Frans Tshai Ketika Kami Menjadi Bagian dari Kenangan Nyarumkop (1)

Frans Tshai Ketika Kami Menjadi Bagian dari Kenangan Nyarumkop
Frans Tshai (Dr. med.) kiri pembaca, berjenggot dan berkumis. ISt.

Pagi 4 September 2026 di Wisma Emaus, Nyarumkop, belum benar-benar ramai. Beberapa orang sudah berada di ruang makan, sementara yang lain masih bersiap mengikuti acara pembukaan peringatan 110 tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Di antara orang-orang itu saya melihat seorang lelaki berjenggot putih. Saya mengenalnya! Tiga puluh lima tahun lalu, kami pernah duduk bersama dalam rapat-rapat di Jakarta.

Baca Yustianus Terpilih Ketua IKAPKN 2026–2030, Siap Bangun dan Perkuat Jejaring Alumni

“Kita jumpa lagi!” saya menyapanya.

Frans Tshai mengulas senyum. Saya memperhatikannya beberapa jeda.

Wajahnya sudah banyak berubah dibandingkan ketika pertama kali saya mengenalnya pada 1991. Jenggot dan kumisnya kini putih, rambutnya juga telah berubah warna. Usia 84 tahun. Tetapi ada sesuatu yang tidak berubah: ketenangan pada wajahnya dan sorot mata yang dahulu saya kenal.

Saya berkata, “Sehat selalu macam dulu, tak berubah.”

Ia tersenyum lagi, kemudian menunjuk telinganya. “Ini sudah mulai kurang berfungsi.”

Kami tertawa. Percakapan pagi itu pendek, tetapi bagi saya terasa panjang. Sebab di antara kalimat-kalimat sederhana itu terbentang 35 tahun perjalanan hidup. Ada Jakarta, ada Nyarumkop, ada orang-orang yang dahulu bekerja bersama kami, dan ada sebuah buku kenangan yang menjadi alasan kami pernah begitu sering duduk satu meja.

***

Saya mengenal Frans pada 1991 ketika kami mempersiapkan buku kenangan 75 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop. Kami bekerja bersama Anna Lim, Pastor Herman Ahie, dan Mariatmo (dulu eks bruder MTB yang jadi awam), yang ketika itu menjadi kepala Toko Buku Obor di Jalan Gunung Sahari, Jakarta.

Baca Nyarumkop, Tempat Mereka Pernah Menjadi Muda

Pertemuan kami bukan hanya sekali dua kali. Ada rapat yang membicarakan isi buku, ada pertemuan untuk memeriksa bahan, ada pembicaraan tentang foto-foto lama, dan ada pula bagian-bagian yang harus ditelusuri kembali karena nama atau tahunnya perlu dipastikan.

Saya masih dapat membayangkan meja kerja kami ketika itu. Kertas-kertas, foto lama, catatan, naskah yang harus dibaca ulang, dan berbagai bahan tentang perjalanan PKN menjadi bagian dari kesibukan kami. Belum seperti sekarang ketika dokumen dapat dikirim dalam hitungan detik melalui telepon. Banyak bahan harus dicari, dikumpulkan, dibawa, dibaca satu per satu, kemudian diperiksa lagi. Sebuah foto lama bisa menjadi bahan pembicaraan panjang karena kami harus memastikan siapa yang ada di dalamnya, kapan foto itu dibuat, dan peristiwa apa yang sedang berlangsung.

Dalam rapat-rapat seperti itu, Frans tidak pernah menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia lebih sering duduk mendengarkan, memperhatikan bahan yang ada di meja, lalu masuk ke dalam pembicaraan ketika ada sesuatu yang menurutnya perlu diluruskan. Cara seperti itu membuat kehadirannya terasa tenang, tetapi bukan berarti tidak penting. Justru karena ia tidak banyak bicara, ketika Frans menyampaikan pendapat, kami biasanya memperhatikannya.

Baca Nyarumkop, Tempat Mereka Pernah Menjadi Muda

Ada kalanya sebuah nama perlu diperiksa kembali. Ada tahun yang harus dicocokkan. Ada cerita yang perlu ditanyakan kepada orang yang mengalami langsung. Pekerjaan semacam itu membutuhkan kesabaran, sebab buku kenangan tidak boleh hanya mengandalkan ingatan yang sudah berjarak puluhan tahun. Kami berusaha sedapat mungkin membuat apa yang kami tulis mempunyai dasar yang jelas.

