Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk

Panitia Reuni Akbar110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN)
Yustianus (kedua dari kiri pembaca), Ketua Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) juga panitia lainnya yang tak banyak duduk. Ist.

Langit kaki Gunung Poteng sedikit ditingkap asap. Tapi sinar mentari dapat menembus kegelapan awan ketika Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop berlangsung 4 - 6 Mei 2026. Musim kemarau sedang datang. Matahari terang, udara siang terasa panas, tanah pun tampak kering kerontang. 

Tetapi siapa yang sempat memikirkan panas ketika lebih dari 700 alumni dan peserta mulai berdatangan?

Wajah-wajah lama muncul dari kendaraan. Tangan terulur, saling berjabat. Hangatnya pelukan terjadi. Tawa tawa pecah di sana-sini. Senda gurau menghiasi setiap bibir yang tak pernah putus menyungging senyum.

Baca Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Kisah Kasih di Sekolah Para Alumni

Ada rasa haru yang sulit disembunyikan. Nyarumkop seperti sedang menerima anak-anaknya kembali.

Yustianus, Ketua yang Tak Banyak Duduk

Di tengah kegembiraan itulah panitia bekerja. Mengurus lebih dari 700 orang bukan pekerjaan sederhana. Transportasi harus dipikirkan, akomodasi disiapkan, konsumsi dihitung, tamu diterima, tempat diatur, perlengkapan diperiksa, acara dijaga waktunya. 

Semua harus berjalan beriringan. Satu bagian terlambat, bagian lain dapat ikut terseret.

Di tengah semua itu, Yustianus sebagai Ketua Panitia hampir tidak punya waktu untuk duduk tenang. Ia berpindah dari satu titik ke titik lain, memastikan pekerjaan berlangsung sebagaimana mestinya. Telepon di genggam tangan, ia berkomunikasi dengan panitia bidang-bidang. Sesekali ia berhenti, melihat keadaan, lalu kembali bergerak ketika ada sesuatu yang perlu dibereskan.

Baca Frans Tshai Ketika Kami Menjadi Bagian dari Kenangan Nyarumkop (1)

Pekerjaan itu sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum orang-orang tiba di Nyarumkop. Telepon bersahutan. Pesan masuk dan dibalas. Nama peserta dicatat. Kendaraan dikoordinasikan. Tempat menginap dipastikan. Jadwal acara diperiksa. 

Narasumber seminar dihubungi. Ruangan untuk refleksi 110 tahun Nyarumkop disiapkan. Hal-hal yang bagi peserta kelak terlihat biasa, bagi Yustianus dan panitia adalah daftar pekerjaan yang harus diselesaikan satu per satu.

Baca Yustianus Terpilih Ketua IKAPKN 2026–2030, Siap Bangun dan Perkuat Jejaring Alumni

Ketika pagi semakin ramai, pekerjaan Yustianus semakin terlihat. Ada tamu yang perlu diarahkan, ada perlengkapan yang harus diperiksa, ada bagian konsumsi yang perlu dipastikan, ada acara yang harus dijaga waktunya. Ia tidak mungkin mengerjakan semuanya dengan tangan sendiri. Tetapi ia harus tahu apa yang sedang terjadi dan siapa yang mengerjakannya.

Bekerja Seperti Organ dalam Satu Tubuh

Pagi hari, kesibukan itu menjadi lebih nyata. Ada panitia berdiri di pintu menyambut tamu. Ada yang menunjukkan tempat duduk. Ada yang membawa perlengkapan.

Di bagian konsumsi, makanan dan minuman sudah tersedia. Suster dan anak-anak asrama ikut mengambil bagian. Ada yang menerima tamu, ada yang menjaga kebersihan, ada yang menyajikan makanan, ada pula yang mengawasi hidangan supaya tetap tersedia.

Ketika satu wadah makanan mulai kosong, seseorang segera mengisinya kembali. Ketika meja mulai penuh dengan piring dan gelas, bagian kebersihan datang merapikan. Jika ada tamu yang kebingungan mencari tempat, seseorang menunjukkan arah. Tidak banyak suara komando.

Mereka sudah mafhum apa yang harus dikerjakan. Ada semacam pengertian yang tumbuh dari kebersamaan.

Baca Nyarumkop, Tempat Mereka Pernah Menjadi Muda

Panitia bekerja bagai organ dalam satu tubuh. Bagian transportasi menjalankan tugasnya. Akomodasi mengurus tempat menginap. Konsumsi mempunyai ritmenya sendiri. Penerima tamu, perlengkapan, dokumentasi, pameran, kebersihan, seminar dan refleksi pun mempunyai tanggung jawab masing-masing. Mereka tidak mengerjakan hal yang sama, tetapi semuanya dibutuhkan agar tubuh besar bernama Reuni Akbar 110 Tahun PKN dapat berjalan.

