Nyarumkop: Kisah Kasih di Sekolah (1)
| Resah dan gelisah menunggu di sini di sudut sekolah. Ist. |
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah-kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah-kasih di sekolah
-- Obbie Messakh
Kami mengenalnya dengan cara yang paling sederhana. Bahkan mungkin paling lucu: cinta!
Anak SMA menyukai anak SPG. Anak SPG menaruh hati kepada anak SMP. Kami menyebutnya pacaran. Padahal kalau ditanya "apa itu cinta?" mungkin kami hanya saling pandang dan tertawa.
Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk
Kami belum tahu bahwa cinta ternyata punya begitu banyak wajah. Kami hanya tahu bahwa ada satu wajah yang membuat pagi terasa lebih cerah daripada biasanya.
***
Pagi di Nyarumkop punya dinginnya sendiri.
Halaman sekolah perlahan penuh oleh seragam dan suara anak-anak. Dari koridor terdengar bunyi langkah kaki. Pintu kelas dibuka. Kursi digeser. Dan suara teman yang memanggil nama kawannya.
Bel belum berbunyi, tetapi mata sudah sibuk ke mana-mana. Bukan mencari guru, bukan mencari buku, melainkan mencari seseorang yang entah mengapa kehadirannya terasa penting. Begitu wajah itu tampak di antara kerumunan, hati seperti disentuh angin kecil. Tidak keras, tetapi cukup membuat seluruh hari berubah.
Baca Nama dan Tokoh Besar Jadi Penasihat IKAPKN 2026–2030
Kadang kami bertemu di koridor. Hanya berpapasan. “Pagi.” “Pagi.” Dua kata yang begitu biasa bagi orang lain, tetapi terasa seperti surat panjang bagi dua anak yang sedang belajar menyukai seseorang.
Ada yang berani menatap. Ada yang cepat-cepat membuang muka. Ada yang tersenyum lalu menunduk, seolah-olah lantai sekolah tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diperhatikan. Buku pun sering menjadi penyelamat. Dibuka, dipandang, dibolak-balik, meskipun tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepala.
Ada yang menunggu di gerbang setelah pelajaran usai. Teman-teman sudah beranjak, halaman mulai lengang, tetapi ia masih berdiri di sana dengan alasan yang tidak pernah benar-benar jelas.
Ketika orang yang ditunggu muncul, keduanya berjalan bersama. Tidak perlu sampai jauh. Dari gerbang menuju persimpangan jalan sudah cukup untuk membuat sore terasa lebih panjang. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, tentang pelajaran, guru, teman, atau apa saja yang bisa membuat perjalanan tidak cepat selesai.
Ada pula yang cintanya lebih pemalu. Tidak berjalan bersama, tidak pernah duduk berdekatan terlalu lama. Paling jauh hanya salaman. Tangan bertemu sebentar, lalu dilepaskan. Tidak ada pelukan. Rasanya belum pantas. Belum berani. Dan mungkin juga belum terpikirkan.
Baca Yustianus Terpilih Ketua IKAPKN 2026–2030, Siap Bangun dan Perkuat Jejaring Alumni
Sebuah siulan dari teman di kejauhan sudah cukup membuat dua orang itu menjauh beberapa langkah. Kami tertawa jika mengingatnya sekarang. Tetapi dahulu, satu salaman saja bisa membuat jantung bekerja lebih rajin daripada biasanya.
***
Begitulah cinta masa sekolah: kecil bentuknya, tetapi luas ruang yang ditempatinya dalam hati. Ia tidak membutuhkan bunga, restoran, atau hadiah mahal. Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk bertemu. Kadang cukup melihat seseorang lewat di halaman. Kadang cukup mendengar namanya disebut. Kadang cukup mengetahui bahwa pagi itu ia hadir di sekolah. Anehnya, kebahagiaan pada usia itu memang semurah itu, tetapi justru karena murah ia terasa begitu murni.