Dari situ saya semakin mengenal Frans. Ia orang yang kalem dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan pendapat. Ia tidak mempunyai kebutuhan untuk mendominasi rapat. Baginya, yang penting adalah pekerjaan selesai dengan baik dan apa yang dicatat dalam buku dapat dipertanggungjawabkan. Dalam suasana kerja yang kadang penuh pendapat berbeda, sikap seperti itu terasa menenangkan.

Hal yang paling saya ingat darinya adalah kejujuran. Jika ada bahan yang belum jelas, ia tidak berpura-pura tahu. Jika ada sesuatu yang menurutnya kurang tepat, ia menyampaikannya. Tidak ada keinginan untuk membuat semuanya tampak sempurna hanya karena sebuah buku kenangan harus terlihat bagus. Bagi saya, justru sikap seperti itulah yang membuat Frans mudah dipercaya.

Pekerjaan itu berlangsung dalam suasana Jakarta yang berbeda dari sekarang. Kami belum mengenal dunia komunikasi seperti hari ini. Untuk menghubungi seseorang, tidak selalu mudah. Dokumen tidak berpindah melalui pesan elektronik. Banyak hal harus dilakukan dengan pertemuan langsung, telepon, surat, atau menitipkan bahan kepada seseorang. Karena itu, setiap rapat mempunyai arti. Kami datang membawa bahan masing-masing, duduk bersama, membaca, membicarakan, lalu menentukan apa yang perlu dilakukan berikutnya.

***

Bagi saya, kenangan tentang rapat-rapat itu sekarang terasa semakin berharga. Ketika masih mengerjakannya, kami tentu lebih banyak memikirkan pekerjaan yang ada di depan mata. Kami ingin buku itu selesai. Kami ingin bahan-bahannya lengkap. Kami ingin nama-nama yang pernah menjadi bagian dari Nyarumkop tidak terlewat. Kami belum berpikir bahwa 35 tahun kemudian, meja rapat dan wajah-wajah yang duduk di sekelilingnya justru akan menjadi bagian dari kenangan kami sendiri.

Ketika itu kami mungkin belum menyadari sepenuhnya bahwa pekerjaan tersebut sebenarnya adalah pekerjaan merawat ingatan. Sebuah sekolah tidak hanya terdiri atas bangunan dan ruang kelas. Di dalam sejarahnya ada guru, murid, kepala sekolah, pegawai, orangtua, dan banyak orang lain yang datang pada zamannya masing-masing. Ketika mereka pergi, yang tersisa sering kali hanyalah nama dan cerita. Buku kenangan mencoba menjaga agar keduanya tidak hilang.

Dalam proses itulah saya mengenal watak Frans. Ia orang yang kalem dan tidak banyak bicara. Ia lebih suka mendengarkan dan memperhatikan sebelum menyampaikan pendapat. Tetapi diamnya bukan berarti tidak melihat. Sorot matanya tajam, seolah-olah ia ingin memahami persoalan terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu.

Hal yang paling saya ingat darinya adalah kejujuran. Frans tidak mempunyai kebiasaan memperindah sesuatu hanya agar terdengar baik. Ia mengatakan apa yang menurutnya benar. Sikap semacam itu mungkin tampak sederhana, tetapi justru karena tidak dibuat-buat, ia mudah diingat.

Setelah buku kenangan itu selesai, kehidupan membawa kami ke jalan masing-masing. Tahun-tahun berlalu. Jakarta 1991 semakin jauh. Orang-orang yang dahulu sering kami jumpai tidak lagi berada dalam satu ruang. Sebagian masih dapat ditemui, sebagian lain hanya muncul dalam percakapan ketika seseorang mengenang masa lalu.

***

Nyarumkop kemudian mempertemukan kami kembali.

Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan semacam ini. Kita biasanya mengenali seseorang melalui wajahnya. Namun setelah puluhan tahun, wajah itu sudah berubah. Kita lalu mengenalinya melalui hal-hal lain: suara, cara tersenyum, cara memandang, cara berbicara, atau bahkan sebuah kebiasaan kecil yang ternyata tidak ikut hilang bersama waktu.

Baca Buku 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop Disiapkan untuk Reuni Akbar Alumni

Pada Frans, saya mengenalinya melalui ketenangan dan sorot matanya. Jenggot putihnya justru membuat perbedaan zaman itu semakin jelas. Saya melihat seorang Frans yang telah melewati 35 tahun, tetapi sekaligus melihat lelaki yang dahulu duduk bersama kami di Jakarta.

