Pohon Kelapa, Empat Anak Asrama, dan Air yang Jatuh dari Talang Surga - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (19)

 

Pohon Kelapa yang buahnya amat malang itu
Pohon kelapa masih tegak berdiri yang buahnya amat malang itu. Pohon sejarah sekaligus kenangan.

Siang di Nyarumkop seperti enggan beranjak. Matahari menggantung terik di atas Gunung Poteng. Sementara hawa panas perlahan merambat ke kulit dan tanah.

Usai Misa Penutupan 6 September 2026...
Suasana sejenak mengendur. Orang-orang mencari tempat teduh. Sebagian kembali ke asrama, membaringkan tubuh. Percakapan merendah. Langkah kaki jarang terdengar. Seolah-olah seluruh Nyarumkop sedang menarik napas sebelum acara penutupan.

Baca Yance antara Bintang Panggung di Malam Hiburan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (18)

Saya justru lapar. Belum sempat sarapan di Singkawang. Buru-buru mengejar agar mengikuti Misa tanpa terlambat.

***

Saya berjalan menuju kantin Toko Kita (dulu era saya namanya demikian). Dan di tengah langkah itulah saya melihatnya: pohon kelapa di seberang jalan, sedikit ke depan.

Saya berhenti. Ada sesuatu yang ganjil pada perjumpaan itu. Pohon yang dahulu kecil kini telah menjulang, seolah-olah selama puluhan tahun ia diam-diam mengukur jarak antara masa lalu dan hari ini.

Saya mengangkat telepon genggam dan memotretnya. Tetapi sesungguhnya, yang tertangkap kamera bukanlah pohon. Yang tertangkap adalah masa muda. Sebab saya tiba-tiba ingat suatu siang yang lain. Jauh sekali.

Ketika pohon itu belum setinggi sekarang. Ketika kami belum tahu bahwa manusia akan menjadi tua. Ketika dunia belum terasa luas dan sebatang kelapa muda dapat menjadi alasan untuk meninggalkan asrama diam-diam.

WidBros, Grup Band Legendaris PKN Era 1970-an - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (17)

Doraman. Benyamin. Jitmen alias William Chang. Dan saya. Empat anak asrama yang sedang lapar, sementara anak-anak lain siesta (rehat/ tidur siang).

Di atas pohon. Beberapa kelapa muda bergoyang perlahan. Bagi orang dewasa, itu hanya buah. Bagi kami, ia seperti bulan yang terlalu dekat tetapi tak dapat disentuh. Dijolok, terlalu tinggi. Dipanjat, takut ketahuan. Maka kami menemukan jalan ketiga: batu.

Lemparan pertama meleset. Lemparan kedua juga. Kami sudah hampir menyerah, atau mungkin justru semakin penasaran. Lalu lemparan ketiga melayang. Mengenai sasaran. Kelapa pecah. Airnya mengucur dari atas.

Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)

Kami berempat mendongak. Mulut terbuka. Dan langit. Untuk beberapa saat. Seperti menuangkan minuman khusus kepada empat anak asrama yang tidak punya gelas. Kami tertawa.

***

Dari semua kemewahan yang pernah saya kenal sepanjang hidup. Ada satu yang tidak pernah dapat dibeli lagi. Yakni air kelapa yang jatuh dari langit. Dari talang surga ke mulut empat anak muda yang belum mengenal kehilangan.

Masri Sareb Putra

Jakarta,  malan 12/09-2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.