Nyarumkop menjadi saksi yang tidak pernah bersuara. Halaman sekolah menyimpan jejak sepatu kami. Koridor menyimpan langkah-langkah yang tergesa dan langkah-langkah yang sengaja diperlambat. Tangga menyimpan pertemuan-pertemuan singkat.
Baca Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN): Bukan Sebatas Bernostalgia, tapi Membuat Sejarah
Gerbang menyimpan mereka yang pernah menunggu. Jalan pulang menyimpan percakapan yang mungkin sudah lama hilang dari ingatan, tetapi entah bagaimana perasaan yang menyertainya masih tinggal. Tempat-tempat itu seperti halaman buku yang tidak pernah benar-benar ditutup.
Lalu waktu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak meminta izin ketika membawa kami meninggalkan Nyarumkop. Kami tumbuh, pergi, bekerja, menikah, mempunyai anak, berpindah kota, dan masuk ke dunia yang semakin ramai dengan tanggung jawab. Wajah-wajah yang dahulu setiap pagi memenuhi halaman sekolah tercerai ke berbagai penjuru. Ada yang masih sering berjumpa, ada yang hanya terdengar kabarnya, dan ada yang namanya perlahan tenggelam di dasar ingatan. Begitulah hidup: yang setiap hari terasa dekat dapat menjadi jauh hanya karena waktu.
Tetapi waktu rupanya tidak sepenuhnya menang. Ia dapat mengubah wajah, tetapi tidak selalu mampu menghapus suasana. Ia dapat memutihkan rambut, tetapi tidak dapat memutihkan kenangan. Ia dapat membawa kita jauh dari Nyarumkop, tetapi tidak dapat mengambil Nyarumkop dari dalam diri kita. Ada tempat-tempat yang setelah kita tinggalkan justru semakin dalam menetap. Nyarumkop adalah salah satunya.
Karena itu, ketika Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop berlangsung, terasa seperti ada pintu lama yang tiba-tiba dibuka. Alumni datang dari berbagai tempat, membawa tubuh yang telah ditempa usia dan kehidupan. Di halaman sekolah, orang-orang saling memperhatikan dari kejauhan. “Siapa itu?” “Oh, dia!” Nama-nama lama kembali disebut. Wajah yang mula-mula asing perlahan mendapatkan nama. Kemudian pecahlah tawa, keras dan lepas, seperti suara anak-anak yang dahulu pernah memenuhi halaman yang sama.
Ada yang berpelukan karena puluhan tahun tidak berjumpa. Ada yang menepuk bahu temannya berkali-kali. Ada yang tertawa melihat perubahan kawannya. “Dulu kurus sekali kau!” Yang ditepuk membalas, “Kau juga dulu rambutmu banyak!” Mereka tertawa lagi. Di dalam tawa itu sebenarnya tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa waktu memang telah lewat, dan kami semua telah menjadi saksi dari lewatnya waktu itu pada tubuh masing-masing.
Sebagian alumni berjalan menyusuri sekolah seperti orang yang sedang membaca kembali buku lama. “Dulu kelas kita di sini.” “Di sini dulu kita biasa duduk.” “Ini jalan kita pulang.” Kalimat-kalimat sederhana itu menghidupkan kembali ruang yang sempat tidur puluhan tahun. Seorang lelaki berdiri agak lama di halaman. Seorang perempuan menatap koridor. Mungkin mereka sedang melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain: diri mereka sendiri ketika masih muda.
Dan di tengah keramaian itu, siapa tahu, ada dua orang yang dahulu pernah saling menyukai. Mereka kini bukan lagi anak SMA, SPG, atau SMP. Rambut sudah berubah, wajah telah matang, kehidupan telah mengambil jalannya masing-masing. Ketika akhirnya berhadapan, mungkin tidak ada kata-kata besar. Hanya senyum yang mula-mula datang, kemudian sebuah salaman. Tangan bertemu sebentar, persis seperti puluhan tahun lalu.
