Nyarumkop, Tempat Mereka Pernah Menjadi Muda
| Sebagian tangkapan layar kamera reuni akbar 110 tahun PKN yang seru itu. Ist. |
Oleh Masri Sareb Putra
Alumnus PKN 1980, tinggal di Jakarta.
Lebih dari 700 alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) dari berbagai angkatan pulang ke Nyarumkop, Singkawang, Kalimantan Barat, pada 4–6 September 2026. Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Dari kota-kota lain di Indonesia. Bahkan dari luar negeri.
Ada déjà vu yang datang diam-diam. Seakan-akan pernah berada di tempat itu baru kemarin sore saja. Sementara peristiwa itu puluhan tahun lalu. Sebuah lorong, pohon, halaman, suara, bahkan sepotong percakapan dapat tiba-tiba membuka pintu yang lama tertutup.
Baca Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN): Bukan Sebatas Bernostalgia, tapi Membuat Sejarah
Di balik pintu itu. Sorang bocah muda belia. Wajah lugu itu kembali hadir dengan raut yang belum banyak berubah oleh kehidupan.
Para alumni tiba membawa usia yang kian bertambah, profesi yang berbeda, keluarga, pengalaman, dan kehidupan yang panjang. Tetapi di Nyarumkop, semua itu seperti berhenti sejenak. Para alumni bertemu kembali dengan diri mereka sendiri yang pernah ditinggalkan di sana. Dengan masa ketika hidup belum serumit sekarang. Ketika persahabatan cukup dibangun dari duduk bersama. Ketika kebahagiaan bisa datang dari hal-hal yang sederhana.
***
Nyarumkop hari-hari itu seperti membuka kembali sebuah pintu. Orang-orang berdatangan. Saling mencari wajah. Saling memanggil nama. Ada yang langsung berpelukan. Ada yang memandang beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kamu, kan?” Sebuah sapaan sederhana tiba-tiba menghapus jarak puluhan tahun.
Begitulah manusia. Wajah berubah. Rambut memutih. Tubuh tidak lagi seringan dahulu. Sebagian sudah menjadi kakek dan nenek. Tetapi suara dan tawa sering lebih awet daripada wajah. Sebuah cara memanggil nama dapat membawa seseorang kembali kepada masa yang jauh. Yang muncul bukan hanya orang yang berdiri di hadapan kita, melainkan sosok yang dahulu berlari di halaman sekolah.
Baca Writing Skill sebagai Salah Satu Materi Sekolah Kepemimpinan dan Konglomerasi Koperasi (SK-3)
Di luar susunan acara resmi, banyak cerita kecil menemukan tempatnya. Dua orang duduk berhadapan. Tiga orang tertawa di sudut halaman. Sekelompok teman berpindah dari satu meja ke meja lain. Tidak ada protokol. Tidak ada moderator. Percakapan berlangsung tanpa perlu dicatat dalam agenda. Di sanalah “haha-hihi” mendapat tempat yang semestinya.
Satu nama disebut. Lalu nama lain. Kemudian seseorang bertanya tentang guru. Yang lain menyambung cerita tentang asrama. Dari asrama bergerak ke makanan. Dari makanan menuju kejadian lucu. Cerita tumbuh seperti ranting. Tidak seorang pun tahu persis ke mana percakapan akan berakhir. Tetapi semua merasa seperti baru saja menemukan sebuah pintu yang lama tertutup.
Nama-nama guru pun kembali disebut: Pak Suyadi, Victor Subiastoro, Suratman, Slamet, Tukiji, Haryanto, Harjanto, Bruder Claudius, Sr, Jeanne Marie, dan banyak lagi.
Dahulu kala. Mereka adalah bagian dari keseharian siswa. Ada tugas. Ada ulangan. Ada disiplin. Ada teguran. Kini nama-nama itu disebut dengan nada berbeda. Di belakangnya ada rasa hormat yang baru tumbuh setelah murid menjalani kehidupan sendiri.
Dahulu kita mungkin tidak memahami mengapa guru begitu tegas. Teguran terasa sebagai beban. Aturan kadang ingin dilanggar. Namun kehidupan kemudian mengajarkan hal lain. Guru ternyata tidak sekadar mengajarkan mata pelajaran. Mereka mengajarkan ketekunan. Tanggung jawab. Cara menghormati orang lain. Cara berdiri kembali ketika jatuh. Banyak pelajaran itu baru terasa nilainya setelah kita meninggalkan halaman sekolah.