Waktu memang bekerja tanpa banyak suara. Ia mengubah rambut menjadi putih, membuat pendengaran tidak setajam dulu, meninggalkan garis pada wajah, dan mengubah cara tubuh bergerak. Kita sering tidak menyadarinya ketika mengalaminya hari demi hari. Tetapi ketika berhadapan dengan seseorang setelah 35 tahun, perubahan itu terlihat sekaligus.

Ucapan Frans tentang telinganya yang mulai kurang berfungsi tiba-tiba menjadi penanda sederhana tentang usia. Dulu kami sibuk dengan pekerjaan. Sekarang kami mulai berbicara tentang tubuh yang berubah. Dulu kami menyusun cerita tentang orang-orang yang telah melewati masa mereka. Kini, tanpa disadari, kami sendiri mulai masuk ke dalam cerita masa lalu itu.

Pada 1991, kami membuat buku kenangan untuk memperingati 75 tahun PKN. Pada 2026, Nyarumkop memperingati 110 tahun. Rentang 35 tahun itu ternyata bukan hanya mengubah angka usia sekolah. Ia juga mengubah posisi kami di dalam sejarahnya.

Dulu kami adalah orang-orang yang mencatat. Sekarang kami menjadi orang-orang yang dicatat oleh waktu. Frans adalah salah satunya.

Ia pernah membantu mengerjakan sebuah buku tentang perjalanan Nyarumkop. Kini kehadirannya sendiri merupakan bagian dari perjalanan tersebut. Ia membawa sebuah cerita yang menghubungkan dua peringatan: 75 tahun dan 110 tahun. Ia juga menghubungkan dua generasi waktu dalam kehidupan kami: masa ketika rambut masih hitam dan masa ketika rambut telah putih.

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti itu. Tidak semua perpisahan berakhir dengan perjumpaan kembali. Ada orang-orang yang dahulu duduk bersama kita tetapi kemudian pergi untuk selamanya. Ada yang masih hidup, tetapi jarak dan keadaan membuat kita tidak lagi tahu bagaimana kabarnya. Karena itu, bertemu kembali setelah 35 tahun bukan perkara kecil.

Saya kira itulah sebabnya sapaan “Kita jumpa lagi!” pagi itu terasa berbeda. Ia bukan hanya sapaan kepada seorang sahabat lama. Ia seperti pengakuan bahwa hidup ternyata telah membawa kami begitu jauh, tetapi masih memberi kesempatan untuk bertemu di tempat yang menjadi bagian dari cerita kami.

Saya memandang Frans dengan jenggot putihnya. Dalam dirinya saya melihat sesuatu yang sederhana: manusia boleh berubah oleh waktu, tetapi tidak harus kehilangan wataknya. Wajah berubah, rambut memutih, pendengaran berkurang. Namun ketenangan, perhatian, dan kejujuran dapat tetap tinggal jika seseorang menjaganya sepanjang hidup.

Barangkali pada akhirnya itulah yang paling layak dikenang dari seseorang. Bukan berapa lama rambutnya tetap hitam, seberapa cepat langkahnya ketika muda, atau berapa banyak tahun yang telah dilewatinya. Yang tinggal lebih lama justru cara ia memperlakukan orang lain dan kesan yang ditinggalkannya ketika sebuah perjumpaan telah selesai.

Pagi itu kami hanya berbicara sebentar di ruang makan Wisma Emaus. Tidak ada percakapan besar. Tidak ada acara khusus untuk mengenang perjumpaan kami. Namun bagi saya, pagi itu cukup untuk membuka kembali sebuah halaman lama yang ternyata belum selesai.

Baca Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN): Bukan Sebatas Bernostalgia, tapi Membuat Sejarah

Tiga puluh lima tahun lalu. Kami duduk bersama untuk menulis buku kenangan tentang Nyarumkop. Kami mengira sedang menuliskan masa lalu orang lain. Kini saya menyadari, waktu telah membawa kami masuk ke dalam halaman yang sama.

Dulu kami menulis tentang Nyarumkop. Kini, setelah 35 tahun, kami telah menjadi bagian dari kenangan Nyarumkop itu sendiri.

Pagi di Pontianak, 08 September 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.