Paloma Blanca-nya Gunawan dan Malam yang Membuka Pintu Ingatan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (20)

Anak-anak Wisma Widya dan Wisma Rini asal Sanggau plus yang show ke Sanggau, di sebuah kam proyek Colombo Plan, Bunut.
Anak-anak Wisma Widya dan Wisma Rini asal Sanggau plus yang show ke Sanggau, di sebuah kam proyek Colombo Plan, Bunut. Liburan Natal, 1978. Didamping Tan Un Mao, alias Pastor Petrus Rostandy, pengawas wisma Widya. Ist.

Malam 12 September itu. Di rumah saya di Lippo Karawaci, Jakarta terasa seperti sebuah kota yang sedang menahan napas. Di luar, lampu-lampu menyala seperti titik-titik kecil yang tak tahu kepada siapa mereka hendak menerangi jalan. 

Di tempat lain, tidak terlalu jauh. Gunawan berada di bilangan Serpong. Dua rumah. Dua layar. Dua orang yang belum pernah benar-benar berjumpa di Jakarta.

Aneh memang. Jakarta begitu luas, tetapi ingatan kadang lebih luas lagi.

Baca Pohon Kelapa, Empat Anak Asrama, dan Air yang Jatuh dari Talang Surga - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (19)

Kami baru pernah berjumpa dua tahun lalu, di Pontianak. Sama-sama sedang berdinas di Kota Khatulistiwa. Gunawan mengajak saya makan di sebuah restoran di bilangan Jalan Purnama. Makanannya, kalau boleh saya katakan, maknyus sekali. Tetapi yang membuat malam itu terasa istimewa bukan hanya makanan.

***

Kami seperti menemukan sebuah meja kecil di tengah arus hidup yang terus bergerak. Dua orang dari Nyarumkop, dua perjalanan yang telah menjauh, lalu dipertemukan kembali oleh kota yang dilintasi garis khatulistiwa.

Itu pun sudah merupakan sebuah reuni kecil. Tidak ada spanduk. Tidak ada panitia. Tidak ada sambutan. Hanya dua orang, sepiring makanan, dan masa lalu yang diam-diam ikut duduk bersama kami.

Baca Yance antara Bintang Panggung di Malam Hiburan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (18)

Malam di Jakarta itu saya tiba-tiba teringat kepadanya. Saya mengirimkan foto lama tersebut kepada Gunawan.

Sebuah foto yang menyimpan terlalu banyak wajah dan terlalu sedikit penjelasan. Saya beri ia teka-teki kecil: “Cari di mana dirimu di sini. Ingat momen apa dan di mana?”

Lalu saya menunggu.Tidak ada jawaban. Mungkin Serpong sudah tidur. Mungkin Gunawan sedang sibuk dengan dunia yang sekarang. Atau mungkin masa lalu memang tidak selalu datang ketika kita memanggilnya. Saya pun menutup laptop dan tidur.

Pagi hari. Ketika layar kembali menyala. Sebuah pesan telah menunggu.

Gunawan menjawab dengan kejujuran yang justru membuat foto itu terasa semakin tua: “Saya sama sekali sudah lupa, ini momen apa dan di mana?”
Saya  mengulas senyum.

Betapa aneh manusia. Kita dapat menghabiskan seluruh masa muda di suatu tempat, tertawa di sana, bernyanyi di sana, tumbuh di sana. Lalu suatu pagi, setelah hampir setengah abad, tempat itu datang kembali sebagai sebuah foto yang bahkan pemilik wajah di dalamnya tidak lagi mengenal namanya.


WidBros, Grup Band Legendaris PKN Era 1970-an - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (17)

Maka saya jawab pagi itu. Saya ceritakan kembali kepada Gunawan apa yang telah lama tertimbun di bawah debu tahun-tahun: Nyarumkop. Natal 1978.

Rombongan kesenian menuju Sanggau. 
Tan Un Mao, atau dikenal sebagai Pster Petrus Rostandy OFM Cap yang mengawal. Jalan kaki. Asrama putri. Bangunan yang berkaitan dengan Colombo Plan. Dan kami, anak-anak muda yang belum mengerti bahwa hidup kelak akan membuat jarak dari segala sesuatu yang dahulu terasa begitu dekat.


