.
***
Betapa sederhana jalan hidup itu jika dilihat dari kejauhan, tetapi betapa besar akibatnya: seorang anak sekolah yang dahulu duduk di bangku kelas, bertahun-tahun kemudian membangun rumah tangga bersama seseorang yang mula-mula dikenalnya sebagai teman sekolah.
Mungkin di situlah sekolah mempunyai rahasianya sendiri. Ia tidak hanya mempertemukan manusia dengan ilmu, tetapi juga mempertemukan manusia dengan manusia lain yang kelak mengubah seluruh arah hidupnya.
Sebuah perjumpaan yang pada hari itu terasa biasa saja, puluhan tahun kemudian dapat dikenang sebagai awal dari sebuah keluarga. Waktu memang pandai menyembunyikan arti sebuah peristiwa sampai kita menoleh ke belakang.
Generasi berikutnya mengenal cinta melalui surat. Sampai tahun 1980-an, surat-suratan masih menjadi bagian dari kehidupan para alumni Nyarumkop.
Surat tidak bisa dikirim dalam hitungan detik; ia harus ditulis, dilipat, dimasukkan ke dalam amplop, lalu dipercayakan kepada perjalanan. Karena itu, menunggu surat adalah bagian dari mencintai: menunggu seseorang menulis, menunggu surat tiba, lalu membacanya perlahan-lahan seperti orang yang sedang membuka pintu menuju hati orang lain.
Ada pula diary yang menjadi tempat paling aman bagi perasaan yang belum berani diucapkan. Di antara catatan pelajaran, cerita teman, dan kejadian sehari-hari, terselip nama seseorang, kalimat yang ditulis sembunyi-sembunyi, bahkan surat cinta. Mungkin tangan yang menulisnya sedikit gemetar.
Mungkin halaman itu segera ditutup ketika terdengar langkah orang mendekat. Tetapi bertahun-tahun kemudian, tulisan tangan itu justru menjadi benda yang paling mahal: bukti bahwa seseorang pernah begitu muda, begitu polos, dan pernah mencintai dengan cara yang sederhana.
Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk
Dahulu sekali. Era saya remaja pengujung tahun 1970-an. Di ruang rekreasi yang dekat sekali dengan tangga ruang gabung, sebelahnya gedung SPG. Terpampang sebuah majalah dinding.
Di situ saya belajar ngarang puisi cinta. Cerpen yang tak tentu rudu jalinan kisahnya. Tapi tiap istrirahat, banyak siswa berkerumun di situ. Kini saya sadar, mereka bukan sedang membcara karya-tulis saja! Mereka sedang bercinta!
Pada istirahat singkat, siswa-siswi berkumpul di sana untuk membaca. Ada yang benar-benar ingin mengetahui berita sekolah, ada yang mencari tulisan teman, ada yang sekadar ikut-ikutan berdiri. Tetapi mungkin ada pula yang datang karena berharap bertemu seseorang, meskipun ia sendiri tidak akan pernah mengakuinya.
Di depan majalah dinding itulah barangkali banyak kisah dimulai tanpa suara. Seorang siswa membaca sambil berdiri. Seorang siswi datang. Mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik, lalu salah satunya menunduk dan berpura-pura kembali membaca.
Bel istirahat segera berbunyi. Mereka kembali ke kelas. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dalam beberapa detik tadi, dua hati telah mengalami sesuatu yang tidak tercatat dalam buku pelajaran.
Kadang tatap mata saja sudah cukup menggetarkan hati. Tidak perlu surat, tidak perlu kata cinta, tidak perlu janji. Ada pandangan yang begitu singkat tetapi menetap begitu lama, bahkan ketika rambut telah memutih dan orang-orang yang dahulu menjadi saksi sudah satu demi satu pergi.
Baca Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Kisah Kasih di Sekolah Para Alumni
Mungkin cinta pertama memang tidak selalu meminta untuk dimiliki. Kadang ia hanya ingin dikenang sebagai bukti bahwa pada suatu masa, hati kita pernah berdebar begitu polos.
