Nyarumkop yang Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan
| Saya (kiri pembaca gaun merah) ketika dikunjungi kakak-kakak kelas di rumah induk Pak Nungkat bersama Bang Masri Sareb (kanan). |
Ada masa. Dalam hidup kita yang tidak mudah dilupakan, meskipun waktu sudah membawa kita sangat jauh. Bagi saya, salah satu masa itu bernama Nyarumkop.Di tempat inilah Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya, bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai lingkungan yang mempertemukan saya dengan banyak orang dan pengalaman yang kemudian terus saya bawa hingga dewasa.
Sekolah saja, tidak di asrama
Saya menamatkan SD Bersubsidi Nyarumkop pada tahun 1979. Lalu melanjutkan pendidikan di SMP Timonong dan lulus pada tahun 1982. Masa itu jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak sekarang. Kami hidup sederhana, belajar dengan fasilitas yang terbatas, dan belum mengenal teknologi seperti yang dinikmati generasi hari ini. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah persahabatan, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan tumbuh dengan sangat alami.
Baca Nama dan Tokoh Besar Jadi Penasihat IKAPKN 2026–2030
Saya tidak tinggal di asrama seperti sebagian besar teman sebaya. Saya tinggal bersama orang tua di rumah kami di Desa Nyarumkop, tepat di depan Wisma Emaus, yang pada waktu itu dikenal masyarakat sebagai kediaman Pak Nungkat. Dari rumah sederhana itulah saya menyaksikan begitu dekat kehidupan anak-anak sekolah dan para penghuni asrama yang menjadi bagian dari denyut kehidupan PKN.
Mungkin itulah kekuatan sebuah kenangan. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar. Kadang ia muncul melalui secangkir teh, pisang goreng, suara teman yang tertawa, atau sebuah rumah yang dahulu selalu ramai oleh anak-anak sekolah. Hal-hal kecil seperti itu ternyata dapat menjadi bagian paling kuat dari sebuah perjalanan hidup.
Dua abang saya, Bang Willy dan Bang Theo, menjadi penghubung saya dengan kehidupan asrama. Mereka merupakan putra Nyarumkop yang menjalani pendidikan dan kehidupan di Asrama Timonong dan Asrama Widya. Karena mereka, rumah kami sering didatangi teman-teman sekolah dan penghuni asrama. Rumah yang sederhana itu perlahan menjadi tempat berkumpul, bercakap-cakap, bercanda, dan melepas penat setelah menjalani rutinitas sekolah dan asrama.
Rumah Pak Nungkat dan Anak-Anak PKN
Mereka datang dengan berbagai alasan. Ada yang mengikuti abang saya, ada yang datang hanya untuk bercanda, ada yang bercerita tentang kehidupan di asrama, dan ada pula yang membantu pekerjaan di rumah. Mereka tidak datang sebagai tamu yang harus diperlakukan secara resmi. Mereka datang sebagai teman dan saudara, lalu duduk bersama seolah-olah rumah itu juga merupakan rumah mereka sendiri.
Baca Doraman
Di rumah itulah kami sering berkumpul. Kak Tres menyiapkan pisang goreng dan teh hangat, lalu kami duduk bersama sambil berbicara tentang berbagai hal. Kadang pembicaraan serius, tetapi lebih sering diisi cerita lucu dan kejadian sehari-hari. Kalau dipikir sekarang, tidak ada sesuatu yang luar biasa dari semua itu. Namun, justru kenangan tentang hal-hal sederhana tersebut yang paling lama tinggal dalam ingatan.
Ketika masih muda, kami tidak pernah berpikir bahwa pertemuan-pertemuan seperti itu suatu hari akan menjadi kenangan. Kami menjalani semuanya secara spontan dan apa adanya. Kami tertawa karena memang ingin tertawa, berkumpul karena memang senang berkumpul, dan saling membantu tanpa pernah berpikir bahwa semua itu sedang membentuk sebuah cerita yang kelak akan kami ceritakan kembali.
Baca Nyarumkop, Tempat Mereka Pernah Menjadi Muda
Beberapa nama dari masa itu masih saya ingat dengan baik. Ada Ko Pit Hang, Ko Hengki, Bang Yosef Maliki, dan adiknya, Bang Masri SP. Mereka adalah bagian dari wajah PKN pada masa itu. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, wajah-wajah tersebut tidak lagi hanya menjadi nama dalam ingatan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah kecil keluarga kami.
Usia membuat kita perlahan kehilangan banyak detail. Kita mungkin lupa kapan tepatnya sebuah peristiwa terjadi, apa persisnya yang pernah dibicarakan, atau siapa saja yang hadir pada suatu sore. Tetapi suasananya sering tetap ada. Kita masih dapat mengingat rumahnya, orang-orangnya, suasana pertemuannya, bahkan rasa hangat yang muncul ketika semua orang duduk bersama.
Itulah yang saya rasakan ketika mengingat Nyarumkop. Ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan tanggal dan nama. Ada relasi antarmanusia yang terbentuk secara sederhana, tetapi ternyata bertahan jauh lebih lama daripada yang pernah kami bayangkan.
Jalan Hidup yang Mempertemukan Kembali
Tahun 1982 menjadi batas bagi sebuah babak dalam kehidupan saya. Pendidikan di lingkungan PKN selesai, dan saya kemudian meninggalkan Nyarumkop untuk melanjutkan pendidikan serta perjalanan hidup di tempat lain. Seperti banyak anak muda pada masa itu, saya harus pergi untuk mencari pengalaman dan membuka jalan kehidupan sendiri.
