Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)

ugas mulia yang ditunggu-tunggu: Mendorong gerobak bulgur ke Wisma Sekabu
Tugas mulia yang ditunggu-tunggu: Mendorong gerobak bulgur ke Wisma Sekabu. Dok. Supardi.

Ada sepotong rahasia kecil. Yang dahulu disimpan Supardi dalam saku celananya. Bukan surat cinta. Bukan pula uang di dalamnya. Hanya sedikit ikan asin, dibungkus kertas.

Tetapi bagi anak asrama, benda sekecil itu bisa menjadi penyelamat pagi.

Baca Cekar - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (4)

“Beginilah nasibku dulu,” kata Supardi sambil tertawa. “Ambil sedikit ikan asin, masuk saku, dibungkus kertas. Besoknya buat makan bubur bulgur. Bubur Pak Lelen.”

Begitu sederhana. Tetapi dari kalimat itu, sebuah masa tiba-tiba terbuka.

Maklum, masa pertumbuhan. Perut sedang rajin meminta. Bubur pagi belum lama disantap, lapar sudah datang lagi. Sementara kiriman uang dari rumah masih memakai wesel. Harus menunggu. Lama lagi.

Baca Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang

Supardi lalu punya akal. Sedikit ikan asin disisihkan, dibungkus kertas, lalu masuk saku. Esok pagi. Ketika bubur bulgur mengepul. Bungkusan kecil itu dikeluarkan. Jadilah lauk.

“Cerdik,” kata kami. “Sedikit licik,” mungkin Supardi akan mengaku sambil tertawa. Tetapi anak yang lapar tidak sedang menyusun teori moral. Ia hanya sedang mencari jalan agar hari esok tetap bisa dijalani.

Baca Pak Nungkat - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (3)

Dulu, rumah terasa jauh. Bukan hanya karena jarak, tetapi karena wesel yang tak kunjung datang. Surat ditunggu. Kabar dinanti tersiar. Kiriman dirindukan. Di antara penantian itu. Kami sedang belajar mengurus diri dengan apa yang tersedia.

***

Barangkali hidup memang mengajarkan filsafat melalui perkara kecil. Ikan asin mengajarkan kecerdikan. Wesel yang terlambat mengajarkan kesabaran. Bubur bulgur mengajarkan syukur. Kami tidak tahu ketika menjalaninya. Baru kemudian kami mengerti.

Supardi mungkin hanya sedang mengenang ikan asin. Tetapi yang terdengar adalah suara sebuah zaman. Zaman ketika kami masih muda, masih tumbuh, dan belum memiliki banyak pilihan. Namun selalu ada cara untuk melewati hari.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Kini ikan asin itu telah lama habis. Bubur bulgur tinggal kenangan. Wesel tak lagi diperlukan seperti dulu. Tetapi masa itu tetap tinggal. Mungkin karena hidup sering menyimpan kenangan paling dalam justru pada benda-benda yang dahulu kita anggap paling sederhana.

Dan barangkali itulah rahasianya. Kita tidak selalu merindukan sesuatu karena ia besar. Kadang kita merindukan sebungkus ikan asin, semangkuk bubur, dan seorang anak asrama yang berjalan dengan saku berisi lauk untuk esok pagi.

Masri Sareb Putra

Malam yang kian merangkak 10/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.