Doraman
| Pastor Damian, asli namanya Doraman (kiri). dan saya. Ist. |
Ada orang yang pernah begitu dekat dengan hidup kita. Lalu waktu membuat jauh. Bukan karena persahabatan berakhir, melainkan karena kehidupan membawa kita ke jalan masing-masing. Namanya abadi. Tetap tersimpan pada suatu sudut hati.
Sesekali muncul ketika kita melewati sebuah tempat. Mendengar sebuah nama. Atau tiba-tiba teringat pada masa ketika hidup belum serumit sekarang. Doraman adalah salah satu nama yang melintas ingatan itu bagi saya.
Baca Nyarumkop, Tempat Mereka Pernah Menjadi Muda
Nama aslinya memang Doraman. Saya mengenalnya sejak kami sama-sama duduk di SMP Jangkang Benua pada 1974. Ia berasal dari kampung Semombat. Pada masa itu, perjalanan dari Semombat menuju Jangkang bukan sesuatu yang mudah.
Berjalan kaki bisa memakan waktu sekitar lima jam. Doraman sendiri tinggal di Sekantot, kira-kira dua puluh menit dari sekolah kami, SMP Gunung Bengkawan.
Kami masih anak-anak. Kami belum tahu akan menjadi apa kelak. Kami hanya tahu bahwa pagi hari harus sekolah dan kehidupan di rumah tetap harus dijalani.
Dari Jangkang tahun 1977/1978. Kami berempat lulus tes masuk PKN: Doraman, saya, Juseng, dan Daus. Lulus SMA, Doraman kemudian masuk seminari tinggi Kapusin di Sumatera Utara.
Ketika kemudian Doraman masuk seminari di Pematang Siantar, kawasan Prapat, sebuah babak baru dimulai dalam hidupnya. Di sana ia mengganti nama menjadi "Damian". Nama biara itu diambil dari seorang santo.
Sejak saat itu. Doraman yang kami kenal sebagai teman sekolah di Jangkang mempunyai nama baru dalam perjalanan panggilannya. Namun bagi kami, teman-teman masa kecilnya, ia tetap Doraman. Nama yang lahir dari kampung. Nama yang melekat pada masa sekolah. Nama yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Setiap pagi, Doraman pergi ke kebun karet di kaki bukit Sungai Dagu. Saya pergi ke kebun ayah di hilir sungai. Jalan kami kadang mempertemukan kami.
Baca Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN): Bukan Sebatas Bernostalgia, tapi Membuat Sejarah
Saya masih ingat. Bagaimana Doraman menyadap karet. Ia mahir. Pisau sadap berada di tangannya seperti sesuatu yang sudah dikenalnya sejak lama. Gerakannya cekatan dan teratur. Batang-batang karet menjadi bagian dari kehidupan kami. Getah yang menetes ke mangkuk-mangkuk kecil itu mungkin bagi kami dulu hanyalah pekerjaan biasa. Sekarang, ketika mengingatnya kembali, saya merasa seolah sedang melihat sebuah foto lama yang tiba-tiba hidup di depan mata.
Kami memang anak-anak sekolah, tetapi kami juga anak-anak kebun. Tidak ada istilah khusus untuk menggambarkan kemandirian kami waktu itu. Kami hanya menjalani kehidupan sebagaimana adanya.
Sebelum belajar di sekolah, kami sudah belajar dari orang tua, dari kebun, dari sungai, dari jalan kaki, dan dari pekerjaan. Kami belajar bahwa sesuatu yang ingin diperoleh harus diperjuangkan. Kami mungkin tidak memiliki banyak hal, tetapi kami memiliki pengalaman yang kelak menjadi bekal menghadapi kehidupan.
***
Di sekolah itulah kami bertemu dengan guru-guru yang sampai hari ini tidak mudah dilupakan. Ada Ibu Agus, Toni yang kemudian menjadi Suster Andriana, Pak Talai, Pak Bernard, dan Pak Ulan. Mereka mengisi masa muda kami dengan pelajaran dan keteladanan.
Puluhan tahun kemudian. Pada Reuni Akbar PKN tanggal 4 September. Saya bertemu lagi dengan Ibu Agus. Saya mendatanginya. Saya tidak membawa hadiah istimewa. Hanya sebotol air mineral dan sebuah jeruk. Tetapi ketika saya melihat wajahnya, tampak jelas kegembiraan seorang guru yang kembali bertemu dengan muridnya setelah waktu yang sangat panjang.
Saya tidak tahu apakah Ibu Agus masih mengingat semua muridnya satu per satu. Mungkin tidak. Wajar. Ia telah mengajar begitu banyak anak. Tetapi bagi seorang murid, guru sering kali tinggal lebih lama dalam ingatan daripada yang disadari sang guru sendiri. Ada wajah guru yang tetap hidup meskipun ruang kelasnya telah lama kosong. Ada nama teman yang tetap melekat meskipun puluhan tahun telah lewat. Dan ada masa muda yang, betapapun jauhnya kita berjalan, tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.
Begitu pula dengan Doraman. Setelah masa sekolah, jalan hidupnya ternyata sangat jauh. Dari kampung dan kebun karet, ia melangkah menuju dunia pendidikan dan panggilan hidup. Dari Pematang Siantar dan Prapat, perjalanan itu membawanya sampai ke Roma. Ia pernah kuliah di Roma dan menyelesaikan Lisensiat Liturgi. Betapa jauh perjalanan itu jika dibandingkan dengan seorang anak kampung yang dahulu setiap pagi menyadap karet di kaki bukit Sungai Dagu. Dari jalan kebun di Jangkang menuju Roma, kehidupan telah membawanya melewati jarak yang mungkin dahulu tidak pernah kami bayangkan.