***

Di foto itu sebuah mesin HYMAC berdiri seperti binatang besi. Di atas dan di sekelilingnya kami berkerumun. Ada yang berdiri, duduk, jongkok. Wajah-wajah muda memandang kamera dengan mata yang belum mengenal kehilangan.

Kami tampak seperti sedang merayakan sesuatu. Padahal yang sebenarnya kami rayakan adalah ketidaktahuan.

Kami belum tahu siapa yang akan pergi. Siapa yang akan berubah. Siapa yang akan dilupakan. Bahkan kami belum tahu bahwa suatu hari nanti Gunawan akan tinggal di Serpong dan saya di Lippo Karawaci, dua tempat yang begitu dekat di peta, tetapi anehnya belum juga mempertemukan kami.

Namun selembar foto bisa membuka pintu masa lalu. 

Pada malam kesenian di gereja Sanggau itu, Gunawan tampil dengan tubuh yang tegap dan pesona yang seolah tahu ke mana cahaya panggung harus jatuh. Ia menyanyikan lagu Amerika Latin. Judulnya Una Paloma Blanca adalah lagu populer tentang kebebasan, kerinduan, dan keinginan melepaskan diri dari belenggu hidup, dilambangkan oleh seekor merpati putih yang terbang bebas menuju langit.

Nada-nadanya bergerak seperti angin dari negeri yang jauh, asing, tetapi entah bagaimana terasa akrab. Sementara saya bersama Bang Maliki menyanyikan lagu yang sampai sekarang masih tinggal utuh dalam ingatan: nomor G & G, Lama Tak Jumpa.

Barangkali begitulah masa muda bekerja. Ia tidak pernah meminta izin sebelum pergi. Ia hanya meninggalkan sebuah lagu, sepotong cahaya, lalu diam-diam menetap di tempat yang paling dalam.

Malam itu kami bernyanyi....

Dan untuk beberapa saat usia belum menemukan kami. Panggung menjadi semesta kecil. Gereja menjadi dunia yang luas. Dan kami, dengan keberanian yang hanya dimiliki anak-anak muda, merasa bahwa dunia memang sedang menunggu suara kami.

Kini, bila lagu itu kembali terdengar, yang pulang bukan hanya melodi. Gunawan pulang. Bang Maliki pulang. Kami yang masih muda pulang. Bahkan malam itu sendiri seperti bangkit dari kejauhan, membawa cahaya panggung yang telah lama padam. Anehnya, yang paling lama tinggal bukan suara kami, melainkan perasaan bahwa pernah, pada suatu malam, panggung dan dunia serasa milik kami.

***

Ketika susunan pengurus alumni PKN diumumkan di gereja, pada Misa Penutupan 6 Septembetr 2026. Saya mendengarkan nama-nama itu disebut satu demi satu. 

Lalu nama kami berdua terdengar. Gunawan dan saya. Kami ternyata ditempatkan dalam jajaran Penasihat. Sesaat saya seperti mendengar gema dari sebuah masa yang jauh.

Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)

Saya tersenyum sendiri. Dahulu kami berada di panggung, membawa lagu, berjalan kaki, berkerumun di sekitar mesin HYMAC, dengan wajah yang belum mengenal panjangnya jalan hidup. Kini, tanpa kami minta, nama kami diletakkan di tempat yang lain. Bukan lagi di panggung kesenian, melainkan di barisan orang-orang yang diminta memberi arah.

Mungkin memang usia mempunyai cara yang halus untuk berbicara. Ia tidak mengatakan bahwa kita telah tua. Ia hanya memindahkan kursi kita sedikit ke belakang. 

Dari sana kita diminta melihat lebih jauh. Mengingat lebih banyak. Dan sesekali memberi nasihat kepada mereka yang masih berlari. Dulu kami mengejar masa depan. Kini, rupanya, masa depan mulai meminta kami menengok ke belakang.

Masri Sareb Putra

Jakarta 13/09-2026 , ketika angin menerbangkan musim kemarau. 

0 Comments

Type above and press Enter to search.