Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang

Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang
Bang Adri (Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot - kiri pembaca) kakak kelas jauh kami di SMA St. Paulus Nyarumkop di mana kami bernostalgia. Ist.

Rabu pagi, 9 September 2026, Pontianak masih berkabut tipis. Langit pucat. Udara menyimpan sisa hujan dan asap yang menggantung rendah.
Di Warkop Angi, Jalan Siam, saya duduk bersama Albert dan Akim. Percakapan kami tentang Nyarumkop. Tentang reuni. Juga tentang orang-orang yang dahulu kami kenal ketika usia masih begitu muda untuk memahami bahwa kelak semua itu akan menjadi kenangan.

Baca Nyarumkop: Kisah Kasih di Sekolah (1)

Lalu nama Bang Adri (kami biasa menyapa Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot demikian) muncul. Ia seorang kakak kelas, bagian dari generasi yang lebih dahulu melewati halaman Persekolahan Katolik Nyarumkop.

Dari namanya. Ingatan kami mengembara kepada nama-nama lain: wajah-wajah lama, guru, teman sekolah, dan masa yang sudah puluhan tahun berlalu.

Ingatan memang sering bekerja demikian ini: satu nama dapat membuka sebuah pintu yang lama tertutup.

Albert kemudian berangkat ke kantor. Akim mengantar saya menuju tempat menginap. Kami melaju di Jalan A. Yani ketika telepon saya berdering.

Baca Nama dan Tokoh Besar Jadi Penasihat IKAPKN 2026–2030

Bang Adri menelepon dan menanyakan saya sedang di mana serta kapan kembali ke Jakarta?

Saya mengatakan masih di jalan. Dan baru akan berangkat keesokan harinya. Ia sendiri akan meninggalkan Pontianak sore itu untuk suatu dinas ke luar kota.

“Datanglah ke rumah sebelum saya berangkat.”

Saya mengiyakan. Akim pun mengubah arah menuju Kota Baru. Saya menghubungi Albert agar sama-sama merapat.

Tidak ada rencana panjang. Kami hanya hendak menemui seorang kakak kelas sebelum ia meninggalkan kota. Tetapi pertemuan yang tampaknya sederhana itu ternyata membawa kami kepada sebuah cerita yang selama ini tersimpan dalam ingatan Bang Adri.

Baca Di Nyarumkop Tertinggal Hatinya: Kisah Kasih di Sekolah (2)

Rumah Bang Adri menuansakan tenang, meski ada di jantung kota Pontianak. Halamannya rapi, beberapa anggrek tumbuh di sudut-sudutnya. Bang Adri menyambut kami dan mempersilakan masuk. Kopi disuguhkan.

***

Percakapan mengalir tentang Nyarumkop, tentang orang-orang lama, tentang tahun-tahun yang telah berlalu. Kami tertawa pada beberapa cerita, lalu perlahan menjadi lebih diam ketika Bang Adri mulai menceritakan masa kecilnya.

Ia berasal dari Saham, tidak jauh dari Pahauman. Ayahnya seorang guru. Kehidupan keluarga mereka sederhana. Untuk melanjutkan sekolah ke Nyarumkop, segala sesuatu harus diperhitungkan. Bahkan pakaian untuk memasuki SMA pun menjadi persoalan.

Menjelang masuk SMA, Adri belum mempunyai celana panjang. Ia meminta kepada ayahnya. Jawabannya pendek, “Nanti saja.”

Bagi seorang anak, dua patah kata itu mungkin sederhana. Tetapi bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, “nanti” mempunyai harga. Adri ingin mempunyai celana panjang karena ia akan memasuki sekolah baru. Ia ingin datang dengan pakaian yang pantas. Ia belum mengerti bahwa ayahnya mungkin sedang berhadapan dengan kebutuhan keluarga yang lebih mendesak, dan bahwa mengatakan “belum ada uang” kepada seorang anak kadang terasa lebih berat daripada mengatakan “nanti saja”.

Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk

Tetapi Nyarumkop tidak menunggu. Adri tetap berangkat. Ia hanya membawa satu baju dan satu celana pendek yang sudah hampir kumal. Bantal dan selimut dibungkus dalam balutan tikar. Tidak ada koper, tidak ada perlengkapan berlebihan. Hanya barang-barang yang diperlukan seorang anak untuk tinggal jauh dari rumah.

