Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)
| Benyamin (duduk di atas tangkai cangkul) dan Masri Sareb (tengah, memegang stik) pada sebuah adegan pelajaran pertanian oleh guru Pak Tugino. Ist. |
Malam ini, 10 September 2026. Saya coba-coba melempar mangga. Mangga kulempar, cerita kudapat dari Benyamin Ngui.
Tuan takur yang dikenal punya toko Hosana di Bodok, Kab. Sanggau ini. Ia pegang kunci rahasia membuka pintu masa lalu. Saya bertanya kepadanya tentang masa SMA kami.
Bukan tentang ujian atau pelajaran. Bukan pula tentang peristiwa yang pantas masuk buku kenangan sekolah. Saya justru memilih sesuatu yang tampaknya tidak penting. Ihwal yang mungkin hanya bernilai beberapa rupiah pada masa itu.Ada kenangan yang tidak disimpan oleh kepala, melainkan oleh benda-benda kecil. Sebatang es lilin, misalnya. Ia tidak punya sejarah. Tidak ada yang akan mencatat tanggal kelahirannya. Ia akan mencair dalam beberapa menit dan dilupakan. Tetapi anehnya, puluhan tahun kemudian, ketika hampir segala sesuatu dari masa muda telah kabur, sebatang es lilin dapat membuka pintu yang kita kira sudah lama terkunci.
Merebut Ikan Asin dari Mulut Anjing - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (6)
“Ben, kau masih ingat es lilin di depan rumah Pak Nungkat?”
“Masih. Bagaimana mungkin lupa?”
Jawaban itu membuat saya tersenyum. Ternyata waktu tidak selalu bekerja seperti yang kita bayangkan. Ia memang mengambil banyak hal dari kita. Wajah menjadi samar. Nama-nama menghilang. Tempat berubah. Orang-orang berpencar. Tetapi ada bagian tertentu dari masa lalu yang keras kepala. Ia bertahan justru karena pernah bersentuhan dengan kegembiraan yang sederhana.
“Di bawah pinggir jalan, depan rumah Pak Nungkat,” kata Benyamin. “Satu paket dengan penjual mi pansit dan kue tiau goreng.”
Ia mulai mengingat. Dan saya hanya perlu bertanya lagi.
“Terus?”
“Kita serbu ramai-ramai.”
“Bagaimana?”
“Ambil dua, bayar satu.”
Di situlah masa muda kami tiba-tiba muncul dengan segala keluguan dan kenakalannya. Ada anak-anak SMA yang uang sakunya terbatas, tetapi seleranya tidak mengenal inflasi. Ada es lilin yang dingin.
Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)
Ada mi pansit yang mengepul. Ada kue tiau goreng. Dan ada sebuah strategi yang, jika dinilai dengan hukum ekonomi atau etika hari ini, jelas tidak layak mendapat nilai bagus.
Tetapi begitulah masa muda. Ia belum mengenal dunia sebagai kumpulan akibat. Ia lebih mengenalnya sebagai kumpulan kesempatan. Kesempatan untuk tertawa. Kesempatan untuk makan. Kesempatan untuk mengerjai keadaan yang terasa lebih besar daripada diri sendiri. Dan ketika uang tidak cukup, akal pun bekerja.
“Bagaimana supaya Pak Lo Pak tidak tahu?” saya bertanya.
Benyamin tertawa.
“Ada yang pura-pura ajak Pak Lo Pak ngobrol. Jadi beliau tidak sempat menghitung siapa mengambil berapa.”
Kami tertawa lagi. Setelah lebih dari empat puluh tahun, kenakalan itu telah berubah bentuk. Dulu ia adalah kemenangan kecil. Sekarang ia menjadi cerita. Dan sebuah cerita yang bertahan begitu lama mungkin telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi tanda bahwa kami pernah hidup dalam dunia yang sangat sederhana, ketika dua es lilin dapat menghadirkan kebahagiaan yang sekarang barangkali sulit dicari bahkan dengan uang yang jauh lebih banyak.