Puluhan tahun kemudian. Para alumni kembali ke Nyarumkop. Mereka datang dengan rambut yang telah berubah, langkah yang mungkin tidak lagi secepat dahulu, dan wajah yang menyimpan begitu banyak tahun. Mereka mungkin lupa rumus, tanggal ujian, bahkan nama-nama pelajaran yang pernah mereka hafalkan. Tetapi ketika melihat tangga lama, ruang rekreasi, atau tempat majalah dinding pernah berada, ingatan tiba-tiba bekerja dengan cara yang ajaib.
Mereka tidak lagi melihat bangunan tua semata-mata. Mereka melihat dirinya sendiri pada masa muda. Anak laki-laki dengan buku di tangan, anak perempuan dengan senyum malu-malu, teman-teman yang berlari ketika bel berbunyi, dan seseorang yang dahulu diam-diam ditunggu kemunculannya. Masa lalu seakan tidak mati; ia hanya tidur di suatu sudut tempat, menunggu seseorang kembali untuk membangunkannya.
Baca Frans Tshai Ketika Kami Menjadi Bagian dari Kenangan Nyarumkop (1)
Barangkali itulah sebabnya reuni tidak pernah hanya soal bertemu teman lama. Reuni adalah perjumpaan manusia dengan waktu yang pernah ia tinggalkan. Di antara pelukan dan tawa, ada mata yang mungkin berkaca-kaca karena seseorang yang dahulu selalu hadir kini sudah tidak ada. Ada nama yang disebut pelan-pelan karena pemiliknya telah pergi. Ada kursi yang kosong, tetapi justru kekosongan itu terasa paling penuh oleh kenangan.
Dan di sanalah Nyarumkop menjadi lebih dari sekadar sekolah. Ia menjadi rumah bagi masa muda yang tidak mungkin diulang.
Di sana pernah ada cinta monyet, surat cinta, diary, tatap mata, persahabatan, perkawinan, perpisahan, dan kehilangan. Semuanya bercampur menjadi satu, seperti warna senja yang tidak bisa dipisahkan lagi satu sama lain.
Mungkin kelak, ketika semua bangunan telah berubah dan generasi baru tidak lagi mengenali tangga yang dahulu menjadi tempat berkumpul, kenangan itu tetap akan mencari jalannya sendiri. Ia akan hidup dalam cerita seorang ayah kepada anaknya, dalam sebuah diary yang ditemukan kembali, dalam foto lama yang tersimpan di laci, atau dalam sebuah nama yang tiba-tiba membuat seseorang terdiam. Sebab manusia boleh meninggalkan sekolah, tetapi sekolah tidak selalu meninggalkan manusia.
Dan jika suatu hari seorang alumni berdiri sendirian di halaman Nyarumkop, memandang tempat yang dahulu penuh suara anak-anak, mungkin ia akan mengerti mengapa matanya tiba-tiba basah. Bukan semata-mata karena ia merindukan sekolah, melainkan karena ia sedang melihat kembali begitu banyak dirinya yang telah hilang bersama waktu. Anak muda yang pernah tertawa di sana, pernah menulis surat, pernah jatuh cinta, pernah berharap, dan akhirnya menjadi tua.
Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk
Pada galibnya, mungkin kita tidak pernah benar-benar meninggalkan Nyarumkop. Kita hanya berjalan semakin jauh darinya sambil membawa sebagian kecil sekolah itu di dalam diri. Dan setiap kali kenangan membawanya pulang, kita seperti mendengar kembali bel istirahat yang sudah puluhan tahun berlalu.
Di depan majalah dinding. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan masih berdiri berhadapan; mata mereka bertemu, dunia mendadak sunyi, lalu bel berbunyi.
Mereka kembali masuk kelas. Tetapi hati mereka, tanpa mereka sadari, tertinggal di sana.
Ketika reuni. Yang kita cari ketika kembali ke Nyarumkop bukanlah masa lalu. Kita sedang mencari bagian dari diri kita yang pernah kita tinggalkan di sana.
Baca Nyarumkop yang Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan
Dan ketika akhirnya kita menemukannya, kita mengerti: ternyata yang paling kita rindukan bukan Nyarumkop, melainkan diri kita sendiri, yang dahulu pernah begitu muda, begitu polos, dan begitu mudah mencintai.
Mungkin itulah sebabnya Nyarumkop tidak pernah benar-benar kita tinggalkan.
Kita hanya pergi membawa tubuh. Hati kita, rupanya, tinggal tertinggal di sana!
Pontianak, ketika subuh jartuh 09-09-2026
0 Comments