“Masih ingat?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi di belakangnya berderet tahun-tahun yang panjang. Ada halaman sekolah. Ada pagi yang dingin. Ada koridor. Ada gerbang. Ada jalan pulang. Ada sapaan yang dahulu membuat hati berdebar. Ada salaman yang dahulu begitu berarti. Dan ada dua anak muda yang pernah berdiri di sana, belum mengerti bahwa suatu hari mereka akan kembali sebagai orang dewasa dan mengenang semuanya dengan hati yang lain.
Baca Doraman
Barangkali itulah yang paling mengharukan dari reuni. Kita datang untuk bertemu teman, tetapi diam-diam kita juga bertemu diri kita sendiri. Kita mencari wajah-wajah lama, tetapi yang kita temukan sering kali adalah bagian dari diri yang telah lama kita tinggalkan.
Masa muda ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi di tempat-tempat tertentu, menunggu sebuah nama disebut, sebuah lagu terdengar, sebuah halaman diinjak kembali, atau seseorang bertanya, “Masih ingat?”
Dan kita ingat. Bahkan mungkin terlalu ingat.
Sebab ada kenangan yang tidak pernah meminta untuk kembali, tetapi ketika ia datang, hati kita menyambutnya seperti rumah menyambut anak yang lama pergi. Kita tahu masa itu tidak mungkin diulang. Anak-anak yang dahulu berlari di halaman Nyarumkop tidak akan kembali menjadi anak-anak. Gerbang tidak dapat mengembalikan langkah yang telah pergi. Koridor tidak dapat memanggil kembali suara-suara yang telah ditelan waktu.
Namun ada sesuatu yang tetap tinggal: rasa. Mungkin karena itu cinta monyet masa sekolah tidak patut ditertawakan terlalu jauh. Ia memang polos, kadang konyol, bahkan mungkin tidak pernah menjadi kisah cinta yang sesungguhnya. Tetapi ia pernah mengajarkan kepada kita sebuah rahasia kehidupan: bahwa manusia dapat bahagia hanya karena seseorang menyapanya, dapat menunggu hanya demi sebuah pertemuan, dan dapat menyimpan sebuah salaman selama puluhan tahun tanpa pernah tahu mengapa.
Kini kita mengerti sesuatu yang dahulu belum kita mengerti. Tidak semua pertemuan ditakdirkan menjadi kebersamaan. Tidak semua rasa harus berakhir dengan memiliki. Ada orang-orang yang hadir hanya untuk menjadi bagian dari masa tertentu dalam hidup kita, lalu pergi membawa jalannya sendiri. Tetapi kehadirannya tetap meninggalkan cahaya kecil yang kadang baru terlihat ketika usia telah jauh berjalan.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Maka ketika reuni berakhir dan halaman Nyarumkop kembali perlahan sepi. Bisa jadi ada alumni yang menoleh sekali lagi sebelum pergi. Ia melihat gedung sekolah, halaman, koridor, gerbang, dan jalan yang dahulu begitu akrab.
Di tempat itu. Puluhan tahun lalu. Seorang anak muda pernah menunggu seseorang. Ia belum tahu tentang hari tua, belum tahu tentang kehilangan, belum tahu bahwa waktu adalah sungai yang mengalir sekali dan tidak pernah kembali.
Kini ia tahu. Karena itu, ia tersenyum. Bukan karena semuanya masih sama, melainkan karena akhirnya ia memahami: yang paling kita rindukan dari sekolah bukanlah bangunannya, bukan pula pelajarannya. Yang kita rindukan adalah diri kita sendiri ketika masih muda.
Tatkala sebuah sapa terasa seperti cinta. Segenggam salaman terasa seperti janji. Dan sejumput pagi di Nyarumkop terasa seolah-olah dunia belum pernah kehilangan apa-apa.
Masri Sareb Putra
Pontianak, ketika subuh jartuh 09-09-2026
0 Comments