Baca Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang
Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa! (saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa!)
Kalau harus mengaku, ya kami mengaku. Kami dahulu nakal. Tetapi masa lalu tidak selalu harus diperlakukan seperti terdakwa di ruang pengadilan. Kadang ia cukup didudukkan di ruang tamu. Diajak minum kopi. Ditertawakan sebentar. Setelah itu kita belajar darinya. Sebab manusia tidak dibentuk hanya oleh keputusan-keputusan yang benar. Kita juga dibentuk oleh kesalahan-kesalahan yang akhirnya mengajari kita mengenal batas.
Ihwal yang membuat saya heran bukan kenakalannya. Yang membuat saya heran adalah daya tahan ingatan.
Empat puluh tahun lebih telah lewat. Tetapi Benyamin masih ingat tempatnya, makanan yang dijual, orang yang kami ajak bicara, bahkan cara kami menjalankan siasat itu. Sementara begitu banyak hal yang dahulu kami anggap penting sudah hilang dari kepala. Mungkin ingatan mempunyai kebijaksanaan yang tidak selalu dimengerti manusia. Ia tahu apa yang layak diselamatkan.
Kita sering mengira hidup tersusun dari peristiwa-peristiwa besar. Padahal sebagian besar kehidupan justru berlangsung dalam perkara yang kecil dan hampir tak tercatat. Kita menjadi tua bukan karena sebuah kejadian tunggal, melainkan karena ribuan hari yang tampaknya biasa saja. Kita menjadi sahabat bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena berkali-kali duduk bersama, berjalan bersama, lapar bersama, tertawa bersama, dan kadang-kadang melakukan kebodohan bersama.
Mungkin karena itu saya terus menggali ingatan Benyamin. Saya ingin tahu bukan hanya apa yang terjadi dahulu, melainkan siapa kami ketika semua itu terjadi. Sebab sahabat lama mempunyai pekerjaan yang diam-diam penting: ia menyimpan sebagian diri kita yang telah hilang. Ia dapat mengingat wajah kita ketika kita sendiri sudah tidak mampu membayangkannya. Ia dapat mengembalikan suara kita yang dahulu, kebiasaan kita, bahkan kenakalan kita.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Dan malam ini. Semua itu dimulai dari es lilin.
Sesuatu yang sebentar. Sesuatu yang mencair. Sesuatu yang dahulu begitu kecil sehingga tidak pernah kami pikir akan berarti apa-apa. Tetapi mungkin justru karena ia kecil, ia lolos dari perhatian waktu. Tidak masuk arsip. Tidak masuk buku sejarah. Ia tinggal di kepala seorang sahabat.
Barangkali demikianlah hidup bekerja. Yang besar belum tentu abadi. Yang kecil belum tentu lenyap. Ada hal-hal yang kita kira hanya lewat, ternyata menetap. Ada pula yang kita kira akan selamanya bersama kita, ternyata pergi tanpa pamit.
Es lilin itu sudah lama habis....
Pak Nungkat mungkin telah jauh dari jalan yang dahulu kami kenal. Anak-anak SMA itu pun telah menjadi lelaki-lelaki tua yang, sesekali, menoleh surut ke belakang.
Namun ketika saya bertanya kepada Benyamin malam ini. Waktu seperti memberi kami kelonggaran beberapa menit.
Kami kembali ke sana. Bukan untuk mengulang kenakalan. Hanya untuk memastikan bahwa anak-anak itu memang pernah ada.
Dan bahwa, sebelum hidup menjadi begitu rumit. Pernah ada suatu masa ketika kebahagiaan cukup bernama es lilin, mi pansit, kue tiau goreng.
Juga seorang sahabat yang sebenarnya senantiasa ada, berdiri di sebelah kita.
0 Comments