Ayahnya kemudian menyalakan sepeda motor. Adri duduk di belakang. Mereka meninggalkan Saham menuju Nyarumkop. Jalan penuh kubang. Setiap kali roda masuk lubang, motor berguncang. Sang ayah memperlambat kendaraan, mencari bagian jalan yang lebih baik, kemudian melaju lagi. Di belakangnya, Adri menjaga bungkusan bantal dan selimut.

Tidak ada foto perjalanan itu. Tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada unggahan yang menyimpan momen keberangkatan tersebut. Hanya seorang ayah dan anaknya di atas sepeda motor, menempuh jalan yang bagi mereka harus dilalui.

Ketika sampai pada bagian itu, suara Bang Adri berubah. Ia berhenti.

Matanya mulai berkaca-kaca. Ia mencoba melanjutkan cerita, tetapi air mata lebih dahulu jatuh. Kami bertiga diam. Tidak seorang pun menyela. Tidak ada kata-kata penghiburan yang kami anggap perlu. Kami membiarkan Bang Adri mengambil jedanya sendiri.

Ia sedang tidak hanya menceritakan perjalanan menuju Nyarumkop. Ia sedang kembali kepada ayahnya.

Dan mungkin itulah yang membuat cerita itu begitu berat. Dulu, sebagai seorang anak, ia hanya tahu bahwa celana panjang belum ada. Kini, setelah puluhan tahun, ia dapat melihat seluruh keadaan yang mengelilingi jawaban ayahnya. Ada keterbatasan, ada kebutuhan keluarga, tetapi juga ada keputusan untuk tetap mengantarnya ke sekolah.

***

Bang Adri mengusap matanya. Kami masih membiarkannya diam beberapa saat. Kami ikut larut dalam haru, bukan karena kami dapat mengubah masa lalu, melainkan karena kami tahu setiap keluarga mempunyai cerita yang tidak selalu selesai diceritakan.

Begitulah saudara berbagi hidup: ketika seorang sedang membuka bagian dirinya yang paling berat, yang lain tidak buru-buru mengisinya dengan kata-kata.

Baca Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Kisah Kasih di Sekolah Para Alumni

Kopi di meja mulai dingin. Percakapan kemudian berjalan lagi, tetapi suasananya tidak sama.

Saya memandang Bang Adri  sembari membayangkan anak kecil yang dahulu duduk di belakang motor ayahnya. Ia tidak mempunyai celana panjang ketika berangkat, tetapi ia sampai di Nyarumkop.

Dari perjalanan sederhana itulah hidupnya kemudian bergerak ke arah yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

Puluhan tahun kemudian, kami bertemu lagi di Pontianak. Anak itu telah menjadi Bang Adri. Rumahnya telah berubah, hidupnya telah berubah, tetapi cerita tentang perjalanan dari Saham menuju Nyarumkop masih tinggal di dalam dirinya.

Mungkin karena itu, ketika kita mengenang sekolah setelah begitu lama, yang paling kuat bukan selalu gedung, kelas, atau nama-nama yang tercetak dalam buku kenangan.

***

Ada perjalanan menuju sekolah. Ada orang tua yang mengantar. Ada keterbatasan yang dahulu tidak kita mengerti. Dan sering kali, baru setelah dewasa kita tahu betapa mahalnya sebuah kesempatan untuk belajar.

Baca Nyarumkop yang Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan

Pagi itu kami datang menemui seorang kakak kelas. Kami pulang membawa cerita tentang seorang anak, seorang ayah, dan sebuah perjalanan.

“Nanti saja” yang dahulu terdengar seperti penundaan ternyata menjadi bagian kecil dari sebuah kisah yang jauh lebih besar. Tentang seorang ayah yang mungkin tidak mampu memberikan semua yang diminta anaknya, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa anak itu tidak boleh berangkat.

Mungkin itulah yang membuat kami bertiga memilih diam ketika Bang Adri menangis. Tidak semua kisah membutuhkan kesimpulan.

Ada yang cukup didengarkan, ditemani. Lalu disimpan sebagai bagian dari persaudaraan. Sebab suka dan duka kehidupan, ketika dibagikan kepada saudara, tidak serta-merta hilang, tetapi setidaknya tidak lagi terasa harus ditanggung sendirian.

Masri Sareb Putra
Pontianak, sore yang dibekap kabut 09-09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.