Sebagian guru masih dapat ditemui. Sebagian telah berpulang. Nama mereka tetap disebut. Ada yang disambut dengan tawa. Ada yang membuat orang terdiam. Sebab kematian mengubah cara kita menyebut seseorang. Nama yang dahulu dipanggil untuk menjawab pertanyaan di kelas, kini disebut dengan doa. Mereka memang tidak lagi hadir secara fisik. Tetapi pengaruh mereka masih berjalan melalui murid-murid yang pernah mereka didik.
Baca Dari Jatinangor ke Sekadau: Prof. Agus Pakpahan, Masri Dan Gunarso Matangkan Ledakan Literasi Dayak 2026
Lalu seseorang menyebut bubur Pak Lelen. Aneh, betapa sebuah makanan sederhana dapat membuka begitu banyak pintu. Bubur bulgur itu dahulu disantap pada pagi hari. Hangat. Mengenyangkan. Tidak mewah. Tetapi bagi mereka yang pernah menyantapnya, rasanya seperti masih tersimpan di suatu sudut lidah. Sebuah mangkuk tiba-tiba menjadi jalan menuju pagi-pagi yang telah lama berlalu.
Mungkin bukan buburnya semata yang dicari. Ada pagi yang dingin. Ada anak-anak asrama. Ada rasa lapar. Ada teman-teman yang duduk bersama. Ada seseorang yang telah memikirkan bahwa sebelum belajar, anak-anak harus makan. Dari makanan sederhana itu tampak sebuah bentuk perhatian yang mungkin dahulu tidak disadari. Baru ketika dewasa, kita mengerti bahwa kepedulian sering hadir tanpa banyak bicara.
Dari semangkuk bubur, kita sampai pada sepotong ikan asin. Bagi orang lain, mungkin tidak ada yang istimewa. Tetapi kehidupan anak asrama memang sering dibangun oleh hal-hal semacam itu. Sepotong ikan asin. Sepiring nasi. Teman di sebelah. Makanan yang dibagi. Rasa cukup yang dahulu tidak pernah disebut sebagai teori, tetapi dijalani setiap hari.
Kemudian nama Pak Nungkat muncul. Rumahnya terbuka bagi anak-anak asrama. Mereka yang membutuhkan makanan dapat datang. Ada perhatian terhadap perbaikan gizi. Tidak ada spanduk. Tidak ada penghargaan.
Tidak ada kamera yang mengabadikan semuanya. Hanya sebuah rumah dan orang-orang yang bersedia membuka pintunya bagi anak-anak yang membutuhkan.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Bagi seorang anak yang jauh dari orang tua, pintu rumah yang terbuka dapat berarti sangat besar. Sepiring makanan dapat berkata: kamu tidak sendirian. Ada yang memperhatikanmu. Kebaikan seperti itu jarang masuk ke dalam sejarah resmi. Tidak tercatat dalam prasasti. Tidak menjadi judul berita. Tetapi justru karena itu ia dapat tinggal paling lama dalam diri seseorang.
Lalu suasana berubah. Ada yang mengaku sebagai “mantan”. Ada cerita cinta zaman sekolah. Ada nama seseorang yang dahulu membuat jantung berdebar lebih cepat. Ada kisah salah tingkah yang kini menjadi bahan tertawaan. Masa muda memang sering begitu. Kita pernah menganggap persoalan kecil sebagai perkara besar. Pernah jatuh cinta dengan sangat serius. Pernah marah karena hal sepele. Kini semua itu dapat ditertawakan bersama.
Pernah berbuat nakal. Pernah bertengkar. Pernah berdamai. Pernah merasa dunia hanya sebesar halaman sekolah. Tidak semuanya indah. Tidak semuanya perlu dibanggakan. Tetapi semua itu pernah menjadi bagian dari kehidupan. Mungkin justru karena pernah melalui berbagai hal bersama, sebuah kelompok pertemanan dapat bertahan melampaui jarak dan usia.