Doraman sendiri pernah mengalami stroke ringan. Namun itu tidak menghalangi keinginan untuk terus berkarya. Bahkan ia banyak membuat dan memposting kontan.
Lama terpendam keinginan saya berusaha mencari Doraman, yang kini berada di pastoran Singkawang. Pagi itu saya bersama sahabat saya, Akim. Kami mendapat kabar bahwa Doraman masih berada di kebun. Maka kami pergi ke sana. Tidak ada persiapan khusus. Tidak ada acara. Tidak ada panggung. Hanya sebuah pagi dan seorang sahabat lama yang sedang berada di kebun.
Ketika akhirnya kami bertemu, saya melihat wajah yang tidak pernah benar-benar asing bagi saya. Empat puluh tahun telah berlalu, tetapi hati rupanya mempunyai cara sendiri untuk mengenali seseorang. Kami tidak perlu banyak bicara. Kami langsung berpelukan.
Empat puluh tahun bukan waktu yang pendek. Dalam empat puluh tahun, begitu banyak hal telah terjadi. Kami tumbuh. Kami berubah. Kami kehilangan orang-orang yang kami cintai. Kami menempuh pendidikan. Kami bekerja. Kami mengalami kegembiraan dan kesedihan. Kami melewati masa-masa yang mungkin tidak pernah kami ceritakan kepada satu sama lain. Namun ketika berhadapan, semua jarak itu seperti runtuh begitu saja.
***
Dalam pelukan itu, saya seperti kembali menjadi anak sekolah.
Saya kembali melihat jalan pagi di Jangkang. Saya melihat Doraman menyadap karet. Saya melihat diri saya sendiri berjalan menuju kebun ayah.
Saya mendengar suara sungai. Saya melihat sekolah kami. Saya teringat guru-guru kami. Semuanya muncul begitu cepat, seolah-olah empat puluh tahun bukanlah empat puluh tahun, melainkan hanya jeda panjang antara dua perjumpaan.
Bca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Mungkin Doraman juga merasakan hal yang sama. Di hadapan saya bukan Damian, mahasiswa Roma, bukan seorang yang pernah menempuh Lisensiat Liturgi, bukan pula sosok yang kini dikenal di lingkungan gereja. Di hadapan saya pagi itu adalah Doraman. Anak Sekantot. Teman sekelas. Anak yang setiap pagi menyadap karet di kaki bukit Sungai Dagu. Sahabat yang dahulu berpapasan dengan saya dalam perjalanan menuju kebun.
Itulah yang membuat perjumpaan itu begitu mengharukan. Waktu boleh mengubah nama. Kehidupan boleh memberikan gelar. Pendidikan boleh membawa seseorang sampai ke Roma. Tetapi ada nama yang tidak pernah benar-benar berubah di dalam hati sahabatnya. Bagi saya, ia tetap Doraman.
Doraman tidak dapat mengikuti Reuni Akbar PKN. Namun ia menitipkan pesan kepada kami, para alumni: tetap sehati!
Hanya dua patah kata saja! Tetapi saya merasa pesan itu jauh lebih besar daripada sekadar ajakan untuk menjaga hubungan. Ia seperti mengingatkan kami agar jangan melupakan perjalanan panjang yang dahulu mempertemukan kami. Jangan lupa bahwa sebelum menjadi siapa-siapa, kami pernah menjadi anak-anak sekolah yang berjalan kaki, bekerja di kebun, belajar dari guru, dan bermimpi dengan cara kami sendiri.
Hari itu saya pulang membawa sesuatu yang tidak bisa dibeli. Saya membawa kembali kenangan tentang seorang sahabat. Saya membawa kembali wajah Doraman ketika kami berpelukan setelah empat puluh tahun. Saya juga membawa kesadaran bahwa manusia boleh memiliki nama baru dalam perjalanan hidupnya, boleh pergi sejauh Roma, boleh menempuh pendidikan tinggi dan menjalani panggilan hidupnya. Tetapi di mata sahabat masa kecil, ia tetaplah orang yang dahulu berjalan bersama kita.
Doraman, dahulu kita hanya dua anak sekolah yang berpapasan di pagi hari antara kebun dan sekolah. Engkau dengan kebun karetnya di kaki bukit Sungai Dagu. Saya dengan kebun ayah di hilir sungai. Kita tidak pernah tahu bahwa suatu hari nanti kita akan berjalan begitu jauh, lalu dipertemukan kembali setelah empat puluh tahun.
***
Pagi itu. Tanggal 4 September 2026. Di pastoran paroki Singkawang agak ke ruang dalam. Saya bertemu bukan hanya dengan Damian.
Baca Masri Lengkapi Narasumber Studium Generale STT Pontianak, Tegaskan Pentingnya Kembali ke Teks Primer sebagai Penguatan "Ekklesia Domestika"
Saya bertemu kembali dengan Doraman. Dengan sahabat yang pernah menjadi bagian dari masa muda saya. Dengan seorang anak kampung yang dahulu saya kenal sebelum ia memiliki nama biara, sebelum ia sampai ke Roma, sebelum kehidupan membawanya begitu jauh.
Dan ketika kami berpelukan. Saya merasa bahwa yang kembali pagi itu bukan hanya seorang sahabat. Yang kembali adalah sebagian dari masa muda kami yang selama empat puluh tahun tersimpan diam-diam di dalam hati.
Pesanmu kami dengar, Doraman: tetap sehati, para alumni PKN. Sebab setelah begitu jauh kita berjalan. Setelah nama dan kehidupan berubah. Kita tetap mempunyai satu tempat untuk pulang: kenangan tentang orang-orang yang dahulu berjalan bersama kita.
Catatan: Masri Sareb Putra
Pontianak, penerbangan yang tertunda
7 September 2026
0 Comments