Meninggalkan Nyarumkop ternyata tidak berarti meninggalkan semua yang pernah saya alami di sana. Waktu terus berjalan dan kehidupan membawa kami ke berbagai tempat, tetapi hubungan dengan orang-orang dari masa lalu kadang muncul kembali melalui jalan yang tidak pernah kita rencanakan.
Bertahun-tahun kemudian, di tengah kesibukan Jakarta, saya kembali dipertemukan dengan Bang Masri Sareb Putra. Saya sudah tidak ingat persis tahun pertemuan itu, tetapi saya masih mengingat hubungan yang kemudian terbentuk di antara kami. Bang Masri saat itu telah menikah dengan Kak Rosnani. Sang istri juga tidak asing bagi saya karena beliau merupakan kakak angkatan ketika saya menempuh pendidikan di Akademik Perawatan (AKPER).
Baca Hetty Kus Endang: Menganyam Warisan Dayak melalui Kain Pantang dan Pemberdayaan Perempuan
Pertemuan itu terasa istimewa karena kehidupan seolah mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berada dalam satu lingkungan pada masa muda. Dulu kami mengenal satu sama lain dalam suasana Nyarumkop yang sederhana. Bertahun-tahun kemudian, kami berjumpa kembali dalam kehidupan yang sudah jauh berubah, dengan keluarga, pekerjaan, tanggung jawab, dan jalan hidup masing-masing.
Hubungan tersebut kemudian membawa saya pada sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Saya mendapat kehormatan menjadi Wali Baptis bagi Rio, anak sulung Bang Masri dan Kak Rosnani. Sakramen itu dilaksanakan di Gereja Santo Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya, peristiwa itu bukan hanya sebuah kesempatan menjalankan peran dalam kehidupan iman, tetapi juga menjadi bagian lain dari rangkaian panjang hubungan yang berawal dari lingkungan Nyarumkop.
Jika dipikir kembali, perjalanan hidup memang sering kali mempertemukan kita dengan orang-orang pada waktu yang tidak kita duga. Ada yang kita kenal sejak kecil, kemudian bertahun-tahun tidak bertemu, lalu tiba-tiba hadir kembali dalam kehidupan. Hubungan itu seakan menemukan jalannya sendiri, meskipun sebelumnya kita tidak pernah merencanakannya.
Nyarumkop yang Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan
Sekarang, ketika saya menoleh kembali ke masa lalu, saya semakin menyadari bahwa Nyarumkop bukan semata-mata tempat saya pernah bersekolah. Nyarumkop adalah bagian dari pengalaman hidup yang membentuk cara saya mengenal persahabatan, keluarga, pendidikan, dan kebersamaan. Di sana ada rumah orang tua, sekolah, asrama, guru, teman-teman, dan begitu banyak cerita kecil yang baru terasa nilainya setelah waktu berjalan begitu jauh.
Saya juga semakin memahami bahwa sebuah tempat dapat hidup bukan hanya karena bangunan atau sejarahnya, tetapi karena orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya. PKN telah mempertemukan banyak generasi. Ada yang kemudian menjadi guru, rohaniwan, pemimpin, profesional, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. Masing-masing membawa pengalaman Nyarumkop ke tempat mereka menjalani kehidupan.
Bagi keluarga Nungkat, rumah di depan Wisma Emaus juga menyimpan cerita tersendiri. Banyak orang pernah datang dan pergi dari rumah itu. Sebagian mungkin sudah lama tidak kami jumpai. Sebagian mungkin sudah tidak kami ingat secara lengkap. Tetapi setiap kali keluarga berkumpul dan cerita masa lalu dibicarakan, nama-nama lama kembali muncul dan suasana masa itu terasa dekat kembali.
Mungkin itulah kekuatan sebuah kenangan. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar. Kadang ia muncul melalui secangkir teh, pisang goreng, suara teman yang tertawa, atau sebuah rumah yang dahulu selalu ramai oleh anak-anak sekolah. Hal-hal kecil seperti itu ternyata dapat menjadi bagian paling kuat dari sebuah perjalanan hidup.
Nyarumkop juga mengajarkan bahwa pulang tidak selalu berarti kembali untuk tinggal. Kadang pulang berarti kembali mengingat siapa diri kita sebelum kehidupan membawa kita menjadi seperti sekarang. Di Nyarumkop, saya menemukan bagian dari masa itu: masa ketika kehidupan masih sederhana, persahabatan masih mudah terjalin, dan kebersamaan tidak membutuhkan banyak alasan.
Waktu boleh berlalu puluhan tahun. Anak-anak PKN boleh pergi ke berbagai kota dan menjalani kehidupan masing-masing. Tetapi bagi mereka yang pernah belajar, tinggal, bekerja, atau tumbuh di lingkungan PKN, Nyarumkop akan selalu mempunyai tempat khusus dalam ingatan. Sebab ada tempat yang pernah kita tinggalkan secara fisik, tetapi tetap kita bawa sepanjang hidup.
Bagi saya, Nyarumkop adalah tempat seperti itu. Ketika kembali mengingatnya hari ini, yang muncul bukan hanya sekolah atau desa, melainkan wajah-wajah manusia yang pernah hadir dalam perjalanan hidup saya. Dan di antara wajah-wajah itu terdapat keluarga, sahabat, teman sekolah, para penghuni asrama, serta orang-orang yang tanpa mereka sadari telah ikut membentuk kenangan yang tidak mudah hilang.
Nyarumkop, Depan Wisma Emaus, 7 September 2026
0 Comments