Mereka yang hadir membawa kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pemimpin. Ada yang menjadi profesional. Ada yang menjalani kehidupan sederhana. Ada yang tinggal di kota besar. Ada yang jauh di luar negeri. Namun di Nyarumkop, perbedaan itu sejenak menjadi tidak penting. Yang tersisa adalah manusia. Orang yang dahulu duduk di bangku sebelah. Orang yang pernah berbagi kamar. Orang yang pernah meminjamkan buku. Orang yang pernah membantu ketika sedang susah.
Di tengah kegembiraan itu, beberapa nama justru terasa karena ketidakhadirannya. Tidak semua orang yang diharapkan hadir masih dapat datang. Beberapa guru telah tiada. Beberapa sahabat telah berpulang. Ada wajah yang seharusnya berada di antara kerumunan, tetapi hanya dapat dihadirkan melalui cerita. Pada titik tertentu, perjumpaan bukan lagi sekadar tentang siapa yang datang. Ia juga tentang mereka yang tidak mungkin datang lagi.
Maka sebuah pelukan menjadi lebih berarti. Jabat tangan menjadi lebih lama. Foto bersama menjadi lebih dari sekadar dokumentasi. Ada kesadaran sederhana bahwa manusia harus menghargai perjumpaan selagi kesempatan itu masih ada. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah pertemuan menjadi yang terakhir. Karena itu, tiga hari di Nyarumkop terasa seperti sebuah kesempatan yang patut disyukuri.
Di halaman Nyarumkop, 110 tahun perjalanan Persekolahan Katolik Nyarumkop bukan hanya angka. Ia adalah rentang hidup yang diisi manusia. Guru dan murid. Bruder dan siswa. Asrama dan ruang kelas. Makan pagi dan upacara. Teguran dan persahabatan. Buku yang dibaca. Cita-cita yang mulai tumbuh. Semua itu menjadi bagian dari sejarah yang tidak hanya tersimpan dalam arsip, tetapi juga dalam diri orang-orang yang pernah mengalaminya.
Karena itu, peluncuran Buku Kenangan 110 Tahun PKN memiliki arti lebih daripada sekadar menerbitkan sebuah buku. Ia menjadi usaha menyimpan jejak perjalanan lembaga pendidikan melalui manusia-manusia yang pernah hidup di dalamnya. Penanaman pohon pun seperti mengatakan sesuatu yang sederhana: sekolah tidak hanya mewariskan masa lalu. Ia juga menanam sesuatu untuk masa depan.
Seminar memberi ruang untuk memandang lebih jauh. Sejarah penting. Tetapi sejarah tidak boleh menjadi tempat berhenti. Sebuah sekolah yang telah melewati lebih dari satu abad justru dituntut untuk terus bertumbuh. Apa yang telah diwariskan para pendahulu perlu dibawa ke zaman baru. Tradisi boleh menjadi akar. Tetapi pohon harus tetap tumbuh.
Malam hiburan membawa suasana ke sisi yang lain. Musik, tawa, dan goyangan menghapus sekat usia. Mereka yang sehari-hari mungkin tampil serius dalam pekerjaan kembali menjadi manusia yang bebas tertawa. Tidak ada jabatan di lantai dansa. Tidak ada pangkat di antara sahabat. Yang ada hanya kegembiraan karena dapat berada dalam satu ruang.
Kemudian tibalah 6 September. Misa penutupan dipimpin Mgr. Agustinus Agus, alumnus Persekolahan Katolik Nyarumkop yang pernah bersekolah selama tujuh tahun di tempat ini.
Ada sesuatu yang indah dalam lingkaran perjalanan itu. Seorang murid yang dahulu belajar di Nyarumkop kini kembali sebagai gembala yang memimpin perayaan iman di tempat yang pernah membentuk dirinya.
Misa menjadi penutup yang tenang setelah tiga hari penuh suara. Di sana kegembiraan, syukur, kehilangan, dan harapan menemukan tempatnya masing-masing. Perjalanan panjang PKN tidak hanya dirayakan sebagai sejarah. Ia didoakan agar terus mempunyai masa depan. Apa yang telah ditanam oleh generasi terdahulu diharapkan tumbuh melalui generasi berikutnya.