Keterbatasan dana dan jarak alumni yang berjauhan membuat pekerjaan itu tidak selalu mudah. Namun justru di tengah keterbatasan itulah semangat gotong royong terasa. Yang kurang di satu bagian ditopang bagian lain. Yang belum selesai dikerjakan seseorang segera dibantu tangan berikutnya. Yustianus memberi arah, sementara orang-orang di sekitarnya menghidupkan arah itu menjadi pekerjaan nyata.

Dari Konsumsi sampai Tenda Pameran

Di sudut lain, tenda-tenda pameran mulai hidup. Aneka makanan dan minuman dijajakan. Pakaian dipamerkan. Pernak-pernik seni dan budaya ditata. Buku-buku disusun menunggu pembaca. Alumni berjalan dari satu tenda ke tenda lain. Ada yang membeli makanan, melihat kerajinan, membuka buku, atau berhenti berbincang.

Baca Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN): Bukan Sebatas Bernostalgia, tapi Membuat Sejarah

Nyarumkop hari itu terasa seperti sebuah kampung kecil yang sedang berpesta. Namun di balik suasana meriah itu, panitia tetap bekerja. Tempat harus tertata. Jalur peserta harus nyaman. Barang-barang harus berada pada tempatnya. Semua harus berjalan tanpa mengganggu rangkaian acara utama.

Seminar dan refleksi 110 tahun Nyarumkop juga mendapat perhatian khusus. Ada jadwal yang harus dijaga, ruangan yang harus siap, perlengkapan yang harus diperiksa. Ketika peserta mengikuti seminar dan kemudian memasuki suasana refleksi, panitia masih bekerja di balik layar. 

Bagi peserta, acara itu adalah waktu untuk mendengar, mengenang, dan merasakan kembali perjalanan Nyarumkop. Bagi panitia, setiap menitnya adalah sesuatu yang harus dijaga.

Refleksi 110 tahun Nyarumkop menjadi salah satu bagian yang berkesan. Di tengah kegembiraan reuni, semua diajak menoleh ke belakang, mengingat perjalanan panjang sekolah, para pendidik, para alumni, dan begitu banyak kehidupan yang pernah dibentuk dari tempat ini.

Reuni akhirnya tidak berhenti pada bertemu dan tertawa. Ada ruang untuk mengenang, bersyukur, dan menyadari bahwa Nyarumkop telah menjadi bagian dari perjalanan hidup begitu banyak orang.

Lelah Terbayar oleh Kebahagiaan

Mungkin para alumni tidak melihat seluruh pekerjaan itu. Ketika mereka duduk menikmati makanan, bercakap dengan kawan lama, mengikuti seminar, menyimak refleksi, atau berjalan di antara tenda-tenda pameran, panitia masih bekerja di belakang mereka.

Ada yang memeriksa makanan. Ada yang merapikan meja. Ada yang mengangkat barang. Ada yang menjawab telepon. Ada yang memastikan acara berikutnya siap.

Yustianus pun tidak bekerja sendirian. Di belakangnya ada suster, anak-anak asrama, dan panitia bidang-bidang yang menjalankan tugas sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Ia memberi arah, mereka menghidupkan arah itu. Dari banyak pekerjaan yang tampaknya kecil, lahirlah sebuah perhelatan yang mampu mempertemukan lebih dari 700 orang.

Ketika sore tiba dan panas mulai surut. Mungkin ada panitia yang akhirnya sempat duduk sebentar. Dari kejauhan terdengar suara alumni bercakap dan tertawa. Wajah-wajah yang puluhan tahun tidak bertemu tampak begitu akrab. 

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Saat itulah rasa lelah menemukan jawabannya. Semua telepon, pesan, pengaturan, kekhawatiran, dan kesibukan sejak berbulan-bulan sebelumnya terasa lunas oleh satu pemandangan sederhana: orang-orang yang pernah menjadi bagian dari Nyarumkop kini kembali bahagia di tempat ini.

Mereka yang datang sebagai alumni dapat menikmati pertemuan karena ada orang-orang yang bersedia sibuk lebih dahulu. Mereka dapat duduk tenang karena ada yang sejak pagi mengangkat, mengatur, membersihkan, menyajikan, menerima, menghubungi, dan memastikan. Itulah kerja yang sering tidak masuk ke dalam foto, tetapi justru membuat sebuah peristiwa menjadi mungkin.

Sukses panitia adalah sukses bersama. Di Nyarumkop, pada perayaan 110 tahun itu, kerja banyak tangan akhirnya berubah menjadi satu kenangan yang akan tinggal lama di hati.
Pewarta dan penulis: Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.