Ketika kendaraan kemudian meninggalkan Nyarumkop, jalan kembali memanjang ke berbagai arah. Pontianak. Jakarta. Singkawang. Sintang. Sanggau. Sekadau. Kota-kota lain. Bahkan negeri yang jauh. Halaman yang beberapa hari sebelumnya ramai perlahan kembali lengang. Tetapi ada sesuatu yang ikut pergi bersama para pengunjung. Bukan gedung. Bukan halaman. Melainkan cerita.
Cerita tentang Pak Suyadi dan guru-guru lainnya. Tentang bubur Pak Lelen. Tentang sepotong ikan asin. Tentang rumah Pak Nungkat yang pintunya terbuka. Tentang cinta pertama yang kini menjadi bahan tertawaan. Tentang teman yang masih ada. Tentang teman yang tinggal nama. Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya dibentuk oleh peristiwa besar.
Hidup manusia juga dibentuk oleh hal-hal kecil yang dialami bersama. Dari makanan sederhana. Dari teguran guru. Dari rumah yang pintunya terbuka. Dari teman yang duduk di sebelah kita. Dari tawa yang dahulu terasa biasa. Dari seseorang yang menolong tanpa meminta balasan. Dari sebuah tempat yang pada masa itu mungkin terasa biasa, tetapi kelak kita sadari telah menjadi bagian dari diri.
Mungkin itulah sebabnya orang bersedia menempuh perjalanan begitu jauh untuk kembali ke sebuah sekolah. Bukan karena ingin mengulang masa lalu. Masa lalu tidak pernah benar-benar dapat diulang. Kita hanya dapat mendatanginya sebentar. Menyapanya. Tersenyum. Mengucapkan terima kasih. Kemudian berjalan lagi menuju kehidupan yang sekarang.
***
Nyarumkop telah mengajarkan banyak hal yang tidak tertulis dalam buku. Tentang hidup bersama. Tentang disiplin. Tentang berbagi. Tentang kehilangan. Tentang persahabatan. Tentang menjadi manusia. Pelajaran-pelajaran itu dibawa keluar dari gerbang sekolah dan berjalan bersama para murid, bahkan ketika mereka sudah tidak lagi mengingat kapan tepatnya pelajaran itu diberikan.
Mungkin itulah makna terdalam dari tiga hari tersebut. Bukan banyaknya orang yang hadir. Bukan meriahnya acara. Bukan pula panjangnya sejarah yang dirayakan. Yang paling penting adalah kesadaran bahwa ada bagian kehidupan yang pernah dibangun bersama dan ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Terima kasih kepada para guru yang telah mengajar dan membentuk kami. Terima kasih kepada sahabat yang pernah berbagi bangku, asrama, makanan, kegembiraan, dan kesulitan. Terima kasih kepada orang-orang baik seperti Pak Lelen dan Pak Nungkat yang menunjukkan bahwa perhatian sederhana dapat meninggalkan arti yang besar. Terima kasih kepada Nyarumkop yang pernah menjadi rumah bagi begitu banyak anak muda.
Nyarumkop adalah tempat cita-cita masih sederhana. Tempat teman terasa seperti keluarga. Tempat semangkuk bubur dapat membuat pagi menyenangkan. Tempat sepotong ikan asin cukup untuk dibagi. Tempat sebuah rumah yang membuka pintu dapat membuat seorang anak merasa diterima. Tempat guru-guru menanamkan sesuatu yang mungkin baru bertahun-tahun kemudian kita sadari sebagai bekal hidup.
Barangkali itulah yang membuat sebuah sekolah menjadi lebih dari sekadar sekolah. Bukan gedungnya. Bukan pula lamanya berdiri. Melainkan manusia yang pernah belajar di dalamnya. Guru yang pernah mengajar. Sahabat yang pernah berjalan bersama. Kebaikan-kebaikan kecil yang tumbuh tanpa banyak suara. Dan jejak yang tetap terbawa meskipun semua orang telah pergi jauh.
Nyarumkop bukan hanya tempat kita pernah bersekolah. Nyarumkop adalah tempat kita pernah menjadi muda. Nyarumkop membawa sebagian dari tempat itu ke mana pun kita pergi.
Catatan pagi
Pontianak, 07/09-2025
0 Comments